Chapter 22

1551 Words
Dua bulan kemudian. Keluarga Nabhan sedang melakukan makan malam. Semua orang yang mana di ruang makan itu tampak diam dan sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Tak ada lagi orang yang sering berceloteh pikun di depan meja makan karena orang yang sering bercerita di saat makan telah tiada terhitung sudah dua bulan yang lalu. Wajah semua orang terlihat serius, bahkan Anas pun tak luput. Anak laki-laki pasangan Aqlam dan Chana ini makan dengan gaya elegan dan tanpa suara. Suara langkah kaki terdengar. Itu adalah kepala pelayan. "Maaf Tuan Besar, Nyonya, saya telah lancang mengganggu waktu makan malam keluarga," ujar kepala pelayan ke arah Farel. "Ada apa?" tanya Farel setelah menghentikan sementara aktivitasnya. "Ada surat dari instansi TNI, tepatnya dari akademi militer, surat itu ditujukan kepala Nona Ariella," jawab kepala pelayan. Meja makan sunyi seketika. Para anggota keluarga melirik ke arah Lia kecil. Farel dan Nibras saling melirik. Baru kali ini ada surat resmi dari instansi TNI untuk Ariella. Untuk Ariella bukan untuk Lia Kecil. "Lia, itu ada surat untukmu?" tanya Farel dengan nada hati-hati. "Ya, untukku," jawab Lia kecil. Farel mengangguk mengerti, dia melirik ke arah kepala pelayan. "Bawa ke sini suratnya!" perintah Farel. "Baik Tuan Besar," sahut kepala pelayan. Kepala pelayan berjalan menjauh dari ruang makan. Semua orang merasa penasaran dengan isi surat itu. Mereka ingin bertanya, namun harus menunggu surat itu datang ke tangan si penerima. "Lia, apakah kamu mendaftarkan diri di kejuaraan menembak?" tanya Farel yang sudah tidak tahan lagi ingin bertanya langsung pada Lia kecil. "Tidak," jawab Lia kecil. "Lalu apakah kamu pernah mengirim surat ke akademi militer untuk menjadi tutor tembak?" tanya Farel. "Tidak," jawab Lia kecil. "Ah begitu … mungkinkah Aril pernah menulis surat untuk instansi TNI?" gumam Farel. Arah lirikan mata Lia kecil menatap datar ke arah Farel, kemudian dia berkata, "Gadis penakut seperti dia tidak akan berani." Farel hanya menelan canggung air ludahnya. Aqlam dan Chana kembali makan, mereka merasa bahwa lebih baik mengurusi urusan mereka sendiri daripada mencampuri urusan orang lain. Kepala pelayan kembali lagi ke ruang makan, dia memberikan amplop dengan sopan ke arah Lia kecil. Lia kecil menerima amplop itu dan wajahnya serius menatap keluarganya kemudian dia berkata dengan nada datar namun tak terburu-buru. "Aku telah mendengar hasil kelulusanku sebelumnya." Semua orang menatap ke arah Lia kecil, termasuk Aqlam dan Chana. Lia kecil membuka amplop itu dan membaca isinya, senyum miring tercetak walaupun itu agak kecil. Mata Lia kecil menatap ke arah Farel, kemudian dia berkata, "Aku diterima di Akademi akademi jalur prestasi." Sunyi. Tiga detik kemudian. "Apa?!" semua orang terbelalak. "Lia, apa maksud kamu diterima di akademi militer? maksudnya kamu jadi tentara?!" Farel bagaikan kebakaran jenggot. Semua orang terlihat kaget setelah mendengar ucapan Lia kecil. "Bukankah sudah jelas bagi Kakek Farel tujuan masuk ke TNI itu untuk menjadi tentara?" Lia kecil tak menjawab pertanyaan dari Farel. "Tapi, Lia! ini! bagaimana kamu bisa memutuskan hal sebesar ini tanpa bicara lebih dulu pada Kakek Farel?" wajah Farel terlihat tidak tenang, begitu pula dengan keluarga yang berada di ruang itu. Chana memandang wajah Lia kecil, kemudian dia melirik ke arah sang suami, wajah suaminya terlihat biasa saja dan sama sekali tak terkejut seperti dirinya. "Untuk apa aku harus membicarakan keputusanku dengan Kakek Farel?" tanya Lia kecil. "Lia, bukankah aku kakekmu juga?" tanya Farel. "Bahkan kakekku Busran saja tak aku beritahu," ujar Lia kecil datar. Wajah Farel berubah agak kecewa, dia memang kecewa, namun tak bisa berbuat apapun, toh gadis yang di depannya itu bukanlah cucu kandungnya. Sang adik saja yang menjadi kakek kandung dari gadis itu tak diberitahu, apalagi dia? "Lia, kapan kamu berpikir untuk masuk TNI dan jadi tentara?" tanya Nibras. "Dua bulan yang lalu," jawab Lia kecil. Dua bulan yang lalu, itu adalah bulan di mana keluarga besar Nabhan sedang berduka. "Ini … apakah itu setelah Kakek Agri dan Nenek Lia meninggal ataukah sebelum?" tanya Nibras. "Sesudah," jawab Lia kecil singkat. "Jika Om Ibas boleh tahu, alasan apa kamu ingin masuk TNI?" tanya Nibras. "Menjadi tentara," jawab Lia kecil. Nibras terlihat menelan ludahnya. "Apa alasan kamu ingin menjadi tentara?" tanya Nibras. "Apakah aku harus katakan semuanya pada Om?" tanya Lia kecil. Dia tidak terlalu suka jika sudah membalas pertanyaan orang lain dengan pertanyaan. "Baik, Om tidak akan bertanya lebih," ujar Nibras. Chana melihat amplop itu, dia berkata, "Apakah itu surat dari akademi militer?" Lia kecil mengangguk. "Ya, benar." "Kamu akan masuk akademi militer dengan jalur prestasi?" tanya Chana. Lia kecil mengangguk. "Ya." "Kamu ingin berada di angkatan apa?" tanya Chana. "Angkatan darat," jawab Lia kecil. Chana melirik ke arah suaminya. "Kamu sudah benar-benar memutuskan untuk melepaskan kewarganegaraan Perancis?" tanya Aqlam. "Sudah," jawab Lia kecil. "Kamu akan mengikuti pendidikan Akmil selama kurang lebih empat tahun, apakah kamu tidak keberatan?" tanya Aqlam. "Tidak," jawab Lia kecil. "Meskipun kamu tetap ingin masuk akademi militer, tetaplah beritahu Kakek Busran dan orangtuamu," ujar Aqlam. "Baik," sahut Lia kecil. * "Apa?!" Busran melotot lebar. Dia bahkan hampir jantungan setelah mendengar ucapan dari kakak laki-lakinya yang memberi tahu bahwa sang cucu perempuan telah diterima di akademi militer. "Kakak, jangan bercanda! jangan bikin aku jantungan! mau aku cepat mati?!" hardik Busran marah. "Untuk apa aku bercanda?! sama sekali tidak ada untung!" balas Farel. "Bagaimana bisa Aril masuk akademi militer?!" tanya Busran sakit kepala. "Mana aku tau! cucu perempuanmu benar-benar menakutkan aku! aku yang pertama mendengar keputusannya saja hampir jantungan," jawab Farel. "Astagfirullah, tiba-tiba otot leherku tegang, cucuku Aril, ada apa denganmu?! akademi militer itu keras, Nak!" Busran menangis. Gea buru-buru mengusap punggung sang suami. Dia juga tidak menyangka sang cucu masuk akademi militer. "Telepon Eric dan Sira," pinta Gea. Busran mengusap matanya. "Kak, aku tutup dulu teleponnya." "Baik. Assalamualaikum," sahut Farel. "Waalaikumusalam," balas Busran. Panggilan diakhiri. Busran menatap istrinya, kemudian dia menangis lagi. "Aku tidak tau, kenapa cucu perempuan kita jadi begini. Dia memutuskan semuanya tanpa membicarakan hal ini pada kita, bahkan Papa dan Mamanya pun tak diberi tau." "Tenang dulu. Jangan menangis, kau malah membuatku ingin ikut menangis," ujar Gea. "Bagaimana aku tidak menangis sayang, sudah dua bulan Aril tak muncul, yang muncul hanya Lia kecil, hatiku sakit! apalagi setelah mendengar kabar dia akan masuk akademi militer, bagaimana jika esok lusa Aril yang muncul? dia pasti akan sangat kebingungan dan ketakutan. Cucu kita Aril itu sangat lembut dan pemalu! hu hu hu hu hu! Aril cucuku! Aril cucuku! Aril cucuku!" Buatan malah lebih keras menangis. Di dalam kamar lain, Fathiyah dan Gaishan terlihat diam dan serius mendengar tangisan dari Busran. "Papa menangis kenapa?" tanya Fathiyah. Gaishan mengerikan dua bahu. "Nggak tau." Fathiyah turun dari ranjang dan keluar kamar. Gaishan mengikuti. Suami istri ini mendekat ke kamar orangtua mereka dan menguping apa yang terjadi dari dalam. "Jika dia masuk akademi militer itu berarti dia tidak akan lagi memiliki kewarganegaraan Perancis, umurnya pun sudah delapan belas tahun dan undang-undang mengatakan bahwa kewarganegaraan ganda dari seorang anak dari salah satu orang tua WNI dan yang lain WNA hanya sampai pada batas umur delapan belas," ujar Gea dari dalam kamar. Fathiyah melirik ke arah sang suami. "Maksudnya apa? siapa yang melepas kewarganegaraan Perancis dan masuk akademi militer?" Gaishan memberi isyarat diam, dia menguping lagi di depan pintu. "Hu hu hu hu! tapi tetap saja, aku tidak terima! maksudnya apa?! Lia kecil itu ingin menguasai tubuh cucu kita, kamu lihat sayang, bahkan dia sangat dominan ingin masuk akademi militer! dia ingin menakuti cucu kita Aril dan membuatnya tidak bisa muncul selamanya!" balasan dari Busran. Mata Gaishan melotot. Celaka, keponakan perempuannya masuk akademi militer! * Bruk! Handphone yang menempel di telinga kiri Bushra terjatuh ke lantai yang dilapisi karpet. Wajah Eric terlihat stres, dia beberapa kali mengurut belakang lehernya. Bushra terduduk di sofa, kemudian air matanya jatuh. "Eric, dua bulan anak kita tak muncul, aku pikir setelah Papa menelepon, aku bisa mendengar kabar baik, tapi kabar apa ini? anak kita bahkan melepaskan kewarganegaraan Perancis tanpa bicara pada kita, jika dia tidak ingin bicara denganku, setidaknya bicaralah denganmu yang adalah Papanya!" Bushra tidak bisa menerima semua ini. "Kenapa Lia kecil jadi egois dan tidak peduli pada siapapun? kenapa?!" Bushra benar-benar terlihat syok dan stres. "Jika dia masuk akademi militer, lalu bagaimana dengan Aril? Aril bahkan tak bisa memegang pistol! hu hu hu!" Bushra menangis sedih dan marah. Setelah mengurut belakang lehernya, Eric memijat pangkal hidungnya. "Dia mendaftarkan diri di akademi militer dengan jalur prestasi, yang memiliki banyak prestasi yaitu Lia kecil, bukan Ariella, namun Lia kecil mencuri nama Ariella!" Eric terlihat marah. Eric buru-buru menelpon ke Jakarta, tepatnya di kediaman utama Nabhan. Panggilan tersambung. "Halo," ujar orang dari seberang. "Ibas, aku ingin bicara dengan Lia kecil!" suara Eric terdengar begitu tegas. "Aku akan mencoba memberi tahu dia, tunggu sebentar," balas Nibras. Selama beberapa lama, Nibras berjalan mendekat ke arah kamar Lia kecil. Tok tok tok! Bunyi ketukan pintu yang dilakukan oleh Nibras di pintu kamar Ariella. "Lia, Papa Eric ingin bicara denganmu!" Nibras memberi tahu. "Besok saja!" balas Lia kecil. "Tapi akan ada perbedaan waktu antara Jakarta dan Ottawa," balas Nibras. "Aku ingin istirahat!" ujar Lia kecil. "Lia, Om Ibas tidak ingin mencampuri urusan kamu, tapi tolong, Papa dan Mamamu di Kanada pasti merasa syok dengan keputusan kamu. Tolong bicara dan jelaskan pada mereka agar mereka tak khawatir!" ujar Nibras. Beberapa detik sunyi, kemudian pintu kamar terbuka, muncul wajah datar Lia kecil tanpa ekspresi. Matanya dingin saat menatap ponsel yang berada di tangan Nibras. "Mereka tidak mengkhawatirkan aku, mereka mengkhawatirkan Ariella," ujar Lia kecil. *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD