Mataku bergerak samar. Disusul jemari tangan. Perlahan mataku terbuka. Aku melihat Dion, Amel, Molly dan Daniel. Sekilas mereka tersenyum menatapku tersadar. “Akhirnya kamu sadar juga, Van.” seru Amel dengan senyum lega. Kepalaku terasa berat untuk sekadar beranjak dari bantal. “Aku di rumah sakit, ya?” tanyaku polos dengan suara parau. “Iya, Van.” Daniel mendekat menyentuh tanganku. Bayangan Sam muncul di benakku. Dengan wajah panik dan sekuat tenaga aku mencoba beranjak dari kasur, “Sam, di mana?” tanyaku cemas. Mereka saling memandang bergantian. “S-Sam, ada kok.” jawab Molly terbata. “Dia tidak apa-apa, kan?” tanyaku khawatir. “Iya Van. Sam tidak apa-apa. Dia ada di kamar sebelah.” ujar Amel menenangkanku. Aku meringis perih ketika sikuku menyentuh bagi

