Pada pagi harinya Lia kecil telah bersiap-siap untuk pergi dari Resort Opal. Dia akan segera kembali ke Jakarta.
Naufal telah bangun pagi, aktivitas pertama yaitu sebelum sarapan dia pergi ke kamar yang ditumpangi oleh Lia kecil, namun saat baru saja mendekat ke pintu kamar Lia kecil dia melihat Lia kecil telah menggandeng ransel militernya lengkap dengan memakai sepatu bot militer keluar dari kamar itu, mata Naufal terbelalak dia tahu bahwa yang berada jauh darinya yaitu Lia kecil yang hendak bepergian.
"Adik Lia, kamu ingin ke mana?" tanya Naufal.
Lia kecil menatap mata Naufal, tatapan matanya sangat dingin.
"Kembali ke Jakarta," jawab Lia kecil.
"Kembali ke Jakarta?" tanya Naufal sekali lagi.
Lia kecil tak berkata apapun, dia tidak ingin mengulangi ucapannya dua kali. Dia hanya berbalik dan terus melangkahkan kakinya sementara itu Naufal tetap mengikuti langkah kaki Lia kecil dari belakang, dia mengimbangi jalannya agar mereka sejajar.
"Tapi Adik Lia, kamu belum sarapan pagi," ujar Naufal.
Lia kecil berkata, "Tidak perlu." Kata ini sangat dingin.
"Ah! Kakak Opal juga ingin kembali ke Jakarta hari ini! bagaimana kalau kita sama-sama saja kembali ke Jakarta?!" ujar Naufal spontan.
Tiba-tiba Naufal terpikir untuk kembali ke Jakarta bersama dengan dia kecil.
Lia kecil menjawab, "Tidak perlu, aku bisa sendiri ke Jakarta."
Kasihan sekali Naufal, dia telah ditolak oleh Lia kecil.
Naufal berkata, "Kita akan memakai pesawat jet pribadiku."
"Ataukah Adik Lia ke Jakarta dengan pesawat pribadi Nabhan?" tanya Naufal.
Lia kecil menjawab, "Tidak."
Jawaban yang sangat padat, singkat dan jelas.
"Apakah Adik Lia telah membeli tiket pesawat?" tanya Naufal.
Dia kecil tetap berjalan. "Belum," jawabnya.
"Kalau begitu Kakak Opal akan ikut bersamamu ke Jakarta," ujar Naufal. "Bagaimana jika kita berdua sama-sama pergi ke Jakarta?" tanya Naufal, dia tetap ingin kembali ke Jakarta dengan Lia Kecil.
Lia kecil tidak menjawab, dia hanya terus berjalan menjauh dari pintu kamarnya.
Naufal merogoh ponselnya, dia menelpon bodyguard.
Beberapa detik kemudian panggilan tersambung.
"Ya halo, Tuan Opal, apakah ada perintah?" tanya bodyguard Basri yang selalu siap.
"Siapkan kendaraan ke bandara sekarang! belikan saya dua tiket VIP untuk penerbangan hari ini, satu untuk saya dan satu untuk Adik Lia dengan nama Ariella Achtiana Rousseau!" perintah Naufal.
"Baik, Tuan Opal," sahut bodyguard.
Lia kecil berhenti melangkah di tengah-tengah perjalanannya, Naufal tak sengaja hampir saja menabrak belakang Lia kecil beruntung dia cepat merem langkah kakinya.
"Oh! hampir saja," desis Naufal.
Lia kecil berbalik dia menatap ke arah wajah Naufal.
Naufal agak gugup berhadapan dengan Lia kecil, orang yang tadi malam menghajar tamu undangan dari Didi.
Naufal berkata, "Apakah Adik Lia ingin sarapan bersama?"
Naufal berpikir bahwa Lia kecil akan menjawab ajakannya untuk sarapan bersama.
Suara Lia kecil terdengar.
"Tidak." Sungguh sangat singkat, padat dan jelas.
Lia kecil berbalik dan kembali melangkahkan kakinya.
Naufal hanya bisa pasrah mengikuti Lia kecil. Dia mengikuti Lia kecil tanpa persiapan sama sekali. Beruntung ada ponselnya yang digunakan untuk menghubungi bodyguard.
Sesampainya di depan gedung utama Resort, sebuah mobil telah terparkir. Bodyguard telah membuka pintu mobil, Lia kecil berjalan hendak mendahului mobil tersebut, namun Naufal berkata, "Adik Lia, naiklah mobil ini! kami akan bersama-sama kembali ke Jakarta. Kakak Opal juga punya urusan yang mendesak di sana."
Lia kecil melirik mobil hitam, tanpa kata dia langsung masuk ke dalam mobil itu. Naufal ikut masuk melalui pintu mobil yang lain, dia tidak ingin mengganggu atau masuk melalui pintu mobil yang dimasuki oleh Lia kecil, sebab dia takut jika akan mengganggu Lia kecil bisa-bisa tulang-tulangnya akan dipatahkan oleh adik sepupunya yang sekarang ini.
Naufal berkata kepada salah satu bodyguard setelah dia menutup pintu mobil.
"Katakan pada mama dan papa saya, saya sudah berangkat ke bandara dengan Adik Lia."
"Baik Tuan Opal," sahut bodyguard.
Mobil berjalan pelan meninggalkan Resort Opal dan menuju ke bandara terdekat.
Di dalam perjalanan Naufal yang sudah mengetahui mengenai kepribadian Lia kecil, jadi Naufal memutuskan untuk tetap diam di dalam mobil itu.
*
Sementara itu mata Popy agak membulat.
"Sudah ke bandara dengan Lia kecil?" tanya Poppy.
"Benar, Nyonya," jawab bodyguard yang memberitahukan kabar bahwa Naufal dan Lia kecil pergi ke bandara.
Ben melirik ke arah sang istri. "Aku pikir mungkin Opal ada pekerjaan mendesak atau mungkin urusan lainnya yang sedang mendesak," ujar Ben.
Poppy mengangguk membenarkan.
"Ya, mungkin kau benar-benar Ben, Opal mungkin punya pekerjaan mendesak hingga dia harus kembali pagi ini tanpa sarapan."
Pada saat itu juga Eric dan Bushra tiba-tiba mendekat ke arah Poppy dan Ben.
"Aku mendapat kabar bahwa Lia kecil dan Opal telah ke bandara," tanya Bushra.
Poppy mengangguk, dia membalas, "Ya benar, aku juga baru tahu dari bodyguard yang memberitahukan pesan dari Opal."
Eric dan Bushra duduk di kursi yang telah disediakan, suami istri itu hendak mengatakan sesuatu namun mereka melihat di sekeliling mereka bahwa ini adalah tempat umum, tidak mungkin jika mereka ingin membicarakan sesuatu hal yang penting mengenai anak mereka di tempat ini tentu saja orang-orang akan mengetahui rahasia anaknya, jadi Eric dan Bushra memutuskan untuk tidak mengatakan sesuatu itu kepada Ben dan Popi sekarang.
*
Beberapa saat kemudian telah selesai waktu sarapan, wajah Eric terlihat serius ketika menatap wajah Ben.
Eric berkata kepada Ben dan Poppy.
"Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua."
Poppy dan Ben mengangguk, mereka yang tadinya hendak berdiri kini duduk lagi di kursi, namun suara Eric terdengar lagi.
"Tidak di sini, di tempat lain yang lebih privat," ujar Eric.
Ben dan Poppy saling melirik, mereka mengangguk tidak keberatan.
Empat orang tua itu berjalan ke arah suatu ruangan yang cukup privat.
Setelah masuk ke dalam ruangan itu, pintu ditutup namun Eric belum membuka suaranya, dia seperti sedang menunggu seseorang.
Satu menit kemudian setelah Poppy, Ben, Eric dan Bushra memasuki ruangan privat itu, pintu terbuka lagi kali ini yang masuk adalah Mentari.
"Tari," sapa Poppy.
Mentari tersenyum. Dia duduk berhadapan dengan Poppy dan Ben, mengambil tempat sejajar dengan Eric dan Bushra.
"Terima kasih kalian bersedia datang di sini," ujar Mentari ke arah Ben dan Poppy.
Poppy dan Ben hanya mengangguk sebab mereka belum mengetahui maksud apa mereka dikumpulkan di tempat privat itu.
Dalam pemikiran Ben mungkin ada sesuatu hal yang penting yang ingin disampaikan oleh Mentari, jadi Ben hanya diam saja menunggu apa yang akan Mentari katakan.
"Tari, ada apa ya? aku nggak tahu kenapa aku dan Ben dikumpulkan di sini bersama kalian," tanya Popi.
Wajah Mentari terlihat serius, semua orang tahu bahwa Mentari akan menjelaskan sesuatu hal yang sangat serius, dari keempat orang itu tidak ada satupun dari mereka yang bersuara.
"Aku dengar Opal dan Lia kecil telah ke bandara untuk kembali ke Jakarta," ujar Mentari.
Ben dan Poppy mengangguk membenarkan.
"Ya, Opal memberi pesan langsung kepada seorang bodyguard untuk mengatakan kepada kami bahwa dia dan Lia kecil akan kembali ke Jakarta bersama-sama," jawab Popy.
"Mungkin Naufal telah mulai melakukan tugasnya hari ini," ujar Mentari.
Ben dan Poppy mengerutkan kening mereka.
"Maksudmu Opal mulai melakukan tugas apa?" tanya Poppy.
"Kalian sudah tidak asing lagi dengan kepribadian Ariella benar kan?" tanya Mentari.
Poppy dan Ben mengangguk.
"Ya, hal mengenai Ariel sudah kami ketahui sejak lama, memangnya ada apa? apakah hal ini berkaitan dengan Opal?" tanya Popi terlihat khawatir.
"Langsung saja aku katakan, Ariel menyukai Opal anak kalian," ujar Mentari.
Wajah Ben dan Poppy terlihat cengo, mereka terlihat planga-plongo ke arah Mentari.
Kemudian dengan perlahan mereka melirik ke arah Eric dan Bushra.
"Dari umur tiga tahun aku telah mengamati kepribadian dari Ariel," ujar Mentari.
"Seperti yang kalian tahu bahwa Lia kecil sangat dingin dan keras terhadap siapapun termasuk keluarganya sendiri, benar?" tanya Mentari ke arah Poppy dan Ben.
Ben dan Poppy tentu saja membenarkan.
"Ya, benar," ujar Ben sambil melirik ke arah Eric.
"Seperti yang kalian tahu bahwa Lia kecil itu penawarnya adalah Didi, sebab Lia kecil telah menganggap Didi sebagai sahabatnya, di saat Lia kecil memutuskan untuk masuk Akademi Militer tidak ada satupun dari keluarga yang diberitahukan olehnya namun berbeda dengan Didi, Lia kecil mengatakan kepada Didi bahwa dia akan masuk Akademi Militer, Didi sendiri yang mengatakan hal itu kepadaku ketika dia aku bertanya padanya apakah dia tahu mengenai hal Lia kecil masuk akademi militer," ujar Mentari.
Wajah semua orang terlihat serius.
"Jika kalian lebih teliti lagi, Ariel akan nurut jika berhadapan dengan Opal, bukankah benar?" tanya Mentari ke arah Ben dan Poppy.
Ben dan Popi saling melirik selama beberapa detik, kemudian Poppy menggaruk ujung hidungnya sambil berkata, "Ya, memang yang aku lihat Ariel adalah anak yang penurut, bukan hanya kepada Opal tetapi kepada orang tua, kepada kami dan kepada semuanya dia penurut."
Mentari tersenyum kecil.
"Tanpa aku katakan pada kalian, kalian juga akan tahu. Setiap saat jika Ariel muncul maka dia akan menatap ke arah Naufal dengan tatapan lain daripada tatapan kepada keluarganya sendiri, "ujar Mentari.
Ben dan Popi saling melirik lalu mereka mengangguk membenarkan.
"Ya," ujar Popi.
"Kalian sudah tahu bahwa Eric dan Sira telah memulai penyembuhan terhadap kepribadian Ariel kan?" tanya Mentari.
Poppy mengangguk.
"Ya, Sira sudah katakan pada kami," jawab Popy.
"Aku meminta bantuan Opal untuk menyembuhkan Ariel," ujar Mentari
Popi dan Ben terlihat agak kaget.
"Maksudmu menyembuhkan kepribadian Ariel?" tanya Popi yang kurang paham.
Mentari mengangguk.
"Ya, sebab dengan adanya Opal kepribadian asli sangat menyukai dirinya, jika kepribadian asli terus-menerus berdekatan dengan Opal maka kepribadian asli itu akan tetap terus muncul dan ada semangat untuk hidup, dia tidak akan tertidur dan tidak akan dikuasai oleh Lia kecil yang sangat dominan," ujar Mentari.
Popi mengangguk pelan.
"Dengan begini maka Ariel akan sembuh dan menidurkan kepribadian yang lain yaitu Lia kecil dan juga Loli," sambung Mentari.
Popi dan Ben saling melirik, mereka diam entah harus berkata apa kepada Mentari.
Namun suara Bushra terdengar, dia mendekat ke arah Poppy dan menggenggam tangan kanan Poppy.
"Kak Poko nggak keberatan kan Opal membantu penyembuhan Ariel?" tanya Bushra.
Popi dan Ben mengangguk.
Ben berkata, "Tidak masalah."
Poppy berkata, "Jika ini demi kesembuhan Ariel, mengapa nggak aku izinkan? lagi pula kalian nggak perlu meminta izin kepadaku karena Opal telah dewasa, umurnya tahun ini akan menginjak tiga puluh tahun, dia bisa memutuskan masa depannya sendiri, dia bisa memutuskan apapun itu, kalian salah jika meminta izin kepadaku dan Ben," ujar Popi.
"Aku pribadi nggak keberatan, kita kan terikat keluarga," sambung Popi.
"Syukurlah." Bushra menarik napas lega.
Mentari berkata, "Aku hanya ingin kalian tahu bahwa mungkin ini agak beresiko jika Opal berdekatan dengan Lia kecil sebab Lia kecil tidak dapat disentuh oleh siapapun, dia akan menghajar siapapun yang mendekat dengannya, aku harap kalian dapat mengerti," ujar Mentari.
"Jadi kamu meremehkan kemampuan anakku?" ujar Ben.
"Bukan begitu." Mentari menggelengkan kepalanya.
Ben tersenyum tipis.
"Meskipun aku sering meremehkan anakku sendiri tetapi aku tidak pernah meremehkan anakku di depan orang lain, aku tahu bagaimana kemampuan Opal bertahan dia mengikuti latihan Basri yang cukup kuat bahkan kemampuannya setara dengan lima orang pasukan khusus militer, aku tahu risiko apa yang akan Opal hadapi karena Lia kecil adalah orang yang keras, dingin dan brutal, aku pikir Opal bisa menjaga dirinya sendiri jika berdekatan dengan Lia kecil. Aku sama sekali tidak keberatan dan sama sekali tidak takut dengan keselamatan Opal."
*