Rencana

1860 Words
Banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hati dan perhatian seorang Leo Reifiansyah, tapi gue dengan mudahnya mendapatkan perhatian lebih darinya. Apa yang harus gue lakukan? -Ophelia Erina Bintari. Author PoV On. Semua orang yang ada di meja Lia pun langsung terbengong mendengar ucapan Nisa yang lurus kayak jalan tol yang ada di Jakarta. Nisa tumben banget bisa ngomong selurus itu, biasanya dia kalo ngomong suka ngalen kemana mana. Nazla pun langsung memegang kening Nisa dengan punggung tangannya. "Lo sehat kan Nis?" tanya Nazla heran. "Alhamdulillah gue sehat. Emang kenapa dah?" tanya Nisa bingung. "Gak papa, tumben aja lo lurus kayak tadi. Biasanya kan lo beneran bobrok banget lo ini," ucap Nadine santai. "Gue lurus salah, gue bobrok salah, gue diem salah. Mau kalian itu apa?" tanya Nisa heran. "Kagak, udah lanjutin aja dah. Lebih baik lo lurus daripada setengah-setengah," ucap Nazla dengan sebal. "Gue ini ngajaknya serius. Kalau misalnya mau jalan ayok, kita jalan sebentar lah refreshing dikit. Jangan di depan buku terus. Gue yang ngeliatnya beneran gak enak aja. Karena apa? Kalau misalnya nih kita baca buku terus bukannya malahan masuk ke otak kita malahan stress," ucap Kevin dengan pelan. "Iya juga ya, mau gak ya kira-kira?" tanya Nazla menimbang pertanyaan dari Kevin. "Boleh kalau gue mah," jawab Nisa, Sinta, Reni, dan Nadine. "Kamu gamau ikut Lia?" tanya Kevin dengan sangat lembut. "Engga deh. Aku kayaknya gak bisa kalau hari ini. Kita mau ada quality time sama para ciwi-ciwi," tolak Lia dengan secara halus. "Gini aja deh ya, kita jalan-jalan setelah ulang tahun Leo aja gimana?" usul Fajar. "Boleh sih itu mah, sekarang bikin grup dulu buat kita ini." Fajar memasukkan mereka semua ke dalam satu grup chatting agar mudah saling berkomunikasi antara satu sama lain. "Jadi kita akan jalan setelah ulang tahun Leo ya. Jangan sampe ada yang lupa. Kalau misalnya lupa nanti gue ingetin di grup," peringat Fajar. "Iya pasti gak akan lupa ko kalau masalah jalan-jalan mah. Yang penting ada aja kendaraannya. Kalau masalah makan bisalah di handle sama kita yang cewe-cewe deh," ucap Nadine. "Lo mau masak Dine?" tanya Nisa. "Ya Nisa lah yang mau masak. Ya kali gue yang masak. Juru masak handal kita adalah Nisa bukan yang lainnya," jawab Nadine. Bisa menatap Nadine dengan tatapan yang jengah. Pasalnya selama ini Nisa yang selalu di jadikan tumbal oleh Nadine ketika mereka sedang mengadakan acara. "Gak usah pusing masalah makan, nanti kita beli aja," putus Leo. "Ih, gemes banget sih sama Leo. Pengen deh cari pacar yang begini modelannya," ujar Nazla dengan menel. Pletak! Satu jitakan Nadine mendarat mulus di kepala Nazla saat ini. Nazla hanya bisa mengaduh kesakitan karena jitakan dari Nadine tadi. "Beneran gak ada hati emang kalau Nadine yang hitam pala gue. Dia mah kayak di kiranya kepala guenya ini bola kali enak banget gitu jitaknya," ucap Nazla sambil mengelus kepalanya dengan pelan. "Sengaja gue melakukan hal itu, karena lo lagi godain gebetan orang. Udah lagi pacar itu satu aja, jangan suka mendua Nazla. Kalau lo mau mendua itu di pikirin ulang. Nanti kena karmanya tau rasa lo," ucap Nadine dengan santai. "Dih, gak gitu maksudnya. Jangan suka menghardik orang lain kalau gak tau apa-apa. Udah deh sekarang waktunya lo tidur dan beristirahat di kelas. Supaya gak rusuh kalau lagi begini." "Dih itu mah elo kali. Udah lagi lo itu ya. Jangan banyak ngomong kalau salah, tetep salah lo di sini Nazla," hardik Nadine. Lia dan yang lainnya hanya menonton perdebatan mereka berdua dengan suasana yang hening. Lia yang sedang berpangku tangan, Leo yang menatap mereka dengan semangat, Fajar dan yang lainnya menonton dengan kepala tegak. Nadine dan Nazla yang merasa menjadi pusat perhatian hanya terdiam dan menghentikan pertengkaran mereka berdua saat ini. Lia dan yang lainnya kembali menatap mereka. "Kalian kenapa pada diem semua sih? Emang ada yang salah ya sama apa yang kita lakukan?" tanya Nadine. "Kalian ini kenapa? Gue kesakitan bukannya di tolongin malahan di liatin," ujar Nazla dengan kesal. "Kita sebagai penonton sejati harus diam dan mendengarkan apa yang kalian ributkan mangkanya kita semua diem dan mendengarkan dengan baik," jawab Lia dengan santai. "Kalian yang lainnya kenapa diem aja?" tanya Nazla dengan kesal. "Bener apa yang di omongin sama Lia. Kita sebagai penonton yang baik harus diem. Gue kayak liat orang lagi main drama gitu sih. Udah lanjutin aja lagi supaya kalian puas dan kita sebagai penonton juga merasa senang melihat kalian berdua kayak tadi," ledek Leo. "Emang otak kalian ini beneran ketinggalan di kelas, mangkanya sampe di kantin kalian malahan kayak orang bolot yang gak ada pikiran jernih. Orang tuh lihat temennya berantem ya di pisahin loh bukannya malahan di tonton," dumel Nadine. "Udah lagi, lo itu senang kalau berantem sama Nazla mangkanya gue kasih space kalian untuk berantem sekarang ini. Daripada kalian semua ngoceh dan ngedumel terus di belakang saling ledekan. Nah, sekarang aja kalian berantem di depan banyak orang," ledek Lia. Nadine dan Nazla mengerucutkan bibirnya dengan gemas dan yang lainnya tertawa puas melihat mereka berdua yang kesal dan bete hari ini. Kring.....kring.......kring...... Suara bel masuk pun berbunyi. Seluruh siswa-siswi SMA Pelita berhamburan masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Rian dkk pun berpamitan pada Lia dan yang lainnya untuk masuk ke dalam kelasnya duluan. Setelah mereka semua kembali, Lia dan yang lainnya langsung bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengikuti kelas berikutnya. Tak lama mereka sampai di dalam kelas, Bu Adel pun langsung memberikan materi ke Lia dan teman-temannya. Dengan malas Lia pun langsung mengeluarkan buku catatan Bahasa Indonesianya. "Ini yang paling gue malesin kalo pelajaran Bahasa Indonesia, kerjaannya nyatet mulu kagak ada tugas sama sekali," dumel Nazla. "Dah lo diem, lebih baik lo baca dan catet itu tulisan yang ada di papan tulis. Daripada lo ngedumel gak jelas kayak nenek lampir lebih baik ngerjain kan," ucap Lia kesal. "Gue tau lo males juga kalo di suruh nulis. Tapi, karena keadaan lo gak bisa berbuat apa-apakan?" tanya Nazla. Lia pun hanya menjawabnya dengan deheman singkat dan kembali menulis catatan yang di berikan Bu Adel. Setelah selesai mencatat Bu Adel pun menerangkan materi yang ada di papan tulis kepada semua muridnya. Mereka pun dengan saksama mendengarkan penjelasan yang di berikan Bu Adel. Meskipun mereka semua kadang jengah dengan materi yang di berikan setiap guru yang mengajar, tapi mereka semua selalu menghargai semua guru yang ada di SMA nya. Tak hanya itu saja, kelas Lia selalu di cap sebagai murid teladan yang sangat sombong dan angkuh. Padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak seperti itu. Lia dan yang lainnya kurang bergaul dengan kelas-kelas yang lain, mangkanya sering di sebut seperti itu. Mereka di kenal banyak orang, tapi tidak mengenal banyak orang, sering memasang muka datar dan bermain dengan anak kelasnya saja. Itu yang membuat kelas lain mencap asal kelas Lia. Meskipun di cap seperti itu, Lia dan teman-teman tidak mengambil hati ucapan orang luar. Tapi, jangan harap jika mereka mencari masalah dengan kelas Lia, mereka semua akan bersatu membela anak murid kelasnya. Kring....kring....kring.... Tak terasa jam pelajaran Bu Adel pun berlalu begitu cepat. Bel pulang pun akhirnya berdering memekakkan telinga semua siswa. Mereka semua pun bersorak senang mendengar bunyi bel tersebut. "Oke ibu tutup pelajaran hari ini. Semoga apa yang ibu sampaikan bisa bermakna bagi kalian semua. Ibu akhiri, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," ucap Bu Adel sambil keluar dari ruangan. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," ucap mereka semua. Setelah mendengar jawaban dari kami semua, Bu Adel pun langsung berkemas dan meninggalkan ruangan kelas kami. Lia dan yang lain pun bersiap untuk pulang ke rumahnya masing-masing. Baru sampai depan pintu masuk, tiba-tiba Ojan berteriak dari dalam kelas menghalangi teman-temannya untuk pulang ke rumah. "Jangan ada yang pulang dulu woi, gue ada pengumuman," teriak Ojan dari dalam kelas. Semua anak-anak yang sudah bersiap untuk pulang langsung kembali duduk di tempatnya masing-masing dan mendengarkan apa yang ingin di sampai oleh Ojan. "Ada apaan sih Jan? Kita semua pengen pulang, ko lo malah ngelarang?" dumel Reni. "Yaelah minta waktunya sebentar aja ko malah marah. Bentar doang sini, pada masuk dulu terus tutup pintunya," teriak Ojan dengan tegas. Mereka semua pun kembali masuk ke dalam kelas dengan muka yang sulid diartikan. Adanya yang mendumel, ada yang mengumpat dan ada yang diam saja mendengar seruan Ojan. Mereka pun langsung kembali ke tempat duduknya masing-masing. "Ada apaan?" tanya Nazla dengan nada ketusnya. "Besok malem kita semua di undang ke acara ulang tahunnya ketos. Jadi bagi kalian yang ingin dateng sebagai perwakilan kelas bisa di data di gue. Karena ketos kita ngundangnya gak semua siswa tapi, hanya perwakilannya saja," ucap Ojan santai. "Ko gitu sih Jan. Aturannya kalo nama kelas itu semuanya dateng, gak pake perwakilan kayak gini," protes Salsa. "Jangan protes sama gue. Kalo mau protes ke orangnya langsung sana. gue cuma nyampein apa yang dia sampein. Kalo kalian gak percaya bisa tanya sama kelas lain," ucap Ojan santai. "Lo aja Jan yang milih supaya gak beratem," ucap Nisa menengahi. "Boleh juga saran lo, yaudah yang pergi Lia dkk sama pengurus kelas ya," teriak Ojan. Lia yang di sebut namanya pun menatap Ojan dengan tatapan tajamnya. Ojan yang di tatap tajam pun hanya bisa mengehela nafasnya kasar. Ojan pun menatap Lia dengan tatapan bertanya, ada apa? Lia pun langsung berdiri untuk membantah ucapan Ojan. "Gue dan temen-temen gue gak bisa menghadiri ultah itu karena perwakilan kelas. Lo bisa pilih yang lain untuk di ajak Jan," ucap Lia santai. Semua orang yang ada di ruangan kelas ini melihat ke arah Lia dengan tatapan yang sangat bingung. Pasalnya Leo adalah salah satu jajaran orang populer dan sangat tampan di sekolah mereka. Tak hanya memiliki wajah yang tampan, Leo juga memiliki otak yang luar biasa. "Lia, di mana-mana kalo di suruh pergi ke tempatnya Leo, yang notabennya cogan di sekolah ini pada pengen. Lah, lo mah malahan kebalikannya. Lo itu beneran cewe tulen kagak sih? Ko lo malah nolak pas Dewi Fortuna memihak lo?" tanya Lena. "Ya bukan gitu maksud gue, kalian aja yang pergi. Kan masih banyak yang lain jangan gue terus yang apa-apa di tunjuk," jawab Lia dengan lembut. "Lo yakin?" tanya Nazla. Lia pun hanya mengkode Nazla untuk diam. Nazla yang paham pun langsung menatap Lia dengan tatapan, lo utang penjelasan sama kita semua. Lia pun hanya mengangguk singkat melihat kode dari Nazla. "Oke kalo itu mau lo. Gue akan ngacak nama dari absen, untuk siapa aja yang ikut. Kado masing-masing sama satu kado dari kelas kita," jelas Ojan. Mereka semua pun mengangguk setuju mendengar ucapan Ojan. Ojan dan pengurus kelas yang lain pun langsung mengacak nama secara random dari absen, mereka pun langsung menyebutkan beberapa orang yang akan pergi ke pesta ultahnya Leo. Setelah semuanya selesai mereka semuapun di perbolehkan untuk bubar dari kelas. Hingga tersisa pengurus kelas dan keluarga ambyar. "Lia ko lo malah nolak ajakan si Ojan sih?" dumel Nadine dengan kesal. "Gue males beneran lah sama lo, bukannya lo terima aja ajakan Ojan yang berangkat kita-kita. Li Lo mah beneran gak ngerti perasaan kawannya," ucap Nazla sambil menekuk mukanya dengan kesal. "Tau si Lia mah, kebiasaan banget lo Lia kagak mau ngerti bener keadaan temennya yang pengen cuci mata liat cogan. Aturan ya kalo lo gamau, kagak usah ajak-ajak kita semua napa. kan gue gak jadi liat cogannya kalo begini caranya," dumel Sinta. "Ya gak gitu-------" ucapan Lia pun terpotong dengan panggilan seseorang di belakangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD