BAB 27: Telepon di Tengah Malam

1078 Words
Ketenangan yang baru saja mereka bangun di studio seni kembali koyak. Saat Keisha sedang berada di ruang kerjanya, melakukan koordinasi dengan tim keamanan tingkat tinggi untuk melacak asal-usul jam tangan tersebut, Widya duduk sendirian di meja makan, menatap cangkir tehnya yang sudah dingin. Tiba-tiba, ponsel pribadi Widya—nomor yang hanya diketahui oleh Keisha dan segelintir orang kepercayaan—bergetar. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar. Widya ragu sejenak, namun rasa ingin tahunya lebih besar daripada rasa takutnya. Ia menggeser tombol jawab. "Halo?" suara Widya bergetar. "Darah tidak pernah berbohong, Widya," suara di seberang sana adalah suara seorang wanita, parau dan terdengar lelah, namun memiliki otoritas yang aneh. "Keisha melindungimu dalam sangkar emas, tapi dia tidak memberitahumu bahwa ayahmu tidak mati dalam kecelakaan biasa. Dia dikhianati oleh orang yang paling dia percayai." "Siapa ini? Apa maumu?" Widya berdiri, kakinya lemas. "Jika kau ingin tahu siapa yang memegang kemudi mobil ayahmu malam itu, datanglah ke Rue de l'Enfer nomor 13, di Saint-Denis. Datanglah sendiri, atau rahasia ini akan terkubur selamanya bersama abu orang tuamu." Klik. Panggilan terputus. Widya terengah-engah. Saint-Denis adalah salah satu pinggiran kota Paris yang paling keras dan kumuh, sangat kontras dengan kemewahan Place Vendôme tempatnya berada sekarang. Ia melirik ke arah ruang kerja Keisha. Ia tahu jika ia memberitahu Keisha, wanita itu akan langsung mengirim pasukan dan kemungkinan besar informan itu akan menghilang atau dibunuh. Widya tidak ingin Keisha menyaring kebenaran untuknya lagi. Ia ingin mendengar kebenaran yang telanjang, meskipun itu menyakitkan. Dengan tangan gemetar, Widya mengambil mantel wol panjangnya dan menyelinap keluar melalui pintu servis apartemen yang jarang dijaga ketat. Ia memanggil taksi biasa, bukan limosin perusahaan, dan memberikan alamat tersebut. Sepanjang perjalanan, Widya merasa jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia melihat pemandangan Paris berubah dari toko-toko high-end yang berkilauan menjadi deretan bangunan tua yang dipenuhi grafiti dan aroma keputusasaan. Saat taksi berhenti di depan sebuah gedung apartemen yang nyaris runtuh, Widya ragu. Namun, bayangan jam tangan ayahnya memberinya keberanian. Ia melangkah masuk ke dalam lorong yang gelap dan lembap, menuju lantai paling atas. Di sana, di sebuah ruangan kecil yang hanya diterangi satu lampu bohlam yang berkedip, seorang wanita tua dengan bekas luka bakar di wajahnya duduk menunggunya. Di atas meja di depan wanita itu, berserakan kliping koran lama tentang kecelakaan orang tua Widya. "Kau datang," ucap wanita itu. "Kau sangat mirip dengan ibumu. Dan sangat mirip dengan pria yang membunuh ayahmu." Widya terpaku. "Apa maksudmu? Siapa yang membunuh ayahku?" Wanita itu menyodorkan sebuah dokumen rahasia perusahaan milik keluarga Keisha yang bertanggal tepat di hari kecelakaan itu. Di sana tertera tanda tangan direktur operasional saat itu—ayah Keisha. Namun, yang membuat napas Widya berhenti adalah sebuah memo kecil yang terlampir di sana: 'Pastikan dia tidak pernah sampai ke bandara. Selesaikan malam ini.' Widya jatuh terduduk. Jadi, ayahnya dibunuh untuk menutupi skandal perselingkuhan dan penggelapan dana? Dan Keisha... apakah Keisha benar-benar tidak tahu tentang perintah eksekusi ini? Tepat saat itu, pintu ruangan didobrak paksa. Keisha masuk dengan senjata di tangannya, wajahnya dipenuhi amarah dan ketakutan yang luar biasa. Sepuluh pengawal langsung mengepung ruangan itu. "Widya! Mundur dari wanita itu!" teriak Keisha. Widya berdiri, namun ia tidak mendekat ke arah Keisha. Ia justru memegang dokumen itu tinggi-tinggi dengan tangan yang gemetar. "Keisha... katakan padaku ini palsu. Katakan padaku bahwa ayahmu tidak memerintahkan pembunuhan ayahku!" Keisha terdiam. Matanya menatap dokumen itu, lalu beralih ke wanita tua di sudut ruangan. Sorot matanya menunjukkan bahwa ia mengenali siapa wanita itu. "Widya, taruh dokumen itu. Kita pulang sekarang. Aku akan jelaskan semuanya." "Jelaskan sekarang!" teriak Widya, air mata kemarahan mulai tumpah. "Atau aku tidak akan pernah melangkah keluar dari ruangan ini bersamamu!" Gairah yang biasanya menyatukan mereka kini berubah menjadi jurang pemisah yang sangat dalam. Di ruangan kumuh itu, cinta mereka kembali diuji oleh dosa masa lalu yang jauh lebih berdarah dari yang mereka bayangkan. Debu beterbangan di bawah cahaya lampu bohlam yang berkedip-kedip, menciptakan suasana yang mencekam saat Widya menatap Keisha dengan kebencian yang baru saja lahir. Dokumen di tangannya terasa lebih berat daripada senjata apa pun. Widya tidak lagi melihat Keisha sebagai istrinya, melainkan sebagai pewaris dari pria yang menghancurkan hidupnya. "Kamu tahu, kan?" desis Widya, suaranya tajam seperti belati. "Selama ini kamu tahu bahwa ayahmu adalah seorang pembunuh, dan kamu tetap memelukku seolah-olah kamu adalah penyelamatku!" Keisha mencoba melangkah mendekat, tangannya terulur dengan gemetar, mencoba meraih Widya. "Widya, dengarkan aku... Aku baru mengetahui detailnya setelah kita kembali dari Jakarta. Aku sedang mencari cara untuk memberitahumu tanpa menghancurkanmu!" "Kebohongan lagi!" Widya berteriak, dan dalam ledakan amarah yang buta, ia melempar dokumen itu ke arah wajah Keisha. Ia menerjang Keisha, memukul d**a wanita itu dengan tinju kecilnya yang penuh rasa sakit. Widya tidak peduli lagi pada protokol atau keselamatan. Ia hanya ingin Keisha merasakan sedikit saja dari kehancuran yang ia rasakan. Keisha tidak membalas. Ia membiarkan Widya memukulnya, membiarkan kemarahan istrinya tumpah padanya. Ia justru menangkap pergelangan tangan Widya, memutar tubuh gadis itu dan menguncinya di dinding ruangan yang kotor dan berjamur. Gairah yang muncul di tengah perkelahian ini terasa sangat gelap dan merusak. "Lepaskan aku, Keisha! Aku muak melihatmu!" Widya memberontak, namun kekuatan Keisha jauh melampauinya. "Pukul aku sepuasmu, Widya! Benci aku jika itu membuatmu merasa lebih baik!" Keisha berteriak tepat di depan wajah Widya, napas mereka beradu dalam ketegangan yang menyesakkan. "Tapi aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi ke tempat kumuh seperti ini sendirian lagi! Kamu adalah istriku! Dosa ayahku tidak akan merubah kenyataan bahwa kamu adalah milikku!" Keisha mencium Widya dengan paksa, sebuah ciuman yang penuh dengan keputusasaan dan d******i. Widya mencoba menggigit bibir Keisha, namun aroma tubuh Keisha dan intensitas emosi yang meluap di antara mereka justru memicu reaksi yang membingungkan dalam diri Widya. Di tengah kebencian yang mendalam, ada percikan gairah yang menyakitkan—sebuah pengingat bahwa meskipun mereka saling menghancurkan, tubuh mereka tetap saling mendambakan. Penyatuan emosional yang penuh kekerasan itu meninggalkan rasa pahit. Widya akhirnya lemas dalam dekapan Keisha, menangis tersedu-sedu di bahu wanita yang paling ia cintai sekaligus ia benci saat ini. Keisha memeluknya erat, menatap wanita tua di sudut ruangan dengan pandangan yang berjanji akan memberikan kematian yang cepat. "Bawa wanita itu ke ruang bawah tanah kita," perintah Keisha pada pengawalnya dengan suara dingin tanpa melepaskan pelukannya pada Widya. "Dan Widya... kita pulang sekarang. Kamu akan mendengar setiap detailnya, suka atau tidak." Malam itu, perjalanan pulang menuju kemewahan Place Vendôme terasa seperti perjalanan menuju penjara bagi Widya. Ia menyadari bahwa cinta mereka kini telah ternoda oleh darah, dan tidak ada lagi jalan untuk kembali ke kepolosan masa lalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD