BAB 13: Kanvas dan Kebebasan

1227 Words
Gedung Akademi Seni itu berdiri megah dengan arsitektur kolonial yang elegan. Suara percakapan para mahasiswa, aroma cat minyak, dan aura kreativitas terasa begitu kental saat Widya melangkah keluar dari mobil Keisha. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut pada Keisha, tapi karena rasa gugup menghadapi dunia yang sudah lama ia tinggalkan. Keisha turun dari kursi pengemudi, melepas kacamata hitamnya, dan menatap Widya dengan senyum yang menenangkan. Ia tidak lagi memerintah Widya untuk menunduk. Sebaliknya, ia memegang kedua bahu Widya, memberinya kekuatan. "Masuklah, Aura—maksudku, Widya. Tunjukkan pada mereka bakat luar biasa yang selama ini tersembunyi," bisik Keisha. "Kamu tidak akan menungguku di sini sepanjang hari, kan?" tanya Widya sedikit menggoda. Keisha tertawa kecil, meskipun ada sedikit keraguan di matanya. "Aku punya pemotretan yang membosankan. Tapi aku akan menjemputmu tepat jam empat. Jika ada apa-apa, ponselmu selalu aktif, kan?" Widya mengangguk, lalu memberanikan diri mencium pipi Keisha di depan umum. Keisha tampak terkejut, namun wajahnya merona bahagia. "Pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan membawamu pulang untuk mengurungmu di tempat tidur lagi," canda Keisha dengan nada rendah yang membuat Widya merinding manis. Di dalam kelas seni, Widya bertemu dengan lingkungan yang benar-benar baru. Ia duduk di depan kanvas kosong, mencoba menuangkan segala emosi yang selama ini terpendam. Di sampingnya, seorang pemuda bernama Rio, yang tampak santai dengan kaos penuh noda cat, mencoba menyapanya. "Hai, murid baru ya? Lukisanmu... garis-garisnya sangat emosional. Seperti seseorang yang baru saja menemukan cahaya," puji Rio tulus. Widya tersenyum malu. "Terima kasih. Aku hanya... sedang mencoba mengekspresikan sesuatu." Sepanjang kelas, Widya merasa hidup kembali. Ia bisa berbicara tentang teknik shading dan teori warna tanpa rasa takut akan diawasi. Namun, ia tidak tahu bahwa di luar gedung, salah satu asisten kepercayaan Keisha tetap memantau dari kejauhan—bukan untuk mengekang, tapi untuk memastikan keselamatan Widya dari ancaman paman-pamannya yang mungkin masih mengintai. Saat jam menunjukkan pukul empat, Keisha sudah menunggu di depan gerbang dengan mobil sport-nya yang mencolok. Ia melihat Widya keluar sambil tertawa kecil bersama Rio. Widya tampak begitu bersinar. Ada sedikit rasa panas yang menjalar di d**a Keisha saat melihat pria lain sedekat itu dengan Widya. Tangannya mencengkeram kemudi, insting lamanya untuk keluar dan mengusir pria itu mulai muncul. Namun, ia menarik napas dalam-dalam. Ingat janji kamu, Keisha. Dia bukan barangmu. Widya masuk ke dalam mobil dengan wajah ceria. "Keisha! Hari ini sangat luar biasa! Aku bertemu teman baru, namanya Rio, dia sangat hebat dalam melukis pemandangan." Keisha memaksakan senyum, meskipun hatinya sedikit bergejolak. "Rio, ya? Baguslah kalau kamu punya teman." "Kamu tidak marah?" Widya menatap Keisha dengan hati-hati. Keisha meraih tangan Widya dan menciumnya lama. "Aku cemburu, Widya. Aku sangat cemburu sampai ingin meledak. Tapi aku lebih mencintaimu daripada rasa cemburuku. Selama kamu bahagia, aku akan belajar untuk menerima bahwa duniamu bukan hanya aku." Malam itu, sebagai bentuk "imbalan" atas kesabaran Keisha, Widya memberikan kejutan di dalam suite. Ia telah menyiapkan mandi busa dengan aroma terapi dan lilin-lilin romantis. Saat Keisha masuk ke kamar mandi, Widya sudah menunggunya di dalam bak mandi besar yang penuh busa, hanya dengan balutan kain tipis yang transparan saat terkena air. "Aku tahu hari ini berat bagimu, menahan diri untuk tidak bersikap posesif," bisik Widya sambil menarik Keisha masuk ke dalam air. Keisha tidak membuang waktu. Ia menyambar bibir Widya dengan rasa lapar yang tertahan seharian. Di bawah guyuran air hangat dan aroma mawar, mereka kembali menyatu dalam gairah yang lebih liar dan panas. Keisha menunjukkan betapa ia sangat mendambakan Widya melalui setiap sentuhan kulit yang licin oleh sabun, menciptakan sensasi yang membuat Widya kehilangan kata-kata. "Hanya aku, Widya... katakan padaku bahwa di akademi itu pun, hanya aku yang ada di pikiranmu," desah Keisha di tengah pagutan panas mereka. "Selalu kamu, Keisha... hanya kamu," jawab Widya sambil mendesah nikmat, membiarkan Keisha kembali menguasai tubuhnya dalam percintaan yang penuh gairah namun kini didasari oleh kepercayaan yang tulus. Air hangat yang meluap dari pinggiran bak mandi marmer itu menciptakan suara gemericik yang beradu dengan napas mereka yang semakin memburu. Di bawah cahaya lilin yang menari-nari di dinding kamar mandi, kulit Keisha tampak berkilau, basah oleh air dan sisa busa sabun yang harum. Widya bisa merasakan otot-otot tubuh Keisha yang biasanya tegang karena pekerjaan, kini mulai melemas di bawah sentuhannya. Keisha menarik tubuh Widya agar duduk di atas pangkuannya, membuat kulit mereka bersentuhan tanpa penghalang di dalam air yang hangat. Sensasi gesekan kulit yang licin menciptakan gairah yang menyengat saraf. Keisha mencengkeram pinggang Widya dengan posesif, menatap mata gadis itu dengan tatapan yang sangat dalam—sebuah campuran antara pemujaan dan keinginan yang tak terukur. "Kamu tidak tahu betapa sulitnya bagiku melihatmu tertawa dengan pria lain hari ini, Widya," bisik Keisha tepat di depan bibir Widya. "Setiap detik aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa kamu adalah manusia bebas, bukan milikku yang dikurung." Widya mengalungkan lengannya di leher Keisha, membiarkan tubuhnya merapat sempurna. "Tapi aku di sini sekarang, Keisha. Hanya bersamamu." Keisha tidak lagi menjawab dengan kata-kata. Ia menyambar bibir Widya dengan ciuman yang jauh lebih menuntut dan panas dari sebelumnya. Tangannya yang basah mulai menjelajah ke bawah air, menelusuri setiap inci tubuh Widya dengan presisi yang membuat Widya gemetar hebat. Sentuhan Keisha di area sensitif Widya menciptakan gelombang nikmat yang membuat Widya harus menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak terlalu keras. Keisha mengangkat tubuh Widya sedikit, mengubah posisi mereka hingga Widya bersandar pada dinding bak mandi yang dingin, sementara tubuh depan Widya merasakan panasnya tubuh Keisha. Kontras antara dinginnya marmer dan panasnya gairah itu membuat sensasi yang dirasakan Widya menjadi berkali-kali lipat lebih intens. "Katakan namaku, Widya... katakan siapa yang kamu inginkan," desak Keisha sambil terus memberikan stimulasi yang memabukkan. "Keisha... ahh... hanya Keisha," desah Widya dengan suara parau. Ia merasakan puncak kenikmatan itu mulai mendekat, sebuah ledakan yang dipicu oleh sentuhan ahli Keisha. Percintaan di dalam air itu berlangsung dengan sangat liar namun penuh perasaan. Keisha seolah ingin menanamkan identitasnya ke dalam jiwa Widya melalui setiap gerakan tubuhnya. Ia menciumi bahu, leher, dan d**a Widya dengan rakus, meninggalkan tanda-taman cinta yang akan mengingatkan Widya besok pagi tentang siapa pemilik hatinya. Saat mereka berdua mencapai puncak gairah secara bersamaan, Widya mencengkeram bahu Keisha erat-erat, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu sambil terengah-engah. Keisha memeluknya dengan sangat protektif, membiarkan detak jantung mereka yang liar saling beradu di dalam keheningan kamar mandi yang kini hanya menyisakan aroma mawar dan uap hangat. Setelah beberapa saat, Keisha mengambil handuk tebal dan membungkus tubuh Widya dengan sangat lembut. Ia menggendong Widya keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur mereka yang luas. Ia tidak membiarkan kaki Widya menyentuh lantai yang dingin. Di atas tempat tidur, Keisha merebahkan Widya dan ikut berbaring di sampingnya, menyelimuti mereka berdua. "Aku janji, besok dan seterusnya, aku akan terus belajar untuk menjadi lebih baik," gumam Keisha sambil mengecup ujung hidung Widya. "Aku akan membiarkanmu melukis duniamu sendiri, asalkan kamu mengizinkanku menjadi warna yang paling dominan di dalamnya." Widya tersenyum, merasa sangat dicintai dan dihargai. Keisha benar-benar telah bertransformasi dari seorang tiran menjadi seorang kekasih yang penuh pengabdian. Namun, di balik kebahagiaan itu, Widya menyadari satu hal: cinta Keisha tetaplah api. Hangat dan menerangi, namun jika ia tidak berhati-hati, api itu masih bisa menghanguskannya kapan saja. Malam itu, mereka tertidur dalam posisi yang sangat intim, kaki yang saling bertautan dan tangan yang tidak pernah lepas. Widya merasa ini adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya, namun ia juga tahu bahwa di luar sana, dunia tidak akan membiarkan kebahagiaan mereka berjalan tanpa ujian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD