Tok tok tok!
Pintu kamar tua diketuk. Yang mengetuk pintu itu adalah Mentari.
Setelah istirahat selama dua jam, dia memutuskan untuk mulai kerja, yaitu mendekati Lia kecil. Mentari tak ingin beristirahat terlalu lama, sebab waktunya untuk berada di Semarang tidaklah lama, dia harus kembali bekerja di rumah sakit di mana dia ditempatkan.
Meskipun pintu itu telah diketuk, namun tak ada balasan dari penghuni kamar.
Mentari mengetuk pintu sekali lagi.
Tok tok tok!
Beberapa detik dia menunggu balasan dari dalam kamar, namun tak kunjung terdengar suara.
Tak jauh dari posisi Mentari berdiri, beberapa anggota keluarga Nabhan mengintip dari balik pintu kamar, ada dari keluarga Nabhan yang tak mengetahui mengenai siapa Mentari sebenarnya. Ada yang penasaran ingin melihat interaksi antara Mentari dan Ariella.
Merasa bahwa memang orang di dalam kamar tak ingin diganggu, Mentari berbalik, dia melihat ke arah Bushra yang sedang berdiri tak jauh darinya. Bushra hanya menjaga jarak agar tak menarik perhatian orang-orang yang lewat. Dia juga ingin melihat respon sang anak perempuan ketika berinteraksi dengan Mentari.
Mentari menggelengkan kepalanya. Tak berhasil untuk membuat Lia kecil buka suara.
Wajah Bushra terlihat agak sedih, namun dia mengangguk sebagai tanda mengerti. Setidaknya Mentari sudah mencoba untuk mendekati sang anak perempuan, mari coba lain kali lagi, begitulah pikiran Bushra.
Mentari melangkah mendekat ke arah Bushra. Dia bertanya, "Siapa yang biasa membawa makanan ke dalam jika dia tak keluar kamar?"
"Biasanya jika itu Lia kecil, maka Atika yang membawa makanan. Jika itu Aril, maka dia akan patuh pergi sendiri ke ruang makan tanpa merepotkan orang lain memanggilnya, namun jika di rumah Papa, biasanya Tia yang sering masuk dan memanggilnya makan, kamu tau sendiri, Aril agak manja pada Papa dan keluarga kami, tapi Lia kecil berbeda, dia hidup dan besar bersama dengan keluarga Kakak Ibas," jawab Bushra seadanya.
Mentari mengangguk mengerti, dia melirik jam tangan.
"Dua jam lagi biarkan aku yang membawakan dia makan siang."
Bushra mengangguk.
"Baik."
Di dalam kamar tua, Lia kecil melirik ke arah ventilasi jendela. Dia tak pernah tahu bahwa ventilasi itu pernah jebol akibat dorongan kuat. Setelah melirik ventilasi jendela agak lama, Lia kecil berjalan mendekat ke arah jendela dua daun. Dia membuka lebar jendela itu dan menghirup udara segar.
Beberapa orang yang sempat melewati jendela kamar tua agak kaget. Mereka melihat ke arah jendela, begitu melihat bahwa itu adalah cucu perempuan dari Tuan mereka yang bernama Busran, mereka buru-buru menunduk cepat dan menghindar dari jendela itu, bahkan ada yang menunduk singkat dan berubah haluan dari jendela itu meskipun mereka telah terlanjur berada di dekat jendela.
Ketika mereka telah menjauh sejauh mungkin dari penglihatan Lia Kecil, mereka mengusap lega d**a mereka.
Sementara itu, Lia kecil yang melihat ke arah kepergian orang-orang, dia membuat raut wajahnya datar. Namun, gumaman dingin terdengar.
"Mereka takut padaku."
Ya, jelas mereka takut padamu. Kamu terlalu ganas. Apalagi terdengar desas-desus bahwa kamu membuat masalah di rumah sakit. Semua orang yang bekerja di rumah tua Nabhan juga tahu bahwa Lia Kecil adalah cicit atau cucu perempuan yang keras kepala dan tidak memiliki rasa hormat pada tuan-tuan mereka, kecuali tuan besar Nabhan yang telah meninggal.
*
Pada jam makan siang. Atika membantu membukakan pintu kamar tua, lalu Mentari masuk ke dalam kamar tua sambil membawa nampan berisi makan siang untuk Lia Kecil.
Atika berkata, "Lia, makan siang."
"Taruh saja di meja nakas." Lia kecil tak menoleh ke arah ibu dari sepupunya, dia duduk menikmati pemandangan di luar jendela selama dua jam. Dan selama dua jam itu pula area di sekitar jendela kamar tua sepi, tak ada orang yang melewati area situ, mereka telah diperingati sebelumnya oleh orang yang tadi mendapati Lia kecil membuka jendela.
Bunyi langkah kaki ringan mendekat ke arah meja nakas.
Setelah nampan makan siang diletakkan di atas meja nakas, Mentari menarik kursi rias tanpa sandaran dan duduk di situ. Sementara itu, Atika masih berdiri tak jauh dari pintu kamar, dia mengurungkan niatnya untuk melangkah bersama Mentari, biarkan Mentari yang bicara pada Lia kecil dan dia mengamati di dekat pintu.
"Didi menangis ketika tahu kau kehilangan Kakek Agri dan Nenek Lia." Mentari menatap Lia kecil yang melihat ke arah luar jendela.
Setengah detik kemudian setelah Lia kecil mendengar suara Mentari, dia menengok ke arah Mentari. Raut wajah yang ditunjukkan oleh Lia kecil terlihat dingin dan penuh kewaspadaan, namun ada sedikit rasa lunak. Faktor yang mempengaruhi berbagai emosi Lia kecil saat melihat keberadaan Mentari di kamarnya antara lain, Lia kecil tak suka dengan seorang psikiater, alter ego seseorang memang tak menyukai psikiater, orang yang akan membunuh mereka. Kedua, wajahnya agak sedikit melunak karena Mentari adalah ibu dari sahabatnya, Gendhis atau yang biasa disapa Didi oleh keluarga dekat.
"Ada keperluan apa datang ke sini?" tanya Lia kecil.
Oh, syukurlah Lia kecil membuka suaranya pada Mentari.
"Tante menyampaikan titipan salam hangat dari Didi. Dia menangis setelah tahu kau berduka, dia mengatakan akan segera menemuimu satu minggu lagi setelah dia selesai ujian praktek di rumah sakit di Sumba," jawab Mentari.
Lama Lia kecil terdiam, dia terlihat agak tidak percaya dengan ucapan Mentari. Namun, dia merasa sangat penasaran dengan sang sahabat.
"Apakah hari tujuh Kakek Agri dan Nenek Lia, Didi akan datang?" pertanyaan ini penuh dengan harapan kekabulan meskipun dia telah mendengar dari kata-kata Mentari bahwa sang sahabat akan datang menemuinya pada satu minggu lagi setelah selesai ujian praktek.
Hari tujuh kakek dan nenek buyutnya, itu berarti terhitung empat hari lagi setelah dimakamkan kakek dan nenek buyutnya. Sementara itu, Gendhis menyelesaikan ujian praktek di rumah sakit selama satu minggu. Mentari agak berat untuk memberikan jawaban, jika itu atas orang lain, maka dia bisa saja menjawab, namun ini sang anak. Bagaimana bisa dia berjanji atas nama sang anak pada sahabat anaknya, sementara sang anak tak memberi janji dan sama sekali tak tahu mengenai percakapan ini.
"Didi akan berusaha untuk secepat mungkin mengerjakan ujiannya dan akan segera bertemu denganmu. Entah itu tepat pada hari tujuh Kakek Agri dan Nenek Lia, mari kita lihat." Hanya jawaban inilah yang membuat Lia kecil mengerti.
Wajah Lia kecil terlihat diam dan tak berekspresi.
"Dengan siapa Didi pergi ke Sumba?"
"Dengan pihak sekolahnya. SMK kesehatan bekerja sama dengan beberapa rumah sakit di daerah Indonesia Tengah dan Indonesia Timur," jawab Mentari.
"Hanya titipan salam dari Didi saja yang membuatmu datang ke sini?" Lia menatap agak cuek ke arah Mentari.
"Tante datang untuk mengunjungi keluarga Nabhan yang sedang berduka. Bagaimana pun juga, Nenek Gea masih terhitung mertua Tante." Alasan yang sangat logis yang diberikan oleh Mentari.
"Oh begitu … jadi besok kau akan kembali ke Yogyakarta?" Lia kecil tidak berniat untuk berdiri dari posisi duduk atau mendekat ke arah Mentari.
"Ya … jika keadaan memungkinkan." Mentari mengangguk.
"Siapa yang menyuruhmu datang ke sini? jika itu benar Didi, dia bisa langsung meneleponku." Mata Lia kecil terlihat waspada, kecurigaan mulai mendatanginya saat melihat kehadiran Mentari di rumah tua Nabhan, sekali lagi Lia kecil tak menyukai psikiater.
Dalam hati Mentari dia tersenyum, Lia kecil ini memang benar-benar anak yang pintar.
"Bagaimana mungkin kamu punya waktu untuk memegang hpmu sementara kamu menjauh dari apapun itu dan hanya mengurung diri di kamar?" balasan pertanyaan dari Mentari yang membuat Lia kecil terdiam.
Ya, bagaimana mungkin dia punya waktu untuk melihat handphonennya sementara dia mengurung diri di dalam kamar.
Psikiater di depannya ini memang bisa membalikkan pertanyaan padanya, tak ada orang lain selain Mentari.
Mentari merogoh ponsel di saku blazer abu-abu yang dipakai.
Dia menelepon seseorang, tak berapa lama kemudian suara seorang gadis remaja terdengar.
"Halo, Assalamualaikum, Bunda." Suara sangat lembut.
Mentari tersenyum.
"Waalaikumusalam, sayang. Apakah kamu sudah makan siang?"
"Bunda, Didi baru saja makan siang. Bagaimana dengan Bunda?" tanya balik sang anak perempuan dari seberang.
Mata Lia kecil terpaku pada ponsel milik Mentari yang berada di dekat telinga kanan Mentari. Samar-samar terdengar suara dari sahabatnya.
Merasa bahwa Lia kecil telah memberi perhatian padanya, Mentari membesarkan volume suara panggilan hingga membuat Lia kecil dan Atika dapat mendengarkan ucapan Gendhis.
"Bunda belum makan, sayang." Jawaban yang diberikan oleh Mentari.
"Bunda, jangan lupa makan. Meskipun Bunda dalam perjalanan ke Semarang untuk melihat Aril." Ketika suara yang penuh perhatian ini terdengar di pendengaran Lia kecil, tatapan dingin Lia kecil perlahan berubah. Namun dia masih mempertahankan kesadarannya.
"Bunda ingin bilang padamu bahwa Bunda sudah berada di rumah Kakek dan Nenek besar dari Aril. Sekarang ini Bunda sedang menemani Aril makan siang." Mentari melirik ke arah Lia kecil saat dia mengucapkan kata-kata 'menemani Aril makan siang'.
"Uuh! sudah di rumah Tua Nabhan? ah, ada Ari di situ. Bolehkah Didi bicara dengan Ari?" suara ini terdengar seperti suara memohon.
Mentari menatap mata Lia kecil meminta persetujuannya.
Lia kecil berdiri dari kursi dan mendekat ke arah Mentari, kemudian dia menerima ponsel yang disodorkan oleh Mentari.
"Didi, apakah kamu aman di sana? jika tidak, aku bisa mengirim beberapa bodyguard untuk menjagamu." Lia langsung terlihat akrab dengan Gendhis.
"Lia, inilah kamu?! aku mengkhawatirkan kamu setelah mendengar bahwa Kakek dan Nenek besarmu pergi, aku ikut sedih di sini, sayangnya ujian yang aku ambil akan menentukan aku apakah aku akan lulus untuk bisa masuk fakultas kedokteran ataukah tidak. Maafkan aku. Terima kasih atas perhatianmu, aku aman-aman saja di sini." Suara Gendhis terdengar menyesal.
Wajah Lia kecil terlihat melembut seperti es yang mencair.
"Jadilah baik dan pintar, aku yakin kamu bisa masuk fakultas kedokteran." Seperti sebuah nasehat yang disampaikan untuk Gendhis.
"Terima kasih." Suara Gendhis terdengar lembut.
"Doaku yang sama untukmu Lia, jadilah baik dan pintar, aku yakin kamu bisa menjadi seorang pebisnis hebat," ujar Gendhis.
Wajah Lia kecil terlihat agak rumit setelah mendengar ucapan ini, namun dia tidak mempermasalahkan ucapan sang teman, semua itu adalah doa.
"Ya." Sahutan yang sangat singkat.
"Bundamu bilang kamu akan datang untuk menemuiku?" pertanyaan yang sedari tadi ingin dilemparkan pada sang sahabat.
"Ya, namun setelah aku menyelesaikan ujian praktek ini, apakah kamu tidak keberatan, sepupu?" sepupu, Gendhis tahu bagaimana harus mengambil hati dan perhatian dari Lia kecil.
Wajah Lia berubah hangat.
"Tentu saja tidak."
Lia kecil terlihat agak tersenyum kecil.
"Didi, aku menunggu kamu datang padaku."
"Ya, aku akan datang." Ini adalah sebuah janji.
"Lanjutkan aktivitasmu," ujar Lia kecil.
"Ya. Ah! apakah kamu sudah makan siang?" tanya Gendhis, meskipun dia telah mendengar ucapan sang ibu yang tadi bahwa ibunya sedang menemani Lia kecil makan, namun dia ingin bertanya lagi, sebab dia tahu bahwa jika kepribadian ini yang muncul makan pasti ada masalah serius.
Lia kecil menatap nampan makanan yang berada di atas meja nakas.
"Setelah menelponmu, aku akan makan. Tante Tari membawakan aku makanan."
"Syukurlah Bunda yang bawa. Harus makan, jangan sampai sakit." Gendhis bahkan tak tahu jika selama dua hari ini Lia kecil telah puasa dan jatuh sakit.
"Didi, terima kasih." Suara Lia kecil terdengar agak melembut.
"Kami berdua bukan orang asing," balas Gendhis.
Lia kecil tersenyum kecil.
*