BAB 30: Kotak Deposit Nomor 109

1103 Words
Pagi di kota Lyon terasa jauh lebih tenang dan dingin dibandingkan hiruk-pikuk Paris. Widya dan Keisha berdiri di depan sebuah bangunan tua dengan arsitektur klasik yang merupakan bank swasta tertua di kota itu, Banque de Lyon-Privé. Tidak ada pengawal yang mengikuti mereka masuk; Keisha ingin menghormati privasi Widya dalam momen krusial ini. Mereka melangkah masuk ke ruang bawah tanah yang sunyi, di mana deretan kotak deposit berbahan baja tahan karat berjajar rapi. Petugas bank mengantar mereka ke kotak nomor 109. "Apakah kamu siap?" bisik Keisha sambil menggenggam tangan Widya. Widya mengangguk pelan. Ia memasukkan kunci elektronik yang ia bawa dari Paris, sementara petugas memasukkan kunci master. Pintu kotak kecil itu terbuka dengan suara logam yang berat. Di dalamnya terdapat sebuah map kulit hitam yang tersegel dan sebuah kaset rekaman suara kuno. Widya membawa map itu ke meja kecil di sudut ruangan. Saat ia membukanya, ia menemukan foto-foto dokumen transaksi keuangan ilegal yang dilakukan oleh perusahaan ayah Keisha tiga puluh tahun yang lalu. Namun, bukan itu intinya. Ada sebuah surat yang ditulis tangan oleh ayah Widya tepat beberapa jam sebelum kecelakaan itu terjadi. "Untuk putriku, Widya... Jika kau membaca ini, berarti aku sudah tidak ada. Ketahuilah bahwa aku tidak pernah mengkhianati persahabatanku dengan ayah Keisha. Justru aku menemukan bahwa ada orang ketiga, rekan bisnis kami, yang menggelapkan dana dan memfitnahku agar kami saling menghancurkan. Dia adalah pria yang selama ini berpura-pura menjadi penolong bagi ibumu setelah aku tiada... Jean-Paul." Widya terkesiap, tangannya menutupi mulutnya karena terkejut. "Jean-Paul? Pria yang membantuku melarikan diri semalam?" Keisha langsung mengambil dokumen itu, wajahnya mengeras karena amarah yang dingin. "Jean-Paul bukan hanya membantu ibumu, Widya. Dia adalah orang yang menyabotase rem mobil ayahmu dan mencuri bukti-bukti ini agar dia bisa memeras ayahku selama puluhan tahun. Dia sengaja mendekatimu sekarang karena dia tahu aku sudah mulai mencium jejaknya." Tiba-tiba, Keisha menyadari sesuatu. Ia memeriksa kaset rekaman itu. "Widya, Jean-Paul tidak ingin kamu tahu kebenaran ini. Dia ingin kamu percaya bahwa ayahku adalah pembunuhnya agar kamu membenciku dan kembali padanya. Dia ingin menggunakanmu sebagai alat pemeras terakhir." Belum sempat Widya merespons, ponsel Keisha bergetar hebat. Sebuah peringatan keamanan dari timnya. "Nona Keisha, Jean-Paul tidak pergi! Dia sedang menuju bank dengan beberapa orang bersenjata. Dia tahu kalian menemukan kotaknya!" suara Marc di seberang telepon terdengar panik. Keisha segera menarik Widya ke belakang tubuhnya. Ia mengeluarkan senjata api kecil yang selalu ia simpan di balik jasnya. "Tetap di belakangku, Widya. Kali ini, tidak akan ada pengampunan." Gairah untuk bertahan hidup kini menyatu dengan gairah untuk melindungi satu sama lain. Di dalam ruang bawah tanah bank yang sempit itu, Widya menyadari bahwa musuh sejati mereka bukanlah masa lalu yang kelam di antara kedua ayah mereka, melainkan pria yang baru saja ia anggap sebagai penolong. "Keisha," Widya memeluk lengan istrinya erat. "Jangan biarkan dia mengambil ini. Jangan biarkan dia menghancurkan kita lagi." Keisha mengecup kening Widya dengan kilat mata yang mematikan. "Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi, Widya. Bahkan jika aku harus membakar seluruh bank ini." Ketegangan di ruang bawah tanah itu mencapai puncaknya. Suara langkah kaki yang berat mulai terdengar menuruni tangga menuju ruang deposit. Widya memegang dokumen itu di dadanya, sementara Keisha berdiri tegak sebagai benteng terakhir, siap menghadapi pengkhianat terbesar dalam hidup mereka. Lampu di ruang bawah tanah bank tiba-tiba berkedip dan padam, menyisakan hanya lampu darurat berwarna merah yang memberikan suasana mencekam seolah-olah ruangan itu sedang bersimbah darah. Suara langkah kaki Jean-Paul yang teratur namun berat bergema di antara deretan loker baja. Widya bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, ia merapat ke dinding dingin di belakang Keisha. "Widya, sayang..." suara Jean-Paul terdengar melalui interkom ruangan, bergema dengan nada mengejek. "Serahkan dokumen itu padaku. Keisha hanya akan menggunakannya untuk menutupi dosa keluarganya. Kembalilah padaku, dan kita akan hancurkan kekaisaran fashion-nya bersama-sama." Keisha tidak membalas. Ia memberi isyarat diam pada Widya dengan meletakkan satu jari di bibirnya. Dalam kegelapan itu, mata Keisha tampak seperti mata seekor macan tutul yang sedang mengintai mangsanya—dingin, tajam, dan mematikan. Ia menarik Widya ke sebuah celah sempit di antara dua baris loker besar. "Tetap di sini. Jangan bergerak sedikit pun, apa pun yang terjadi," bisik Keisha tepat di telinga Widya. Napasnya yang hangat dan aroma tubuhnya yang dominan memberikan rasa aman yang aneh bagi Widya di tengah situasi hidup dan mati ini. Tiba-tiba, pintu baja ruang deposit didobrak terbuka. Dua orang pria bersenjata masuk, diikuti oleh Jean-Paul yang memegang tongkatnya dengan angkuh. "Cari mereka! Widya harus dibawa hidup-hidup, tapi istrinya... kalian tahu apa yang harus dilakukan." Dor! Dor! Dua tembakan dilepaskan oleh Keisha dari kegelapan dengan akurasi yang luar biasa. Salah satu anak buah Jean-Paul tumbang seketika. Keisha bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal; ia bukan lagi wanita bangsawan Paris yang anggun, ia adalah mesin perang yang dipicu oleh obsesi untuk melindungi mahakaryanya. Keisha melompat keluar dari persembunyiannya, menerjang pria kedua sebelum ia sempat membidikkan senjatanya. Terjadi perkelahian fisik yang sangat brutal di atas lantai marmer. Widya menyaksikan dengan napas tertahan bagaimana Keisha menggunakan teknik bela diri yang sangat efisien, menjatuhkan lawannya dengan serangkaian pukulan dan tendangan yang mematikan. Jean-Paul mencoba melarikan diri menuju pintu keluar, namun Keisha sudah lebih dulu menarik pelatuk ke arah kaki pria tua itu. Jean-Paul tersungkur sambil mengerang kesakitan. Keisha melangkah mendekat, menginjak tangan Jean-Paul yang mencoba meraih dokumen yang terjatuh. "Kamu pikir bisa menggunakan istriku sebagai pionmu, Jean?" desis Keisha, suaranya terdengar seperti malaikat maut. Ia menodongkan moncong senjatanya tepat di antara kedua mata Jean-Paul. "Kamu membunuh ayah mertuaku, kamu memeras ayahku, dan sekarang kamu mencoba meracuni pikiran Widya? Kematian terlalu mewah untukmu." Widya keluar dari celah loker, kakinya gemetar namun matanya penuh keberanian. Ia berdiri di samping Keisha, menatap pria tua yang selama ini ia anggap sebagai penolongnya. Widya mengambil kaset rekaman itu dan menunjukkannya pada Jean-Paul. "Kebenaran tidak akan terkubur selamanya, Jean-Paul. Kamu yang akan membusuk di penjara, sementara aku dan Keisha akan membangun apa yang telah kamu hancurkan," ucap Widya dengan suara yang stabil dan berwibawa. Keisha menatap Widya dengan pandangan kagum yang sangat dalam. Di tengah kekacauan dan aroma mesiu itu, gairah kembali tersulut di antara mereka—sebuah gairah kemenangan dan pembersihan jiwa. Keisha tidak membunuh Jean-Paul; ia membiarkan tim keamanannya yang baru saja tiba untuk mengurus pria itu. Keisha menarik Widya ke dalam pelukannya yang sangat erat, menciumnya dengan rasa lapar dan penuh emosi di depan mayat-mayat yang bergelimpangan. Ciuman itu adalah sebuah pernyataan bahwa mulai detik ini, tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi keraguan. Mereka telah melewati ujian api yang paling berat dan keluar sebagai satu kesatuan yang tak terhancurkan. "Ayo pergi dari sini, istriku," bisik Keisha sambil merangkul pinggang Widya dengan posesif. "Kita punya masa depan yang harus kita lukis bersama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD