Pintu ruang dokter Rasyid atau kepala rumah sakit terbuka. Yang membuka pintu itu adalah dokter Rasyid sendiri.
Busran keluar dengan berjalan sejajar bersama Kapolda Semarang. Sementara keluarga Nabhan yang ikut dalam pembicaraan itu menyusul keluar dari belakang.
Kapolda Semarang berkata, "Dia akan baik-baik saja dan aman. Tidak akan ada yang tahu mengenai insiden ini."
Busran mengangguk.
"Saya telah merepotkan Anda."
"Tidak masalah. Ini masalah kecil," balas Kapolda Semarang.
Kapolda Semarang tersenyum kecil.
"Saya dekat dengan keluarga istri Anda, saya dan Alamsyah adalah sahabat dekat dari pertama kami masuk akademi kepolisian."
Busran mengangguk mengerti.
"Syukurlah Anda sudah menjabat menjadi Kapolda di sini."
Kapolda Semarang terkekeh.
"Ya, semua itu harus disyukuri."
"Pak, saya pamit undur diri. Ada hal yang harus saya tangani di rumah," ujar Busran. Masalah mengenai sang cucu perempuan telah selesai, dia hendak bergegas pulang ke rumah untuk melihat keadaan cucu perempuannya.
"Saya mengerti," balas Kapolda Semarang.
Kapolda Semarang berjabat tanganamidengan kepala rumah sakit.
"Dokter Rasyid, saya juga undur diri."
Dokter Rasyid mengangguk.
"Ya."
"Dokter Rasyid, saya izin pulang," pamit Busran pada kepala rumah sakit.
"Tuan Busran, hati-hati di jalan," ujar dokter Rasyid.
Eric berjabat tangan dengan dokter Rasyid.
"Terima kasih."
"Jangan katakan terima kasih pada saya, saya tidak banyak membantu," balas dokter Rasyid. Dokter Rasyid merasa agak sungkan terhadap ucapan Eric, sebab dia berpikir tidak banyak membantu, dia juga berpikir meskipun dia tidak membantu dalam masalah ini, banyak pihak yang pasti akan membantu keluarga Nabhan. Sebab, keluarga itu bukanlah keluarga sembarangan. Apalagi besan dari keluarga Nabhan, rata-rata mereka di birokrasi pemerintahan.
"Sekecil apapun bantuan dari seseorang, itu tetaplah bantuan, jadi alangkah baiknya jika kita mengucapkan terima kasih," ujar Eric.
Dokter Rasyid tersenyum kecil. Dia cukup menghormati Eric, sebab Eric sama sekali tidak terlihat arogan di matanya. Meskipun ada beberapa rumor yang mengatakan bahwa diplomat Perancis ini diam-diam menghanyutkan.
Masing-masing orang berpisah.
Dokter Rasyid melihat kepergian dari pihak-pihak yang tadi bicara di ruang kerjanya. Setelah tidak terlihat lagi mereka, dokter Rasyid melirik ke arah perawat senior. "Bagaimana keadaan dokter Salim?"
"Beruntung organ dalam beliau tidak rusak, Dok. Meskipun harus disayangkan, tiga rusuk beliau retak," jawab perawat senior.
"Selain retak pada rusuk, apalagi yang parah?" tanya dokter Rasyid.
"Dislokasi ringan di bahu kanan, sudah digips dan akan pulih dalam tiga sampai empat minggu jika istirahat total," jawab perawat senior.
Dokter Rasyid menarik dan mengembuskan napas.
"Yang lainnya?"
"Nona Sintia hanya dislokasi bahu ringan, sementara itu dua satpam … um … sekarang dokter sedang melakukan operasi perbaikan jaringan tulang yang rusak akibat hantaman benda tumpul," jawab perawat senior.
"Hantaman benda tumpul itu sangat keras dan kuat, saya mengasumsikan dua satpam dipukul dengan benda keras seperti besi," ujar perawat senior berspekulasi.
Wajah dokter Rasyid terlihat serius.
"Kamu melihatnya memukul mereka dengan dengan besi?" tanya dokter Rasyid.
Perawat senior itu dengan agak ragu-ragu menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak melihat langsung, dokter."
"Lalu kenapa kamu mengatakan hal demikian?" tanya dokter Rasyid.
"Saya hanya berpendapat," jawab perawat senior.
"Hati-hati dengan pendapat yang tidak didasari oleh bukti yang kuat, pendapatmu bisa jadi yang akan membawamu dalam masalah," ujar dokter Rasyid.
Perawat senior itu mengangguk, wajah terlihat agak canggung setelah mendengar ucapan pimpinannya.
"Cukup masalah malam ini diketahui oleh beberapa orang saja, jangan berani menyebar masalah ini pada publik, sebab semakin sedikit yang mengetahui maka itu lebih baik, mengerti?" dokter Rasyid memberi peringatan ringan pada perawat senior.
Perawat senior mengangguk paham.
"Saya mengerti, dokter."
Dokter Rasyid mengangguk puas, sebelum dia meninggalkan perawat senior itu, dia berkata, "Asal Anda tahu, bahwa hantaman benda tumpul yang Anda katakan itu adalah kepalan tangan dari Nona Aril."
Mata perawat senior terbelalak.
"Kepalan tangan?"
Dokter Rasyid mengangguk.
"Ya."
Dokter Rasyid menarik dan menghembuskan napas.
"Besok saya akan melihat keadaan mereka."
Perawat senior mengangguk mengerti.
Dokter Rasyid melihat jam di pergelangan tangan kiri.
"Sudah jam sepuluh, saya istirahat pulang ke rumah."
"Baik, dokter." Perawat senior mengangguk mengerti.
Setelah melihat kepergian pimpinannya, perawat senior menarik dan menghembuskan agak lega. "Malam ini memang benar-benar tegang."
*
Ketika Lia Kecil memasuki rumah, semua keluarga Nabhan hanya menatapnya diam.
Mereka sudah diberi tahu bahwa jangan mendekat dengan Lia Kecil, sebab insiden tidak mengenakan baru saja terjadi.
Ada juga beberapa keluarga Nabhan yang memilih menghindar dari Lia Kecil.
Lia kecil berjalan begitu saja tanpa menyapa seorang pun, saat dia hendak masuk ke dalam kamar tua, suara kakak sepupunya terdengar.
"Lia, makan dulu," ujar Aqlam.
Lia kecil mengangguk pelan.
Setelah itu dia melanjutkan langkah kaki masuk lebih dalam ke dalam kamar tua.
Aqlam melirik ke arah kepala pelayan rumah itu.
"Siapkan sup hangat dan nasi, berikan air putih hangat untuk adik sepupuku, biarkan ibuku yang membawa makanan itu ke dalam kamar tua. Kalian tidak boleh masuk ke dalam."
Kepala pelayan rumah mengangguk patuh.
"Baik, Tuan Aqlam."
Atika mendekat ke arah anaknya.
"Bagaimana keadaan di rumah sakit?" tanya Atika pada Aqlam.
"Ayah dan yang lainnya sedang menyelesaikan masalah di sana," jawab Aqlam.
"Apakah kamu sudah mendengar lebih detail mengenai kondisi empat tenaga medis itu?" tanya Atika.
"Paman Ranjum yang akan menceritakannya untukmu, Ibu," jawab Aqlam.
Atika mengangguk mengerti.
"Hanya kamu dan Lia kecil yang pulang dari rumah sakit? apakah Tante Sira tidak ikut?"
"Ya, hanya kami berdua. Kakek Busran dan yang lainnya masih di rumah sakit," jawab Aqlam.
"Yasudah, tidak apa-apa." Atika menarik dan menghembuskan napas agak lega.
"Setidaknya Lia kecil sudah pulang ke rumah," gumam Atika.
Atika melirik ke arah Ranjum.
Ranjum yang telah tua namun masih terlihat segar bugar itu buru-buru menunduk.
"Mari saya jelaskan, Nyonya."
Aqlam menjauh dari pintu kamar tua, dia bergegas ke kamarnya bersama sang istri, namun ketika dia membuka pintu kamar, kamar itu kosong, ranjang mereka tak ada sang istri.
Aqlam kembali menutup pintu dan dia mencari pelayan rumah itu.
"Di mana istri saya?"
Pelayan perempuan menunduk hormat.
"Nyonya Chana sedang di kamar Tuan Anas. Beliau menemani Tuan Anas tidur."
Aqlam berjalan ke arah kamar yang ditempati oleh anaknya, ketika membuka pintu, dia melihat sang istri sedang mengusap badan anaknya dengan menggunakan telapak kaki.
"Ibu …." Panggil Anas. Mata anak ini hampir tertutup, sebentar lagi dia akan tidur pulas.
"Ya. Ibu di sini," sahut Chana.
"Kapan Ayah dan Ibu bisa menemani Anas tidur bersama?" tanya Anas.
"Anas ingin tidur bersama Ayah dan Ibu?" tanya Chana.
"Ya … ingin," jawab Anas.
Chana tertawa singkat dan pelan.
"Baiklah, malam ini Ayah dan Ibu akan tidur bersama Anas."
"Apakah Ayah tidak akan marah? Paman Ranjum mengatakan bahwa Anas harus mandiri dan tidur sendiri." Mata Anas hendak tertutup.
"Ayah tidak akan marah malam ini," jawab Chana. Dia melirik ke arah pintu masuk.
Aqlam melangkah masuk ke kamar sang anak, dia menghentikan kaki sang istri yang senang membujuk anaknya tidur.
"Tidur, ini sudah telat."
Anas mengangguk. Dia menutup matanya, namun ada seulas senyum senang di bibirnya.
Chana terkekeh.
"Aqlam, sesekali kita harus tidur bertiga."
"Baik," sahut Aqlam.
Aqlam menaikkan selimut menutupi anak dan istrinya.
*
Atika melangkah keluar dari kamar tua sambil membawa nampan piring kotor. Ketika dia melihat ke arah depan, orangtua Ariella telah berdiri sambil menunggunya.
Seorang pelayan perempuan dengan cekatan mengambil alih nampan piring kotor itu dari tangan Atika. Saat itu, Bushra mendekat dan menggenggam tangan Atika, dia menahan tangisan.
"Tika, bagaimana kondisi Aril?" tanya Bushra khawatir, suaranya serak.
"Sira, dia sekarang bukan Aril, dia adalah Lia kecil," jawab Atika.
Bushra mengangguk mengerti.
"Apakah makanan yang dia makan habis?"
Atika mengangguk.
"Ya, habis."
"Seberapa banyak makanan yang dia makan? aku mendengar dia tak makan selama dua hari."
"Jangan khawatir, makanan yang baru saja dia makan cukup untuk memenuhi nutrisinya," jawab Atika, dia mendekat ke telinga Bushra dan berbisik, "beberapa menit lagi kamu bisa masuk melihatnya."
"Apakah dia tidak marah padaku? dia menyerang Eric." Bushra terlihat agak ragu untuk masuk dan bertemu sang anak pada saat sekarang.
Atika menggeleng.
"Dia tidak akan marah, sebab dia akan tertidur," bisik Atika.
Bushra mengambil jarak dari Atika dan menatap mata Atika.
"Kau …."
Atika meletakkan jari telunjuk kanan di depan bibirnya dan membentuk tanda diam.
"Sstt."
Bushra mengangguk mengerti.
"Lebih baik untuk dia istirahat atau tidur," ujar Bushra pelan.
Atika mengangguk.
Bushra menangis pelan.
"Dibandingkan denganku, kamu dan Fathiyah sudah seperti Mama kandung Aril, aku … aku bahkan tidak tahu apapun mengenai anak kandungku sendiri."
Atika merangkul Bushra.
"Jangan menangis. Jika Lia kecil melihatmu menangis maka dia tidak akan suka."
Bushra mengangguk, dia menghapus air matanya.
Atika melirik ke arah Ranjum.
"Paman Ranjum, sudah jam berapa?"
"Sekarang pukul sepuluh lewat lima belas menit, Nyonya." Ranjum menjawab.
Atika melirik ke arah Bushra.
"Kau dan suamimu sudah bisa melihat anak kalian tidur."
Bushra berkata, "Terima kasih."
Atika mengangguk.
Eric dan Bushra memasuki kamar tua.
Mereka melihat anak perempuan mereka telah tertidur dengan posisi menyamping ke arah kanan. Kamar itu telah dibersihkan dari pecahan kaca yang terjatuh dari pelukan Ariella.
Bushra duduk dekat kepala anaknya, dia mengusap rambut sang anak, sementara Eric mengambil posisi duduk berseberangan dengan sang istri.
"Eric." Panggil Bushra pelan.
"Ya, honey?" sahut Eric.
"Anak gadis kecil kita telah menjadi gadis besar. Perasaanku, baru kemarin aku menggendongnya, namun saat ini dia lebih besar dariku. Apakah kita telah melewati banyak waktu untuk melihat pertumbuhan anak kita?" Mata Bushra terlihat sendu.
Eric mengangguk pelan.
"Ya. Kita telah melewatkan banyak waktu dengan putri kita."
Tak bisa Eric pungkiri bahwa memang benar, dia dan sang istri memang melewatkan banyak waktu dan momen untuk menyaksikan perkembangan sang anak perempuan.
"Tapi kita tak punya pilihan selain mempercayakan putri kita pada paman dan bibinya," sambung Eric.
Bushra mengangguk.
"Jika saat itu kita tak pernah membawa Aril untuk dipertemukan dengan Kakek Agri dan Nenek Lia, apakah menurutmu Ariella tidak akan mengalami kepribadian ganda?" tanya Bushra.
Eric diam beberapa detik.
Suara Bushra terdengar lagi.
"Jujur saja, aku menyesal mempertemukan Ariella dengan Nenek Lia, namun aku juga tidak tega jika Nenek Lia tak bertemu dengannya."
Eric menggenggam tangan sang istri yang sedang mengusap kepala putri mereka.
"Apakah kamu ingin putri kita sembuh?"
Bushra mengangguk berulang kali.
"Tentu saja aku mau. Ibu mana yang ingin anak mereka terjebak dalam kepribadian palsu? aku ingin putriku kembali normal, ingin Ariella berada di sini, bukan Lia kecil atau Lolly."
"Mari percayakan putri kita pada Mentari. Selain dia adalah psikiater yang berpengalaman, dia juga masih termasuk kakak iparmu," ujar Eric.
Bushra mengangguk.
"Aku percaya pada Mentari, dia pasti bisa menyembuhkan anak kita."
Di luar kamar tua.
Busran berkata pada dua cucunya.
"Bawa aku ke kamar, aku tiba-tiba ingin istirahat."
Fatah dan Marc mengangguk patuh.
*
Jakarta, kediaman Basri.
"Ck! Om Alan memang benar-benar titisan jin luknut. Sengaja bawa pergi Aini pas aku lagi tidur nyenyak." Naufal mencibir sang paman.
Pemuda ini sedang menatap ke arah luar balkon kamar. Pemandangan taman peninggalan sang nenek terlihat terang.
"Rumah ini jadi sepi, kan. Mana satu hari ini nggak ada orang yang nyalain tv buat nonton berita, yang ada hanya kesunyian. Papa dan Mama pas pulang dari Semarang, mendekam terus di dalam kamar. Syukur-syukur kalau bikin lagi satu adik untukku, kalau nggak ada hasil? heeuum!" cibir Naufal.
Di dalam kamar Popy dan Ben.
"Haaciiuuuww!" Ben bersin.
"Ben! bersin jangan di depan wajahku!" Popy terlihat melotot dongkol ke arah sang suami. Pasalnya mereka sedang dalam posisi berdempetan di mana sang suami sedang menindihnya yang berada di bawah.
"Maaf. Tidak sengaja," balas Ben.
Di balkon kamar Naufal.
"Mana Papa sudah tua, umur enam puluh tahun, mana mungkin produktif lagi? kayaknya sekeyakinan aku, Aini bakal jadi adik terakhir deh." Naufal masih mencibir.
Di dalam kamar Popy dan Ben.
"Haachiiuuww!" Ben bersin untuk yang kedua kali.
Wajah Popy terlihat dongkol.
Ben menggaruk kepalanya.
"Aku benar-benar tidak sengaja."
"Sepertinya sudah untuk malam ini," ujar Popy.
Wajah Ben terlihat panik.
"Sayang, tambah lagi."
"Poko lelah karena perjalanan pulang dari Semarang ke sini," ujar Popy.
Ben mengangguk pasrah.
"Ya, baiklah. Mari kita istirahat."
Poor Ben.
*