BAB 28: Penjara Berlapis Emas

1183 Words
Denting kunci pintu yang diputar dari luar menjadi suara yang paling Widya benci setiap pagi. Sejak kejadian di Saint-Denis, Keisha telah memperketat keamanan hingga ke titik yang tidak masuk akal. Semua akses komunikasi Widya diputus, studionya dijaga oleh dua pengawal bersenjata, dan balkonnya dipasangi sensor laser. Widya berdiri di tengah ruang tengah, menatap ke arah Place Vendôme yang terlihat begitu jauh di bawah sana. Ia mengenakan gaun sutra hitam pemberian Keisha, namun ia merasa seperti sedang mengenakan rantai. "Ini demi keselamatanmu, Widya," ucap Keisha yang baru saja masuk dengan membawa nampan sarapan yang sangat mewah. "Dunia luar sedang tidak aman untukmu sekarang. Orang-orang yang membunuh ayahmu masih berkeliaran, dan mereka mengincar kamu untuk menghancurkan aku." Widya tidak menyentuh sarapan itu. Ia berbalik, menatap Keisha dengan mata yang kini kosong dari rasa cinta yang dulu meledak-ledak. "Keselamatanku? Atau ketakutanmu, Keisha? Kamu takut aku akan pergi dan membocorkan kejahatan keluargamu pada dunia, kan?" Keisha meletakkan nampan itu dengan kasar. Ia melangkah mendekat, auranya mendominasi seluruh ruangan. "Aku melakukan ini karena aku mencintaimu! Kamu pikir aku senang melihatmu terkurung seperti ini? Tapi aku lebih baik melihatmu marah padaku di dalam sini daripada melihatmu menjadi mayat di jalanan Paris!" Keisha menarik dagu Widya agar menatapnya. Ketegangan di antara mereka kembali memicu gairah yang aneh—sebuah ketegangan antara penawan dan tawanan. Keisha mencium Widya dengan sangat posesif, seolah ingin menegaskan bahwa meskipun Widya membencinya, tubuh Widya tetap berada di bawah kendalinya. Widya membiarkan Keisha menciumnya, namun ia tidak membalas. Ia berdiri diam seperti patung. Hal ini justru membuat Keisha semakin frustrasi. "Kenapa kamu tidak melawanku seperti kemarin, Widya? Teriaklah! Pukul aku!" "Untuk apa?" jawab Widya datar. "Kamu sudah mengambil segalanya dariku, Keisha. Kepercayaanku, kebebasanku, bahkan kenangan tentang orang tuaku. Kamu sudah menang." Keisha mengerang, ia membenamkan wajahnya di leher Widya, menghirup aroma tubuh istrinya dengan penuh keputusasaan. "Aku tidak ingin menang, Widya. Aku hanya ingin kamu aman." Malam harinya, saat Keisha sedang sibuk di ruang kerjanya yang dijaga ketat, Widya menemukan sebuah celah. Ia sedang membersihkan salah satu lukisannya saat ia melihat sebuah pesan kecil yang tertulis di balik bingkai kanvas yang baru dikirim oleh toko perlengkapan seni langganannya. "Cermin di kamar mandi tamu. Tekan sudut kanan bawah." Widya segera menuju kamar mandi tamu yang jarang digunakan. Dengan tangan gemetar, ia menekan sudut cermin tersebut. Sebuah panel kecil terbuka, memperlihatkan sebuah ponsel satelit kuno dan sebuah kunci elektronik. Di layar ponsel itu, muncul sebuah pesan teks dari nomor yang ia kenal: Jean-Paul. "Pameranmu tidak akan hancur, Widya. Begitu juga hidupmu. Gunakan kunci ini untuk akses lift barang tepat pukul 02.00 pagi. Aku menunggumu di gerbang belakang. Keisha tidak sehebat yang dia kira." Widya menatap ponsel itu dengan perasaan campur aduk. Ia tahu Jean-Paul memiliki agenda sendiri, namun keinginan untuk bebas jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada pengkhianatan baru. Ia melirik ke arah pintu kamar tidur di mana Keisha mungkin sedang menunggunya dengan cinta yang mencekam. Malam itu, Widya berpura-pura menyerah pada gairah Keisha. Ia membiarkan Keisha mencintainya dengan intensitas yang luar biasa di bawah selimut sutra, memberikan kenyamanan palsu agar wanita itu tertidur lelap. Saat Keisha akhirnya terlelap dalam kelelahan emosionalnya, Widya bangkit perlahan. Ia mengenakan pakaian hitam yang tidak mencolok, mengambil kunci elektronik itu, dan menatap Keisha untuk terakhir kalinya. Air mata jatuh di pipinya. "Aku mencintaimu, Keisha. Tapi aku tidak bisa bernapas di dalam sangkarmu." Widya melangkah keluar menuju lift barang, memulai pelarian yang akan menentukan takdir mereka selanjutnya. Lorong lift barang itu gelap, hanya diterangi oleh lampu indikator merah yang berkedip pelan. Aroma oli mesin dan debu sangat kontras dengan wangi lilin aromaterapi di dalam apartemen mewah mereka. Widya merapatkan mantelnya, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia merasa suaranya bisa memicu alarm keamanan. Setiap langkahnya di atas lantai beton terasa seperti dentuman keras di telinganya sendiri. Ia memasukkan kunci elektronik pemberian Jean-Paul ke dalam slot lift. Detik-detik menunggu pintu terbuka terasa seperti keabadian. Dalam benaknya, ia terus membayangkan Keisha terbangun, menyadari sisi tempat tidur yang kosong, dan langsung mengaktifkan protokol penguncian total. Widya tahu, jika ia tertangkap sekarang, Keisha tidak akan pernah membiarkannya melihat cahaya matahari lagi tanpa pengawasan. Ting. Pintu lift terbuka dengan suara gesekan logam yang memilukan. Widya segera masuk dan menekan tombol basement paling bawah. Saat lift mulai turun, ia menyandarkan tubuhnya ke dinding lift, napasnya memburu. Ia merasa seperti pengkhianat, namun ia juga merasa seperti seorang pejuang yang sedang merebut kembali haknya untuk hidup. Di lantai basement, udara terasa sangat dingin. Widya melangkah keluar menuju gerbang belakang yang biasanya digunakan untuk pembuangan limbah. Di sana, sebuah mobil sedan hitam tanpa plat nomor yang mencolok sudah menunggu dengan mesin yang menyala halus. Kaca jendela diturunkan sedikit, memperlihatkan mata tua Jean-Paul yang penuh misteri. "Tepat waktu, Mademoiselle," ucap Jean-Paul dengan suara rendah. "Masuklah sebelum tim keamanan pribadi istrimu menyadari ada anomali di sirkuit CCTV." Widya masuk ke kursi belakang, dan mobil itu segera melaju menembus jalanan Paris yang mulai sepi. Ia menatap ke arah jendela, melihat gedung apartemen mewahnya yang menjulang tinggi semakin menjauh. Ada rasa sakit yang luar biasa di dadanya—rasa sakit karena meninggalkan Keisha dalam keadaan hancur. Ia tahu bahwa saat matahari terbit nanti, Keisha akan menjadi monster yang paling ditakuti di seluruh Prancis demi mencarinya. "Ke mana kita akan pergi, Jean-Paul? Dan kenapa kamu membantuku?" tanya Widya, suaranya parau. Jean-Paul menatapnya melalui spion tengah. "Kita pergi ke tempat di mana ayahmu menyimpan bukti terakhir sebelum dia dieksekusi. Sebuah kotak deposit di bank kecil di Lyon. Dan aku membantumu karena aku juga memiliki dendam yang harus dituntaskan dengan keluarga Keisha. Ayahnya tidak hanya menghancurkan ibumu, dia menghancurkan martabatku." Widya memejamkan mata. Ia menyadari bahwa ia baru saja keluar dari satu sangkar menuju sangkar yang lain, meskipun kali ini ia memiliki kunci di tangannya. Di tengah perjalanan yang sunyi itu, bayangan wajah Keisha saat mereka bercinta beberapa jam lalu terus menghantuinya. Sentuhan Keisha, bisikan cintanya, dan bagaimana wanita itu memeluknya seolah-olah Widya adalah jantungnya sendiri. "Maafkan aku, Keisha," bisik Widya dalam hati. "Tapi aku tidak bisa mencintaimu di atas tumpukan mayat masa laluku." Sementara itu, di apartemen Place Vendôme, Keisha terbangun secara tiba-tiba karena firasat yang buruk. Ia meraba sisi tempat tidurnya, dan saat ia hanya menemukan seprai yang sudah dingin, matanya langsung membelalak penuh amarah. Ia bangkit, melihat pintu balkon yang masih terkunci, lalu matanya tertuju pada pintu depan yang sedikit terbuka. "WIDYA!" raungan Keisha mengguncang keheningan malam di apartemen itu. Keisha berlari menuju ruang kontrol keamanan, wajahnya memerah karena perpaduan antara ketakutan yang luar biasa dan kemarahan yang meledak-ledak. Ia melihat layar monitor yang menunjukkan anomali di lift barang. Ia menyadari bahwa istrinya, mahakaryanya, cintanya... baru saja melarikan diri darinya. "Marc! Aktifkan semua agen di seluruh Prancis!" perintah Keisha melalui interkom dengan suara yang terdengar seperti singa yang terluka. "Tutup bandara, tutup stasiun kereta! Cari dia sampai ke lubang semut sekalipun! Dan jika ada yang menyentuhnya, jangan bawa mereka padaku hidup-hidup!" Perang baru saja dimulai. Widya mungkin telah melarikan diri, tapi Keisha akan melakukan apa pun—bahkan jika harus menghancurkan separuh Paris—untuk membawa Widya kembali ke dalam pelukannya. Gairah yang dulu menyatukan mereka kini berubah menjadi obsesi pengejaran yang sangat berbahaya dan sensasional.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD