Ajakan

1825 Words
Ntah apa yang terjadi saat ini. Gue masih bingung dengan apa yang terjadi pada saat ini. Siapa yang di sukai oleh Leo? Kenapa seolah-olah gue yang menjadi orang yang dia sukai? -Ophelia Erina Bintari. "Makan semuanya," ucap Sinta dengan heboh. "Iya," ucap para cowo. "Kalian gak makan?" tanya gue ke Fajar dan yang lain. "Gak lah, liatin lo makan aja dah kenyang gue. Yang ada nanti kekenyangan kalo gue pesen makan," ucap Fajar sambil tersenyum manis. Gue yang di gombali Fajar kayak gitu, hanya memutar bola mata dengan malas. Pletak! Satu jitakan mulus mendarat di kepala Fajar. Fajar langsung meringis kesakitan, akibat jitakan yang di berikan Rian. "Ngapa lo natap gue kayak gitu?" tanya Rian dengan nada juteknya. "Lo mah gak berprikemanusiaan. Temen sendiri di jitak. Mending mah pake perasaan, lah ini mah malah kayak ngegepruk es batu yang keras. Ini pala woi, bukan es batu. Kalo gue gagar otak gimana? Kalo gue gak pinter lagi gimana? Kalo gue amnesia gimana? Lo mau tanggung jawab Yan? Lo mau ngasih otak encer lo secara sukarela ke gue?" ucap Fajar berentet satu nafas. "Lo ngomong udah kayak sales yang nawarin produk nya. Gak berenti lagi, berentet tu pertanyaan. Gue heran sama lo ya, Jar. Lo itu bawel nya nauzubillah, tapi cewe cewe pada ngatri sama lo. Lo itu pake pelet apa?" ledek Kevin. "Lo mah kebiasaan. Cowo ganteng kayak gue ini di bilang sales. Nih ya Vin dengerin gue baik baik, gue itu gak pake pelet atau semacamnya. Dasarnya aja gue ganteng. Mangkanya banyak cewe yang naksir gue. Sebagai cowo terkece dan tercakep di SMA Pelita ini gue agak tersinggung dengan ucapan lo tadi. Jadi di tarik lagi yak omongannya," ucap Fajar dengan pdnya. "Sumpah bukan temen gue," ucap Raihan sambil memutar bola matanya dengan malas. "Gue bukan temen lo Han. Gue ini sahabat lo, jangan gitulah, gue tau ko gue itu lebih cakep dari lo. Jadi jangan iri sama gue oke. Kita temen luar," ucap Fajar santai. Gue pun menatap Fajar dengan tatapan ingin muntah. Bisa-bisanya seorang Fajar Maulana memiliki tingkat kepdan yang luar biasa. Kayak abis salah makan aja itu bocah. Soalnya setau gue Fajar itu kagak sepd itu. "Jar, lo mah bergaulnya sama Kevin mulu sih. Jadinya kan lo punya kepdan yang overdosis," ucap Leo dengan jengah. "Ini contoh orang iri. Gue diem aja selalu kena. Kenapa gitu kalo yang berhubungan dengan tingkat kepdan selalu berimbas pada gue. Padahal gue ini orangnya santuy. Gak pernah pd," ucap Kevin kesal. "Iri bilang bos, ahayyyyy. Bilang aja kalau lo beneran iri sama gue dan Kevin ya kan?" ucap Fajar dengan santai. "Hilih. Yang paling sering ngerdusin cewe sana sini itu cuma Fajar sama Kevin. Yang di cap playboy cap kakap itu Fajar sama Kevin. Yang terkenal sebagai cowo banyak prestasi di bidang olahraga Rian sama gue. Jadi apa apa yang berhubungan dengan julid dan rusuh itu Kevin sama Fajar. Cocok banget buat grup band," ucap Leo. "Ini mulai ria. Cowo yang banyak prestasi ceunah wkwkwkwk. Heran banget, mau nasehatin orang aja pake ria dulu. Awas ntar dosa loh wkwkwkwk," ledek Fajar sambil tertawa. "Kalo sama lo itu ria nya wajib Jar. Kalo yang lain baru dosa. Kalo misalnya sama lo gak ria itu wajib di pertanyakan di antara kita. Soalnya lo Kan Sukanya ria di depan orang banyak," ledek Leo sambil tertawa puas. "Seneng amat sih lo, heran banget dah padahal gue gak pernah ria sama lo," ucap Fajar sambil memutar bola matanya dengan malas. "Lah yang tadi itu bukan ria toh Jar namanya?" tanya Rian sambil tersenyum manis. "Udah lagi. Mereka semua lagi makan, nanti keselek dengerin ocehan kalian yang gak berbobot. Udah diem, no bacot bacot club,'" ucap Raihan sambil tetep fokus ke gadget yang ada di tangannya. "Bilang aja lo ke ganggu kan. Orang yang lain aja biasa aja ko lo yang sewot. Kalo ngegame mah jojong aja kali, jangan ngurusin yang lain," dumel Fajar. "Udah diem," ucap Kevin menengahi. Suasana semakin hening mendengar ucapan Kevin yang sangat tegas. Kevin langsung menatap ke arah Sinta yang sedang makan dengan penuh tanda tanya. "Sinta, lo kayaknya makannya gak nyaman? Makanannya yang gak enak atau emang lo lagi menyembunyikan sesuatu dari kami semua?" tanya Kevin dengan tatapan yang mengintimidasi. "Ha?" tanya Sinta dengan kaget. Gue hanya mengernyitkan dahi dengan pelan dan melihat interaksi mereka berdua saat ini. "Kenapa Kevin bisa tahu kalau Sinta gelisah makannya pas di lihatin sama gengnya Evelyn?" batin gue dengan pelan. "Jawab gue dengan benar. Lo makan gelisah kenapa? Ada masalah? Makanannya gak enak? Atau ada hal lain yang sedang lo tutupin dari kami semua?" tanya Kevin dengan penuh penekanan. "Mungkin perasaan lo aja kali Vin. Soalnya Sinta emang gitu dia kalau makan. Ubrek sama gelisah, jangan lo tanya lagi dah. Emang dasar manusia hiperaktif dia mah," bela gue. Semua orang yang ada di meja itu menatap gue dengan tatapan yang bingung. Entah kenapa perasaan gue beneran gak enak hari ini. Biasanya gue di lihat seperti itu sama mereka biasa aja. Entah kenapa hari ini gue beneran takut dan deg-degan. "Gue tanya sama Sinta. Bukan sama lo Lia, jangan suka menjawab atau membela seseorang jika memang sedang di tanya. Gue beneran gak suka cara lo yang kayak tadi," ucap Kevin dengan datar. Gue hanya bisa menghela nafas dengan kesal jika Kevin sudah mode aman seperti ini. Mau sepintar apapun kita mengelak dia akan selalu mencecar pertanyaan yang lebih spesifik lagi nantinya kepada kami semua. "Gue beneran gak papa, emang suka gitu aja. Gatau gelisah aja bawaannya, di tambah sekarang jadi pusat perhatian. Gue biasanya sama yang lain gak pernah kayak gitu cuma sekarang aneh aja," jawab Sinta dengan santai. "Gak usah di pikirin mereka yang melihat ke arah lo dengan tatapan yang aneh. Fokus aja ke makanan lo sekarang, kalau ada kita di sini jangan pernah takut atau merasa terintimidasi sama cewe yang ada di sekolah ini. Jika kita sudah bertindak mereka gak akan berani ngapa-ngapain kalian," ucap Kevin dengan tegas. "Vin," panggil gue. "Iya," jawab Kevin. "Lo jadi tanding di Japan?" tanya gue dengan hati-hati. "Jadi, lo kenapa? Mau ikut temenin gue ke Jepang? Apa mau oleh-oleh?" tanya Kevin. "Gak usah deh, gue cuma tanya aja ko. Soalnya ya, gue dengar dari orang rumah kalau lo kalah di set pertama kemarin. Serius gue beneran ketar-ketir sih liat point lo kemarin," ucap gue. "Gak usah khawatir, gue sama tim basket gue udah handal dalam permainan. Kita masuk ke Internasional kayak gini itu karena kerja keras. Sama seperti apa yang lo katakan pas masa SMP. Kalau lo mau berhasil, lo harus berusaha lebih kuat lagi untuk mendapatkan apa yang lo inginkan." "Iya, cuma gue tetep aja ketar-ketir lihat point kalian yang beneran tipis itu," ucap gue dengan khawatir. "Selau semuanya akan teratasi," jawab Kevin dengan senyuman manisnya. "Cuma Kevin doang nih yang di tanyain?" sindir Leo. "Emang semuanya mau di tanyain?" tanya gue. "Ya, iyalah. Yang lomba bukan cuma Kevin ya. Aku, Rian, Raihan, sama Fajar juga lomba. Kalau Raihan dia cabor karate, Rian sama aku bulu tangkis, sama Fajar dia cabor renang," ucap Leo. "Karate?" ulang gue dengan kaget. "Iya, ada masalah?" tanya Raihan dengan nada santainya. "Ah engga ko, hebat. Udah sampe sabuk apa nih?" tanya gue menutupi rasa kaget yang gue rasakan saat ini. "Gue sabuk hitam sih, biasalah gue jarang banget latihan sekalinya latihan ya pas mau lomba aja," jawab Raihan. "Pernah ada rasa cape gak sih kalian itu masuk ke cabang olahraga yang kalian geluti sekarang. Misalnyakan ada rasa lelah dan rasa cape pengen berhenti sampe di sini aja gitu," tanya gue. "Ih, beneran ya. Aku belum pernah kepikiran tentang itu tau. Justru ya, aku tuh beneran seneng melakukan ini semua. Kayak gimana caranya aku bisa mengembangkan bakat aku menjadi lebih baik lagi," jawab Leo. "Sama sih kurang lebih sama Leo. Cuma kalau gue lebih ke gabut aja sih. Gue beneran gabut sekarang ini, apalagi gue di rumah gak ngapa-ngapain. Ya cara gue melampiaskan semua amarah, kebosanan dan masih banyak lagi yang ada di diri gue dengan cara gue berolahraga kayak gitu," jawab Raihan. Gue terdiam dan mencerna apa yang di katakan oleh Raihan saat ini. Jujur gue semakin penasaran siapa Raihan ini sebenarnya. Gue barusan kelas tiga ini melihat Raihan menampilkan batang hidungnya di depan kami semua. "Boleh gue tanya sama kalian semua?" tanya Nazla. "Apa itu?" tanya Leo. "Setahu gue selama ini Raihan gak pernah nongol di sekolah, gue tahu lo dari kelas satu tapi lo beneran menghilang dari muka bumi ini. Setelah itu lo kembali lagi. Yang jadi pertanyaan gue adalah kemana lo selama ini?" tanya Nazla. Duar! Pertanyaan Nazla sama seperti apa yang gue pikirkan. Karena selama ini gue malahan gak pernah melihat batang hidung Raihan di sekolah. "Gue ada ko, cuma sering keluar untuk lomba. Wajar kalau kalian semua jarang lihat gue di sekolah. Karena gue memang lebih sering aktif di luar daripada di dalam," jelas Raihan. Fajar dan yang lainnya pun menghentikan ucapan mereka semua. Fajar pun fokus menatap gue yang sedang makan. Gue pun yang risih dengan tatapan Fajar hanya bisa mendengus sebal. "Jar, lo pesen makan aja deh daripada ngeliatin gue makan gak ada abisnya. Yang ada gue malah kesel, kalo lo liatin mulu," ucap gue sebal. "Lo itu cakep kalo makan. Jadi lo diem aja kalo gue liatin. Jarang jarang orang cakep kayak gue mau ngeliatin lo makan," ucap Fajar dengan nada pdnya. Raihan yang mendengar ucapan Fajar hanya memutar bola matanya dengan malas. Raihan langsung menatap Fajar dengan tatapan, kita pergi dari sini Lia abis di tangan fans lo. Fajar yang mengerti dengan tatapan itu pun, hanya mengangguk pelan. "Oh ya kalian malem ini free gak?" tanya Kevin. "Maybe," jawab gue santai. "Kalo yang lain?" tanya Kevin. "Kalo gue sih free," ucap Nazla. "Gue juga," ucap Sinta, Nadin, Reni dan Nisa barengan. "Ini nih contoh orang modus. Kalo gue ngajak jalan aja, kalian lama banget jawabnya. Barang si Kevin yang ngajak, jawabnya cepet. Kagak pake itungan menit langsung di jawab," dumel gue sambil fokus ke arah tekwan yang sedang gue makan. "Kalo cogan yang ngajak lain cerita. Kalo lo, Yang ngajak itu, ya seakan-akan gue gak punya pacar gitu. Abisnya lo kan terkenal dengan jomblo akut ya. Yang ada malahan nanti kita di kira squad jomblo atau gak kutu buku. Hih tobat deh gue sampe di cap kayak gitu. Bukan gue banget," ucap Sinta dengan nada alaynya. "Sekarang itu waktunya senang-senang jangan terlalu kaku hidupnya ih, kayak boneka aja deh kaku banget." "Anak alay mah gini. Kagak bisa liat temen bahagia dikit. Sekali-kali gitu kalian temenin gue jalan ke mana gitu, biar gak jenuh. Dah tau jomblo mau jalan aja ribet banget," ucap gue santai. "Dah lagi lah Lia, males jalan-jalan. Sekarang waktunya fokus belajar. Jangan mikirin jalan mulu. Kalo jalan mah nanti ada waktunya. Tapi gak sekarang," ucap Nisa menengahi mereka semua. Semua orang yang ada di meja gue pun terbengong mendengar ucapan Nisa yang lurus kayak jalan tol. Nisa tumben banget bisa ngomong selurus itu, biasanya dia kalo ngomong suka ngalen kemana-mana. Lia PoV off.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD