Chapter 19

1737 Words
"Uuuggh! Adel anak Mama Poko! mcuuuaah!" Popy sedari tadi tak henti-hentinya mencubit gemas pipi sang anak nomor tiga. Bahkan pipi anaknya telah penuh dengan air liur karena kecupannya. Naufal menahan mati-matian tawanya ketika dia melihat ekspresi wajah dari sang adik yang hanya bisa pasrah diri menerima perlakuan dari Popy. Siapa lagi yang bisa melakukan hal-hal seperti itu pada adik lelakinya kalau bukan ibu mereka. Adik lelakinya terkenal kejam dan sadis, itu semua hasil didikan dari kakek dari pihak ayah mereka. Namun, kesadisan sang adik tidak berlaku bagi keluarga mereka. Ben melirik ke arah anak lelaki yang mirip sekali dengan wajah sang ayah yang telah meninggal semenjak satu tahun yang lalu. Anaknya ini telah menjadi pewaris sah dan satu-satunya aset Ruiz. "Bagaimana keadaan di Cordoba?" tanya Ben. "Baik," jawab Adelio. Poppy masih betah bermain-main dengan anggota tubuh anaknya, kali ini adalah telapak tangan Adelio yang diusap berulang kali olehnya. "Perusahaan aman?" tanya Ben. "Kalau tidak aman, mana mungkin aku menyusul saudaraku ke sini," jawab Adelio. Ben mencibir diam-diam, anaknya yang ini selalu dingin, dia mengikuti jejaknya ketika muda. Karma itu berlaku Ben dan pastinya turun temurun. "Apakah ada saingan bisnis yang menyebalkan?" tanya Ben. "Papa mungkin sudah terlalu lama vacum dalam dunia bisnis hingga sudah lupa bahwa saingan bisnis sudah sepatutnya menyebalkan," jawab Adelio. "Pfftt!" Naufal menahan tawa. Wajah Ben terlihat dongkol, namun itu tidak membuatnya marah. Toh memang anak nomor tiga ini selalu sinis padanya. Popy terkekeh. "Adel, jangan bilang Papa Ben begitu. Biar gitu-gitu kerjaan Mama Poko, Papa Ben yang handel loh kalau kepala Mama Poko lagi pusing." Adelio mengangguk setuju dengan ucapan sang ibu. "Sudah sepatutnya suami itu berguna bagi istri seperti kata Mama Poko. Baguslah kalau Papa Ben sudah ada kesadaran diri." "Bhahahahaha!" Naufa pecah tawa ketika mendengar kata-kata adiknya di dalam mobil. Ben yang duduk di depan hanya bisa menelan kasar ludahnya. * "Lalu kapan kita bertemu Aini?" tanya Popy. "Sebentar malam setelah Om Alan tertidur, aku yang akan membawa Aini," jawab Naufal. Popy manggut-manggut. "Baguslah. Ben, kita tidur yuk. Capek penerbangan." Ben mengangguk. Suami istri itu berjalan meninggalkan anak-anak mereka, namun terdengar suara bisik-bisik antara anak-anak. "Menurutmu apakah Papa Ben masih produktif?" tanya Naufal frontal. Ben melotot saat sedang menggandeng sang istri. Popy melirik ke arah wajah sang suami. "Sepengetahuanku mengenai alat reproduksi manusia, umur Papa Ben masih dikatakan produktif dalam memiliki keturunan," jawab Adelio. Naufal manggut-manggut mengerti. Ben tersenyum lega, jarang sekali anak nomor tiga yang ini membela dia, biasanya dia akan terus dicela dan difitnah oleh dua anak laki-lakinya. "Kalau perempuan?" tanya Naufal. "Sebaliknya, perempuan akan mengalami menopause pada usia sekitar empat puluh hingga lima puluh tahun," jawab Adelio. Wajah Naufal berubah serius melihat ke arah Adelio. "Bro, Mama Poko sudah berumur lima puluh tiga tahun." Kini gantian Popy yang melotot. Suami istri itu masih setia menguping pembicaraan anak-anak mereka. Dengan suara penuh keyakinan, Adelio membalas. "Tapi aku percaya, Mama Poko kita tak bisa menopause, mungkin saja pasangannya yang sudah tidak kuat lagi mengingat umurnya yang telah mencapai enam puluh tahun." Popy menarik napas lega, namun ketika dia melirik ke arah suaminya, mata sang suami penuh dendam kesumat. Ben buru-buru menarik istrinya masuk ke kamar hotel sambil berkata serius. "Biar aku buktikan aku masih kuat." "Ben! kita mau tidur kan!" Popy terlihat agak panik. Namun, apa daya, sang suami telah panas hatinya, Ben benar-benar membuktikan bahwa dia masih kuat di atas ranjang meskipun umurnya sudah memasuki angka kepala enam. * Di hotel yang sama, kamar yang lain. Alan sibuk melihat-lihat belanjaan hasil buruan dia dan Aini ketika mereka hanya menghabiskan waktu istirahat hanya dua jam, mereka jalan-jalan melihat kanguru dan beberapa tempat wisata. Aini duduk hanya berjarak dua meter darinya sambil membantu menghitung belanjaan. Nisa hanya menonton dua orang itu dan terlihat menelan ludah ketika melihat seisi ruangan kamar hotel. "Aini, yang paper bag pink ini punyamu, jangan berikan pada siapapun," ujar Alan. "Baik Papa Alan," sahut Aini. "Paper bag coklat ini nanti yang akan kumu berikan pada panti asuhan kan ketika pulang ke Jakarta." Alan memperlihatkan deretan paper bag coklat yang amat banyak mengisi kamar itu. Pantas saja Nisa hanya duduk sambil menonton toh matanya capek karena terus-terusan melihat banyaknya bingkisan yang dibeli oleh suaminya. "Ya, Papa Alan. Aini ingin memberikan itu pada teman-teman Aini yang berada di panti asuhan ketika pulang ke Indonesia," balas Aini. "Anak manis." Alan tersenyum sambil memuji Aini, dia bahkan mendekat dan mengusap kepala Aini. "Alan, isi dari paper bag pink itu pasti baju, celana, rok, dres, sepatu, bandana, jam tangan dan hal-hal yang dipakai oleh anak perempuan, kan?" tanya Nisa. Alan mengangguk. "Tentu saja! ini semua untuk Aini pakai biar dia makin cantik, nanti aku ingin pamer anak perempuan pada orang-orang kantor," jawab Alan bersemangat. Nisa menggeleng-gelengkan kepala. "Ckckckck! sudah penuh lemari pakaian Aini di Bandung. Di Jakarta juga Ben selalu mengeluh, lemari pakaian anak perempuannya selalu penuh dengan pakaian yang kau beli. Masih banyak pakaian Aini, belilah yang lain yang bisa digunakan jangka panjang." Alan melirik ke arah istrinya. Dia mengangguk setuju. "Benar juga apa katamu, Sayang. Belikan barang yang bisa digunakan dalam jangka panjang. Nah, barang yang dapat digunakan dalam jangka panjang yah mobil, motor, rumah, sawah, perkebunan. Tapi itu sebuah sudah ada, bagaimana kalau aku belikan Aini rumah baru saja?" Finisa memutar bola matanya. "Sudah semuanya kau beli! rumah di Bandung atas nama Aini sudah ada tiga! mobil sudah ada banyak!" "Yasudah, beli satu perusahaan lain untuk Aini. Apa aku harus akuisisi perusahaan saingan kita?" tanya Alan. "Tuhanku! Alan! untuk apa? Aini masih kecil! mana bisa pegang perusahaan!" Finisa geregetan dengan jalan pikir suaminya. Alan manggut-manggut mengerti. "Yasudah, mari kita bikin yayasan anak yatim." "Alan, apanya yang bikin yayasan anak yatim? kita sudah punya yayasan Basri yang sekarang bertambah meluas hingga menyekolahkan anak-anak yatim dan anak yang tidak mampu, kamu ingin membuat yayasan yang sama dengan milik kakak perempuanmu?" tanya Finisa. "Itu kan untuk Opal esok lusa, yang ini nanti aku buatkan untuk anakku Aini," jawab Alan enteng. "Papa Alan, Mama Nisa, janganlah berdebat. Mari saling sayang. Aini sangat senang dengan apapun yang diberikan oleh Papa Alan, meskipun itu hanya bandana. Namun, Papa Alan tenang saja, jangan khawatir mengenai teman-teman Aini yang berada di panti asuhan, Aini akan tetap melihat mereka tanpa perlu membebani Papa Alan untuk membuat suatu yayasan." Anak kecil ini terlihat sangat pengertian. Hati Alan meleleh. "Oh Ainiku! anak Papa Alan! Papa Alan sayang kamu! memang anak perempuan lebih baik daripada anak laki-laki, anak perempuan selalu penuh dengan kasih sayang." Alan memeluk sayang Aini. Finisa tersenyum. Aini ini memang benar-benar penyayang. * Pada malam harinya, ketika Alan dan Finisa telah terlelap tidur, diam-diam ada yang masuk ke kamar sebelah. Meskipun kamar itu bersebelahan, namun hanya dipisahkan oleh pintu yang terhubung. Dua pasang langkah kaki membuka pintu kamar utama. Sementara itu dari dua pasang kaki itu, sepasang kaki yang panjang melangkah mendekat ke arah ranjang di mana ada Aini yang telah tertidur pulas diselimuti oleh selimut. Lampu di kamar itu remang-remang, di depan pintu kamar yang masih terbuka, sepasang kaki lain berhenti, dia bertugas menunggu di depan pintu. Tak lama kemudian Aini telah berada di dalam gendongan Naufal. Badan Aini ditutupi oleh jaket tebal sang kakak laki-laki. "Aman, Bro?" tanya Adelio. Naufal mengangguk. "Aman." "Let's go!" pinta Naufal. Adelio mengangguk. Dua saudara itu membawa kabur adik perempuan mereka, atau lebih tepatnya mengambil kembali adik perempuan mereka dari genggaman sang paman yang menyebalkan. * Pagi hari. Ketika Ben dan Popy keluar dari kamar mereka dan memasuki kamar dua anak laki-laki, mereka mendapati dua anak laki-laki mereka tidur sambil mengapit anak perempuan bungsu di tengah. Dua kakak laki-laki itu memeluk adik perempuan mereka. "Aahh! manisnya! Ben! Ben! ambil gambar!" perintah Popy. Ben buru-buru masuk ke kamar mereka dan mengambil ponsel, dia datang lagi ke kamar anak-anak dan memotret tiga anaknya yang sedang tidur. "Ughh! manis sekali, imut!" Popy terlihat geregetan terhadap gambar yang diambil oleh sang suami. Ben dan Popy tersenyum. "Ben, ayo kita ambil foto bersama anak-anak!" ajak Popy. Ben mengangguk. Dia dan istri bergabung naik ke atas ranjang dan mengambil beberapa foto imut bersama tiga anaknya yang tertidur. "Ughh …." Aini membuka mata. Ben dan Popy melirik ke arah Aini, mereka tersenyum. "Halo, selamat pagi sweetheart," sapa Ben. "Papa Ben?" Aini agak terbelalak, bangun-bangun sudah melihat wajah ayahnya. "Ya benar, sweetheart, ini Papa Ben," balas Ben. "Mau mandi?" tawar Popy. "Mama Poko juga ada?" tanya Aini sambil mengangguk. "Coba lihat samping kirimu!" ujar Popy. Aini melirik ke arah samping kiri, manik mata ambernya menatap mata biru sang kakak laki-laki nomor tiga. "Bro Adell!" Aini terbelalak. "Hola hermosa, Buenos dias," sapa Adelio. (Halo cantik, selamat pagi. Diterjemahkan dari bahasa Spanyol.) "Hola hermano, buenos dias. ¿cómo estás?!" Aini memeluk kakak laki-lakinya. (Halo kakak laki-laki, apa kabar?) "Muy bien, hermosa," jawab Adelio. (Sangat baik, cantik.) Naufal dan dua orang tua mereka tertawa senang. "Kau terkejut tiba-tiba sudah ada kami?" tanya Ben. Aini duduk di ranjang, dia mengangguk. "Tentu saja, apalagi melihat Bro Adel." "Bro Adel datang menemuimu di sini untuk jalan-jalan bersamamu. Apakah kamu sudah mengunjungi panti asuhan di sini? mari kita cari tahu apa saja perbedaan dari panti asuhan di Australia dan Indonesia," ujar Adelio. Aini mengangguk. "Mau!" * Dua jam kemudian. Alan baru bangun tidur pada jam delapan pagi. "Ugh! badanku rasa-rasanya mau patah," gumamnya. Pintu kamar mandi terbuka, keluarlah sang istri. "Bagaimana rasanya tak patah? seharian kemarin kamu jalan-jalan terus padahal baru tiba di sini." Alan turun dari ranjang. Pintu pertama yang dia tuju bukanlah pintu kamar mandi, melainkan pintu kamar Aini. Ketika membuka pintu itu, Alan tak melihat keberadaan Aini. "Aini?" panggil Alan. Alan melirik ke pintu kamar utama. "Pintu kamar dari luar terbuka." Alan menengok ke arah luar, tidak ada siapa-siapa, hanya pintu lift yang baru saja terbuka memperlihatkan pelayan keluar sambil mendorong troli makanan. Alan menutup pintu itu, dia melangkah ke kamar mandi di kamar itu. Begitu melihat bawah kamar mandi kosong, Alan memanggil nama Aini. "Aini." Tidak ada sahutan. "Aini." Tidak ada balasan. Alan mulai panik. "Nisa! Aini di mana?" tanya Alan. "Loh, bukannya tidur di kamar itu?" jawab Finisa, dia mengeringkan rambutnya dengan hairdryer sambil berjalan ke arah pintu penghubung. "Nggak ada Aini di sini!" Alan panik. Wajah Finisa berubah serius. "Kamar mandi?" "Kosong!" jawab Alan. Alan terbelalak saat melihat ke arah pintu kamar yang terhubung ke luar. "Pintu itu seharusnya terkunci, tapi tadi saat aku ke sini terbuka! tidak mungkin Aini pergi begitu saja tanpa izin pada kita!" Finisa ikut panik. "Anak perempuanku hilang!" Alan berteriak di atas ujung paru-parunya. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD