Chapter 39

1658 Words
Karena Naufal belum sarapan, dia hendak sarapan pagi. Ketika berada di dalam pesawat para penumpang mendapat sarapan dari pramugari. Naufal melirik ke arah Lia kecil yang sedang menikmati sarapan pagi di dalam pesawat tanpa berkata apapun. Wajah Naufal terlihat serius, entah mengapa dia menatap agak lama ke arah wajah Lia kecil. Sementara itu, Lia kecil tahu bahwa ada seseorang yang sedang menatap ke arahnya, dia mengarahkan arah lirikan tajam dan dingin ke arah orang yang sedang melirik ke arahnya, orang itu adalah Naufal. Mendapat lirikan tajam dari Lia kecil, Naufal buru-buru menundukkan pandangan dan melihat ke arah sarapan pagi yang telah disediakan di mejanya. Dalam hati Naufal berkata, "Seram sekali tatapannya, aku seperti melihat seorang hantu perempuan yang mati penasaran." Sayangnya kata-kata itu hanya bisa dituangkan hal ini dalam hati, tidak mungkin Naufal dengan terang-terangan berkata demikian di depan wajah Lia kecil, jika dia mengatakan secara terang-terangan bahwa mata Lia kecil seperti hantu wanita yang mati penasaran, maka mungkin saja dia akan dibuang keluar dari dalam pesawat ini oleh Lia kecil. Naufal memutuskan untuk memakan sarapannya. Beberapa saat kemudian setelah mereka selesai sarapan dalam pesawat, Naufal duduk bersandar di kursinya, dia menatap ke arah samping kiri di mana di samping kiri itu Lia kecil berada, mata Lia kecil tertutup sambil bersandar di kursi, dia tahu bahwa Lia kecil beristirahat sebentar sebelum pesawat mendarat. Melihat Lia kecil yang beristirahat, Naufal memutuskan untuk ikut beristirahat, dia menunggu hingga tiba di bandara tujuan. * Sementara itu, setelah Ben dan Popi selesai sarapan pagi dan setelah diberitahukan mengenai Naufal yang membantu Lia kecil untuk sembuh. Mereka berdua saling melirik. Ben berkata, "Aku sudah lama melihat dan membaca gerak-gerik dari Ariel, namun aku tidak ingin membahas mengenai hal itu kupikir cepat atau lambat pasti akan ketahuan tetapi aku tidak menyangka bahwa Mentari sendiri yang memberitahukan hal ini kepada kita mengenai Ariel yang menyukai anak kita." "Aku nggak nyangka Ariel ternyata suka dengan Opal," ujar Poppy. Ben berkata, "Syukurlah ada gadis yang menyukai anak kita yang tengil seperti dia." Setelah berkata ini, Ben mencibirkan bibirnya. "Hahaha!" Poppy tertawa, dia merasa geli dengan ucapan sang suami, Poppy melirik ke arah sang suami kemudian dia berkata, "Ben, biar gitu-gitu Opal itu anak kita loh." Ben mengganggu. "Aku tidak bilang bahwa Opal itu bukan anak kita, Sayang," balas Ben. "Tapi syukurlah jika ada gadis yang menyukai dia," ujar Poppy. Namun beberapa detik kemudian Poppy melirik ke arah suaminya. "Ben, apakah Opal juga suka dengan Ariel" tanya Poppy. Wajah Ben terlihat serius, dia tidak tahu harus menjawab apa, apakah anaknya itu juga menyukai Ariel, dia tidak tahu perasaan sang anak. Ben menggaruk hidungnya sambil menjawab, "Aku tidak tahu, tapi kita lihat saja nanti dalam beberapa waktu, apakah Opal juga menyukai Ariel ataukah tidak." Poppy berkata, "Kalau menurut aku, lebih bagus jika Opal juga suka terhadap Ariel, Aril akan menjadi menantu kita, itu lebih baik, hahaha!" Ben hanya menatap wajah ceria sang istri, lalu menggelengkan kepalanya. Biarkan saja sang istri berkata demikian, ini untuk membuat hati istrinya senang. "Ben, sudah lama ya saat anak kita menikah. Chana telah menikah kurang lebih enam belas tahun yang lalu, kapan Opal akan menikah ya?" tanya Poppy tiba-tiba. Ben sendiri bingung, dia juga tak bisa menjawab pertanyaan sang istri, kapan anak nomor duanya itu menikah? jawabannya adalah dia tidak tahu. Poppy menggenggam tangan sang suami. "Ben," panggil Poppy pelan. Ben menyahut, "Hum?" "Kalau Opal nikah tahun ini itu lebih bagus lagi," ujar Poppy. Ben mengangguk. "Kalau Opal menikah tahun ini malah itu memang bagus supaya ada yang mengurusnya tidak perlu dia harus kamu urus. Sarapannya kamu yang urus, dia sakit kamu yang urus, ini itu segala macam kamu yang urus," balas Ben. Sedetik kemudian pecah suara tawa dari Popi. * "Hachiiiuw!" Naufal bersin. Beberapa penumpang VIP melirik ke arah Naufal. Pesawat telah mendarat dengan mulus di bandara tujuan. "Mungkin suhu di sini terlalu dingin," ujar Naufal beralasan pada para penumpang yang melirik ke arahnya. Namun dia tidak tahu bahwa dia telah menjadi bahan gosip dari dua orang tuanya. Beberapa orang mengangguk membenarkan, memang suhu di dalam pesawat cukup dingin hingga terasa seperti di dalam freezer. Naufal berdiri, dia mengikuti dari belakang ke mana Lia kecil melangkah keluar dari pesawat itu. Setelah mereka melewati bagian pemeriksaan, Naufal melangkah cepat mengikuti kemana Lia kecil melangkah. "Adik Lia, apakah kau ingin bersama Kakak Opal?" tawar Naufal. "Bodyguard telah menunggu di depan," ujar Naufal lagi sambil menunjuk ke arah pintu luar. Lia kecil menggelengkan kepala dan menjawab, "Tidak." Dalam hati Naufal, "Huuff dingin sekali seperti kulkas." Sesungguhnya itu seperti sebuah cibiran yang ditujukan pada Lia kecil. "Ah, apakah orang-orang Nabhan telah menjemput Adik Lia?" tanya Naufal. Naufal memang tidak bisa diam, dia akan terus mengajak Lia kecil berbicara meskipun Lia kecil hanya sekedar menggelengkan kepalanya atau hanya menjawab pelan dan singkat. Namun demi ingin terlihat dekat dan merasa dekat dengan Lia kecil, dia harus sering berinteraksi dengan Lia kecil, tidak mungkin dia hanya diam saja jika ingin membantu Ariella sembuh, dia sudah memutuskan untuk membantu Ariella menguasai tubuhnya agar kepribadian yang lain tidak dominan. Lia kecil keluar dari bandara, sesampainya di pintu luar bandara, dia menatap ke arah mobil yang berhenti untuk menjemput penumpang atau orang yang baru saja tiba di bandara tujuan. Sementara itu, Naufal berdiri di sisi kanan Lia kecil, Naufal memutuskan untuk menunggu Lia kecil naik kendaraan ke tempat tujuan Lia kecil yaitu rumah utama Nabhan. Menunggu selama beberapa menit tak kunjung juga mobil atau kendaraan yang akan dinaiki oleh Lia kecil berada di depan mereka, Naufal melirik ke arah sisi kirinya dia menatap ke arah Lia kecil. "Adik Lia, apakah mobil yang menjemputmu masih dalam perjalanan ke sini?" tanya Naufal. Lia kecil tidak melirik ke arah Naufal melainkan dia melirik ke arah di mana mobil yang berlalu lalang mengambil penumpang, Lia kecil menjawab, "Tidak." Sesungguhnya Naufal kurang mengerti dengan jawaban Lia kecil yang sangat singkat, menurut Naufal jika saja Lia kecil berbaik hati ingin berbicara sedikit lebih banyak mengenai apakah ada orang yang akan menjemputnya di bandara maka mungkin saja dia bisa mengerti, namun Lia kecil sangat irit bicara, Naufal hampir menjambak kasar rambutnya karena dia harus menahan diri agar tidak terlihat kesal di depan Lia kecil. Dalam hati Naufal, dia berkata, "Opal sabar, sabar, ingat meskipun perempuan di sisimu ini kasar, jutek, cuek dan dingin tapi dia adalah adik sepupumu. Bukankah kamu telah berjanji untuk menyembuhkan kepribadiannya agar adik Ariel yang penurut dapat muncul?" Begitulah sugesti dari batin Naufal pada dirinya sendiri. "Kakak Opal menemanimu menunggu agar kamu naik kendaraan yang ingin kamu naiki," ujar Naufal. Lia kecil hanya diam saja namun setelah 10 menit menunggu Lia Kecil melirik perlahan ke arah Naufal, wajahnya tetap terlihat dingin namun suaranya yang datar terdengar. "Mana mobilmu?" tanya Lia kecil. "Oh Tuhanku, syukurlah! pertanyaan itu yang ingin aku dengar darimu." Dalam hati Naufal. Dengan spontan Naufal menunjukkan arah depan mereka. "Itu mobilku!" ujar Naufal. Lia kecil mengikuti arah jari telunjuk tangan kanan dari Naufal, dia diam selama tiga detik. Mobil yang ditunjuk oleh Naufal itu ternyata telah berada di situ sebelum dia dan Naufal berada di luar pintu bandara. Lia kecil melirik ke arah Naufal. Naufal tersenyum namun, jenis senyumannya agak terlihat tidak natural karena tatapan Lia kecil padanya terlihat sangat dingin dan menurut Naufal sangat tidak bersahabat dengan dirinya, namun apa daya dia harus berusaha membuat Lia kecil agar tidak kesal padanya. "Apakah Adik Lia ingin naik bersama Kakak Opal? Kakak Opal akan mengantarkan Adik Lia ke rumah utama Nabhan," ujar Naufal. Tanpa menjawab tawaran dari Naufal, Lia kecil melangkahkan kakinya mendekat ke arah mobil yang tadi ditunjuk oleh Naufal. Mengetahui bahwa Lia kecil bersedia mengikut atau menumpang bersama dia di dalam mobil yang sama, Naufal dengan cepat melangkah ke arah mobil itu dan membuka pintu mobil. Bodyguard yang telah berada di kemudi melirik ke arah majikan laki-lakinya, dia mengenal gadis yang dibukakan pintu mobil oleh majikannya, gadis itu naik dan duduk mengambil tempat di sisi kanan jok penumpang belakang, sementara itu sang majikan laki-laki mengikuti naik ke dalam mobil dan menutup pintu mobil. Bodyguard tidak asing lagi dengan Lia kecil, meskipun dia sangat sedikit berinteraksi dengan Lia kecil dan hanya beberapa kali melihat Lia kecil itu pun ketika Lia kecil masih remaja itu terlihat hampir sepuluh tahun yang lalu, sekarang Lia kecil telah dewasa, dia terpesona dengan kecantikan dari sepupu sang majikannya. Namun meskipun dia terpesona dengan kecantikan dari sepupu majikannya, dia tak dapat berkata apa-apa sebab dia mengetahui bahwa sepupu majikannya ini adalah seorang tentara wanita yang kuat di medan perang. Naufal berkata kepada bodyguard. "Ke rumah utama Nabhan!" perintahnya. Bodyguard mengangguk. "Baik, Tuan," sahut bodyguard. Dalam perjalanan ke rumah utama Nabhan, Naufal mengajak Lia kecil untuk berbicara meskipun Naufal sendiri tahu bahwa Lia kecil akan menanggapi ucapannya dengan sangat singkat ataupun sama sekali tidak menanggapi, pria ini tidak menyerah. "Adik Lia, kapan kau akan kembali melakukan tugasmu ke markas militer?" tanya Naufal. "Hari ini," jawab Lia kecil. Naufal membulatkan matanya. "Adik Lia, Kakak Opal sarankan besok saja kau melaksanakan tugasmu, sekarang ini kau pasti lelah karena perjalanan yang lumayan agak jauh," ujar Naufal. "Harus melatih calon anggota," ujar Lia kecil. Naufal melirik ke arah Lia kecil dia berkata, "Bagaimana jika Adik Lia ke rumah utama Nabhan dan istirahat selama beberapa jam, satu atau dua jam ah! atau mungkin tiga jam, tidur sebentar lalu sorenya melatih calon anggota? Kakak Opal rasa itu adalah solusi yang baik terlebih lagi Adik Lia harus menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh Adik Lia. Ingat! kesehatan itu penting, kebugaran tubuh itu penting, jika Adik Lia sakit maka siapa yang akan dirugikan? Adik Lia yang akan dirugikan, mungkin saja Adik Lia tidak akan sadarkan diri jika Adik Lia sakit." Sedetik kemudian Lia kecil menatap ke arah Naufal, dia hanya melirik dengan ekor matanya, dia melirik selama beberapa detik setelah mendengar ucapan Naufal, benar apa kata Naufal, jika dia sakit, maka tubuhnya pasti tidak akan berdaya, kepribadiannya akan berubah dan diambil alih oleh penghuni kepribadian tubuh yang lain. Lia kecil hanya mengangguk pelan sebagai tanda menerima solusi dari Naufal. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD