Chapter 17

1513 Words
Mentari menerima kembali ponsel yang diberikan oleh Lia kecil padanya. Lia kecil berkata, "Aku akan makan, tinggalkan aku sendiri." Mentari mengangguk paham. Dia membalas, "Tante akan datang untuk mengambil lagi nampan makanan ini, pastikan ini telah kosong dan Tante akan memberi tahu Didi bahwa kamu benar-benar makan." Lia kecil tersenyum sinis. "Jadi kamu berusaha untuk mengawasiku?" Jika kata-kata yang keluar dari mulut Lia kecil seperti ini, maka dia pasti sedang tidak suka dengan seseorang. "Tidak. Hanya berusaha menjadi amanah terhadap pesan Didi. Bayangkan jika Didi tahu kamu sakit, apakah dia akan senang?" tanya balik Mentari. Lia kecil tak menjawab, namun dia memalingkan wajahnya ke arah makanan. "Silakan keluar, aku ingin makan." "Baik," sahut Mentari. Mentari berjalan keluar dari dalam kamar tua, saat mendekati Atika, Mentari menarik pelan tangan Atika dan mereka sama-sama keluar kamar tua. Pintu kamar itu tertutup, dua detik kemudian Bushra mendekat dan hendak berkata sesuatu, namun Mentari dengan cepat membuat gerakan diam dan berkata pelan. "Mari bicara di tempat lain." Bushra mengangguk paham. * "Lia kecil ingin Didi datang menjenguknya pada hari ketujuh meninggalnya Kakek Agri dan Nenek Lia?" Bushra ingin memastikan sekali lagi bahwa percakapan yang terjadi antara anak perempuannya dan Mentari adalah benar. Mentari mengangguk membenarkan. "Ya. Namun aku tak berjanji padanya, beruntung Didi memiliki alasan yang kuat hingga Lia kecil mengerti keadaannya." Di dalam kamar yang ditempati oleh Mentari itu, ada Atika, Fathiyah, Gea dan Bushra yang ikut dalam pembicaraan. "Apakah Didi memang nggak bisa datang menghadiri hari ketujuh Kakek Agri dan Nenek Lia? coba lakukan sesuatu. Aku merasa bahwa Didi adalah obat yang baik untuk kesembuhan Aril." Bushra ngotot agar Gendhis datang ke Semarang. Gea menyentuh punggung tangan anaknya. "Sira, Mama mengerti kamu sangat mengkhawatirkan Aril, tapi kamu harus bersabar, Didi ikut ujian untuk menentukan apakah dia akan masuk ke fakultas kedokteran yang dia pilih ataukah tidak. Itu adalah masa depan Didi." "Tapi Ma, jika Lia kecil terus yang muncul dan tidak ingin menemui aku dan Eric, bagaimana kami bisa tenang? sementara itu cuti yang diambil oleh Eric hanya satu minggu," balas Bushra. "Nggak masalah dengan cuti suamimu, Didi pasti akan datang menemui Lia kecil meskipun bukan hari ketujuh Kakek Agri dan Nenek Lia," ujar Mentari. Bushra melirik ke arah Mentari. Fathiyah membuka suaranya setelah sekian lama dia mengamati dan mendengar percakapan mereka di kamar itu. "Aku hanya ingin tahu, alasan apa hingga Lia kecil menyerang Papanya? kedua, aku tahu dia sangat sensitif dengan profesi dokter, pertanyaanku, mengapa dia menyerang dua satpam yang ikut masuk ke ruang rawatnya sementara dua satpam itu bahkan belum menyentuh ujung rambutnya. Dan ketiga, ini adalah pertanyaan terakhir yang ingin sekali aku tahu, aku ingin tahu isi hati Lia kecil sekarang setelah kepergian Kakek Agri dan Nenek Lia." Atika dan yang lainnya melirik ke arah Fathiyah. "Tia, aku setuju dengan pertanyaan kamu." Setelah mengatakan ini, dia melirik ke arah Mentari dan berkata, "Tolong cari tahu yah." Mentari mengangguk. Dia melirik jam tangan, telah pukul dua belas lewat tiga puluh. "Aku akan ke kamarnya." "Aku temani," ujar Atika. Mentari mengangguk. * Tok tok tok! Pintu kamar tua itu diketuk lagi. "Lia, Tante Tari masuk dan ambil nampannya yah." Pintu dibuka sendiri oleh Mentari. Mentari melihat ke meja, makanan telah habis. Lia kecil terlihat duduk bersandar di kepala ranjang sambil memeluk foto pernikahan Agri dan Lia. Mentari mendekat. "Kamu merindukan Kakek Agri dan Nenek Lia?" Lia kecil hanya melirik ke arah Mentari tanpa ingin menjawab. "Jika kamu merindukan mereka, itu berarti interaksimu bersama Kakek Agri dan Nenek Lia kurang." "Sama sekali tidak kurang," sahut Lia kecil dingin, namun nada suara dari kalimat ini seperti agak marah. "Jangan sok tahu jika Anda tidak tahu apa-apa mengenaiku," ujar Lia kecil. "Jika benar interaksi kamu dan Kakek-Nenekmu cukup, lalu beritahu aku, apa yang kamu rasakan sekarang?" Mentari mulai memancing jawaban dari Lia kecil, ini adalah pertanyaan titipan dari Fathiyah. "Aku merasa marah," jawab Lia kecil dingin. "Marah dengan siapa?" tanya Mentari. "Marah dengan semua orang," jawab Lia kecil. "Kenapa kamu marah dengan semua orang? apakah mereka menyakitimu ataukah menyinggung kamu?" tanya Mentari. Tatapan mata Lia kecil menatap tajam ke arah Mentari. "Ya, mereka menyinggungku. Termasuk kamu yang berada di sini." "Aku menyinggung?" wajah Mentari terlihat normal, namun dalam hatinya, dia ingin lebih banyak tahu lagi mengenai kepribadian ini. "Jangan kira aku tidak tahu bahwa semua orang di sini ingin agar aku mati," ujar Lia kecil dingin "Kami tidak ingin begitu," bantah Mentari. "Omong kosong!" Lia kecil agak meninggikan nada suaranya. "Lia kecil, kami semua sayang padamu." Mentari mencoba membuat Lia kecil tak marah. "Aku tidak menerima kasih sayang dari siapapun kecuali Kakek Agri dan Nenek Lia," tolak Lia kecil. "Jadi, jika orang-orang menyinggung kamu, lantas dua satpam yang berada di rumah sakit juga menyinggung rumah?" tanya Mentari. Dia tidak ingin terlalu lama berbelit dalam percakapan, sebisa mungkin Mentari akan memancing Lia kecil dalam pertanyaannya. "Mereka mencoba menyentuhku, apakah aku harus tinggal diam? bersyukurlah dan katakan pada mereka untuk berterima kasih untukku karena aku tak langsung membunuh mereka." Lia kecil tersenyum sinis. Kata-kata ini sungguh terdengar amat dingin. Bulu kuduk Mentari berdiri tegak setelah mendengar ucapan ini. "Lalu kenapa kamu menyerang Papamu? Papamu tidak menyakiti kamu, sama sekali tidak ada niat untuk menyakitimu." Mentari menekan kata-katanya pada baris dalam kalimat terakhir. Mata Lia Kecil berubah dingin. "Dia terlalu memaksa untuk aku tetap di tempat orang mati itu!" Tempat orang mati, ini adalah sebutan rumah sakit dari Lia Rahmawati Farikin–Nenek buyut dari Ariella yang baru saja meninggal. "Papamu tidak memaksa kamu untuk berada di rumah sakit, dia hanya khawatir pada kesehatanmu," balas Mentari. "Kesehatanku, biar aku sendiri yang mengurusnya, tidak perlu ada orang lain yang ikut campur," ujar Lia kecil. "Jika kamu berkata demikian, lalu aku bertanya padamu. Setelah kamu sadar, kamu telah berada di rumah sakit dan dokter merawatmu. Kamu hampir saja membunuh diri kamu sendiri sebelum kamu menyerang orang lain," balas Mentari. "Omong kosong! aku tidak pernah membahayakan diriku sendiri!" bantah Lia kecil. Wajah Mentari terlihat serius. "Kamu yakin?" "Ya," jawab Lia kecil. "Lalu lihatlah perban yang berada di pergelangan tangan kirimu, luka itu disebabkan oleh apa?" tanya Mentari. Lia kecil melirik sekilas perban putih yang membungkus pergelangan tangan kirinya. "Aku terjatuh ke lantai saat memeluk bingkai pernikahan Kakek Agri dan Nenek Lia." "Dan kaca dari bingkai itu pecah lalu melukai pergelangan tangan kirimu?" ini adalah sambungan dari Mentari. Lia kecil tidak mengangguk atau pun menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah diberitahu oleh keluargaku yang mana?" "Mamamu sedang memelukmu setelah kamu bangun dari pingsan, namun kamu sendiri yang mencabut jarum infus yang terpasang di vena kananmu lalu selanjutnya kamu … ah jika aku katakan bahwa kamu sendiri yang menikam dirimu dengan jarum infus itu tepat di nadimu, apakah kamu akan percaya pada kata-kataku? ataukah jika aku katakan lagi, Papamu berusaha untuk menyelamatkan kamu, tapi kamu malah berubah agresif dan malah menyerang Papamu apakah kamu akan percaya?" wajah Mentari terlihat serius. Mentari tahu, bicara berbelit-belit dengan Lia kecil, bukanlah gaya Lia kecil. Anak gadis ini sangat pintar, bahkan pada saat umurnya tiga setengah tahun, dia telah bisa membaca buku meskipun itu dalam ejaan. Ya, itu Lia kecil, bukan Ariella ataupun Lolly. Wajah Lia kecil agak terperangah. Dia seakan tak percaya pada kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Mentari. "Apa maksudmu aku menusuk nadiku dengan jarum infus?! jelaskan!" Lia kecil bergerak dari posisi duduk bersandar di kepala ranjang, kakinya diturunkan ke lantai. Wajah Mentari benar-benar terlihat serius. "Lia, kamu sendiri tahu bahwa kamu itu hidup menumpang dalam diri Ari-" "Berhenti!" potong Lia kecil. Wajahnya terlihat dingin. "Keluar." Kata-kata itu sama sekali tak terselip rasa hangat. Mentari berbalik ke arah luar kamar, dia berkata sebelum melangkah keluar. "Jika kamu sama sekali tidak ingin menemui Papa dan Mamamu yang telah jauh-jauh datang untuk melihat kamu, maka setidaknya hargailah darah yang mengalir di aliran darahmu. Ada darah Papa dan Mamamu yang bersatu lalu jadilah kamu. Temuilah mereka meskipun kamu sama sekali tak ingin menemui mereka. Katakan pada mereka bahwa tubuh yang kamu tempati itu dalam keadaan baik-baik saja. Sebab, tidak mudah bagi seorang ibu untuk melahirkan seorang anak lalu anak itu tak ingin melihatnya." Mata Lia kecil terlihat agak sendu. Pintu kamar tua ditutup oleh Mentari. * "Kamu mengatakan pada Lia kecil bahwa ada kepribadian lain yang menetap dalam tubuh Aril?" tanya Eric. "Hanya memberi sebuah petunjuk. Aku tahu ini sangat beresiko tapi tolong kalian jawab pertanyaanku, dibandingkan dengan Lia Kecil dan Lolly, kalian pilih yang mana?" tanya Mentari ke arah Bushra, Eric, Busran dan Gea. "Tidak ingin memilih mereka berdua!" jawab mereka serempak. "Pilih salah satu," ujar Mentari. "Om tidak suka dengan kepribadian Lia Kecil yang sekarang, Om juga tidak menyukai yang bernama Lolly itu," jawab Busran. Mentari melirik ke arah Bushra dan Eric. "Aku tidak ingin dua-duanya, aku hanya ingin putriku Aril," ujar Bushra ngotot. "Dengarkan aku. Di dalam diri anak perempuan kalian, ada dua kepribadian yang menempati. Jika pada kondisi saat ini, andaikata kepribadian lain anak perempuan kalian terus menerus muncul, kalian pilih yang mana? apakah Lia Kecil ataukah Lolly?" Mentari mengucapkan lagi pertanyaannya. Empat orang itu saling melirik, lalu mereka terdiam cukup lama sekitar satu menit. Mereka butuh berpikir dan mempertimbangkan menjawab pertanyaan ini. "Lia kecil." *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD