Mataku bergerak samar. Disusul jemari tangan. Perlahan mataku terbuka. Aku melihat Dion, Amel, Molly dan Daniel. Sekilas mereka tersenyum menatapku tersadar.
“Akhirnya kamu sadar juga, Van.” seru Amel dengan senyum lega.
Kepalaku terasa berat untuk sekadar beranjak dari bantal.
“Aku di rumah sakit, ya?” tanyaku polos dengan suara parau.
“Iya, Van.” Daniel mendekat menyentuh tanganku.
Bayangan Sam muncul di benakku. Dengan wajah panik dan sekuat tenaga aku mencoba beranjak dari kasur, “Sam, di mana?” tanyaku cemas.
Mereka saling memandang bergantian.
“S-Sam, ada kok.” jawab Molly terbata.
“Dia tidak apa-apa, kan?” tanyaku khawatir.
“Iya Van. Sam tidak apa-apa. Dia ada di kamar sebelah.” ujar Amel menenangkanku.
Aku meringis perih ketika sikuku menyentuh bagian ujung bantal. Dion dengan sigap melihat luka di sikuku. Aku menatapnya lekat. Dion hanya diam akan tetapi di balik diamnya ada sesuatu terpancar dari matanya.
***
Dua hari di rumah sakit seperti dua tahun. Membosankan! Untung aku tidak apa-apa. Hanya luka di siku dan jempol kaki yang kukunya patah. Aku mencegah Amel menghubungi orang tuaku. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir. Sam juga sudah pulang ke asrama. Daniel, Molly dan Amel mencegahku menemui Sam di rumah sakit. Daniel berkali-kali menasehatiku untuk menjauh dari Sam. Aku bosan mendengar ocehannya. Aku sudah janji pada diriku sendiri untuk menjaga dan melindungi Sam. Aku tidak mau mengingkari janji itu. Tidak.
Aku memutuskan untuk tidak berangkat ke kampus. Aku memilih untuk tetap di asrama. Entahlah. Aku sedang malas belajar.
“Vanessa, bagaimana keadaanmu?” Miss Alya muncul dari balik pintu. Suaranya terdengar hangat. Tumben dia bersikap manis dan peduli pada anak asrama.
“Sudah mendingan, Miss.” jawabku sekenanya.
“Miss,” ucapku lirih.
“Ya, Kenapa, Van?” Miss Alya menatap lekat-lekat. Aku memasang wajah melankolis.
“Bolehkah aku menjenguk Sam di kamarnya?” pintaku memelas.
“Kamu ingin bertemu dengannya?” tanya Miss Alya balik menatapku.
Aku mengangguk.
Miss Alya membawaku ke asrama putra. Tepatnya ke kamar Sam. Miss Alya meninggalkanku dan Sam di kamar. Ia hanya bilang, aku hanya diberi waktu lima belas menit untuk bertemu Sam.
Sam tertidur pulas. Aku baru tahu kalau Sam tertidur, wajahnya tampak lembut seperti bayi yang menggemaskan. Aku menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagian matanya. Membelai rambutnya dengan lembut dan hati-hati. Aku takut dia terbangun.
Apa Sam baik-baik saja? Apa Sam sudah makan? Apa ibu Sam datang menjenguknya? Apa yang kamu rasakan sekarang, Sam? Kalimat-kalimat tanya hilir mudik di kepalaku.
Lima belas menit berlalu ketika aku menatap jam di dinding. Tanpa terasa waktu berputar begitu cepat. Selama lima belas menit aku hanya menatap Sam dengan rasa iba. Perasaanku campur aduk. Seperti adonan kue yang dikocok dengan mixer. Selimut menutupi tubuhnya hingga bagian d**a. Ketika aku berdiri, beberapa detik kemudian Sam menarik tanganku.
“Jangan tinggalin aku, Van.” katanya, memohon.
“Aku butuh kamu.” lanjutnya dengan suara parau.
“Sam...” Aku menyebut namanya lirih. Aku kembali duduk di samping Sam. Dengan gerakan spontan, Sam menarikku dalam pelukannya, menenggelamkan wajahku di dadanya. Tanpa terasa buliran hangat jatuh di pipiku.
Mungkin ini seperti hiperbola. Aku bukan siapa-siapa Sam. Aku hanya seorang gadis yang menemukan Sam di pesta dansa. Dan aku mulai masuk ke dalam kehidupannya. Membuat perasaanku naik turun tak keruan melihatnya dengan suasana hati yang kadang menyakitkan, dan sebelum kecelakaan itu aku melihat kepercayaan dirinya yang begitu tinggi dengan senyum terus mengembang dari bibirnya.
***
Di kamar terus membuatku bosan! Beberapa kali aku melirik buku terbitan tahun 1915 itu di meja rias. Semestinya buku seperti itu sudah punah. Dion dapat dari mana sih? Bukunya benar-benar buluk. Aku juga tidak mengerti dengan bacaannya yang membingungkan. Seperti aku di situ ditulis ‘akoe’. Daripada main hape terus, aku mencoba meraih kembali buku itu dan mulai membacanya. Aku baru membaca beberapa halaman.
Amel dan Molly datang saat aku mulai serius membaca bukunya.
“Van, coba lihat kita bawa apa!” Molly mengangkat tangannya yang menggenggam kantong plastik berukuran besar.
“Apa?” Alisku terangkat sebelah.
“Sling bag from Jogja. Ini hand made, lho. Hadiah dari tanteku. Tante membelikan tiga sling bag untuk aku, Amel dan kamu, Van. Ukurannya memang kecil tapi cukuplah untuk menyimpan dompet.” Molly mengeluarkan sling bag dari kantong plastik dengan wajah ceria, seceria warna pelangi.
“Terima kasih Mollyku,” Dengan senang hati aku mengambil sling bag dengan corak batik dari tangan Molly.
“Van, itu apa?” tanya Amel menatap ke arah buku di tangan kiriku.
“Oh, ini novel dari Dion.”
“Ciyee... Vanessa mulai dekat sama Dion. Dikasih novel segala lagi.” kata Molly menggodaku.
“Ih, ini minjem kali, Moll, bukan dikasih.”
“Tapi—” Amel mendekati dan mengambil buku itu dari tanganku.
“Ini buku apaan, ya? Kok jelek banget. Buku tahun kapan? Baunya, uh!” seloroh Amel sambil membolak-balik halaman kertas novel itu.
“Novel itu terbit tahun 1915 Mel. Lihat saja hurufnya, bikin pusing bacanya.” keluhku.
“Bukunya tua banget. Sekarang kan tahun 2017, berarti sudah 102 tahun. Satu abad lebih umurnya.” kata Molly dengan mata mencilak takjub.
“Dion dapat buku ini darimana ya?” tanya Amel.
“Aku tidak tahu.” jawabku sambil mengangkat bahu.
“Yang aku tahu penulisnya orang belanda yang tinggal di Indonesia. Sini aku mau lanjut baca,” Aku menarik buku dari tangan Amel dan melanjutkan kembali aktivitas membaca.
***
Tebal bukunya hanya 188 halaman. Tidak terlalu tebal. Aku hanya butuh waktu dua jam kurang untuk menyelesaikannya. Aku sudah membaca beberapa halaman sebelumnya. Novel ini berlatar di Yogyakarta. Ralat, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bercerita tentang seorang gadis belanda yang jatuh cinta pada pria pribumi. Sayang kisah cinta mereka tidak semulus kain sutra. Orang tua Jane—nama gadis belanda itu, tidak menyetujui hubungan mereka. Karena pada masa itu orang pribumi dibenci oleh Belanda. Menyadari cinta mereka tidak dapat bersatu Jane berusaha menemukan sebuah mesin yang disebut mesin waktu. Di mana mesin itu bisa mewujudkan semua impian seseorang. Membaca di halaman 63 aku merasa aku adalah Jane yang sangat mencintai Amoer—nama pria pribumi itu. Atmosfer tahun 1915 begitu terasa saat membaca novelnya.
Di akhir cerita tidak sad ending ataupun happy ending. Hanya diceritakan Jane memasuki ruang bawah tanah. Dan ending-nya menggantung. Rasa penasaran menghantui pikiranku terhadap kisah Jane dan Amoer. Bagaimana akhir kisah cinta mereka? Aku ingin sekali bisa menanyakan rasa penasaranku itu pada Elizabeth. Penulis novel yang sepertinya sudah meninggal. Novel itu terbit tahun 1915, jika Elizabeth masih hidup usianya pasti lebih dari usia novel itu. Di zaman sekarang, jarang orang yang umurnya mencapai 100 tahun lebih.
jarum jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam. Aku masih belum bisa memejamkan mata. Sudah satu jam yang lalu aku mencoba mengorek-ngorek informasi tentang novel Mesin Waktu Cinta itu. Dengan keyword; novel Mesin Waktu Cinta tahun 1915, Elizabeth penulis novel, novel Elizabeth Mesin Waktu Cinta tahun 1915. Dan aku tidak menemukan secuil informasi apapun tentang novel Mesin Waktu Cinta ataupun penulisnya, Elizabeth. Tidak ada nama belakang. Hanya Elizabeth. Penulis misterius. Apa karena pada saat novel ini terbit belum ada internet ya?
Jane pernah berkata kepada Amoer bahwa cinta itu seperti matahari. Ada saatnya terbit, menghangatkan di pagi hari, menyilaukan di siang hari, dan saat terbenam itu tandanya luka, karena berwarna merah jingga. Lalu matahari tenggelam dan langit berubah gelap. Kadang matahari juga tidak muncul karena tertutupi awan. Jika tidak ada matahari di siang hari pertanda hujan. Langit akan gelap dan hujan akan turun. Jika di dunia ini tidak ada cinta, pertanda kegelapan menguat dan air mata akan bercucuran.
Dan malam ini, aku membayangkan dunia tanpa cinta...
Apa jadinya dunia tanpa cinta?
Sejak kecil aku selalu diperdengarkan sebuah lagu dangdut klasik oleh kedua orangtuaku. Aku lupa judulnya, tapi aku masih ingat liriknya.
Hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga
Hai begitulah kata para pujangga
Ya ampun, apa yang aku pikirkan? Dari Novel Mesin Waktu Cinta berlanjut ke sebuah lagu dangdut. Ah, cinta memang selalu punya cerita. Dan analogi cinta tak terbatas kata.
***
Entah sudah keberapa kali aku memandangi novel yang berada di atas kasur. Memegangnya, membukanya, membacanya pada halaman-halaman tertentu yang aku sukai lalu menutupnya. Berulang terus seperti itu.
Ini bukan novel biasa. Novel ini menghanyutkanku dalam aliran derasnya rasa penasaran yang berkecamuk di dadaku.
Ponselku berdering. Sam.
Dengan masih mengenakan baju tidur aku bergegas meraih tangkai pintu.
“Van, mau kemana?” tanya Amel menatapku dengan mata kantuknya.
“Aku ada perlu sebentar.”
“Jangan lama-lama sudah malam,” pesannya, layaknya seorang ibu yang berpesan pada anaknya yang akan pergi kencan
“Iya, bawel.”
***
Di tepi danau begitu sepi dan gelap. Aku hanya memakai cahaya ponsel yang minim untuk menemukan Sam. Aku mendapatinya sedang berdiri dengan tangan dilipat di d**a.
“Sam,”
Sam menoleh padaku. “Vanessa,”
“Sudah malam Sam. Aku takut ketahuan pihak kampus kita bertemu di sini malam-malam begini,” kataku cemas. Apalagi di sini gelap.
“Bagaimana keadaanmu?” tanyaku kemudian, tersadar akan kecelakaan itu. Aku khawatir malam hari ada di tepi danau ini. Suasananya horor, mencekam tapi juga hangat, meski angin berembus cukup kencang. Suasana yang ganjil. Aku tidak bisa menjamin kalau yang di depanku ini benar Sam atau makhluk lain yang menyerupai Sam.
“Aku baik Vanessa. Aku baik-baik saja.” Sam menangkupkan tangannya di pipiku. Menarik wajahku ke wajahnya. Hidungku hampir menyentuh hidungnya.
***