Hari baru telah berganti.
Pada pagi jam delapan, Mentari telah mendatangi rumah tua Nabhan. Dia sendiri yang datang ke rumah itu diantar oleh seorang supir kenalan.
"Kenapa tak hubungi kami, biar ada yang menjemput kamu?" Gea menarik masuk Mentari ke dalam rumah.
"Aku nggak ingin merepotkan Tante dan yang lainnya, kebetulan di dekat bandara ada penginapan yang dikelola oleh teman SMA," balas Mentari. Mentari benar, dia tidak ingin merepotkan keluarga Nabhan, sebab keluarga Nabhan baru saja berduka dan kini ada masalah Lia kecil, Mentari tak sampai hati.
Gea manggut-manggut mengerti.
"Sarapan pagi dulu, sayang."
Gea menunjuk ke arah kursi. "Duduk dulu!"
"Aku sudah tadi sebelum aku keluar penginapan." Mentari duduk di kursi.
Busran memasuki ruang tamu.
"Waduh, kenapa tidak kasih tahu kalau sudah mendarat di bandara, biar dijemput."
"Kalau begini kan Om nggak tau." Bursan duduk di kursi.
Busran melirik ke arah pintu masuk rumah.
Mentari tersenyum.
"Yang penting aku sudah di sini, Om."
Busran dan Gea mengangguk.
"Kamu sendirian?" tanya Busran.
"Ya." Mentari mengangguk.
"Om pikir suami kamu ikut, atau kalau tidak yah Didi yang ikut." Saat menyebut nama Didi, wajah Busran terlihat penuh harapan.
Mentari merubah raut wajahnya terlihat menyesal.
"Sayangnya, Didi sudah ke Sumba sebelum Kakek Agri dan Nenek Lia meninggal. Dia memilih mengambil ujian praktek untuk menunjang kemampuannya."
Busran mengangguk mengerti.
"Padahal dia masih SMK."
"Sudah mau lulus." Korerksi Gea.
Busran mengangguk.
"Dia ingin jadi sepertimu, dia mengikuti profesi yang kamu lakukan."
Mentari tersenyum kecil.
"Tidak, Om. Dia sebenarnya tidak ingin jadi sepertiku, tidak ingin jadi dokter jiwa hanya karena aku ibunya adalah dokter jiwa, Didi ingin menjadi seorang psikiater karena panggilan tulus dari hatinya pada sang sahabat."
Busran terlihat serius.
"Didi bilang begitu?"
"Meskipun dia tidak mengatakannya secara gamblang, namun aku tahu isi hatinya, dia ingin agar sahabatnya Aril tetap hidup menempati tubuh aslinya, bukan yang lain." Wajah Mentari terlihat serius saat mengatakan ini.
Wajah Busran dan Gea terlihat terharu dan melembut.
"Didi benar-benar gadis yang baik. Di saat semua teman-teman Aril memilih menjauh darinya, Didi bahkan maju mendekat untuk berteman," ujar Busran.
Gea mengangguk membenarkan.
Banyak teman sekolah Ariella memilih menjauhi Ariella, karena ada beberapa alasan.
"Aku berpikir Aril tidak punya teman sejati, mungkin Didi adalah teman sejatinya," ujar Busran.
Gea mengangguk.
"Banyak teman sekolah Aril yang menjauhi Aril. Om sedih setelah tahu bahwa Aril selalu pulang sekolah dengan menunduk malu. Itu semua karena nilainya yang tidak stabil, ada kalanya jika Lia kecil yang keluar, maka nilai sekolah Aril akan meningkat drastis, namun jika Aril yang sedang menguasai tubuh aslinya, nilai Aril bahkan tak cukup menempati angka satu. Om lihat keadaan mental Aril, Om sayang. Dia juga dianggap aneh oleh teman-temannya di sekolah. Om mau marah juga tidak bisa, mau menyalahkan siapa? tidak ada yang salah di sini. Hanya saja, hati Om merasa terluka ketika Aril datang ke rumah Om dan berkata dengan nada takut, 'Kakek Busran … Kakek Busran jangan marah, nilai sekolah Aril menurun', hal inilah yang membuat Om tambah sayang padanya, pasalnya dia selalu terlihat kebingungan."
Mentari mengangguk mengerti.
"Ya, Tari mengerti. Bukankah Tari sudah jelaskan sebelumnya bahwa masing-masing ingatan dari kepribadian yang menempati tubuh Aril itu tidak saling terhubung. Inilah yang membuat jika Aril asli yang menempati tubuh aslinya, maka dia tidak akan ingat apa yang terjadi pada saat Lia Kecil muncul, termasuk melakukan proses belajar mengajar di kelas dan aktivitas yang lainnya. Agak sulit untuk menerima ini, tapi mau bagaimana lagi, kita harus bisa membuat semua kepribadian Aril tetap nyaman, jangan sampai menyinggung semua kepribadian Aril dimana masing-masing kepribadian memiliki sensitif yang berbeda-beda. Lia kecil terlalu keras, Lolly tidak peduli pada apapun namun dia hanya terobsesi untuk bunuh diri, dan kepribadian aslinya sangat pemalu dan bahkan selalu diam."
Busran dan Gea mengangguk.
"Itulah yang Om maksud. Om ini sakit kepala dan juga sakit hati. Dengan adanya kamu, mudah-mudahan bisa membuat Aril sembuh dan kembali seperti semula. Kalau Didi benar-benar ingin menjadi seorang psikiater, Om benar-benar senang. Tidak perlu lagi kita mencari psikiater yang lain. Cukup kamu atau Didi saja yang mendekati Aril," ujar Busran.
Mentari mengangguk.
"Ah, Om, Tante. Seperti yang Om dan Tante tahu bahwa Lia kecil tidak menyukai psikiater. Tari datang ke sini untuk mengamati dan memahami lebih dulu mengapa sifat Lia kecil menjadi lebih kasar dan agresif. Setelah memahami lebih dalam, Tari akan menentukan langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya." Mentari memberi pengertian pada Busran dan Gea mengenai kedatangannya ke rumah tua Nabhan
Eric dan Bushra yang mendengar kabar bahwa Menteri telah datang ke rumah tua Nabhan, mereka segera ke ruang tamu.
"Tari!" Bushra memanggil Mentari.
Mentari menganggukan kepalanya ketika menengok ke arah Bushra.
"Aku ingin agar kamu segera mengobati Aril, tolong bantu!" Bushra menggenggam tangan Mentari, wajahnya terlihat penuh harapan. Melihat kedatangan Mentari seperti melihat cahaya harapan bagi Bushra.
"Mari kita coba." Mentari mengangguk.
"Aku ingin lebih tahu detail lagi mengenai kejadian tadi malam. Kamu dan suamimu berada di tempat kejadian, kan?" tanya Mentari.
Bushra mengangguk.
"Ya, tadi malam kami bersama Aril, tapi yang muncul bukanlah Aril melainkan Lolly dan Lia Kecil. Aku panik saat melihat sendiri Lolly menusuk nadinya dengan jarum infus yang ditarik keluar sendiri olehnya. Tatapan matanya benar-benar kosong dan seperti hanya ada kematian. Tari, tolong obati Aril, aku tidak ingin Lolly keluar lagi. Dia terlalu mengerikan."
Mentari mengangguk mengerti.
"Kepribadian yang ini memang tidak memiliki perasaan. Aku agak kesulitan untuk mencari tahu lebih lanjut sebab aku tidak dekat dengan Lia kecil. Anehnya meskipun Lia kecil keras dan dingin, dia tetap menerima keberadaan Didi. Aku belum tahu ada apa sampai Didi disukai oleh Lia kecil," balas Mentari.
Wajah Bushra dan Eric serius.
"Apakah Didi benar-benar tidak bisa datang ke sini? misalnya memberi surat izin agar nanti menyusul ujian prakteknya?" tanya Eric.
"Sayangnya ujian mereka hari ini dibuka," jawab Mentari.
Eric terlihat berpikir keras.
"Aku merasa entah mengapa akhir-akhir ini seperti merasakan suatu pertanda buruk. Dulu aku tak pernah percaya apa itu firasat, namun setelah menikah dengan Sira, aku mulai mempercayainya."
"Kita berdoa saja, semoga tidak terjadi apa-apa." Mentari mencoba membuat Eric tidak berpikir lebih.
"Kadang apa yang terlalu kita pikirkan tidak terjadi, cobalah untuk mensugesti diri agar tidak akan terjadi apapun." Mentari memberi nasihat.
Eric mengangguk mengerti. Psikiater memang mempunyai kemampuan mengendalikan emosi yang hebat.
*
"Ma, kapan Om Alan balikin Aini ke sini?" tanya Naufal.
Popy yang sedang sarapan pagi itu mendongak dan menatap sang anak.
"Mama nggak tau."
"Loh! kok Mama malah nggak tau sih? kan Aini itu anaknya Mama!" Naufal hampir mencibir di depan sang ibu.
Popy mengembuskan napas panjang.
"Opal, Mama beneran nggak tau. Meskipun Aini juga anak Mama, tapi kalau Aini masih betah mau pergi ke kegiatan amal, kita harus bagaimana? memaksanya pulang?"
Naufal mengangguk.
"Ya, paksa saja Aini pulang-eh jangan! nggak boleh paksa-paksa adik Opal."
Naufal mengurungkan pikirannya, dia menggelengkan kepalanya.
Ben menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik kamu pikirkan, setelah kamu kuliah, kamu mau lanjut ke mana? apakah ingin studi lanjut apakah ingin bergabung di perusahaan Mama kamu."
Naufal terlihat memikirkan jawaban.
"Aduh gimana yah Opal mau jawab. Soalnya Opal aja nggak ada bayangan masa depan nih."
"Eh? kok gitu? orang hidup tuh harus ada pandangan ke masa depan." Popy heran dengan jawaban sang anak.
"Ya abisnya gimana yah, Opal masih ingin ongkang-ongkang kaki di rumah sambil nemenin Aini main. Lebih enak pekerjaan santai-santai," balas Naufal.
Ben mencibir, "Laki-laki itu harus ada pandangan hidup biar jelas. Maunya cuma di rumah ongkang-ongkang kaki saja."
Naufal melirik ke arah sang ayah.
"Loh, Opal kan ikut jejak Papa, kan Papa tiap hari ongkang-ongkang kaki di rumah, Mama Poko aja yang sibuk kerja bolak-balik kantor."
Tanpa rasa bersalah Naufal melirik ke arah sang ayah.
Wajah Ben terlihat datar namun dua detik kemudian dia melirik ke arah sang istri yang menahan tawa.
Randra terkekeh, dia menikmati sarapan pagi sambil mendengar percakapan anak, cucu dan menantu.
"Kamu ini, jangan samakan Papa dan kamu, jelas kita beda. Siapa bilang Papa cuma ongkang-ongkang kaki di rumah saja? Papa juga ngurusin semua anak-anak Papa kok, mandiin kalian, nyiapin bekal kalian ke sekolah bahkan tiap hari Papa anterin kalian kalau mau ke sekolah," ujar Ben.
Ben memasang tampang cool.
"Papa dulu waktu masih belum menikah dengan Mama kamu, Papa pegang perusahaan loh." Ben membanggakan masa lalunya ketika masih lajang.
"Pa, orang itu yang dilihat masa depan, nggak ada masa lalu. Lagian juga masa Papa perhitungan sih pas ngurus anak-anak? Mama Poko aja yang hamil sembilan bulan empat kali, terus melahirkan, anaknya bahkan Papa kasih ke Grandpa Silvio dan sekarang masih kerja banting tulang pun, Mama Poko nggak ngeluh dan perhitungan tuh, belum lagi urusin Papa ehem! jadi Papa ini penganut aliran yang mana?" Naufal melirik ke arah sang ayah.
Ben melotot ke arah anaknya.
"Heum! dari anak-anak Papa, cuma Chana dan Aini saja yang nggak pernah bantah omongan Papa."
Naufal manggut-manggut.
"Oh begitu."
Popy terkekeh melihat tingkah anak dan suaminya.
Naufal melirik ke arah sang kakek.
"Kakek Ran, masa Papa banding-bandingin Opal dan anak-anak Papa yang lain. Biar gini-gini Opal juga anak Papa loh."
Ben menarik napas pasrah, tukang adu domba!
"Jangan pernah membandingkan anak yang satu dan yang lainnya, itu bukanlah hal yang bijak," ujar Randra.
Ben mengangguk paham.
"Ya, Ayah."
Randra melirik ke arah Naufal.
"Kakek Ran mendukung ke manapun kamu ingin menentukan masa depanmu. Tidak ada batasan selama kamu masih dalam jalan yang benar dan ingat pada keluarga. Jika kamu ingin mengambil alih bisnis Mamamu itu juga lebih baik, jika tidak ingin ambil, tidak masalah. Carilah pekerjaan atau sesuatu yang membuat hatimu senang. Ingat pesan Kakek Ran, jangan mengikuti kemauan orang tua jika kemauan kamu jauh lebih baik, percaya, kamu akan melakukan pekerjaan kamu dengan setengah hati."
Naufal mengangguk paham.
"Opal paham, Kek."
Naufal berdiri dari duduk.
"Kek, Opal mau main basket ah."
Randra mengangguk.
Dia melihat kepergian sang cucu laki-laki lalu berkata pada menantunya.
"Meskipun kamu lebih menyayangi anak perempuanmu, tetapi jangan mengurangi rasa sayangmu pada anak laki-laki."
Ben mengangguk.
"Baik, Ayah."
"Kamu telah belajar dari pengalaman sembilan tahun yang lalu kan?" Randra meraih gelas dan meneguk air.
"Sudah, Ayah. Ben telah belajar pengamalan yang berharga, dan pengalaman itu sampai saat ini tak akan pernah Ben lupakan," balas Ben.
Randra meraih serbet dan melap bibirnya, setelah itu dia melanjutkan lagi katanya. "Semua anak sama saja. Baik laki-laki dan perempuan, mereka adalah titipan Allah."
Ben mengangguk.
"Lanjutkan aktivitas kalian, Ayah Ran ingin duduk bersantai di kebun bunga." Randra berdiri dari kursi.
Ben dan Popy mengangguk.
Setelah kepergian Randra, pasangan suami istri itu melanjutkan makan.
"Poko kok masih lapar." Popy mengambil nasi.
Ben duduk bersandar di sandaran kursi makan.
"Popy, apa menurutmu Opal benar dalam kata-katanya?"
"Kata-kata apa?" Popy menyendokkan nasi goreng ke dalam mulut.
"Kata-kata kalau dia memang nggak ada masa depan," jawab Ben.
Popy menatap datar ke arah suaminya.
"Lagian Ben percaya? itu anak kan suka ngomong ngawur."
Ben terkekeh.
"Jangan sampai dia jadi pengangguran, tidak lucu."
Popy geleng-geleng kepala.
"Ben saja jadi pengangguran, lucu nggak?."
Popy terbahak, sang suami ikut tertawa.
*