BAB 34: Mahakarya yang Melawan Dunia

1125 Words

Setelah kunjungan utusan keluarga yang menghancurkan itu, Widya tidak membiarkan dirinya tenggelam dalam kesedihan. Sebaliknya, ia merasa ada api baru yang menyala di dalam dadanya. Ia mengunci diri di studionya selama berminggu-minggu, bekerja siang dan malam. Ia ingin menciptakan sesuatu yang tidak bisa dibakar oleh pemantik api Keisha, atau dihapus oleh hukum adat di Indonesia. Keisha menghormati privasi Widya, meskipun hatinya selalu cemas. Ia sering berdiri di depan pintu studio, mendengarkan suara goresan kuas yang liar dan aroma cat yang tajam, menunggu saat yang tepat untuk membawakan makanan atau sekadar memberikan pelukan hangat. Hingga akhirnya, pagi itu, Widya membuka pintu studionya dengan wajah yang lelah namun penuh kemenangan. Di tengah ruangan, berdiri sebuah kanvas raks

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD