Aku membuka pintu perlahan dan hati-hati. Derit pintu yang mulai reot membuat bulu kudukku meremang. Aku memasuki ruangan dengan langkah yang lambat. “Kosong,” gumamku. Aku terus melanjutkan langkah untuk masuk lebih dalam lagi dengan memandang cemas sekeliling. Tidak ada cahaya lilin. Hanya sedikit sinar matahari yang samar-samar menembus ruangan dari arah pintu yang aku buka.
“Sam,” Aku memanggilnya, takut-takut kalau Daniel berbohong. Meski aku tahu Daniel bukan orang yang suka bercanda dengan berbohong.
Ruangan ini memang cukup luas. Dulunya ruangan ini dipakai untuk acara rapat para staf dan dosen. Kemudian karena kekurangan kelas ruangan ini disulap menjadi kelas. Karena kelas sudah banyak yang dibangun seiring berjalannya waktu dan banyaknya mahasiswa yang mengambil Jurusan Arkeologi, ruangan ini pun terabaikan dan dikosongkan. Hanya diisi pecahan benda-benda yang pernah diteliti. Letaknya cukup jauh dengan ruangan-ruangan lainnya. Terlihat begitu sepi. Semak belukar memenuhi pemandangan di sekeliling.
Di ruangan ini ada satu foto yang berukuran besar. Entah foto apa itu, yang jelas foto itu selalu tertutup rapat oleh kain berwarna merah, semerah darah. Aku mengetahuinya dari cerita yang beredar.
Aku tersentak seketika melihat banyak darah berceceran di lantai. Mataku terpaku pada seseorang yang meringkuk ketakutan. Aku bergidik ngeri dan gemetaran.
“Sam....”
***
“Vanessa bagaimana menurutmu?”
Aku tersentak dari lamunan dan mengangkat wajah kusutku, “Apa?” tanyaku bingung.
“Bagus! Kamu tidak mendengarkan kita.” kata Molly melirik ke arah Amel. Aku memasang wajah bingung tanpa dosa.
“Kita lagi ngomongin pesta dansa kemarin,” kata Amel santai.
“Oh,” aku manggut-manggut.
“Kamu nglamunin apa? Sam ya?” Amel tersenyum menggodaku.
“Ti-tidak kok,” jawabku terbata. “Lagian tidak ada cerita tentang pesta dansa. Gara-gara Molly mabuk.” kataku menyindir, melirik Molly. Molly mengerucutkan bibir.
“Bagaimana si Sam?” tanya Amel dengan kerlingan mata menggoda.
“Ya, dia tampan dan...” Aku menggantungkan kalimat, bingung. Aku tidak mungkin bercerita tentang Sam kepada mereka. Apa yang aku lihat tadi sore tidak boleh diceritakan. Ini adalah rahasia Sam.
“Dan apa hayo?” Molly ikut-ikutan menggodaku.
“Dan baik,” jawabku sekenanya seraya tersenyum kecil.
“Hanya itu? Apa kamu tidak mau cerita tentang Sam?” tanya Amel.
“Sudah malam, aku harus tidur. Besok ada kuliah pagi, kan. Lagian tidak ada cerita tentang Sam kok.” tukasku tanpa menjawab pertanyaan Amel, aku langsung merebahkan tubuh di kasur dan menarik selimut sampai ke wajah.
Amel dan Molly melanjutkan obrolannya. Aku tidak tahu apakah mereka merasa kalau aku menghindari percakapan tentang Sam. Tampaknya mereka memaklumi keganjalanku yang langsung menarik selimut sampai ke wajah.
Bayanganku tentang Sam yang seperti seorang pangeran dari negeri dongeng menguap entah kemana. Sam yang meringkuk ketakutan dengan pisau dapur yang anyir berlumur darah di tangan kanannya. Kulit punggung tangan kirinya sobek dan mengeluarkan banyak darah. Ia merengek, seperti anak kecil. Aku takut ketika melihatnya seperti itu. Dengan segenap keberanian aku mendekatinya. Aku mengulurkan tangan untuk mengambil pisau tajam dari tangannya. Sam hanya menangis.
“Kenapa Sam?” tanyaku dengan rasa takut yang masih tersisa. Sam tidak menjawab. Dia hanya menangis. Dan hanya itu yang bisa dilakukannya, menangis. Aku bersumpah tidak pernah melihat seorang cowok manapun yang menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya.
Setelah beberapa jam aku menenangkannya dan menelpon dokter pribadi Sam untuk datang ke ruangan kosong itu. Sam memberitahuku nomor dokter pribadinya setelah ia berhenti menangis dan sedikit tenang.
Aku benar-benar terkejut mendengar penjelasan dokter tentang Sam. Sam didiagnosa mengidap Bipolar. Dan Sam berada di episode depresi. Aku tidak tahu penyebab Bipolar pada Sam. Namun ketika aku melihat matanya yang memancarkan kesedihan, ketakutan dan rasa bersalah bercampur aduk di matanya. Aku mulai merasa kalau Sam membutuhkan seseorang yang dapat mengerti suasana hatinya setiap saat. Aku berjanji dalam hati, aku akan menjaga dan melindunginya. Saat ia menatapku, aku mencoba menenangkannya dengan memeluknya.
***
Dari tadi pagi bibirku kering. Mungkin aku kurang minum air putih. Dua hari yang lalu aku intens meminum kopi dan air botol manis dalam kemasan yang aku beli di supermarket dekat kampus. Aku tahu air putih adalah kebutuhan penting untuk tubuh. Kadang memang ada saat-saat dimana aku membenci air putih dan menggantinya dengan minuman manis. Entah sudah berapa kali aku memolesi bibir dengan lip balm untuk menghilangkan kekeringan di kedua daun bibirku.
Aku dan Molly memperhatikan Amel yang sedang menatap pantulan wajahnya sendiri di cermin yang berada di sudut kamar. Amel mengerjapkan mata beberapa kali. Menarik napas panjang dan mulai berbicara dengan pantulan wajahnya sendiri.
“Amel cuma gugup,” kata Molly, dengan secangkir kopi di tangan kanannya.
“Aku rasa begitu. Tapi kegugupannya bisa menghancurkan pentas dramanya.” kataku, memoles lip balm lagi di bibir.
“Oh, aku seperti Hayati yang sebentar lagi akan tenggelam di kapal Van Der Wijck.” kata Amel menoleh ke arah kami dengan raut wajah yang gelisah.
“Sebelum kamu tenggelam, aku, Molly dan Daniel akan menangkapmu menggunakan pancing. Menyelamatkanmu dan membawamu kembali ke asrama.” balasku mantap.
“Hahaha...” Molly tertawa. Memang aku sedang melucu apa?
“Drama itu seperti kapal Van Der Wijck yang akan menenggelamkanku. Aku ini manusia Van, bukan ikan.” Amel mengempaskan kepercayaan dirinya.
“Tugas sahabat adalah menangkap sahabatnya yang akan tenggelam.” kataku bijak, setengah kesal melihat kepercayaan diri Amel hilang. Bukan apa-apa, Amel itu cantik dan memesona. Dia juga seorang pianis yang lihai. Dia punya bakat entertainment yang baik. Dia multitalenta.
“Ini bukan pentas drama pertamaku tapi kenapa aku merasa peran ini berat. Aku takut tidak sempurna memerankannya,” ujarnya. Wajahnya tampak risau.
“Memangnya kamu dapat peran apa?” tanya Molly mendekati Amel, diikuti olehku.
“Perannya sih cuma sebagai pemeran pembantu. Tapi peran ini sangat penting karena aku adalah petunjuk kebenaran dalam drama itu.” jawab Amel dengan mata menyala.
“Karena peran pentingmu itu kamu harus menghilangkan rasa gugup dan berlatih akting lagi.” saran Molly. Menepuk bahu Amel, tanda menyemangati.
“Iya, peranku penting dan aku harus menghilangkan kegugupan. Aku harus berakting dengan baik. Aku pasti bisa!” katanya seraya bediri, memotivasi diri sendiri. Meskipun paling dewasa di antara kami, Amel juga kadang suka cemas jika menyangkut masalah pribadinya.
Aku dan Molly bertatapan lalu kami saling melempar senyum kemenangan karena telah menyatukan kembali semangat Amel yang nyaris patah.
***
Aku sengaja mengajak Daniel bertemu di pepustakaan umum. Aku berniat meminjam buku di perpustakaan karena ada tugas mata kuliah umum. Sambil berpura-pura membaca aku melirik Daniel dengan ekor mata. Ia juga memegang buku sejarah dengan jumlah halaman sekitar 700 lembar.
“Daniel, apa yang kamu tahu tentang Sam?” kataku setengah berbisik pada Daniel. Aku hanya berani bercerita atau sekadar bertanya pada Daniel daripada Amel dan Molly. Mungkin Daniel lebih tahu tentang Sam.
“Sam? Aku hanya tahu dia tampan,” jawabnya dengan volume suara rendah.
“Maksudku—tentang keluarganya atau kesehariannya?”
“Aku tidak tahu pasti, tapi Sam memang orang yang tertutup. Pernah sih aku melihatnya mengamuk tanpa alasan di kamarnya. Makanya Sam di kamar hanya sendirian. Karena memang dia suka ngamuk-ngamuk tidak jelas begitu. Kalau lagi baik, dia baik sekali. Kalau lagi senang, dia senang sekali. Moody-an gitu deh, kayaknya.”
Aku manggut-manggut. Jelas sudah. Sam memang pengidap Bipolar. Ada masa-masa dia merasa depresi dan masa-masa dia maniak.
Suara keributan terdengar dari pojok ruangan perpustakaan. Aku dan Daniel dengan cepat ke arah sana. “Sam,” ujarku dengan pupil melebar dan tanpa direncanakan bebarengan dengan Daniel.
Sam mengamuk. Ia melempar buku-buku ke lantai. Beberapa orang mencoba membawanya keluar. Tatapan heran, sinis dan kesal bercampur di mata pengunjung perpustakaan yang tergambar jelas mengarah pada Sam.
***
Aku membawa Sam ke tempat favoritku. Tepi danau. Di sini sepi. Mungkin bisa membuat Sam lebih tenang. Aku menatapnya. Sam hanya diam. Pandangannya kosong ke arah danau.
“Terima kasih.” katanya. Pandangan matanya tidak fokus. Seperti enggan menatapku.
“Sudah tugasku membantumu, Sam.” jawabku tulus.
Wajahnya masih tampak risau. Jujur, aku khawatir akan keadaan Sam yang semakin buruk. Hampir mati dengan pisau di tangan kanannya dan sekarang dia mengamuk di perpustakaan umum kampus.
“Bagaimana tanganmu?” tanyaku menatap tangan kirinya yang diperban.
“Masih sakit.” jawabnya singkat.
Aku berusaha berpikir untuk memberikan pertanyaan mengenai kenapa ia bisa depresi seperti itu? Tapi aku takut menyinggung perasaannya dan ia mengamuk kembali.
“Daniel, kemana?” tanyanya dengan mata menebar pandangan ke sekeliling.
“Dia ada rapat organisasi kampus.” sebelum bertemu di perpustakaan Daniel sudah bilang melalui sms kalau ia akan ada rapat.
“Dokter Rans sudah menceritakan keadaanku?”
Aku mengangguk pelan. Sam tertawa tapi matanya tampak sedih.
“Ma’af aku merepotkanmu dan membawamu ke dalam hidupku yang rumit.” katanya lirih setelah berhenti tertawa.
“Sam,” Aku tidak tahu harus berkata apalagi selain menyebut namanya.
“Kalau boleh tahu, apa yang membuatmu mengidap Bipolar?” tanyaku dengan ragu.
Hening sejenak. Sam menatapku lekat. Aku balas menatapnya penuh dengan rasa takut bercampur iba.
“Sejak kecil, ayah dan ibuku selalu bertengkar hingga akhirnya ibu memilih meninggalkan aku dan ayah karena ada laki-laki lain. Selang beberapa minggu aku menemukan ayah meninggal dengan gelas yang terisi racun serangga. Aku kehilangan ayah Vanessa, aku kehilangan dia!” ujarnya dengan nada tinggi di akhir kalimat. Wajahnya bertambah risau. Aku membiarkannya berbicara dan meluapkan perasaannya. Sam memang butuh seorang pendengar yang bisa mendengarkan semua ceritanya tanpa menginterupsinya.
Aku hanya membelai lembut bahunya.
Waktu terasa begitu cepat bersama Sam.
“Sam, sudah sore lebih baik kita kembali ke asrama.” ucapku yang mulai panik. Sore sudah berganti senja. Aku takut Miss Alya menemukan aku di sini bersama Sam. Aku bisa kena hukuman jika hal itu terjadi.
“Vanessa,” Sam menatap mataku. Matanya seperti nyamuk yang menghisap mataku sebagai darahnya.
“Kenapa?” Aku balik menatapnya. Aku melihat suatu pancaran ganjil di mata Sam. Pancaran yang mungkin tidak ditemui oleh siapa pun. Pancaran itu menunjukan kesan tajam dan mematikan. Namun seakan sangat menyenangkan bermain di pancaran matanya itu.
“Matamu misterius, Vanessa. Dan aku suka itu.” Aku tersipu malu mendengar Sam memuji. Aku tersenyum lebar padanya. Ini kedua kalinya dia bilang mataku misterius dan dia menyukainya.
Secara spontan Sam memelukku. Aku terkesiap dan membatu. Sepersekian detik membatu, akhirnya aku melingkarkan tangan di pinggangnya. “Terima kasih, Van.” katanya.
“Iya, Sam.” sahutku.
Mataku tertuju ke atas gedung kampus dari arah belakang. Seeorang memandangi adegan pelukan ini.
Ibu Amarta.
***