Semua orang tergila-gila oleh mereka semua. Sampai yang baik dan yang buruk selalu mereka kesampingkan. Saat ini sangatlah membingungkan bagi gue. Kenapa hanya gue yang merasakan ini semua?
-Ophelia Erina Bintari.
"Lia!" panggil Stefhanie ke arah mereka semua.
Lia langsung menoleh ke arah Stefhanie dan menatapnya dengan tatapan yang sangat ramah. "Ada apa Fan?" tanya Lia dengan sangat ramah.
"Ini aku mau ngembaliin buku kamu Lia, makasih ya udah mau minjemin buku kamu ke aku. Sangat berharga sekali," ucap Stephanie dengan senyuman manisnya.
"Tenang aja Fani, aku juga senang meminjamkan buku ini ke kamu. Kamu abis ini mau kemana?" tanya Lia dengan ramah.
"Aku mau langsung pulang aja. Ini aku mau balik, duluan ya semuanya."
Stephanie meninggalkan ruangan kelas Lia dengan senandung kecil yang ia nyanyikan. Mereka semua kembali menatap Lia dengan tatapan yang kesal.
"Lia kenapa lo malahan nolak rezeki sih?" tanya Nadine dengan kesal.
"Gue gak nolak rezeki guys. Gue cuma lagi gak mau aja pergi kalau ke pesta ulang tahun," ucap Lia dengan meyakinkan mereka.
"Alasan apaan sesimpel itu? Gue gak percaya sama lo kalau alasannya itu. Coba kasih tau gue tentang apa yang lo sembunyikan dari kita semua. Kenapa malahan lo nolak kayak tadi?" tanya Nisa dengan tidak percaya.
"Gue lagi gak mau ke sana. Udah jangan paksa gue lagi, gue akan kasih undangan ke kalian. Kalian aja yang berangkat bawa kado dari gue ke rumahnya Leo. Kalau gue beneran gak mau ke sana," ujar Lia.
"Gue tau sekarang lagi ada yang lo sembunyikan dari kita semua. Gue gatau apa itu, tapi yang jelas saat ini gue tau kalau ada masalah yang lo sembunyikan. Lia kalau udah siap kita semua siap dengerin apa yang ingin lo katakan," pinta Sinta.
"Sekarang gue masih penasaran. Mungkin kalau Sinta dia udah sebodo amat. Tapi, gue gak bisa. Ada apa sebenarnya?" tanya Nisa.
"Gue setuju sama Nisa. Kenapa lo gamau dateng ke sana. Ada masalah sama Queen sekolah? Apa gimana?" tanya Nadine.
"Coba jelasin deh supaya kita semuanya gak pada berpikir yang aneh-aneh tentang lo. Gue gak mau ya kalau suatu saat nanti ada yang bilang kalau kita semua gak peduli sama lo," dumel Reni.
"Jawab dulu pertanyaan kita semua itu. Kenapa lo malahan nolak ajakan mereka semua?" tanya Nazla.
"Perasaan Leo udah terlihat jelas dari sorot matanya. Gue gak mau ya menghancurkan persahabatan karena perasaan. Naz, gue juga ada urusan. Mungkin gue gak bisa ngomong semuanya sama kalian semua. Tapi, kalian harus tau kalau sebenarnya gue juga gak mau kalau gak dateng ke sana. Bagaimana pun juga Leo adalah teman gue," jelas Lia dengan sangat lembut.
Semua orang yang ada di kelas ini menatap Lia tidak percaya. Mereka benar-benar sangat kaget mendengar apa yang baru saja Lia katakan. Nadine hanya terdiam dan menepuk pelan pipinya.
"Ya seharusnya lo terima dong," ucap Nazla dengan kesal.
"Lo beneran gak mau terima dia?" tanya Nisa to the point.
"Bukannya gak mau terima, cuma ya kasta gue dan dia itu beda. Gue gak bisa memaksakan kehendak gue saat ini. Lagi pula ada seseorang yang selalu ada di kehidupan gue. Selalu mendukung gue meskipun dalam doa saja," cicit Lia dengan pelan.
"Siapa cowo itu?" tanya Reni dengan pelan.
"Kalian gak akan tahu siapa cowo itu. Karena selama ini cowo itu bener-bener gak pernah kalian lihat. Mungkin kalian bisa lihat Mas Dwi doang sekarang. Tapi, kalian gak bisa lihat dia. Karena dia beneran udah menghilang entah kemana," ujar Lia dengan senyuman manisnya.
Mereka semua yang tau bagaimana perasaan Lia menghentikan pertanyaan yang itu untuk lebih dalam dalam lagi. Kalau misalnya mereka tanya lebih dalam sama saja seperti mereka menyiram air garam ke luka yang sudah mulai mengering.
"Oke, gini deh ya. Untuk masalah undangan gak usah kita bahas deh."
"Tapi, gue pengen ke sana loh. Gila sih gue beneran iri sama si Vanya dkk. Masa kita gak bisa.ikut sih," rengek Nazla dengan kesal.
"Iya bener banget, nih ya kapan lagi coba Leo akan buat hal yang begini. Jarang-jarang banget tau sampe ngundang satu sekolah. Ya meskipun hanya inti dan perwakilan aja sih," ucap Nadine.
"Lia kamu datenglah. Ya kali udah di undang gak dateng. Sampe kamu mau di anter jemput loh sama Leo. Beneran kamu mau nolak cowo kayak Leo?" tanya Reni menyakinkan Lia.
"Gue sih ya Lia, gak akan melepaskan cowo sebaik dan seganteng Leo. Lo itu beneran ya sangat beruntung bisa dapetin Leo. Gak ada yang bisa dapetin cintanya Leo selama ini kecuali lo," kata Sinta.
"Gue setuju sama apa yang di bilang sama Sinta. Gue beneran ya gak akan ngelepasin seseorang yang cakepnya kayak Leo. Udah paket komplit banget sih dia," ujar Nazla.
Lia memikirkan apa yang teman-temannya katakan. Mereka semua saling tatap dan tersenyum kecil melihat Lia yang sedang berpikir ulang antara mau ikut atau tidak ke pestanya Leo saat ini.
"Oke gini aja deh ya. Kita kesana pake undangan yang Leo kasih. Gue akan ajak kalian semua untuk pergi ke pestanya Leo. Kalian dandan dan siap-siap aja kasih dia kado yang bagus pokoknya," ucap Lia menengahi ini semua.
Nazla dan yang lainnya bersorak pelan melihat Lia yang ingin mengalah saat ini. Mereka akhirnya bisa datang ke acaranya Leo meskipun itu harus meyakinkan Lia dengan susah payah terlebih dahulu.
"Oke, kita semua setuju kalau begitu. Udah sekarang kita bubar deh."
"Heh main bubar aja, sekarang waktunya kita kumpullah. Kenapa main kabur aja? Inget ini jadwalnya kita main bersama," ucap Nazla mengingatkan teman-temannya.
"Oh iya, gue lupa kalau kita mau kumpul hari ini. Oh ya guys, jangan lupa ya kumpul hari ini!" ucap Nadine.
"Dari sekarang aja gak sih? Kita langsung caw kemana gitu?" tanya Nisa.
"Lah, iya juga. Kebetulan gue bawa mobil."
"Nahkan, udah langsung gas aja kita langsung ke sana. Jangan di tunda lagi. Nanti malahan gak jadi lagi," ucap Nazla.
Lia dan teman-temannya keluar dari kelas mereka. Lalu Lia teringat sesuatu yang harus ia cari di perpustakaan sekolah. "Guys!" panggil Lia.
Mereka semua berhenti dan langsung menoleh ke arah Lia dengan tatapan bingung. "Ada apa?" tanya Nazla.
"Gue harus cari buku ke perpustakaan, kalian duluan aja deh ke parkiran gue nanti nyusul kalian."
"Mau di anterin gak sama kita?" tawar Nadine.
"Gak usah, gue bentar doang ko. Udah kalian balik sana ke parkiran gue nanti nyusul bentar lagi. Bye!" ucap Lia sambil berjalan ke arah perpustakaan sekolah. Nadine yang lainnya kembali berjalan menuju parkiran yang tak jauh dari sana.
Author POV Off.
Nadine POV On.
"Guys!" panggil Lia.
Kami semua berhenti dan langsung menoleh ke arah Lia dengan tatapan bingung. "Ada apa?" tanya Nazla.
"Gue harus cari buku ke perpustakaan, kalian duluan aja deh ke parkiran gue nanti nyusul kalian."
"Mau di anterin gak sama kita?" tawar gue.
"Gak usah, gue bentar doang ko. Udah kalian balik sana ke parkiran gue nanti nyusul bentar lagi. Bye!" ucap Lia sambil berlalu meninggalkan kami semua.
Jujur perasaan gue saat ini tentang Lia beneran gak enak. Gue gak tau kenapa tiba-tiba gue merasa kalau akan terjadi sesuatu yang buruk sama Lia sekarang ini. Namun, semua perasaan itu beneran gue tepis saat ini.
Toh, jarak antara parkiran dan perpustakaan beneran deket. Kalau ada apa-apa juga pasti kedengaran karena masih banyak orang di sekolah. Gue dan yang lain memutuskan untuk berjalan ke arah parkiran.
"Btw gimana hubungan lo sama Andre?" tanya Nazla ke Sinta.
"Biasa aja sih, makin sweet aja manusia satu itu. Kemarin juga dia ngajak gue jalan ke pantai. Cuma tau sendiri kalau gue beneran gak bisa kena angin pantai kelamaan nanti malahan sakit. Eh, pas dia tau malahan dia ngajak gue jalan ke tempat lain. Kan jadinya enak," ucap Sinta sambil tertawa kencang.
"Dasar para bucin," cibir Nadine.
"Mangkanya cari pacar atuh, gebetan doang yang banyak cuma ghosting doang mah gak guna. Kalau beneran sayang teh ungkapin semua secara gentleman," ucap Nisa.
"Apaan lagi lo ini, gampang kalau misalnya cari pacar mah. Lima menit juga jadi kalau misalnya niat. Kalau gak niatnya ini yang bahaya malahan bertahun-tahun juga gak akan nyatu kali."
"Alah bilang aja kalau misalnya lo gak mau pacaran atau sok jual mahal ih," ucap Sinta dengan kesal.
"Guys gue beneran deh punya perasaan gak enak tentang Lia sekarang ini," ujar gue.
"Lah, orangnya kan lagi sama kitam Kenapa lo bisa negatif thinking begini sih? Udah gak usah khawatir kali lagian juga si Lia beneran aknaknya suka kemanapun sendirian," ucap Nisa menenangkan gue.
"Ini beneran deh, lain banget perasaan gue sekarang ini. Kayak ada yang jahat sama Lia tapi dia beneran secara halus gitu loh," jelas gue.
"Lo kebanyakan nonton yang psikopat mangkanya kayak gini. Denger gue ya, Lia itu gak papa. Karena ini masih di lingkungan sekolah. Lagi oula Lia juga gak ada musuh yang bisa buat dia kayak gitu. Udah gak usah di pikirin. Sekarang kita tunggu aja mungkin sebentar lagi dia balik ke sini," ucap Nazla.
"Btw kemarin gue jalan sama Feri, gue beneran seneng banget sih jalan sama dia. Kenapa coba? Dia tuh beneran manis gitu loh sama gue. Masa gue sakit dia langsung gendong gue."
"Ih beneran tah?" tanya Nazla.
"Iya gemes bangetkan? Gue juga baper sendiri tau sama sikap dia yang beneran manis itu. Gue sampe, ya Allah gue gak mau ngelepasin dia sekarang ini. Gue beneran sayang sama dia. Gamau tau pokoknya gue beneran sayang sama dia," ucap Reni.
Mendengar gibahan mereka gue langsung melihat arloji yang ada di tangan kanan gue saat ini. Gue melihat jam, Lia pergi setengah jam yang lalu. Itu artinya dia beneran cari buku atau ada hal lain yang dia selesaikan. Hati gue beneran gelisah mikirin apa yang terjadi sama Lia di sana.
"Eh, si Lia kemana ini lama banget? Bukannya katanya sebentar ya?" tanya gue mengalihkan pembicaraan.
"Iya juga, gue juga khawatir gini sama dia. Kenapa gak balik-balik daritadi? Dia beneran ke perpustakaan kan ya?" tanya Sinta memastikan.
"Nah, itu dia. Ini kenapa gak balik daritadi? Gue beneran khawatir sama dia. Apa kita tunggu beberapa menit lagi aja apa ya?" tanya gue dengan nada panik.
"Nah, iya kita tunggu aja dulu sebentar lagi. Kalau misalnya dia gak balik lagi baru kita keliling sekolah nyariin dia. Jangan gegabah," ucap Reni menengahi mereka semua.
Tak lama kemudian Fajar dan teman-temannya keluar dari lorong kelas mereka dan menghampiri gue dan yang lainnya. Gue terus gelisah memikirkan keadaan Lia saat ini, hati gue dan diri gue bener-bener kayak sedang bertengkar di sana.
"Lia lo dimana?" batin gue.
"Heloo guys!" sapa Fajar dengan ramah.
"Halo," jawab kami semua.
"Btw Lia kemana? Bukannya dia selalu sama kalian ya? Ko sekarang gak ada Lianya?" tanya Leo dengan bingung.
"Nah, ini dia masalahnya. Lia daritadi gak balik ke sini. Gue gak tau dah dia kemana, tadi dia pamit mau ke perpustakaan doang. Tapi, ini lama banget."
"Kalian kayak gatau Lia aja, kalau misalnya ke perpustakaan sama dengan tidur, dia beneran betah di sana."
"Gak gitu, ini kita mau pulang bareng soalnya. Lia yang ngajak kita semua hangout. Gak mungkin dia lupa kayak gitu bukan Lia banget kalau begitu mah. Dia selalu ingat dan mendahulukan apa yang di dahulukan."