BAB 15: Sayap yang Terbentang

1259 Words
Minggu-minggu berlalu di Akademi Seni, dan bakat Widya meledak seperti kembang api. Lukisan-lukisannya yang emosional, yang seringkali menggambarkan perpaduan antara sangkar emas dan cahaya kebebasan, menarik perhatian banyak kurator. Puncaknya adalah hari ini, ketika Widya pulang ke suite dengan wajah yang berseri-seri namun juga penuh keraguan. Keisha sedang duduk di ruang kerja, meninjau laporan bisnis, saat Widya menghambur masuk. "Keisha! Kamu tidak akan percaya ini!" Keisha segera menutup laptopnya, memberikan perhatian penuh. "Ada apa, sayang? Kamu terlihat sangat bersemangat." "Dosenku... dia merekomendasikan karyaku ke sebuah pameran bergengsi di Paris. Dan yang lebih gila lagi, aku mendapatkan tawaran beasiswa residensi selama tiga bulan di sana!" Widya berteriak senang, namun suaranya perlahan mengecil saat melihat ekspresi Keisha yang sempat membeku sesaat. Tiga bulan. Di Paris. Ribuan kilometer jauhnya dari jangkauan Keisha. Keisha merasakan dadanya sesak. Pikiran lamanya—monster posesif di dalam dirinya—mulai berteriak. Jangan biarkan dia pergi! Dia akan bertemu orang baru! Dia akan melupakanmu! Namun, Keisha menarik napas panjang. Ia menatap mata Widya yang berbinar penuh harap. "Paris?" Keisha memaksakan sebuah senyum bangga. "Widya... itu luar biasa. Itu adalah impian setiap seniman." "Tapi itu tiga bulan, Keisha. Aku tidak tahu apakah aku bisa jauh darimu selama itu," Widya duduk di samping Keisha, menggenggam tangannya. "Kalau kamu tidak setuju, aku tidak akan mengambilnya." Keisha menangkup wajah Widya dengan sangat lembut. "Dulu, aku akan melakukan segala cara agar kamu tetap di sini, bahkan jika itu harus menghancurkan mimpimu. Tapi sekarang... aku ingin kamu terbang, Widya. Pergilah. Tunjukkan pada dunia betapa hebatnya wanitaku." Malam itu, suite 909 terasa sangat berbeda. Ada rasa haru dan kesedihan yang bercampur dengan gairah yang meluap. Mereka tahu bahwa waktu mereka bersama tinggal sedikit sebelum Widya berangkat. Keisha memutuskan untuk membuat malam ini menjadi malam yang paling sensasional bagi mereka berdua. "Malam ini, hanya ada kita, Widya. Tidak ada Paris, tidak ada masa lalu, tidak ada siapa pun," bisik Keisha saat mereka berada di dalam kamar. Keisha tidak lagi menunggu Widya memulai. Ia menarik Widya ke dalam pelukannya dengan intensitas yang membara. Keisha menciumi Widya dengan rasa lapar yang seolah ingin merekam setiap rasa dan aroma tubuh Widya ke dalam ingatannya. Pakaian mereka dilepaskan dengan cepat, dan saat kulit mereka bertemu, ada percikan gairah yang lebih kuat dari malam-malam sebelumnya. Di atas tempat tidur, Keisha menunjukkan sisi penyayangnya yang paling dalam. Ia memberikan sentuhan-sentuhan yang sangat intim, menjelajahi setiap inci tubuh Widya dengan lidah dan jarinya. Widya mendesah nikmat, tubuhnya bergetar di bawah penguasaan Keisha yang penuh cinta. "Aku akan sangat merindukan ini," desah Widya saat Keisha memberikan stimulasi yang luar biasa pada titik sensitifnya. "Aku akan menyusulmu sesering mungkin," jawab Keisha di sela-sela kegiatannya. "Tapi malam ini, aku ingin kamu hanya merasakan aku. Aku ingin namaku terbakar di dalam ingatanmu selama kamu di sana." Gairah mereka memuncak dalam sebuah penyatuan yang sangat emosional. Keisha bercinta dengan Widya seolah-olah dunia akan berakhir besok. Setiap gerakan, setiap desahan, dan setiap tetes keringat adalah bukti dari janji mereka untuk tetap setia meskipun jarak memisahkan. Keisha memastikan Widya merasakan puncak kenikmatan berkali-kali hingga gadis itu lemas dalam pelukannya. Setelah badai gairah itu mereda, mereka berbaring dalam keheningan yang nyaman. Keisha membelai rambut Widya yang basah oleh keringat. "Aku sudah menyiapkan apartemen untukmu di Paris," ucap Keisha pelan. "Dekat dengan galeri. Dan aku sudah mengatur semuanya agar kamu tetap aman tanpa merasa diawasi. Kamu akan benar-benar bebas di sana, Widya." Widya tertegun. "Keisha... kamu benar-benar melakukan itu untukku?" "Aku mencintaimu, Widya. Dan cinta sejati berarti memberikanmu sayap untuk terbang, bukan hanya sangkar untuk diam," jawab Keisha tulus. Malam itu, Widya menyadari bahwa ia telah memenangkan hati seorang wanita yang paling sulit untuk berubah di dunia ini. Keisha bukan lagi tiran yang mengurungnya, melainkan malaikat pelindung yang siap membiarkannya pergi demi kebahagiaannya. Namun, tantangan sesungguhnya baru saja dimulai: mampukah cinta mereka bertahan dari jarak dan godaan di kota paling romantis di dunia? Jam dinding di suite 909 terus berdetak, seolah sengaja mempercepat waktu menuju keberangkatan Widya. Di luar, fajar mulai menyingsing, memberikan semburat warna biru dan ungu di ufuk timur. Di dalam kamar, keheningan terasa begitu berat, namun suhu di atas ranjang tetap membara. Keisha tidak bisa memejamkan mata. Ia menatap wajah Widya yang sedang tertidur di pelukannya, lalu perlahan mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang tulang selangka gadis itu. Widya terbangun dengan lenguhan halus, matanya yang sayu bertemu dengan tatapan Keisha yang penuh damba. "Hanya beberapa jam lagi," bisik Keisha serak. "Dan aku sudah merasa separuh nyawaku akan hilang." Widya menarik leher Keisha, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang dalam dan penuh keputusasaan. "Jangan bicara begitu, Keisha. Aku hanya pergi untuk belajar, bukan untuk pergi selamanya." Keisha membalikkan tubuh Widya sehingga ia kini berada di atas gadis itu. Ia menatap Widya dengan pandangan yang sangat intens, seolah ingin merekam setiap detail wajah Widya ke dalam memorinya. Tangan Keisha mulai bergerak kembali, menelusuri lekuk tubuh Widya di bawah selimut dengan gerakan yang lebih berani dan panas dari sebelumnya. "Biarkan aku memberikan sesuatu yang akan kamu ingat setiap kali kamu merasa kesepian di Paris nanti," gumam Keisha. Keisha mulai mencium Widya dengan teknik yang sangat ahli, menelusuri setiap titik sensitif yang ia tahu akan membuat Widya kehilangan kendali. Ia memberikan stimulasi yang sangat panas di area leher dan d**a Widya, sebelum perlahan turun ke bawah selimut. Widya mencengkeram sprei sutra dengan kuat, napasnya memburu saat merasakan lidah dan jari Keisha bekerja dengan sangat presisi di antara kedua pahanya. Gairah yang meluap di pagi buta itu terasa sangat sensasional. Widya merasakan gelombang nikmat yang berkali-kali lipat lebih kuat, didorong oleh rasa haru akan perpisahan sementara ini. Ia membiarkan tubuhnya sepenuhnya dikuasai oleh Keisha, memberikan balasan dengan desahan-desahan yang memicu adrenalin Keisha semakin memuncak. Saat tubuh mereka kembali menyatu dalam ritme yang liar namun harmonis, Keisha membisikkan janji-janji di telinga Widya—janji tentang kesetiaan, janji tentang kunjungan mendadak ke Paris, dan janji bahwa tempat tidur ini akan selalu menunggunya kembali. Widya merasakan cinta Keisha yang kini telah bertransformasi sepenuhnya; bukan lagi cinta yang mencekik, melainkan cinta yang memberikan kehidupan. Setelah ledakan gairah yang terakhir, mereka berdua terbaring lemas dengan tubuh yang saling berpelukan erat, basah oleh keringat dan sisa-sisa air mata haru. Keisha tidak melepaskan dekapannya bahkan saat alarm ponsel Widya berbunyi, tanda mereka harus segera bersiap menuju bandara. "Aku akan merindukan aroma ini," desah Keisha sambil menghirup wangi kulit Widya untuk terakhir kalinya sebelum bangkit. Keisha membantu Widya mandi—kali ini dengan suasana yang lebih melankolis. Ia menyabuni tubuh Widya dengan penuh kelembutan, memastikan setiap inci tubuh kekasihnya itu merasakan perhatian terakhirnya. Di bawah kucuran air shower, mereka kembali berbagi ciuman panjang yang terasa seperti doa agar waktu berhenti berputar. Saat mereka akhirnya keluar dari suite dengan koper-koper besar, Keisha menggenggam tangan Widya dengan sangat erat. Di lobi hotel, Keisha tidak peduli lagi dengan citranya sebagai model papan atas. Ia memeluk Widya di depan umum, menunjukkan kepada dunia bahwa gadis ini adalah miliknya yang paling berharga. "Pergilah, Little Bird. Taklukkan Paris untukku," ucap Keisha dengan suara bergetar namun penuh kebanggaan. "Dan ingat, ke mana pun kamu pergi, hatiku adalah rumahmu." Widya melangkah menuju mobil jemputan dengan air mata yang mengalir di pipinya. Ia menoleh sekali lagi, melihat Keisha berdiri tegak di depan pintu hotel mewah itu—wanita yang dulu mengurungnya dalam sangkar emas, kini berdiri sebagai pilar kekuatannya untuk menghadapi dunia. Namun, tepat saat mobil mulai bergerak, Widya melihat sebuah sosok pria di seberang jalan yang sedang menatap ke arah mereka dengan pandangan penuh kebencian. Sosok yang sangat ia kenali: pamannya. Sebuah peringatan bahwa meski Keisha telah berubah, bahaya dari masa lalunya sendiri tidak akan membiarkannya pergi semudah itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD