Kehidupan di mansion Provence kini terasa jauh lebih tenang, namun ada satu ruang kosong di hati Widya yang tidak bisa diisi oleh kuas maupun warna. Setiap kali ia melihat anak-anak berlarian di kebun lavender tetangga, ia merasakan kerinduan yang aneh. Ia ingin berbagi dunia ini—dunia yang sudah ia perjuangkan dengan darah dan air mata—dengan seorang anak. Suatu sore, saat matahari terbenam menyentuh pucuk-pucuk pohon zaitun, Widya memberanikan diri bicara pada Keisha. "Keisha, kita sudah memiliki segalanya. Kebebasan, karier, dan satu sama lain. Tapi... aku ingin kita memberikan masa depan bagi seseorang yang membutuhkan. Aku ingin kita memiliki anak." Keisha tertegun, gelas kristalnya tertahan di udara. Ia tahu bahwa dalam posisi mereka sebagai pasangan sejender yang ditolak oleh huku

