Chapter 21

1617 Words
Beberapa hari setelah keluarga Nabhan kembali dari Semarang ke Jakarta, keluarga Basri milik Popy juga kembali dari Sydney ke Jakarta. Hari ini adalah hari wisuda Naufal. "Ma, Aini mana?" Naufal mencari-cari keberadaan adiknya. "Lagi dandan," jawab Popy. "Siapa yang dandanin?" tanya Naufal. Popy membuat arah lirikan ke pintu kamar pink sang anak. "Lihat sendiri." Naufal yang sudah siap dengan baju toga, berjalan mendekat ke arah kamar adiknya. Ketika dia membuka pintu kamar, wajahnya malah terlihat cengo. Di dalam kamar itu ternyata ada Ben yang sedari tadi menahan kesabarannya agar tak menendang adik ipar lelakinya. Alan sibuk mengepang rambut Aini. Yang membuat Ben kesal, Alan memanfaatkan dia untuk memegang ini dan itu, seperti ikat rambut, sisir, bahkan jepitan rambut dan bandana. "Belum selesai?" tanya Naufal. "Oh Opal! kamu sudah selesai pakai baju?" tanya Alan. "Sudah pakai baju toga, itu artinya sudah selesai pakai baju," jawab Naufal. "Om, lagian kenapa sih nggak kasih Teteh Lilis saja yang kepang rambut Aini? kalau Om yang kepang kan lama." "Hush! sembarangan kamu! kamu aja nggak tau kalau Om ini juga jago loh kepang rambut. Di Bandung Om sering kepangin rambut Aini," balas Alan. "Sudah jam sembilan, kita terlambat!" Naufal geregetan dengan sang paman. "Santai. Jangan buru-buru, sesuatu yang dilakukan dengan terburu-buru itu tak baik," balas Alan. Alan menempel sedikit bedak bayi di wajah Aini, lalu tak lupa juga memberikan parfum bayi pada baju dan kulit di sekitar leher Aini. "Huuumm! haruuum!" Alan menghirup puas bau harum dari Aini. Ben mencibir, dia meletakkan semua aksesoris anak perempuan dan hendak menggendong anak bungsunya, namun Naufal lebih dulu menggendong sang adik. "Ayo!" ujar Naufal. "Opal! siapa bilang kamu yang gendong Aini?! biarkan Om!" Alan meradang ganas saat Naufal telah membawa lari adiknya. Ben, "...." entah dia ingin mengamuk ataukah menangis. * Setelah acara kelulusan Naufal di kampus. Malamnya dia dan keluarga Basri mengadakan pesta keluarga di resort milik Basri. Beberapa keluarga di undang termasuk besan-besan dari keluarga Basri. Di antaranya ada keluarga Nabhan. Di kediaman Nabhan. "Lia, apakah kamu ingin pergi ke acara kelulusan kakak Opal?" tanya Atika ke arah Lia kecil yang berdiam diri di kamar. "Tidak," jawab Lia kecil datar. Atika mengangguk mengerti. "Baiklah, Tante Tika akan katakan pada Tante Popy bahwa kamu tak bisa datang," ujar Atika. Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah kamar Lia kecil. "Sepupu, apakah kamu sudah siap ke pesta kelulusan sepupu Opal kami?" suara ini terdengar merdu dan halus. Nada suara ini lembut dan tidak terburu-buru. Seketika Lia kecil berbalik dan melihat ke arah gadis remaja yang seusia dengannya. Wajah gadis itu putih mulus, hidungnya mancung, manik matanya coklat tua dan bibirnya kecil namun agak berisi. "Didi …." Panggil Lia kecil perlahan. Rambut gadis itu dikepang ke samping kiri, dia tersenyum ke arah Lia kecil. "Sepupu, maafkan aku. Aku tidak menepati janji untuk datang tepat waktu. Ketika ujian, kami memiliki penguji dari menteri kesehatan. Kami membutuhkan waktu tambahan untuk menyelesaikan ujian praktek. Maukah kamu memaafkanku?" ujarnya. Lia kecil mengangguk. "Tidak masalah." Gendhis mengulurkan tangannya ke arah Lia kecil sembari berkata, "Sepupu, mari kita menghadiri acara kelulusan saudara Opal." Beberapa detik kemudian Lia kecil mengangguk. * Ketika tiba di tempat acara yang dimaksud, Gendhis dan Lia kecil berjalan bersama saling bergandengan tangan. Kaki mereka memasuki tempat dengan dekorasi indah, tulisan congratulation untuk Naufal terpampang jelas. Banyak balon dan pita. Popy yang sedang menerima tamu besan melirik ke arah datangnya keluarga Nabhan. "Tika, kemari! ah! Didi! Aril!" Popy menghampiri Atika. "Aku Lia," ujar Lia kecil datar. Popy tersenyum agak canggung. "Ah, Lia. Maaf, Tante Poko lupa." Lia kecil tak mengangguk, dia hanya melirik wajah Popy lalu melirik ke arah lain. Mata Lia kecil menatap ke arah Naufal yang sedang bercerita dengan para sepupunya. Semua yang mengelilingi Naufal adalah laki-laki. "Lia, ada makanan, mari makan dulu, ataukah kamu ingin mencicipi kue atau minuman, ada beberapa pilihan minuman, soda, jus?" tawar Popy. Lia kecil hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tak menginginkan semua itu. Popy mengangguk mengerti. "Baiklah. Nikmati pestanya." "Didi, berilah ucapan selamat ulang tahun pada Opal!" pinta Mentari. "Baik, Bunda." Gendhis mengangguk. Dia mengajak Lia kecil. "Sepupu, ayo kita mengucapkan selamat pada saudara Opal." Lia kecil hanya mengikuti ke mana Gendhis membawanya. Sesampainya di dekat Naufal, Gendhis mengucapkan ucapan selamat. "Kak Opal, selamat atas kelulusanmu. Nilaimu sangat tinggi, semoga Didi juga tertular." Naufal tersenyum ke arah Gendhis, dia menerima jabatan tangan dari Gendhis. "Didi, terima kasih. Tidak lama lagi kamu juga akan seperti Kakak Opal memakai toga wisuda." Gendhis tersenyum. "Aku bahkan belum dinyatakan lulus dari sekolah," balas Gendhis. Naufal terkekeh. "Kamu pasti lulus, Kakak Opal yakin." Gendhis balas tersenyum. "Aamiin." Naufal melirik ke arah sepupunya yang lain. Lia kecil sungguh cuek dan dingin, bahkan ketika menatap wajah Naufal, ekspresi Lia kecil tetap datar. Naufal tetap tersenyum ramah. "Halo, um … Aril." Sapaan ini terdengar agak ragu dalam ucapan Naufal, sebab dia kurang mengerti mengenai nama panggilan dari sepupunya yang ini. Yang hanya Naufal ketahui bahwa Ariella itu agak aneh malam ini, dia juga menyadari bahwa semenjak meninggalnya kakek dan nenek buyut Ariella, sepupunya itu berubah lebih dingin. Wajah Lia kecil terlihat dingin. Gendhis buru-buru berkata, "Lia." "Ah, begitu. Halo, Lia." Naufal manggut-manggut mengerti. Tangan Naufal terlihat agak canggung, sebab dia menyadari bahwa Lia kecil tak berniat untuk memberi ucapan selamat dan jabatan tangan padanya. Alhasil, Naufal berusaha mencairkan suasana dan menunjuk ke arah menu yang tersedia. "Mari cicipi makanan dan minuman. Ayo!" Gendhis mengangguk. "Baik." Dia melirik ke arah Lia kecil. "Ayo!" Gendhis menarik tangan Lia kecil mendekati meja prasmanan yang diatur dengan indah. Naufal hanya melihat selama beberapa detik ke arah kepergian Gendhis dan Lia kecil, lalu dia berpelukan dengan adik kandung dari sang nenek. "Opal sayang, selamat! Nenek Gea bangga padamu, akhirnya kamu sudah menyelesaikan studi sarjana," ujar Gea. Naufal mengangguk. "Nenek Gea, terima kasih." "Sama-sama," balas Naufal. Beberapa pelayan buru-buru meletakan kursi untuk Gea duduk. Busran mentos ala pria dengan Naufal. "Kalau bisa lanjut ambil master, ayo ambil!" ujar Busran penuh semangat. Gaishan yang berada di samping sang ayah memutar bola matanya. "Ya kali tipe-tipe malas kayak Opal ini mau langsung lanjut studi lagi. Dia maunya ongkang-ongkang kaki santai di rumah! bukan pergi belajar lagi, pintar kagak, stres iya!" ujar Gaishan. Busran mencibir ke arah Gaishan. "Di dalam keluarga, kamu yang begitu malas. Cuma tamatan sarjana!" Naufal tertawa lucu. Kalau sudah bertemu duo ayah dan anak itu, pasti akan terjadi cekcok keluarga. "Sebenarnya, Opal mau istirahat di rumah selama setahun," ujar Naufal. "Eh?! jadi kamu nggak mau langsung kerja?" Busran agak melebarkan matanya. "Kek, Opal masih bingung," ujar Naufal. "Bingung kenapa?" tanya Busran. "Masih bingung dengan masa depan Opal sendiri. Setelah lulus, apakah ingin bekerja ataukah berdiam diri dulu di rumah," jawab Naufal. Busran mengangguk mengerti. "Kakek Busran ngerti. Ini masalah masa depanmu sendiri, ayo kamu renungkan dan rencanakan baik-baik masa depan kamu." "Baik, Kek." Naufal mengangguk. Di sisi lain tempat itu, Gendhis memberikan sepiring berisi makanan pada Lia kecil. Wajah Lia kecil yang tadinya melihat serius ke arah langit gelap bertabur bintang, kini melirik ke arah depannya yang telah ada piring makanan. "Lia, aku tahu kamu akhir-akhir ini kurang memperhatikan pola makanmu," ujar Gendhis. Piring itu belum diterima oleh Lia kecil. "Apakah Bundamu yang memberi tahu?" tanya Lia kecil. Gendhis menggelengkan kepalanya. "Tidak." "Seorang sahabat tahu pasti mengenai sahabatnya, meskipun itu adalah hal sekecil apapun, dia akan tahu," ujar Gendhis. "Pipimu terlihat agak tirus," sambung Gendhis. Lia kecil menerima piring makanan. Mereka duduk sambil menggantungkan kaki membelakangi orang-orang yang sedang bersenda gurau di tempat pesta. "Kamu merindukan suara Nenek Lia?" tanya Gendhis. Lia kecil mengangguk. "Aku juga merindukan suara Almarhumah nenekku. Tapi, Bunda selalu bilang, manusia itu adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah tidak abadi. Begitu pula apa yang ada di sekitar kita, semua hanya fana. Kelahiran dan kematian itu adalah sebuah siklus," ujar Gendhis. "Jika ada kelahiran, maka pasti ada kematian. Sebab, keabadian adalah hanya milik Allah," ujar Gendhis. Kali ini Lia kecil menjadi pendengar. "Lia, aku tahu, kepergian Kakek Agri dan Nenek Lia adalah mendadak untukmu, tapi apakah kamu pernah berpikir bahwa orang yang hendak meninggal seperti tahu bahwa mereka tidak lama lagi akan berpisah dengan keluarga dan orang yang mereka cintai?" tanya Gendhis. Lia kecil menatap mata Gendhis. "Mereka tahu bahwa mereka akan segera meninggal?" Gendhis mengangguk. "Ya." "Bagaimana mereka tahu, Kakek Agri tak memberitahuku sebelum meninggal," ujar Lia kecil. Gendhis tersenyum kecil. "Apakah kamu tahu bahwa pesan-pesan sebelum kematian orang yang kita sayangi adalah salah satu bentuk pertanda bahwa mereka memberi kode atau isyarat bahwa mereka tidak akan lama lagi hidup." Lia kecil terdiam. "Seperti berpesan padamu bahwa kamu harus jadi baik, rajin belajar dan menyayangi orang," ujar Gendhis. Mata Lia kecil terlihat tak berkedip, beberapa detik kemudian dia mengingat suatu ingatan ketika pagi hari saat sarapan ketika sang Nenek mengusap punggung tangannya sambil berkata bahwa jadilah baik dan lindungi orang-orang. Setelah mengingat itu, Lia kecil menatap Gendhis. "Didi," panggil Lia kecil pelan. "Ya?" sahut Gendhis. "Apakah kau tahu bahwa aku di sini tidak sendirian?" tanya Lia kecil. Wajah Gendhis terlihat diam. Dia dan Lia kecil saling menatap. Aku di sini tidak sendirian, Gendhis mengerti maksud Lia kecil, itu menyangkut diri Ariella dan kepribadiannya. "Aku tidak membedakan kamu dengan siapapun. Bagiku, kamu tetap sahabatku," ujar Gendhis. Tatapan mata Lia kecil terlihat agak menghangat. "Tapi kamu hanya perlu tau ini, kamu harus bisa melindungi dirimu sendiri, jangan biarkan dirimu terluka, baik hati dan anggota badanmu. Jadi, jangan dengarkan perkataan orang lain," ujar Gendhis. Beberapa detik sunyi. Kemudian terdengar suara Lia kecil. "Didi, jika aku telah memutuskan ke mana masa depanku, apakah kamu akan mendukungku?" Gendhis mengangguk tanpa ragu. "Aku telah menentukan ke mana aku ingin pergi, seperti kamu yang menentukan masa depanmu ingin menjadi dokter," ujar Lia kecil. "Kamu ingin ke mana?" tanya Gendhis. "Aku ingin melindungi orang-orang," jawab Lia kecil. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD