Malam itu, Jakarta terlihat seperti hamparan permata dari lantai 56 restoran fine dining yang telah dipesan seluruhnya oleh Keisha. Ia ingin merayakan minggu pertama Widya di akademi seni dengan sesuatu yang tak terlupakan. Keisha tampil sangat memukau dengan gaun backless berwarna hitam legam, sementara Widya tampak anggun dengan gaun satin perak yang menonjolkan kecantikan alaminya.
Keisha menggenggam tangan Widya di atas meja yang dihiasi lilin-lilin kecil. "Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Widya. Aku bangga melihatmu mulai berani menatap mata orang lain dengan percaya diri."
"Itu semua karena kamu, Keisha. Kamu memberiku keberanian itu," jawab Widya tulus.
Pelayan datang menyajikan hidangan pembuka yang artistik dan menuangkan wine terbaik. Suasana terasa sangat sempurna, romantis, dan tenang. Namun, ketenangan itu hancur saat seorang wanita dengan gaun merah yang mencolok berjalan masuk ke area restoran yang seharusnya sudah dikosongkan.
Wanita itu adalah Sarah. Mantan kekasih Keisha yang pernah menghubungi Widya melalui telepon.
Langkah kaki Sarah terdengar menggema di ruangan yang sunyi itu. Keisha seketika menegang, matanya yang tadi lembut berubah menjadi sedingin es dalam sekejap. Ia berdiri, menghalangi pandangan Sarah terhadap Widya.
"Siapa yang membiarkanmu masuk, Sarah?" suara Keisha terdengar sangat rendah dan mengancam.
Sarah tertawa pahit, matanya tampak sedikit berkaca-kaca namun penuh kebencian. "Keamananmu tidak seketat dulu, Keisha. Atau mungkin mereka kasihan melihatku?" Ia mengalihkan pandangannya ke arah Widya yang duduk mematung. "Jadi ini 'Aura' yang baru? Dia tampak lebih muda dan lebih polos dariku dulu. Berapa lama lagi sebelum kamu menghancurkannya, Keisha?"
"Pergi dari sini, Sarah. Jangan merusak malamku," desis Keisha, tangannya terkepal kuat di samping tubuhnya.
"Aku hanya ingin memperingatkannya," Sarah maju selangkah, suaranya kini bergetar. "Widya, jangan tertipu oleh kemewahan ini. Dulu dia juga memandangi aku seperti itu. Dia juga menjanjikan dunia padaku. Tapi lihat aku sekarang! Aku harus hidup dengan ketakutan dan luka yang tidak akan pernah sembuh karena aku berani mencintai wanita yang ingin memilikiku seperti benda mati!"
Widya berdiri, menatap Sarah dengan campur aduk antara takut dan iba. "Sarah... Keisha sudah berubah. Dia tidak lagi seperti itu."
"Berubah?" Sarah tertawa sinis. "Monster tidak pernah berubah, Widya. Mereka hanya belajar cara menyembunyikan taringnya lebih baik. Tunggu saja sampai kamu melakukan kesalahan kecil, atau saat kamu ingin pergi darinya. Kamu akan melihat sisi Keisha yang akan membuatmu memohon untuk mati."
"CUKUP!" teriak Keisha. Ia memanggil petugas keamanan dengan satu jentikan jari. "Bawa dia keluar! Dan pastikan dia tidak akan pernah mendekati hotel atau propertiku lagi!"
Saat Sarah diseret keluar, ia masih sempat berteriak, "DIA AKAN MENGURUNGMU LAGI, WIDYA! LIHAT SAJA NANTI!"
Suasana restoran yang tadinya romantis kini terasa hampa dan menyesakkan. Keisha berbalik arah, wajahnya tampak sangat pucat. Ia menghampiri Widya dan mencoba memeluknya, namun kali ini Widya sedikit ragu. Ada ketakutan kecil yang kembali tumbuh di sudut hati Widya.
"Widya, jangan dengarkan dia. Dia hanya ingin menghancurkan kita karena dia tidak bisa memilikiku lagi," ucap Keisha dengan nada memohon yang sangat rapuh.
"Apa yang sebenarnya terjadi padanya, Keisha? Kenapa dia begitu membencimu?" tanya Widya lirih.
Keisha menatap Widya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Dulu... aku memang sangat buruk, Widya. Aku penuh ambisi dan ketakutan. Aku memang menyakitinya dengan caraku mencintainya yang salah. Tapi bersamamu, aku benar-benar ingin berubah. Tolong, jangan biarkan masa laluku mengambil masa depan kita."
Malam itu, kencan romantis mereka berakhir dengan keheningan yang panjang di dalam mobil. Sesampainya di suite, Keisha tidak lagi bersikap dominan. Ia tampak sangat hancur. Ia duduk di tepi tempat tidur, menyembunyikan wajahnya di telapak tangan.
Widya, melihat kerapuhan Keisha, akhirnya mendekat. Ia menyadari bahwa Keisha adalah manusia yang juga memiliki luka dan penyesalan. Ia memeluk Keisha dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung wanita itu.
"Aku tidak akan pergi, Keisha. Selama kamu jujur padaku, aku akan tetap di sini," bisik Widya.
Keisha berbalik dan memeluk Widya dengan sangat erat, seolah-olah dunianya akan runtuh jika ia melepaskannya. Keintiman yang terjadi malam itu bukanlah tentang gairah yang membara, melainkan tentang penyembuhan. Keisha menciumi Widya dengan penuh air mata, memohon maaf berkali-kali di sela-sela ciumannya.
Mereka bercinta malam itu dengan ritme yang lambat dan sangat emosional. Keisha memperlakukan Widya dengan sangat hati-hati, seolah-olah Widya adalah kristal yang bisa pecah kapan saja. Setiap sentuhan terasa seperti permohonan ampun. Widya merespons dengan penuh kasih, mencoba memberikan ketenangan pada jiwa Keisha yang sedang bergejolak. Di atas ranjang itu, mereka saling menguatkan, mencoba mengubur bayangan Sarah dengan kehangatan tubuh mereka yang menyatu.
Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh pantulan cahaya lampu kota dari jendela besar, Keisha masih belum bisa menghentikan getaran di tangannya. Kehadiran Sarah bukan hanya sekadar gangguan; itu adalah cermin dari masa lalunya yang paling kelam, masa di mana ia menjadi monster yang ia benci sekarang.
Keisha melepaskan gaun hitamnya dengan gerakan yang kaku, lalu ia duduk di sofa kecil di sudut kamar, memeluk lututnya. Widya mendekat, berdiri di depan Keisha, dan perlahan menarik tangan wanita itu agar mau menatapnya.
"Keisha, lihat aku," bisik Widya.
Keisha mendongak. Matanya yang biasanya penuh otoritas kini tampak kosong dan hancur. "Dia benar, Widya. Aku pernah menjadi monster itu. Aku pernah mengunci Sarah di ruangan yang tidak ada jendelanya hanya karena dia tersenyum pada pria lain. Aku menghancurkan hidupnya karena aku tidak tahu cara mencintai tanpa menghancurkan. Apakah sekarang kamu takut padaku?"
Widya tidak menjawab dengan kata-kata. Sebaliknya, ia perlahan membuka gaun peraknya, membiarkannya jatuh ke lantai. Ia melangkah mendekat dan duduk di pangkuan Keisha, melingkarkan lengannya di leher wanita itu. Kehangatan kulit mereka yang bertemu seketika membuat napas Keisha sedikit lebih teratur.
"Aku tidak takut pada Keisha yang ada di depanku sekarang," ucap Widya lembut, jarinya menelusuri garis rahang Keisha. "Keisha yang ada di depanku sekarang adalah wanita yang memasak sarapan untukku, yang mengantarku ke akademi, dan yang menangis karena takut kehilanganku. Itu sudah cukup bagiku."
Keisha memejamkan mata, membenamkan wajahnya di d**a Widya, menghirup aroma manis kulit gadis itu yang selalu menjadi penenang jiwanya. Ia mulai menciumi kulit Widya dengan penuh rasa lapar—bukan lapar akan kekuasaan, tapi lapar akan penebusan. Ia membawa Widya ke atas tempat tidur, dan malam itu, keintiman mereka berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih panas dan mendalam.
Keisha menjamah tubuh Widya dengan cara yang sangat memuja. Setiap inci kulit Widya ia perlakukan seolah-olah itu adalah doa yang harus ia sampaikan. Di bawah selimut sutra, gerakan mereka menjadi semakin sinkron. Keisha memberikan stimulasi yang sangat intens, namun setiap kali Widya mendesah nikmat, Keisha akan berhenti sejenak untuk menatap matanya, memastikan bahwa Widya benar-benar menikmati setiap detik bersamanya.
"Aku mencintaimu... sangat mencintaimu," gumam Keisha saat ia mulai memberikan sentuhan yang lebih dalam dan berani di area sensitif Widya.
Gairah yang menyala di antara mereka malam itu terasa sensasional. Widya membalas dengan lebih liar dari biasanya, seolah ingin membuktikan pada Keisha bahwa ia tidak akan pergi ke mana pun. Ia meremas punggung Keisha, membiarkan kuku-kukunya meninggalkan bekas merah di sana—sebuah tanda kepemilikan balik yang membuat Keisha semakin terbakar oleh keinginan.
Saat mereka mencapai puncak kenikmatan bersama, sebuah ledakan gairah yang membuat tubuh mereka menegang hebat, Keisha tidak melepaskan dekapannya. Ia tetap di sana, di atas tubuh Widya, dengan napas yang terengah-engah dan keringat yang menyatukan kulit mereka. Ia menangis pelan, air matanya jatuh ke pipi Widya.
"Terima kasih... terima kasih karena tidak menyerah padaku," bisik Keisha serak.
Mereka menghabiskan sisa malam itu dengan saling berpelukan di bawah selimut tebal. Keisha tidak lagi mencoba mendominasi pembicaraan. Ia justru banyak mendengarkan saat Widya bercerita tentang mimpinya di akademi seni. Keisha menyadari bahwa dengan memberikan Widya kebebasan, ia justru mendapatkan cinta yang jauh lebih tulus dan membara daripada saat ia menggunakan paksaan.
Namun, saat Widya akhirnya tertidur dalam pelukannya, Keisha tetap terjaga. Ia menatap pintu kamar yang kini selalu terbuka. Ia tahu bahwa meskipun Widya memaafkannya, dunia luar mungkin tidak akan pernah memaafkan masa lalunya secepat itu. Ia bersumpah dalam hati, ia akan melakukan apa pun—benar-benar apa pun—untuk melindungi Widya, bukan lagi dari dunia luar, tapi dari konsekuensi masa lalunya sendiri yang mulai mengejar.