Semua orang yang berada di sekeliling kita akan merasa khawatir jika melihat kita tidak ada atau tidak kembali tanpa membawa kabar. Banyak pemikiran negatif dan overthinking yang akan mereka buat untuk mencari kita yang hilang.
-Nadine Fahreza.
"Gini aja deh, hari udah semakin senja kalian pulang aja. Gue yang akan ngomong sama Lia masalah kalian gak jadi hangout. Untuk Rian, Kevin, sama Leo gue harap kalian bisa mendampingi mereka untuk pulang sekalian kalian langsung pulang aja."
"Untuk Fajar sama gue akan cari Lia di sekolah," ucap Raihan dengan tegas.
"Tapi, gimana sama keadaan Lia? Gue beneran masih khawatir sama keadaan Lia saat ini," ucap Nazla dengan lirih.
"Gak usah takut masalah yang begini kita hadapi bareng-bareng, kita cari Lia juga sama-sama supaya bisa ketemu lebih cepet nantinya. Gue tau kalian khawatir banget sama Lia. Tapi, kita usaha gak usah khawatir," ucap Fajar dengan pelan.
"Mungkin kalian bisa ngomong kayak gitu. Tapi beneran sulit bagi gue untuk membiarkan Lia kayak gitu. Gue beneran gak bisa bayangin apa yang terjadi sekarang," gumam Nisa dengan khawatir.
"Jangan takut semuanya akan baik-baik aja," ucap Fajar menenangkan keduanya.
"Leo lo langsung pulang aja sama mereka, kalau ada apa-apa nanti kita kabarin sama lo," ucap Raihan.
"Gak, gue mau ikut cari Lia sama kalian semua. Gue gak mau tau, pokoknya gue mau cari Lia. Yang lain bisa pulang," ucap Leo dengan kekeh.
"Le, lo mau ada acara ya. Gak usah gila, nanti kalau udah ketemu kita kabarin. Lo bisa ke rumahnya dan masih banyak lagi. Gak usah kayak gini lo bukan bocah lagi," ucap Fajar dengan kesal.
"Jangan banyak drama sekarang lakuin aja kalian semua apa yang gue katakan, gue akan menjamin keselamatan Lia saat ini. Dia akan pulang, meskipun nanti ada luka atau yang lainnya gue dan Fajar yang akan nyelametin dia."
"Gue punya feeling gak enak tentang Lia. Boleh gue ikut? Soalnya gue mau memastikan kalau Lia aman," ucap gue dengan pelan.
"Keadaan gak aman, kalau misalnya lo mau ikut salah satu dari mereka juga harus ikut. Kalau gak gini aja deh ya, lo ikut dengan catatan Leo juga ikut. Yang lain bisa pulang ke rumah kalian masing-masing," ucap Raihan dengan tegas.
Leo langsung berjalan mendekat ke arah Raihan dan menganggukkan kepalanya dengan pelan. Gue menatap mata teman-teman gue dan menganggukkan kepala gue dengan pelan.
"Pulang bareng sama Rian dan Kevin, gak usah peduli sama omongan orang yang ada saat ini. Hidup kita bukan mereka, kita juga makan gak dari mereka jadi bagi gue itu sama sekali gak guna kalau kita dengerin. Udah sekarang kalian pulang dan istirahat. Kalau Lia udah ketemu nanti di kabarin di grup sama gue minta tolong bawain baju ganti gue ya," ucap gue dengan pelan.
"Oke," ucap mereka semua sambil masuk ke dalam mobil. Rian dan Kevin langsung masuk ke dalam mobil mereka masing-masing dan menggiring mereka untuk pulang.
Melihat mobil mereka keluar dari parkiran kami semua berpikir untuk mencari Lia kemana. Gue berpikir sejenak dan membayangkan apa yang terjadi. Gue menoleh ke arah parkiran untuk mencari mobil Evelyn.
"Kita mau cari kemana?" tanya Fajar dengan khawatir.
"Gue beneran gak tau," jawab Leo dengan bingung.
"Pelan-pelan kita pasti akan menemukan clue-nya," ucap Raihan menenangkan mereka semua.
Gue mengedarkan pandangan gue ke arah mobil yang ada di parkiran dan akhirnya GOTCHA! Gue menemukan apa yang gue cari. Gue mengepalkan tangan gue dengan kencang dan merasa gak percaya dengan semuanya.
"Ternyata kalian lebih kejam daripada seorang binatang yang tak memiliki hati. Binatang saja memiliki sebuah kasih sayang dengan sesama kenapa seorang manusia tidak memiliki hati dan kasih sayang? Ternyata cinta adalah sebuah Malapetaka yang sangat menakutkan," ucap gue dengan kesal.
"Lo ngomong apa sih? Gue beneran gak paham sama apa yang katakan sekarang. Apanya yang binatang? Kasih sayang? Cinta? Apaan?" tanya Leo dengan bingung.
"Mencari Lia jangan menggunakan jeritan panggilan. Yang ada kita tidak dapat menemukan dia dimana, karena ini termasuknya penculikan dan pembullyan. Karena ini di sekolah kita bisa melihat cctv besok untuk bukti. Tapi, sekarang Ki gak bisa melihat itu semua karena cctv di tutup."
"Kalau nunggu besok gue gak mau ya, Lia pasti udah kenapa-napa. Sekarang cari gak usah pake jeritan," ucap Leo.
"Gue paham sama apa yang lo katakan. Kita sekarang harus lari ke arah tempat sepi dan gelap. Karena kita akan bisa menemukan Lia di sana," ucap Raihan dengan pelan.
Raihan langsung berlari ke arah gudang yang ada di sekolah ini. Gue yang melihat Raihan dengan raut yang sangat khawatir dari yang lainnya hanya bisa mengernyitkan dahi kami dengan bingung.
"Udah gak usah banyak tanya dulu kita semua harus cari Lia kemana sekarang ini. Gak usah banyak tanya tentang Raihan," jelas Fajar.
Kami semua langsung mengejar Raihan di belakangnya. Raihan membuka setiap pintu gudang yang ada di sekolah ini namun nihil, gak ada yang dapat ia temukan. Raihan terus mencari di setiap sudut ruangan.
Gue yang melihat Raihan dan mengikuti lari laki-laki itu sangat lelah. Namun, gue harus kuat untuk menemukan temen gue saat ini. Gue dan yang lain terus menelusuri seisi sekolah.
Raihan memberhentikan larinya dan mengatur nafasnya dengan pelan. "Kemana lo ini?" cicit Raihan dengan sangat lirih.
Gue mendengar jelas apa yang di katakan oleh Raihan dan menatapnya dengan tatapan yang sangat tidak percaya. Karena selama ini gue gak melihat kalau Raihan beneran sayang sama Lia. Justru yang terlalu memperhatikan gerak-gerik Lia saat ini adalah Leo.
Tapi, tingkah Leo masih kalah dengan perilaku Raihan saat ini. Raihan di balik dingin dan diamnya dia memiliki rasa khawatir dan rasa kesal karena tidak dapat menemukan dia di sini.
Leo menatap Raihan dengan tatapan yang tak suka, Raihan terlihat sangat panik dan lebih khawatir dengan keadaan Lia saat ini. Mungkin dia bisa keep calm dengan semua orang yang ada di sekitarnya saat ini. Tapi, semburat rasa khawatirnya terlihat di wajah tampannya.
"Lo beneran kemana sih Lia?" tanya Fajar.
"Kalau kita jerit nyebut nama dia pasti gak akan selama ini," dumel Leo dengan kesal.
"Lebih baik diem dan berpikir ruangan mana yang belum kita telusuri. Dari kelas ke setiap kelas gue gak menemukan Lia saat ini. Sekarang kita harus berpikir kita akan mencari kemana lagi. Jangan malahan banyak debat kayak gini," ucap Raihan dengan kesal.
Kami semua berpikir tentang ruangan mana yang belum kami telusuri sore ini. Gue terus berpikir keras dan memikirkan dimana ruangan yang tepat untuk penculikan.
"Apa Lia di culik terus dibawa kabur sama penculiknya?" tebak Leo.
"Ngandi-ngandi, gak ada ya. Kalau misalnya di bawa pasti kita semua liat dia keluar dari parkiran," dumel gue.
"Hanya ada satu ruangan yang belum kita cari saat ini yaituuu..........."
Nadine POV Off.
Raihan POV On.
Mendengar kabar tentang Lia yang menghilang bener-bener manjadi teka-teki yang sangat membingungkan saat ini. Karena selama ini gue memperhatikan dia dari jauh sama sekali gak ada musuh yang mengincar dia ataupun musuh yang benar-benar ingin menghabisi dia.
Lia orang yang baik gue beneran masih bingung dengan ini semua. Kenapa bisa terjadi secepat ini, gue menyuruh Kevin dan Rian untuk mendampingi para cewe untuk pulang ke rumah. Karena hari sudah mulai senja, gue gak bisa membiarkan mereka pulang sendirian tanpa di dampingi.
Sebenarnya banyak sekali pertanyaan di otak gue tentang siapa sebenarnya Lia saat ini. Karena gue beneran kayak gak asing dengan muka Lia. Gue kayak pernah ketemu dengan dia. Di tambah muka Lia juga mirip sama teman gue yang mukanya mirip sama Lia.
Selama ini gue mengikuti Lia karena gue ingin tahu siapa dia sebenarnya. Tapi, nihil selama ini gue mengikuti dia sama sekali gak ada hasilnya sama sekali. Gue menghembuskan nafas dengan pelan dan berpikir kemana Lia menghilang.
"Gue tanya sama lo terakhir kali lihat Lia kapan?" tanya gue ke arah Nadine.
"Lia daritadi sama kita sampe keluar kelas. Yang gue tahu Lia ke perpustakaan sekolah untuk mengambil buku yang ingin dia pinjam. Gue sebenernya udah ngomong sama yang lain kalau firasat gue tentang Lia beneran gak enak sekarang ini. Tapi, gak ada satu orang pun yang percaya sama omongan gue," jawab Nadine.
"Okey, apa yang lo rasakan?" tanya gue lagi.
"Gue ngerasa kalau ada orang yang sengaja mengikuti Lia dari belakang. Gue gatau itu bener apa engga. Gue juga sebenernya belum yakin dengan apa yang gue rasakan saat ini. Yang jelas sekarang gue beneran deg-degan dan khawatir sama keadaan dia sekarang ini," jawab Nadine.
"Sinta tadi kenapa kok bisa gelisah kayak tadi? Jawab jujur sama kita semua. Gue gak mau ada kebohongan lagi. Di sini sekarang lo ngomong semuanya sama gue untuk mudah mencari keberadaan Lia," ucap gue dengan nada yang datar.
"Evelyn dan teman-temannya benar-benar menatap gue dan Lia dengan sangat tajam. Gue gatau apa yang mereka rencanakan tadi itu sama kita semua," jawab Nadine.
Gue benar-benar gusar dan memikirkan bagaimana sekarang apa yang terjadi oleh Lia. Pikiran gue bener-bener berkeliaran kemana-mana sekarang. Gue berpikir kalau sekarang ini Evelyn dalang dari semuanya.
"Jangan menuduh orang kalau lo gak punya banyak bukti sekarang Raihan," gumam gue dengan pelan.
Gue langsung berlari ke arah setiap gudang yang ada di sekolah ini untuk mencari keberadaan Lia. Gue beneran sangat khawatir sama gimana keberadaan Lia saat ini. Gue berpikir kemana-mana ke pikiran yang tidak seharusnya gue pikirkan.
"Lo dimana sebenernya Lia? Gue gatau sekarang harus apa? Gue beneran khawatir sama lo," gumam gue dengan sangat pelan.
"Lia lo itu sebenarnya siapa? Kenapa lo datang dan membuat banyak teka-teki dalam hidup gue? Kenapa lo sekarang dengan beraninya buat gue khawatir kayak gini? Siapa lo sebenarnya?" batin gue berteriak.
Hati gue dan perasaan gue saat ini benar-benar berkecamuk menjadi satu. Sebelumnya tidak ada yang bisa membuat gue berkecamuk saat ini. Gue hanya biasa saja dalam merespon banyak orang.
Tapi, Lia bener-bener buat gue gila dan buat gue banyak berpikir bahwa siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa dengan berani membuat khawatir kayak gini? Kenapa dia bisa buat gue gila dan takut akan kehilangan dia?
Gue terus mencari Lia ke semua tempat yang ada di sekolah ini. Namun, nihil belum ada tanda-tanda dari Lia untuk ketemu. Gue menoleh ke arah belakang melihat Leo dan yang lainnya juga mencari Lia dengan sangat khawatir.
"Kenapa lo bisa membuat semua orang khawatir saat ini? Gue gak pernah mengenal lo selama ini. Kenapa sekarang gue merasa kalau lo adalah Erin? Kenapa lo bisa mirip dan menjelma persis seperti Erin? Gue gatau Erin di mana saat ini. Tapi, dengan adanya gue melihat lo secara gak sadar pikiran gue tentang Erin mulai terkikis."
"Apa benar lo itu Erin, Lia? Kenapa kalau lo itu Erin, lo sama sekali gak ngenalin gue? Dan jika lo memang bukan Erin, kenapa lo menjelma persis seperti Erin? Senyumannya, tawanya, caranya berbicara, perhatiannya, baiknya, kenapa semua itu sama seperti yang lo lakukan kepada banyak orang."
Gue terus berlari dan berpikir untuk dimana gue bisa menemukan Lia saat ini. Gue dan yang lainnya berhenti dan menarik nafas karena kelelahan. Gue memejamkan mata dengan pelan dan berpikir kemana lagi kita semua harus mencari keberadaan Lia saat ini.
"Apa Lia di culik terus dibawa kabur sama penculiknya?" tebak Leo.
"Ngandi-ngandi, gak ada ya. Kalau misalnya di bawa pasti kita semua liat dia keluar dari parkiran," dumel Nadine dengan kesal.
"Hanya ada satu ruangan yang belum kita cari saat ini yaituuu..........."
Gue langsung menatap Fajar dan melototkan mata ke arahnya. Pikiran gue dan Fajar saat ini benar-benar searah sekarang.
Raihan POV Off.