"Lia kecil."
Empat orang menjawab bersamaan.
Busran menarik lalu menghembuskan napas kasar.
"Darpadi Lolly, Om memilih Lia Kecil. Tapi ingat, Om juga nggak menyukai Lia kecil yang sekarang."
Semua orang mengangguk paham. Kalau boleh jujur, semua juga tidak menyukai kepribadian Lia kecil yang sekarang. Perubahannya terlalu drastis.
"Aku sudah lihat sendiri dengan mata kepalaku bagaimana Lolly mencoba untuk melukai dirinya, aku lebih takut Lolly yang muncul daripada Lia kecil. Lia kecil juga mengenali siapa keluarganya, sementara Lolly tak tahu sama sekali," ujar Bushra.
Mentari mengangguk.
"Jika antara Lia kecil dan Lolly, maka aku akan memilih Lia kecil. Jawabannya simpel dan sudah diwakilkan oleh Sira. Namun, ingat kata-kataku ini jika Lia kecil yang muncul, itu tidak masalah, setidaknya dia tidak dalam ambang kematian sebagaimana Lolly yang muncul. Jika kepribadian ketiga yang muncul, maka kalian tidak akan bisa tidur tenang, kenapa? karena Ariella kapan saja pasti akan mati dibunuh oleh kepribadian dia sendiri," ujar Mentari.
"Nggak! aku nggak mau sampe itu terjadi!" Bushra ingin menangis.
Eric menenangkan sang istri.
"Kita akan cari cara untuk menekan kepribadian ketiga agar jangan keluar, benar kan Tari?" Eric melirik ke arah Mentari.
"Ya, itu sudah pasti. Dan cara itu adalah dengan memberitahu Lia kecil bahwa di dalam tubuh yang ditempatinya itu bukan hanya dirinya sendiri, namun ada kepribadian lain juga yang ingin merebut untuk keluar dengan alasan dan tindakan yang fatal. Dengan Lia kecil tahu bahwa ada kepribadian lain selain dia, maka dia akan berusaha menekan sekuat mungkin Lolly untuk tidak akan keluar. Sampai di sini Om dan yang lainnya paham kan apa yang tadi aku maksud ketika berbicara dengan Lia kecil?" Mentari melirik ke arah Busran dan tiga orang lainnya.
Busran dan yang lainnya mengangguk mengerti.
"Setidaknya itu cara satu-satunya agar cucuku tak melukai dirinya sendiri. Aku memang harus terus memantau kehidupan cucuku, meskipun Aril sampai sekarang belum muncul, tapi tak apa, setidaknya ada Lia kecil yang menjaga baik-baik tubuh itu agar tidak dilukai. Sekarang Om paham, mengapa dia menyerang orang-orang ketika di rumah sakit, dia ingin melindungi dirinya agar tidak diapa-apakan oleh orang lain, meskipun Papanya juga diserang, namun sudahlah kita tidak bisa terlalu banyak berpikir, toh Papanya sudah tidak apa-apa," ujar Busran.
Semua orang mengangguk mengerti.
*
Di kamar tua.
Wajah Lia kecil terlihat serius pasca kepergian Mentari dari kamar yang ditempati olehnya.
Dia sedang memikirkan makna dari kata-kata Mentari.
"Aku menumpang di dalam tubuh ini. Aku tahu itu," ujar Lia kecil.
"Aku tahu kata-kata itu hanya akan keluar dari mulut orang-orang yang tidak menginginkan aku dan hanya menganggap aku adalah orang asing, mereka tak tahu apa-apa mengenaiku."
Lia kecil berpikir lagi.
"Aku menusuk nadiku sendiri? mencoba melukai diriku?"
Lia kecil terlihat berpikir keras.
"Apakah Aril ingin melukai dirinya sendiri karena dia tahu bahwa aku hidup bersama dirinya?" tebak Lia kecil.
Lia kecil menggelengkan kepalanya.
"Tidak mungkin! itu omong kosong!" Lia kecil membantah pemikiran ini.
"Tidak mungkin anak sepenakut seperti dia berani melukai dirinya sendiri. Dia itu lemah, melihat orang dipukul saja dia akan menangis ketakutan, apalagi melukai dirinya sendiri, itu sama sekali mustahil." Lia kecil melirik perban yang membungkus nadi kirinya.
"Jika bukan Aril, lalu siapa?" Lia Kecil menutup matanya, dia sedang berpikir dan ingin mengolah ingatan di dalam kepalanya.
Namun, selama beberapa saat kemudian, Lia kecil membuka matanya dan terlihat jengkel.
"b*****h! ini yang aku tidak suka dari otak ini! tidak bisa mengingat apapun!" Lia kecil malah ingin marah untuk saat ini.
*
Kediaman Basri.
Popy melihat anak lelakinya dalam pakaian kasul yang rapi.
"Loh, mau ke mana, Opal?" tanya Popy.
"Ma, Opal nggak bisa tinggal diam saja di rumah sementara Om Alan itu udah sangat kebangetan! masa Aini dibawa keluar negeri lagi? itu kan apa yang Opal bilang! Om Alan itu nggak bisa kita biarin bawa-bawa adik Opal seenaknya! Opal dapat kabar dari bodyguard di Bandung kalau Om Alan sudah bersiap-siap ke Sydney. Emang bener-bener nyebelin! nggak sampai dua minggu lagi Opal wisuda! Opal itu mau bawa Aini ke kampus! mau pamer Aini ke teman-teman dan semua orang!" jawab Opal panjang lebar.
"Jadi kamu sebenarnya mau ke mana ini? ke Bandung nyusul Aini atau ke mana?" tanya Popy lebih jelas.
"Kalau ke Bandung ya jelas nggak bisa lagi ketemu dengan Aini, udah terbang di udara," jawab Naufal.
"Lalu?" tanya Popy.
Naufal mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan dia memperlihatkan bukti bahwa sang adik dari ibunya akan ke Sydney.
"Opal juga mau ikut ke Sydney, terus rebut Aini dari Om Alan dan bikin Om Alan panik kayak Om Alan bikin Opal panik, huahahahahahah!"
Popy hanya memandang cengo ke arah anaknya.
"Jangan pergi sembarangan, di rumah saja. Lagian kamu kan mau wisuda." Ini adalah ucapan dari Ben.
Naufal melirik ke arah sang ayah, lalu dia tersenyum manis.
"Papa Ben yang manis, Opal udah dapat izin kok dari Kakek Ran."
Sudan dapat izin dari Kakek Ran.
Kalimat ini membuat Ben mati kutu dan hanya bisa menarik lalu mengembuskan napasnya.
*
Pada saat makan malam di keluarga Basri.
"Ayah, apakah benar Ayah mengizinkan Opal untuk ke Sydney?" tanya Ben.
Randra mengangguk.
"Benar."
"Tapi, Alan pergi membawa Aini ke Sydney hanya dua atau tiga hari. Opal kan mau wisuda," ujar Ben.
Randra menatap mata sang anak.
"Loh, kamu nggak tahu kalau Adelio juga akan ke Sydney?"
Ben terlihat kaku.
"Adelio?"
Randra mengangguk.
"Opal dan Adel sudah meminta izin ke Ayah Ran untuk membawa Aini ke sini. Mungkin mereka sebentar lagi akan bertemu di tempat yang disepakati."
Ben mencibir.
"Anak itu, tidak bilang kalau adiknya yang lain juga ikut!"
Randra tertawa pelan.
"Dia sudah dewasa. Ah, termasuk Adel."
"Ck!" Ben berdecak. Dia melirik ke arah istrinya.
"Tiga anak kita akan bertemu di Sydney, kamu tidak punya niat untuk ikut?"
Popy tertawa.
"Ben, kalau kita semua pergi dari rumah, lalu biarkan Ayah sendirian?"
Ben mengangguk mengerti.
Randra tersenyum.
"Sesekali kalian pergilah berlibur keluar negeri tanpa Ayah Ran. Ayah Ran lebih senang menghabiskan waktu di rumah sambil melihat bunga dan tanaman herbal Bunda kalian," ujar Randra. Ini artinya dia memberi izin pada menantu dan anaknya.
Ben tersenyum kecil, namun dalam hatinya dia benar-benar tersenyum lebar.
*
Langkah kaki Lia kecil mendekati ke arah ruang keluarga yang sedang diisi oleh beberapa keluarga Nabhan.
Ketika dia berhenti melangkah, suaranya terdengar.
"Ikuti aku."
Semua orang tiba-tiba diam dan langsung melirik ke arah Lia kecil.
Mata Lia kecil melirik bergantian ke arah Eric dan Bushra.
Setelah itu dia berbalik dan melangkah ke ruangan lain.
Bushra berdiri, dia melirik ke arah sang suami.
Tak jauh dari mereka, Mentari memberi isyarat untuk mengikuti Lia kecil.
Eric ikut berdiri dan mereka berdua mengikuti sang anak.
Sesampai di ruangan sepi yang tertutup, ternyata Lia kecil sudah duduk rapi di atas kursi kayu berlapiskan busa.
Bushra dan Eric ikut duduk.
Bushra terlihat agak ragu untuk membuka suara, namun suara Lia Kecil terdengar.
"Tidak terjadi apa-apa pada tubuh ini, jadi kalian berdua tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga tubuh ini agar tidak terjadi apapun," ucap Lia kecil.
Bushra dan Eric mengangguk.
"Tidak perlu pikirkan luka ini, kedepannya tidak akan terulang lagi." Lia kecil menunjukan pergelangan tangan kirinya.
Bushra dan Eric mengangguk.
"Lia, Papa dan Mama sangat khawatir padamu. Apalagi ketika baru saja memasukan kaki kanan kami di rumah ini, kami mendapati dirimu dibopong oleh Tantemu Tia, wajahmu pucat. Mama kamu selama lebih dari tiga jam terus menunggu kamu," ujar Eric.
"Apalagi setelah melihat hal yang menakutkan, Mama kamu memutuskan untuk ingin menemani kamu dan tidak ingin sesuatu terjadi, namun kamu ingin ditinggalkan sendirian, apa boleh buat. Kami hanya bisa percaya pada dirimu agar benar-benar menjaga tubuhmu. Apalagi melihat bahwa kamu bersedia menemui Papa dan Mama, kamu sudah sangat senang. Setidaknya perjalanan jauh kami ke sini tidak sia-sia," ujar Eric.
"Kalian melihat secara langsung aku melukai diriku?" tanya Lia kecil.
Bushra dan Eric mengangguk.
"Bagaimana diriku saat itu?" tanya Lia kecil.
"Kamu … tatapan matamu kosong," jawab Bushra pelan.
Tatapan mata kosong, itu bukan ciri khas dari Ariella yang asli.
Lia kecil mengangguk.
"Aku rasa waktu bicara kita sudah berakhir."
Bushra buru-buru berkata, "Apakah kamu ingin malam ini Mama memasak sup ayam kesukaan kamu?"
Lia kecil terdiam selama beberapa detik.
"Ketika Mama masih gadis, Mama sering main ke rumah utama, Mama sering melihat bagaimana koki di sana memasak sup ayam kesukaan Nenek Lia," ujar Bushra.
Lia kecil mengangguk.
"Baik."
Bushra terlihat sangat senang.
*
Sydney.
"Hai, Bro!" bocah berumur sekitar dua belas tahun melakukan salam ala pria.
Naufal membalas.
"Yoi, Bro!"
"Sudah menentukan waktu, kapan kita membawa adik kita?" tanya bocah itu.
Naufal mengangguk.
"Jangan lama-lama, sebentar malam setelah mereka tidur, kita rebut kembali adik kita," jawab Naufal.
Bocah bermata biru itu tersenyum miring.
"Ini yang aku suka. Biar tahu rasa itu Om satu, paling suka memposisikan dirinya sebagai Papa dari adik kita."
Naufal terkikik.
"Kita buat orang tua itu hampir tekena serangan syok. Lalu kita happy-happy."
"Huahahahah!" dua bersaudara itu tertawa.
Tiba-tiba panggilan masuk.
"Ck! Papa Ben ngapain sih manggil!" Naufal mencibir. Dia sudah memasang masing-masing nada panggilan untuk masing-masing keluarga dekatnya.
"Halo, Pa. Ada apa?" tanya Naufal.
"Opal, kamu dan Adel di hotel mana? Papa dan Mama baru aja mendarat di bandara Sydney," ini adalah suara perempuan.
"Mama?!" Naufal terbelalak.
Naufal melirik ke arah adik laki-lakinya, dia berkata dengan wajah serius. "Bro, orangtua kita ternyata sudah ada di sini juga."
Adelio, "...." tak dapat berkata-kata.
"Sayang, apakah kita harus menunggu dua anak kita di sini ataukah menyusul mereka di tempat mereka?" terdengar suara Ben.
Kemudian suara Popy terdengar.
"Adel sayang, Mama Poko agak kelelahan, kalau boleh, jemput Mama Poko dan Papa Ben di bandara yah."
Di bandara.
Ben berbisik pelan. "Sayang, kamu memerintahkan Adel?"
"Stt! Ben diam saja." Popy memberi isyarat diam.
Beberapa detik kemudian terdengar suara bocah dua belas tahun yang bernama Adelio itu.
"Adel dan Bro Opal sekarang akan ke Bandara untuk menjemput Mama Poko, sementara kami dalam perjalanan, Mama Poko carilah makanan untuk mengisi perut."
"Ok, sayang. Mama Poko tunggu, mmccuuah!" Popy mengecup layar ponsel.
*