Chapter 40

1648 Words
Ketika mobil yang ditumpangi oleh Lia kecil berhenti di depan pintu utama rumah Nabhan, dengan sendirinya Lia kecil membuka pintu mobil tanpa ada bantuan dari siapapun, kemudian sebelum dia benar-benar menjauh dari mobil itu Lia kecil melirik ke arah Naufal. "Sampai di sini, aku akan masuk," ujar Lia kecil. Naufal mengangguk. "Istirahatlah selama beberapa jam, lalu setelah itu baru Adik Lia akan ke tempat latihan untuk melatih calon anggota baru," balas Naufal. Lia kecil tak mengangguk ataupun membalas ucapan Naufal, dia hanya menutup pintu mobil dan melangkah memasuki rumah utama Nabhan. Setelah tidak lagi terlihat Lia kecil, Naufal menutup mobil, kemudian dia berkata kepada bodyguard. "Ke rumah." Bodyguard mengangguk. Naufal bernapas lega dan mengusap dadanya. "Uh, dia memang benar-benar menakutkan, bahkan dia nggak mau ucapin terima kasih karena sudah diantar ke sini," ujar Naufal. Sedetik kemudian dia mengoreksi ucapannya. "Bukan maksudku untuk mengharapkan imbalan terima kasih darinya tetapi sungguh dia benar-benar dingin, aku tiba-tiba ingin melihat adik Ariel yang muncul, adik Ariel lebih penurut dari dia ini," gumam Naufal. Naufal bersandar di jok mobil, dia melipat dua tangannya dan terlihat menutup kedua matanya. Selama satu perjalanan dengan Lia kecil di dalam mobil dari bandara ke rumah utama Nabhan, Naufal tidak berani menutup kedua kelopak matanya. Dia takut jika dia menutup kedua kelopak matanya barang sedetik saja, mungkin saja Lia kecil akan membuangnya keluar dari dalam mobil, pasalnya tatapan Lia kecil sedari tadi hanya dingin dan tajam. "Perasaan aku nggak buat salah apapun padanya," gumam Naufal. "Tapi kenapa dia melihatku seperti itu?" gumam Naufal, dia membuka matanya. "Ah, mungkin dia lelah dan ingin melatih anggota baru," gumam Naufal lagi. Naufal mengantuk, setelah berkata ini dia menguap, wajah Naufal benar-benar mengantuk. "Setelah sampai di rumah langsung terjun ke kasur, oh bantal … oh selimut … oh guling … i miss you." * Sesampainya di rumah utama Nabhan, pekerja rumah menyambut kedatangan Nona mereka, namun seperti biasa sambutan mereka tetap diabaikan oleh Lia kecil. Lia Kecil naik ke lantai dua dan menuju ke arah kamarnya yang ditempati sudah lebih dari 20 tahun. Pada saat hari berikutnya, rutinitas Lia kecil setelah dia dipindah tugaskan di markas TNI yaitu melatih para juniornya. Dia sangat serius dalam melatih para juniornya menembak, pada saat itu sepasang mata sedang melihat ke arahnya. Tatapan mata itu terlihat sangat serius, di samping orang yang sedang menatap serius ke arah Lia kecil, ada Panglima TNI yaitu Irwan Baqi. "Om pikir kamu sibuk dengan bisnismu. Apakah ini baru pertama kali kamu berada di sini? maksud Om ke tempat latihan menembak ini, ah perasaan kamu tidak pernah latihan menembak di sini," ujar Irwan ke arah Naufal. Tatapan mata Irwan menyipit ke arah Naufal. "Tetapi kenapa tiba-tiba kamu ingin latihan menembak di sini?" tanya Irwan. Naufal melirik ke arah sang paman. Dia menjawab, "Opal sudah bosan berlatih menembak di tempat menembak Basri Om, Opal ingin suasana baru. Mungkin saja jika berada di tempat latihan menembak dengan para prajurit TNI mungkin bisa menambah adrenalin." "Hahaha!" Irwan tertawa, dia melirik ke arah sang keponakan. "Baik, mari latihan menembak, Om ingin melihat bagaimana kemampuan menembak dari cucu penguasa Basri ini," ujar Irwan. Naufal terkekeh pelan. "Tentu saja produk Basri tidak ada yang gagal, semuanya sempurna," ujar Naufal menyombongkan diri. Irwan tertawa hampir terbahak-bahak, namun dia harus menjaga citranya agar terlihat berwibawa di mata para bawahannya, sebab dia adalah pimpinan para prajurit jadilah Irwan berusaha untuk tidak terlalu tertawa keras. "Baik, Om akan undang anak-anak om untuk datang ke sini, jika kamu ingin latihan menembak di sini, Om persilahkan. Lebih baik mencari kesibukan di sini, mari kita lihat kemampuan menembakmu," ujar Irwan. Dengan percaya diri Naufal mengangguk. "Tidak masalah," balas Noval. Setelah Lia kecil selesai melatih para Junior menembak, dia kembali ke tempat duduk, namun tak sengaja matanya melihat ke arah Naufal yang kini memakai peralatan untuk latihan menembak. Lia kecil melirik dengan ekor mata selama beberapa detik lalu setelah itu dia kembali duduk dan mengambil air botol mineralnya dan meneguk beberapa tegukan agar menghilangkan dahaga yang bersarang di tenggorokannya. Naufa berakting seperti dia adalah pria yang terkeren dengan memakai kacamata, rompi anti peluru, dan peralatan lainnya, lalu dia memilih senjata mana yang ingin digunakan untuk latihan menembak. Kali ini Naufal menggunakan pistol dengan varian terbaru dan desain terbaru dari kakak iparnya untuk dipakai latihan menembak. Naufal berjalan pelan ke arah lapangan latihan menembak dengan tatapan tajam dia mengarahkan satu tembakan ke arah target. Dor! Bunyi tembakan tepat mengenai lingkaran tengah jarak berkisar 50 meter, Naufal memberi isyarat menjauhkan lagi sasaran target, seseorang dengan segera dan cepat menjauhkan target tembak hingga 75 meter. door! Bunyi tembakan kedua. Sempurna. Naufal memberi gerakan tangan lagi untuk menjauhkan target sejauh 100 meter. Door! Bunyi tembakan ketiga tepat sasaran. Naufal menjadi pusat perhatian para prajurit. Dia menembak dengan sangat akurat dengan satu kali tembakan saja tembakan tersebut tepat mengenai sasaran titik pada, saat bunyi tembakan berikutnya jarak antara tembakan dengan target yaitu sekitar 125 meter. Berikutnya hingga mencapai 150 meter, 175 meter hingga 200 meter. Orang-orang menjadi terbelalak dengan kemampuan menembak dari Naufal. seorang perwira bertanya kepada teman yang lain. "Dka juga dari militer?" Sang teman melirik ke arah temannya sudah bertanya dia agak ragu untuk menggelengkan kepalanya ataukah menganggukan kepalanya, sebab kemampuan menembak dari Naufal sangat bagus, bisa dibilang juga seperti kemampuan seorang militer yang terlatih namun dia tidak pernah melihat Naufal dalam militer, mereka juga tidak pernah bertemu dengan Naufal. Jadilah sang teman menjawab, "Aku kurang tahu." Teman yang tadi bertanya hanya mengangguk mengerti, kemudian suara dari Panglima TNI terdengar. "Memang tidak diragukan lagi kemampuan menembak dari tuan muda Basri, sangat hebat. Jika saja salah satu dari anak-anak Basri dari mamamu masuk militer mungkin mereka akan menjadi suatu aset yang berharga dan sangat bertalenta, sayang sekali mereka memilih berbisnis yaitu meneruskan apa yang telah dirintis oleh orang tua mereka terdahulu gumam Panglima militer yang terkagum-kagum dengan kemampuan menembak dari Naufal. Dua orang yang tadi penasaran dengan siapa identitas dari Naufa itu saling melirik mereka kini tahu bahwa orang yang sedang memamerkan kemampuan menembaknya itu bukanlah dari orang militer melainkan orang sipil biasa. Seorang teman berkata pada temannya. "Bukankah ini daerah yang tidak boleh dimasuki oleh orang lain selain militer?" tanyanya sambil berbisik ke arah teman yang lain. Teman yang mendengar bisikan dari temannya itu hanya melirik lalu dia mengangguk. "Benar," sahutnya. Teman itu kembali berbisik. "Lalu kenapa ada orang sipil yang masuk ke sini untuk latihan menembak?" temannya. Sang teman menjawab, "Aku tidak tahu." Kemampuan menembak Naufal menarik perhatian orang-orang, meskipun berganti target namun tetap saja tembakannya tepat sasaran satu tembakan, dua tembakan sekaligus dan tiga tembakan sekaligus dengan berbeda-beda jarak tetap saja telat sasaran. Naufal mungkin sudah bosan dengan menembak menggunakan kedua tangan, kemudian dia menembak dengan satu tangan saja dan bunyi tembakan terdengar. Dor dor dor ! Tetap berhasil mengenai target. Orang-orang terkesima dengan kemampuan menembak Naufal,di tengah aktivitas Naufal menembak dengan satu tangan saja terlihat di pupil mata Lia kecil. Lia kecil hanya menatap dingin dan diam, dia melihat bagaimana cara Naufall menembak dan menekan pelatuk itu hingga peluru keluar dari lubang peluru pistol, namun badan Naufal sama sekali tidak bergerak atau bergetar ketika bunyi peluru terdengar keluar dari moncong peluru, tubuh Naufall tetap diam dan seimbang tidak ada gerakan apapun yang terlihat tidak sempurna. Jika saja Naufal adalah seorang militer, mungkin dia sekarang telah menjadi seorang pimpinan Kapten yang sangat bertalenta dan sangat berkemampuan baik dalam menembak namun sayangnya, Naufal tidak ingin bergabung dengan militer meskipun dia memiliki kemampuan yang mumpuni dia hanya ingin meneruskan bisnis turun temurun yang diwariskan oleh kakek buyut, kakeknya hingga ke ibunya yaitu Popi. Pria pengusaha muda kaya raya ini juga tidak terlalu suka dengan hal-hal yang berbau pemerintahan sebab menurut Naufal hal-hal yang berbau dengan pemerintahan itu terlalu munafik dan terlalu terikat dengan aturan, dia ingin menjadi seorang pengusaha yang bebas berkeliaran di mana saja hingga dia membuka resor pariwisata di seluruh Indonesia. Setelah puas menghabiskan satu selongsong tabung peluru, Naufal mengganti senjata pistol dengan senjata laras panjang. Dia melakukan apa yang dilakukan seperti di awal yaitu latihan menembak dan memang benar-benar sangat memukau kemampuannya. Orang-orang hanya melihat dengan tatapan kagum setelah, setelah mencoba senjata kedua, dia mencoba senjata ketiga dan itu sangat membuat orang-orang meliriknya dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah selesai menembak, Naufal mendekat ke arah sang paman, dia tersenyum ke arah mana yang arah dia sang paman Irwan berkata, "Rugi jika kamu tidak masuk militer, sayang sekali ya." "Opal nggak suka terikat dengan peraturan militer yang terlalu kaku Om, lebih baik seperti ini menjadi pengusaha bisa mondar-mandir keliling dunia, " balas Naufal. "Kamu ini memang benar-benar bukan seperti cerminan Ayah atau kakekmu," ujar Irwan. Naufal terkekeh. "Papa dan Kakek Ran hanya menyumbangkan gen Basri dan genius, yang tidak mereka turunkan sifat berkeliling dunia," ujar Naufal. "Dari kecil kamu sudah berkeliling dunia, masih tidak puas juga kah?" tanya Irwan. Naufal terkekeh. "Dunia ini luas Om, hanya beberapa negara saja Opal mengunjungi negara itu, itu pun juga di masing-masing negaranya Opal belum mengunjungi setiap kotanya, cita-cita Opal ingin pergi ke mana saja ke kota-kota yang ada di dunia ini," jawab Naufal. Irwan terkekeh, dia dan Naufal berbicara sambil duduk. "Tahun ini kamu sudah umur berapa tahun?" tanya Irwan. Naufal dengan percaya dirinya berkata, "Masih muda Om, masuk tiga puluh tahun ini." Senyum di mulut Irwan luntur. "Hampir tiga puluh tahun kau bilang masih muda? itu sudah cukup tua! harusnya kau sudah beristri sekarang mungkin juga kau sudah harus punya anak!" ujar Irwan. Naufal terkekeh "Jodoh belum terlihat Om," ujar Naufal. Irwan berkata, "Banyak perempuan di sini, kau tinggal pilih yang mana kau mau, dengan anak buah Om juga banyak." Naufal terkekeh, dia melirik ke arah di mana Lia kecil masih duduk. "Tidak begitu tertarik dengan perempuan militer," balas Naufal. "Seleramu seperti apa? katakan pada Om, mungkin Om bisa membantu mencarinya," tanya Irwan. "Entahlah, selera Opal mungkin terlalu tidak jelas," balas Naufal. Beberapa orang mendengar perkataan Naufal, mereka menahan tawa karena ada panglima. Irwan sendiri geleng-geleng kepala. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD