BAB 18: Galeri Rahasia di Tepi Seine

1028 Words
Pagi di Paris terasa jauh lebih hangat bagi Widya karena ia terbangun dalam dekapan Keisha. Setelah malam yang penuh dengan pelepasan rindu yang membara, Keisha tidak membiarkan Widya bersantai terlalu lama. Ia sudah menyiapkan kejutan besar yang akan mengubah hidup Widya selamanya. "Pakai gaun yang paling membuatmu merasa percaya diri, Widya," ucap Keisha sambil menyesap espresso-nya di balkon apartemen. "Aku ingin membawamu ke sebuah tempat yang sangat istimewa." Widya memilih gaun silk berwarna hijau zamrud yang kontras dengan kulit putihnya. Keisha sendiri tampil sangat berkelas dengan setelan blazer putih tanpa dalaman yang memperlihatkan garis lehernya yang jenjang dan seksi. Mereka berjalan menyusuri jalanan berbatu di kawasan Île de la Cité, menggandeng tangan tanpa memedulikan tatapan orang sekitar. Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua dengan jendela kaca besar yang masih tertutup tirai beludru hitam. Letaknya sangat strategis, hanya beberapa langkah dari tepi Sungai Seine. "Tempat apa ini, Keisha?" tanya Widya penasaran. Keisha mengeluarkan sebuah kunci perak dari sakunya dan menyerahkannya kepada Widya. "Buka sendiri, Little Bird. Ini adalah milikmu." Dengan tangan gemetar, Widya membuka pintu kayu berat itu. Saat lampu dinyalakan, ia terkesiap. Di dalamnya terdapat sebuah galeri seni yang sangat modern dan elegan. Dinding-dinding putih bersihnya sudah dipasangi beberapa lukisan yang dikirim Keisha secara diam-diam dari Jakarta—karya-karya terbaik Widya selama di akademi. Di papan nama di depan galeri tertulis dengan huruf emas: "L'Aura Gallery". "Keisha... kamu membeli galeri ini?" Widya menatap Keisha dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak hanya membelinya, aku membangunnya untukmu," jawab Keisha sambil memeluk Widya dari belakang, menatap deretan lukisan itu. "Aku ingin dunia melihat apa yang aku lihat. Kamu adalah seniman besar, Widya. Dan galeri ini akan menjadi saksi sejarah kesuksesanmu di Eropa." Widya berbalik dan memeluk Keisha dengan sangat erat. "Ini terlalu banyak... aku tidak tahu bagaimana harus membalas semua ini." "Kamu sudah membalasnya dengan tetap mencintaiku setelah semua kegilaan yang aku lakukan," bisik Keisha. Ia lalu mengunci pintu galeri dari dalam. Suasana di dalam galeri yang sunyi itu tiba-tiba berubah menjadi sangat intim. Di tengah ruangan yang penuh dengan karya seni, Keisha menarik Widya ke dalam ciuman yang sangat dalam dan panas. Gairah kembali tersulut di antara mereka. Keisha mengangkat Widya ke atas salah satu meja panjang di tengah galeri. Di kelilingi oleh lukisan-lukisannya sendiri, Widya merasakan sensasi yang luar biasa saat tangan Keisha mulai menjelajahi tubuhnya kembali. Percintaan mereka di dalam galeri itu terasa sangat puitis dan sensasional; sebuah penyatuan antara sang pencipta karya dan sang inspirasi. "Di tempat ini, aku ingin kamu merasa bahwa kamu adalah ratunya," desah Keisha di sela-sela kegiatannya memberikan kenikmatan pada Widya. Namun, di tengah kemesraan yang meluap itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu kaca galeri. Seseorang berdiri di luar, mencoba mengintip ke dalam melalui celah tirai. Widya tersentak dan segera merapikan pakaiannya. Keisha, dengan wajah yang kembali dingin dan penuh otoritas, berjalan menuju pintu. Saat ia membuka tirai sedikit, ia melihat seorang pria paruh baya dengan pakaian rapi namun wajahnya tampak gelisah. Pria itu adalah pengacara dari keluarga besar Widya di Jakarta. "Nona Keisha... Nona Widya..." pria itu bicara dengan nada mendesak. "Saya harus memberitahu kalian. Paman Anda, Widya... dia tidak hanya ingin uang. Dia telah bekerja sama dengan pihak-pihak yang ingin menjatuhkan reputasi Keisha di dunia fashion internasional dengan menggunakan namamu sebagai 'korban penculikan'. Kalian dalam bahaya hukum yang serius jika tidak segera kembali ke Jakarta." Keisha mengepalkan tangannya. Kebebasan yang baru saja mereka nikmati di Paris kini terancam oleh badai besar yang datang dari tanah air. Keheningan di dalam L'Aura Gallery terasa begitu magis. Aroma cat minyak yang masih segar bercampur dengan parfum mahal Keisha, menciptakan atmosfer yang memabukkan. Di bawah sorotan lampu galeri yang dirancang khusus untuk menonjolkan detail tekstur kanvas, Keisha menatap Widya seolah gadis itu adalah mahakarya paling berharga yang pernah ia miliki. Keisha tidak membiarkan Widya turun dari meja kayu panjang di tengah ruangan. Ia berdiri di antara kedua kaki Widya, tangan panjangnya merayap naik dari lutut hingga ke paha bagian dalam, membuat Widya sedikit tersentak namun justru merapatkan tubuhnya. "Di sini, di tengah semua hasil karyamu, aku ingin kamu mengingat satu hal," bisik Keisha, suaranya terdengar berat dan penuh gairah. "Bahwa akulah yang paling memujamu. Lebih dari para kritikus seni mana pun di Paris ini." Keisha menarik tengkuk Widya dan menciumnya dengan intensitas yang meluap. Ini bukan sekadar ciuman; ini adalah klaim kepemilikan yang dibungkus dengan pemujaan yang dalam. Widya mendesah, jarinya menyusup ke dalam rambut pirang Keisha yang tertata rapi, menariknya hingga sanggul kecil itu terlepas dan membiarkan rambut Keisha terurai bebas. Suhu di dalam ruangan yang ber-AC itu mendadak terasa panas. Keisha mulai menanggalkan satu per satu kancing blazer putihnya tanpa melepaskan kontak mata dengan Widya. Saat kain itu jatuh ke lantai, Widya bisa melihat detak jantung Keisha yang memburu di balik kulit porselennya yang kini memerah karena gairah. Keisha kemudian membantu Widya melepaskan bahu gaun hijaunya, membiarkan kain sutra itu merosot hingga ke pinggang. Percintaan mereka di tengah galeri itu terasa sangat puitis namun liar. Keisha memberikan stimulasi yang sangat panas, menciumi setiap inci tubuh Widya dengan cara yang sangat artistik. Ia seolah-olah sedang "melukis" di atas kulit Widya menggunakan bibir dan lidahnya, memberikan tanda-tanda merah yang akan menjadi bukti bisu dari malam yang sensasional ini. Widya melenguh, suaranya memantul di dinding-dinding galeri yang tinggi, menciptakan gema yang hanya menambah gairah di antara mereka. "Keisha... ahh... aku mencintaimu," desah Widya saat ia merasakan jari-jari Keisha memberikan kenikmatan yang luar biasa di titik paling sensitifnya. Tubuhnya melengkung, matanya terpejam saat ia merasakan gelombang nikmat yang meledak-ledak di dalam dirinya. Di momen yang sangat intim itu, Keisha menunduk dan berbisik di telinga Widya, "Kamu adalah inspirasiku, Widya. Selamanya." Mereka tetap berpelukan di atas meja itu untuk beberapa saat, mencoba mengatur napas yang tersenggal-senggal. Keisha menciumi pundak Widya dengan penuh kelembutan, memberikan kenyamanan setelah badai gairah yang baru saja mereka lalui. Keintiman ini terasa begitu sempurna, seolah-olah dunia luar tidak lagi ada. Namun, kesempurnaan itu hancur saat suara ketukan keras di pintu kaca galeri memecah kesunyian. Suara yang membawa mereka kembali ke realitas pahit yang sedang menanti di Jakarta. Keisha segera memakaikan kembali pakaian Widya dengan gerakan yang protektif sebelum ia sendiri mengenakan blazer-nya dan bersiap menghadapi pengacara yang membawa kabar buruk itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD