Undangan

1820 Words
Menjadi seseorang yang paling bodoh itu gak enak. Saat ini gue merasakan bagaimana rasanya menjadi bodoh, karena gak tau mereka semua siapa? -Ophelia Erina Bintari. Nazla dan yang lainnya pun memasang tatapan mengagumi mereka berlima. Gue yang melihat kejadian itu pun hanya bisa menatap mereka dengan tatapan jengah. Pandangan gue langsung berpindah menatap Raihan dengan tatapan yang tidak asing saat ini. Gue kayak pernah melihat Raihan saat ini, tapi gue beneran gatau gue pernah liat Raihan ini dimana. Yang gue ingat Raihan mirip dengan seseorang yang gue kenal saat ini. Fajar menatap gue dengan tatapan yang mengintimidasi, gue yang merasa di tatap seperti itu hanya mengabaikan Fajar dan kembali berpikir tentang siapa yang mirip dengan Raihan saat ini. "Gue kayak gak asing sama muka Raihan. Tapi, siapa yang mirip sama Raihan? Gue lupa, kayak pernah lihat Raihan dimana ya?" gumam gue. Batin dan hati gue benar-benar berkecamuk saat ini. Gue terus berpikir dengan keras siapa Raihan sebenarnya. Kenapa sangat tidak asing bagi gue suara dan wajahnya pas dia hadir di hadapan gue. "Lia," panggil Fajar dengan sangat lembut. Gue hanya mengabaikan panggilan Fajar dan kembali bergelut dalam pikiran gue saat ini. "Lia!" panggil Fajar lagi. "Apaan loh Jar?" jawab gue dengan sebal. "Lo ini kenapa? Gue manggil lembut loh, di bales ya ngegas. Nih ya, banyak cewe yang mau di sapa sama gue. Lo malahan kayak orang asing yang gamau gue sapa sama sekali. Sebenarnya lo ini temen gue apa bukan sih?" tanya Fajar dengan jutek. "Alay, gue aja biasa aja. Lo malahan kayak gini. Udah lagi gue ini banyak pikiran sama banyak tugas yang harus gue kerjakan. Udah lagi gak usah banyak cincong ya, gue lagi paleng beneran sekarang ini. Diem aja lo," ucap gue dengan kesal. "Gue ini mau nanya dulu loh Lia," ucap Fajar kembali memancing amarah gue. "Nanya apa? Kalau mau tanya apapun sekarang. Gue beneran gak ada waktu ya kalau ngeladenin lo yang ngaco," ucap gue dengan kesal. "Sekarang kulit manggis ada ekstraknya," ucap Fajar dengan tertawa kencang. Gue menatap Fajar dengan sangat kesal. Gue beneran udah bete karena banyak hal yang menjadi beban pikiran. Fajar seneng banget gangguin gue dan beneran dia malahan ngeledikin gue. "Fajar udah lagi loh, gue beneran mau nangis hari ini. Beneran serius gue kesel banget sama lo. Gue gatau ya mau ngapain lagi. Beneran gue kesel banget sama lo sekarang," ucap gue dengan datar. "Hahahaha, yaudah sini cerita sayang sama Aa Fajar. Kamu kenapa hari ini? Kenapa kamu malahan sedih sama kesel gitu mukanya?" tanya Fajar dengan tawa kencang. "Udah Fajar diem dulu. Gue beneran lagi kesel gak usah gangguin gue dulu sekarang ini. Sekarang diem terus lo ini berpikir dengan jernih dulu. Gak usah banyak cincong lah," ucap gue dengan sebal. Gue kembali bergelut ke dalam pikiran gue memikirkan tentang apa yang telah gue lupakan di masa lalu. Apa yang terjadi sebenarnya di masa lalu. Gue beneran ngerasa Dejavu dengan apa yang sedang gue lakukan saat ini. Fajar yang memahami kekesalan gue pun langsung tersenyum singkat melihat ke arah mereka semua. Terjadilah keheningan di meja gue. Leo pun memecahkan keheningan di meja ini. "Lia ini buat lo," ucap Leo sambil menyodorkan sebuah undangan yang sangat simple dan elegan ke arah gue. "Ini apaan?" tanya gue sambil memegang undangan yang di berikan Leo. "Gue harap lo dateng ya ke acara ultah gue," ucap Leo sambil tersenyum simpul. "Gue gak bisa janji ya Le untuk dateng," jawab gue dengan lembut "Kenapa lo gak bisa janji dateng? Gak ada kendaraan? Baju? Make up? Atau gimana?" tanya Kevin bingung. "Bukan itu maksud gue Vin. Gue gak bisa janji soalnya disini kan acaranya besok malem. Pas kebetulan sorenya gue ada acara di rumah guru ngaji gue. Niga hari bapaknya. Gue pasti bebantu kesana," jelas gue kepada mereka semua. "Ya seenggaknya dateng lah meskipun cuma bentar Lia," ucap Fajar menengahi kami semua. "Insyaallah deh ya, gue usahain dateng kesana. Tapi, kalau gue gak bisa dateng maaf," ucap gue dengan lembut. "Besok sore gue jemput deh Li ke rumah," ucap Leo. Semua orang yang ada di meja itu pun langsung menghentikan aktivitasnya masing-masing. Fajar menatap Leo dengan tatapan tidak percaya. Orang orang di sekitar gue pun menatap gue dengan tatapan tidak sukanya. Gue pun yang peka dengan situasi sekarang hanya bisa menghela nafas panjang. "Gak usah Le. Gue dateng sendiri aja deh ya. Btw ini yang lain gak lo undang?" tanya gue dengan hati-hati. "Cuma beberapa aja yang gue undang dan lo termasuk ke dalam list tamu istimewa," ucap Leo santai. Gue pun langsung memutar bola mata dengan malas. Ini bocah lagi rame juga masih aja sempet-sempetnya ngegombal di depan umum. Banyak cewe-cewe yang menatap gue dengan tatapan lapar mereka. Gue pun hanya bisa pasrah dengan keaadan gue selanjutnya. Masih bisa pulang apa engga ke rumah. "Lo mah semuanya aja di bilang istimewa. Gue sama yang lain juga termasuk berarti," ucap Raihan dengan datar. "Ya lorang solid gue. Ya masa bukan tamu istimewa," ucap Leo dengan jengah. "Nah berarti bukan Lia doang yang istimewa," ucap Raihan dengan nada datar. Gue pun langsung menghembuskan nafas lega. Ternyata Raihan tau apa yang gue rasain. Gue pun tersenyum tipis kearah Raihan. Raihan hanya bisa menatap gue dengan tatapan lembutnya. "KHEM!" tiba-tiba Fajar berdehem singkat dan membuat semua orang kaget dengan suara deheman itu. Gue dan Raihan pun langsung memutus kontak mata antara kita berdua dan menoleh ke arah Fajar. "Ngapa lo Jar?" tanya Kevin dengan bingung. "Biasa Vin. Ini tenggorokan gue gatel banget. Kayaknya ada yang nyangkut deh atau gak pengen batuk. KHEM! KHEM!" ucap Fajar sambil berdehem di hadapan semua orang. "Lo beneran gak papa nih Jar?" tanya Nadine. "Iya, biasa aja kali. Gue mah kalau batuk tuh emang suka kayak gitu. Gak paham lagi ya gue sama badan sendiri," ledek Fajar. "Dih, bilang aja lo mau cari perhatian ke semua orang mangkanya begitu," ucap Rian dengan sebal. "Ih, gak ada ya. Gak jaman banget kalau nyari perhatian sama orang lain kayak gini," ucap Fajar membela diri. "Khem! Khem! Khem!" Fajar kembali meledek gue dengan tatapan devilnya saat ini. Gue hanya mengabaikan tatapannya dan membuang muka ke arah samping. "Khem! Khem! Khem!" Gue pun langsung menatap Fajar dengan tatapan datar. Fajar pun menatap gue dengan tatapan meledek. Gue pun langsung menatap Fajar dengan tatapan mengancam. Awas aja lo ntar, Fajar pun hanya tersenyum puas melihat tatapan ancaman dari gue. Ia malah makin menjadi menatap gue dengan tatapan meledek gue. "Beneran amat sih lo ini Fajar, cari perhatian banget. Udah lagi ya, kalau misalnya mau cari perhatian jangan di sini. Bukan tempatnya ya kalau di sini cari perhatian." "Dih males banget kalau cari perhatian apalagi depan kalian," tutur Fajar. Mereka semua hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fajar yang benar-benar sangat absurd kali ini. Leo hanya tersenyum singkat ke arah gue dan menatap ke arah Raihan. "Kalo misalnya lo mau gue jemput chat gue aja besok Lia. Pasti gue jemput plus gue anter pulang ko," ucap Leo santai. "Halahhh modus aja lo Leo. Mau berapa cewe lagi yang mau lo deketin? Gak cukup apa adek kelas yang kemarin lo baperin?" Tanya Rian santai. "Gue gak suka sama dia. Dianya aja yang kebaperan sama gue. Gue tipikal orang yang setia jadi gue gak akan melepaskan apa yang gue punya," ucap Leo dengan santai. "Dasar kang modus. Dah lagi Leo tobat. Kasian cewe-cewe yang lo PHPin mereka itu suka sama lonya beneran gak boongan. Mikir ngapa sih kalo adek cewe lo digituin gimana?" tanya Kevin. "Gue kan dah bilang, gue setia sama satu cewe. Gue gak main main sama doi gue. Merekanya aja yang ganjen deketin gue," jawab Leo. "Untung muka lo cakep Leo. Kalo gak cakep cewe cewe pasti pada ngabur gak mau deket sama lo lagi," ucap Fajar dengan nada kesalnya. "Emang cewe yang lo maksud siapa?" tanya Raihan. "Pertanyaan itu yang gue tunggu-tunggu daritadi. Lo pasti mau tau kan cewe yang gue maksud siapa? Cewe yang gue maksud itu adalah cewe yang sekarang lagi megang kartu undangan ulang tahun gue," jawab Leo dengan santai. Gue yang merasa lagi megang kartu undangan itu pun langsung melepaskan kartu undangan itu dengan cepat. Gue pun langsung menatap Leo dengan tatapan tidak percaya. "Maksudnya?" tanya gue. "Lo akan tau jawabannya besok Lia," ucap leo sambil tersenyum manis. Gue pun langsung menoleh ke arah orang orang di sekitar gue. Banyak cewe-cewe yang menatap Leo dengan tatapan gak percaya. Ada yang menatap kecewa, ada yang menatap gak terima, ada yang menatap marah dan masih banyak lagi. Gue hanya menghembuskan nafas dengan pelan. Banyak sekali tatapan yang tidak suka dengan apa yang gue lakukan saat ini. Jujur gue gatau sama sekali tentang apa yang udah gue lakukan sampai mereka menatap gue kayak gitu. "Naz, kenapa gue merasa Dejavu ya dengan apa yang sedang kita lakukan saat ini?" bisik gue ke Nazla. "Lo mungkin pernah melakukan ini semua dengan orang lain kali," ucap Nazla. "Engga loh, gue beneran gak pernah melakukan ini. Apa gue yang lupa ya? Gue beneran cuma inget bayangan hitam aja sih. Ini kayak pernah gue lakukan tapi gue gatau kapan dan dimana," gumam gue. "Jangan di pikirin semuanya. Jalanin aja sekarang mah apa yang ada. Kalau misalnya lo gatau biarkan aja mengalir seperti air. Biasanya lo bisa mendapatkan jawabannya suatu saat nanti," ucap Nazla. Gue hanya menganggukkan kepala dengan pelan dan mengabaikan perasaan yang gue rasakan itu. Gue mengedarkan pandangan ke arah sekeliling kantin saat ini. Tak sengaja gue pun melihat ke arah Queen nya SMA gue. Dia menatap gue dengan tatapan meremehkan gue bersama teman temannya. Gue langsung mengalihkan pandangan gue ke arah lain agar tidak terjadi kontak mata dengan dia. Nazla yang peka dengan perasaan gue pun langsung menepuk pelan bahu gue. "Lo jangan takut. Kita semua sama lo. Kita semua akan bela lo. Jika dia berani nyakitin lo sedikit aja dia bakalan abis sama gue dan yang lain. Jangan takut. Karena ketakutan lo yang bisa membuat lo hancur," bisik Nazla di telinga gue. Nadin pun langsung mengkode gue dengan anggukan pelan. Gue yang paham dengan kode itu pun langsung tersenyum singkat. "Bener kan kata gue. Lo itu gak sendiri banyak orang yang sayang sama lo, gue dan yang lain akan tetep bela lo meskipun kita harus mempertaruhkan semuanya. Lo aja bisa kenapa kita gak bisa? Tetep PD jangan takut dengan bullyan," bisik Nazla. "Hadehhhh itu mata bisa biasa aja gak sih, bentar lagi gue colok tu mata sama garpu ini," teriak Sinta. Semua orang yang ada di meja itu pun langsung mentap Sinta dengan bertanya-tanya. Fajar pun langsung menatap Raihan dengan tatapan bertanya, ada apa? Raihan yang tak tau apa apa hanya menggidikkan bahunya acuh. Tak lama kemudian Mang Ujang pun menghampiri kami dengan membawa 5 mangkuk tekwan di tangannya. "Ini pesenannya Neng," ucap Mang Ujang. "Makasih ya Mang," ucap gue sambil tersenyum manis. Setelah meletakkan pesanan kami semua di meja kantin, Mang Ujang pun langsung meninggalkan kami semua. Terjadilah keheningan di meja gue. Karena merasa kesal dengan keheningan yang terjadi gue pun memecahkan dengan bertanya pada Fajar dkk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD