BAB 19: Perisai Sang Ratu

1030 Words
Suasana di dalam galeri yang tadinya penuh dengan sisa-sisa gairah seketika berubah menjadi medan perang yang dingin. Keisha berdiri tegak, merapikan kerah blazer-nya yang sedikit berantakan, dan menatap pengacara keluarga Widya dengan pandangan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Masuk," perintah Keisha singkat namun mutlak. Pengacara itu, Pak Danu, melangkah masuk dengan ragu. Ia bisa melihat Widya yang masih sedikit terengah-engah di sudut ruangan, wajahnya merah padam karena malu dan cemas. Keisha tidak memberikan kesempatan bagi siapapun untuk merasa lemah. Ia berdiri di depan Widya, menjadi perisai hidup yang kokoh. "Jelaskan padaku, Danu. Siapa saja yang bersekutu dengan b******n itu?" tanya Keisha, menyebut paman Widya dengan hinaan yang tajam. "Nona Keisha... ini bukan hanya soal paman Widya. Dia telah menjual informasi palsu kepada rival bisnis Anda di Jakarta. Mereka berencana menyebarkan foto-foto lama saat Widya pertama kali dibawa ke hotel, dan membingkainya sebagai kasus perdagangan manusia," jelas Pak Danu dengan suara gemetar. "Jika berita ini meledak di media internasional, karier Anda berakhir, dan Widya akan diambil paksa oleh negara sebagai saksi korban." Widya menutup mulutnya dengan tangan, air matanya mulai jatuh. "Keisha... aku tidak mau kembali ke sana. Aku tidak mau mereka memisahkan kita." Keisha berbalik sejenak, menggenggam tangan Widya dengan sangat erat. "Dengarkan aku, Widya. Tidak akan ada yang membawamu pergi. Tidak selama jantungku masih berdetak." Keisha kemudian kembali menatap Pak Danu. "Berapa lama waktu yang aku punya sebelum mereka merilis berita itu?" "Mungkin empat puluh delapan jam, Nona." "Cukup," desis Keisha. Ia mengambil ponselnya dan melakukan sebuah panggilan rahasia ke Jakarta—sebuah panggilan yang hanya ia gunakan dalam keadaan darurat tingkat tinggi. Ia menghubungi seorang detektif swasta dan firma hukum paling kejam di Asia Tenggara yang selama ini ia gaji hanya untuk tutup mulut. "Dengarkan aku," ucap Keisha ke dalam telepon dengan suara dingin yang mematikan. "Aku ingin semua aset paman Widya dibekukan malam ini. Cari semua bukti perjudiannya di luar negeri, semua kasus pelecehan yang pernah dia lakukan pada pelayan rumahnya, dan kirimkan ke meja redaksi utama dalam satu jam. Jika dia ingin bermain kotor, aku akan menyeretnya ke lumpur yang paling dalam." Setelah menutup telepon, Keisha berbalik ke arah Widya. Ia tidak lagi tampak ketakutan. Ia tampak seperti seorang jenderal yang baru saja menyusun strategi kemenangan. "Kita akan pulang ke Jakarta besok pagi, Widya. Tapi bukan sebagai tawanan. Kita pulang untuk mengakhiri ini semua," ucap Keisha. Malam terakhir di Paris itu tidak dihabiskan dengan kencan mewah, melainkan dengan persiapan perang. Namun, di tengah ketegangan itu, Keisha tetap tidak melupakan kebutuhan Widya. Sebelum mereka berangkat ke bandara, Keisha menarik Widya ke dalam pelukan yang sangat posesif di atas ranjang apartemen mereka. "Malam ini, biarkan aku mencintaimu sekali lagi dengan cara yang akan membuatmu ingat bahwa kamu adalah milik seorang pemenang," bisik Keisha. Gairah yang muncul kali ini terasa sangat berbeda—ada rasa urgensi, rasa takut akan kehilangan, dan amarah yang bersatu menjadi satu energi yang sangat panas. Keisha menciumi Widya dengan intensitas yang luar biasa, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatannya ke dalam tubuh gadis itu. Mereka bercinta dengan sangat liar, sebuah pelepasan stres dan ketakutan yang berubah menjadi kenikmatan yang sensasional. "Aku akan melindungimu, Widya... meskipun aku harus menghancurkan duniaku sendiri untuk itu," desah Keisha di tengah penyatuan mereka yang membara. Lampu-lampu kota Paris yang berkelap-kelip di luar jendela apartemen seolah memudar, menyisakan ruang gelap yang hanya diisi oleh deru napas Keisha dan Widya. Di atas ranjang luas yang tertutup sprei sutra abu-abu, Keisha tidak lagi bersikap tenang. Ancaman yang dibawa oleh Pak Danu memicu insting purbanya untuk mengklaim Widya sedalam mungkin, seolah-olah dengan menyatukan tubuh mereka, ia bisa menyembunyikan Widya dari kejamnya dunia. Keisha menindih tubuh Widya, tangannya mengunci pergelangan tangan Widya di atas kepala. Ia menatap Widya dengan mata yang gelap, penuh dengan amarah yang ditujukan pada dunia, namun penuh dengan pemujaan yang ditujukan pada gadis di bawahnya. "Katakan padaku, Widya," bisik Keisha, suaranya parau dan bergetar. "Katakan bahwa apa pun yang terjadi di Jakarta nanti, kamu tidak akan pernah membiarkan mereka membawamu pergi dariku." "Aku milikmu, Keisha. Selamanya milikmu," jawab Widya dengan air mata yang menggenang, namun matanya memancarkan keberanian yang sama kuatnya. Keisha menyambar bibir Widya dengan ciuman yang sangat kasar namun penuh kerinduan. Tidak ada lagi kelembutan yang lambat; yang ada hanyalah gairah yang mendesak. Keisha melepaskan pakaian mereka dengan gerakan yang terburu-buru, membiarkan kulit mereka yang panas bertemu dalam sebuah kejutan sensasional. Ia menciumi leher, bahu, dan d**a Widya dengan gigitan-gigitan kecil yang meninggalkan jejak kemerahan, seolah-olah ia sedang menandai wilayahnya sebelum pertempuran besar dimulai. Widya merespons dengan intensitas yang sama. Ia melingkarkan kakinya di pinggang Keisha, menarik wanita itu lebih dalam ke dalam dirinya. Di bawah temaram cahaya kamar, gerakan mereka menjadi sebuah tarian gairah yang liar. Keisha memberikan stimulasi yang luar biasa, menggunakan jemari dan bibirnya untuk membawa Widya ke ambang kehancuran berkali-kali. Setiap desahan Widya yang memanggil namanya terdengar seperti musik kemenangan di telinga Keisha. "Ahhh... Keisha... jangan berhenti!" rintih Widya, tubuhnya bergetar hebat saat gelombang kenikmatan yang panas menghantamnya. Penyatuan mereka malam itu terasa sangat emosional. Keisha bercinta dengan Widya seolah-olah itu adalah kali terakhir ia bisa melakukannya, meskipun dalam hati ia bersumpah akan melakukannya ribuan kali lagi. Di puncak gairah yang meledak-ledak, mereka berdua terengah-engah, saling berpegangan erat seolah-olah nyawa mereka tergantung pada satu sama lain. Setelah badai itu mereda, Keisha tetap memeluk Widya dengan posisi yang sangat protektif. Ia menciumi kening Widya yang basah oleh keringat, sementara jemarinya masih gemetar karena sisa adrenalin. "Besok, saat kita mendarat di Jakarta, aku ingin kamu tetap berdiri tepat di belakangku," gumam Keisha di kegelapan malam. "Jangan bicara pada siapa pun, jangan menatap siapa pun. Biarkan aku yang menjadi pedangmu. Aku akan membereskan b******n itu dan semua orang yang mencoba menyentuhmu." Widya mengangguk, membenamkan wajahnya di leher Keisha yang harum. Ia tahu, perjalanan pulang ini akan sangat berbahaya. Tapi melihat sisi Keisha yang begitu tangguh dan rela melakukan apa saja demi dirinya, Widya tidak lagi merasa seperti korban. Ia merasa seperti bagian dari sebuah kekuatan yang tidak akan bisa dipatahkan oleh paman maupun hukum mana pun yang tidak adil. Fajar mulai menyingsing di atas Menara Eiffel saat mereka akhirnya memejamkan mata untuk beberapa jam, bersiap menghadapi kenyataan pahit yang menanti di ujung penerbangan panjang mereka menuju Jakarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD