BAB 20: Darah di Lantai Jakarta

1054 Words
Bandara Soekarno-Hatta tidak pernah terasa sedingin ini bagi Widya. Begitu mereka keluar dari pintu kedatangan internasional, kilatan kamera paparazzi dan wartawan hiburan menyambar mereka seperti serangan badai. "Nona Keisha! Benarkah Anda menyekap Widya di Paris?" "Widya, apa benar pamanmu melaporkan kasus penculikan?" Keisha tidak berhenti sedikit pun. Dengan kacamata hitam yang menutupi matanya yang sedingin es, ia merangkul pinggang Widya dengan posesif, sementara sepuluh pengawal bertubuh besar membuka jalan bagi mereka. Keisha tidak mengucapkan sepatah kata pun sampai mereka masuk ke dalam limosin hitam yang sudah menunggu. "Jangan takut, Widya. Mereka hanya serangga yang mencari makan dari bangkai," ucap Keisha datar, namun tangannya menggenggam jemari Widya dengan sangat kencang. Mereka tidak menuju hotel. Keisha memerintahkan supir untuk langsung menuju gedung firma hukum miliknya di pusat kota. Di sana, paman Widya, Pak Darma, sudah menunggu bersama beberapa orang yang mengaku sebagai "saksi". Saat pintu ruang pertemuan terbuka, Pak Darma berdiri dengan senyum licik. "Akhirnya, keponakanku pulang. Keisha, kamu pikir kamu bisa menyembunyikannya selamanya? Berikan aku sepuluh miliar, atau foto-foto ini akan menghancurkan kontrakmu dengan Vogue dan Chanel sore ini juga." Keisha berjalan perlahan menuju mejanya. Ia tidak tampak gentar. Ia justru menuangkan segelas air dengan tangan yang sangat stabil. "Darma," panggil Keisha, suaranya terdengar sangat tenang namun mengandung ancaman yang mematikan. "Kamu tahu apa yang paling aku benci di dunia ini? Orang yang mencoba mengambil apa yang sudah menjadi milikku." Keisha melemparkan sebuah map cokelat ke atas meja. "Di dalam sana ada bukti bahwa kamu telah menjual aset keluarga Widya secara ilegal selama lima tahun terakhir. Ada juga rekaman CCTV saat kamu mencoba menyuap petugas imigrasi. Dan yang paling menarik... ada laporan medis tentang bagaimana kamu memperlakukan pembantu rumah tanggamu." Wajah Pak Darma seketika pucat pasi. "Kamu... dari mana kamu mendapatkan itu?" "Aku punya uang, Darma. Dan uang bisa membeli kejujuran orang-orang yang selama ini kamu ancam," Keisha maju selangkah, menatap langsung ke mata pria itu. "Sekarang, kamu punya dua pilihan. Tanda tangani surat pernyataan bahwa semua tuduhanmu palsu dan pergi ke penjara dengan tenang atas kasus korupsimu, atau aku akan memastikan kamu tidak akan pernah melihat matahari lagi besok pagi." Pak Darma mencoba menyerang Keisha karena panik, namun pengawal Keisha dengan cepat membantingnya ke lantai. Suasana ruangan menjadi sangat kacau. Widya berdiri di sudut, gemetar melihat kekejaman yang harus dilakukan Keisha demi melindunginya. Setelah Pak Darma diseret keluar oleh pihak kepolisian yang sudah disiapkan Keisha di luar ruangan, Keisha jatuh terduduk di kursinya. Ia tampak sangat lelah. Widya menghampirinya, berlutut di depan Keisha, dan memegang tangannya. "Sudah selesai?" tanya Widya lirih. Keisha menarik Widya ke dalam pelukannya, menyembunyikan wajahnya di bahu gadis itu. "Sudah, sayang. Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi." Ketegangan yang luar biasa selama berjam-jam itu pecah menjadi emosi yang meledak. Begitu mereka sampai di suite hotel yang telah dibersihkan dan dijaga ketat, Keisha langsung mengunci pintu. Ia tidak bisa lagi menahan rasa lapar dan kebutuhannya akan Widya. Keisha menarik Widya masuk ke dalam kamar mandi besar, menyalakan pancuran air panas tanpa melepas pakaian mereka. Di bawah guyuran air yang membasahi gaun dan jas mereka, Keisha mencium Widya dengan liar. Ini adalah ciuman kemenangan, ciuman kemarahan, dan ciuman cinta yang sangat posesif. "Hanya aku, Widya... katakan padaku bahwa kamu tidak takut padaku setelah melihat apa yang aku lakukan tadi," desak Keisha sambil merobek kancing kemejanya sendiri. "Aku tidak takut, Keisha. Aku justru merasa paling aman bersamamu," jawab Widya, suaranya tenggelam dalam deru air. Mereka bercinta di bawah guyuran air panas itu dengan intensitas yang lebih "panas" dari biasanya. Keisha seolah ingin menghapus semua kotoran dan trauma yang baru saja mereka lalui dengan gairah yang murni. Setiap sentuhan Keisha terasa sangat menuntut, sebuah pernyataan bahwa Widya adalah miliknya secara mutlak, sah secara hukum, dan sah secara batin. Di atas lantai kamar mandi yang licin, mereka mencapai puncak sensasional yang membuat mereka berdua merasa bahwa meski dunia mencoba menghancurkan mereka, mereka akan selalu memiliki satu sama lain. Uap panas mulai memenuhi ruangan kamar mandi, mengaburkan pantulan mereka di cermin besar yang kini berembun. Suara gemericik air yang menghantam lantai marmer seolah menjadi musik latar bagi napas mereka yang memburu. Keisha tidak membiarkan Widya menjauh sedetik pun; ia memojokkan gadis itu ke dinding marmer yang basah, membiarkan pakaian mereka yang sudah basah kuyup saling menempel, menciptakan gesekan yang sangat provokatif. "Aku hampir gila saat melihat b******n itu mencoba menyentuhmu tadi, Widya," geram Keisha di depan bibir Widya. "Setiap sel di tubuhku ingin menghancurkannya, tapi aku tahu aku harus tetap tenang demi dirimu." Keisha mulai melepaskan pakaian Widya yang menempel di tubuhnya karena air. Gerakannya terburu-buru, penuh dengan urgensi yang primitif. Saat kulit polos mereka akhirnya bersentuhan di bawah kucuran air hangat, Widya bisa merasakan jantung Keisha yang berdetak kencang, sebuah pengingat bahwa di balik topeng "ratu" yang dingin tadi, Keisha tetaplah manusia yang sangat mencintainya. Gairah yang menyala di bawah shower itu terasa sangat sensasional dan liar. Keisha memberikan stimulasi yang sangat intens, menggunakan air yang mengalir untuk menambah sensasi pada setiap sentuhannya. Widya melenguh, kepalanya bersandar pada dinding yang dingin sementara tubuh bagian depannya merasakan panas yang luar biasa dari tubuh Keisha. Kontras suhu itu membuat setiap saraf di tubuh Widya seolah meledak oleh kenikmatan. "Keisha... ahh... lebih kencang lagi," desah Widya, tangannya mencengkeram bahu kokoh Keisha, membiarkan air membasahi wajah dan rambutnya yang terurai. Keisha tidak memberikan ampun. Ia menunjukkan dominasinya dengan cara yang sangat memuja, memastikan Widya merasakan betapa besarnya rasa memiliki yang ia miliki. Puncak kenikmatan yang mereka capai malam itu bukan hanya tentang fisik, melainkan sebuah pernyataan bahwa mereka telah memenangkan perang besar. Saat ledakan gairah itu menghantam, mereka berdua terengah-engah di bawah guyuran air, saling berpelukan erat seolah takut jika dilepaskan, dunia akan kembali mencoba memisahkan mereka. Setelah air dimatikan, Keisha membungkus tubuh Widya dengan handuk tebal dan menggendongnya ke tempat tidur. Di sana, di bawah selimut yang hangat, mereka saling menatap dalam keheningan yang nyaman. Tidak ada lagi paman yang mengancam, tidak ada lagi pengacara yang membawa kabar buruk. Hanya ada mereka berdua. "Mulai besok, tidak ada lagi rahasia, Widya," bisik Keisha sambil mencium dahi Widya. "Dunia mungkin akan membicarakan kita, tapi mereka tidak akan pernah bisa menyentuh kita lagi." Widya tersenyum, merasakan kedamaian yang sesungguhnya untuk pertama kalinya sejak ia mengenal Keisha. Ia tahu, di pelukan wanita inilah ia benar-benar menemukan kebebasannya, meski itu berarti ia adalah milik Keisha selamanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD