Duabelas: Tentang Hal-Hal yang Membuatmu Tersenyum

1901 Words
Rio si ketua OSIS itu nampak berdiri di depan gerbang sekolah, matanya terus memerhatikan satu persatu siswa yang berlarian berpacu dengan waktu, takut kalau gerbang lebih dulu ditutup sebab memang satu menit lagi bel masuk akan berbunyi. Tidak, Rio sedang tidak berjaga dan memberi hukuman pada siswa yang terlambat, sebab di sebelah sana, tepat di ambang gerbang ada lelaki buncit dengan celana training serta peluitnya yang menggantung di leher yang siap memaki para siswa yang kurang beruntung melawan waktu pagi ini. Rio melirik arloji hitam yang melingkar di tangan kanannya, bersamaan dengan teriakkan dari sang guru olahraga yang bertugas mendisiplinkan siswa yang masih belum tepat waktu hari ini. "Ayo cepat! Gerbang akan segera saya tutup!" Beberapa siswa seketika kembali mempercepat laju larinya sambil merajuk memohon agar gerbang jangan dulu ditutup. Sementara itu, setelah Rio telah menemukan sosok yang sedari tadi ia tunggu, sesegera mungkin lelaki itu menahan sang guru yang hendak menutup gerbang dengan berpura-pura mengikat tali sepatunya. Padahal, tali sepatu Rio telah terikat sempurna sebelumnya, namun ia memilih untuk melepasnya dan malah kembali mengikatnya. Sesekali Rio melirik kebelakang, matanya tertuju pada seorang gadis yang tengah berlari susah payah agar bisa segera tiba di sekolah sebelum gerbang tertutup. Karena kalau tidak, maka gadis itu mau tidak mau akan menjalani hukuman yang sebetulnya sudah sangat sering ia jalani bahkan hampir setiap pagi. Tali sepatu Rio sudah kembali tersimpul sempurna. Namun gadis itu masih berada di belakang. Tak kehabisan cara, Rio kembali menahan sang guru. "Ehm, Pak. Pagi ini sangat cerah bukan?" Ucap Rio basa-basi. Gura olahraganya pun mengangguk dengan ekspresi sedikit bingung. "Ya, Benar. Pagi ini cerah. Kenapa?" "Karena itu, aku punya hadiah untukmu!" Ujar Rio sembari merogoh sesuatu dari dalam tas hitam miliknya. Tak lupa matanya yang masih sesekali menoleh untuk memastikan kalau gadis yang sedari tadi ia tunggu itu sudah semakin dekat. "Hadiah?" Tanya sang guru yang semakin bingung dibuatnya. Pun selagi Rio merogoh tasnya, gadis berambut panjang itu pun akhirnya berlari melintasi Rio yang masih berdiri di ambang gerbang. Setelah melihat gadis itu sudah memasuki halaman sekolah, Rio menyimpulkan senyum tenang. "Ini, semoga harimu menyenangkan!" Sebungkus Pie Cokelat yang seharusnya menjadi santapannya pagi ini, mau tidak mau ia serahkan kepada sang guru sebagai hadiah demi mengulur waktu, demi gadis itu tidak mendapat hukuman pagi ini karena terlambat. Ya, gadis itu, Disa. "Ya ampun, lihatlah anak itu. Selain tampan dan pintar ternyata dia juga sangat manis dan baik hati!" Ujar sang guru entah pada siapa, dan entah kenapa juga pipinya malah menimbulkan semburat merah setelah menerima Pie Coklat dari Rio. "Hey! Berhenti di situ! Sudah jam berapa ini hah?!" Namun dalam hitungan detik, wajahnya kembali menjadi garang dan gerbang pun segera ditutupnya. Murid-murid yang kurang beruntung pagi ini terpaksa harus terhenti langkahnya di luar gerbang. * "Disa, kau tidak pulang?" Tanya Rita sembari menggendong ranselnya ke pundak. "Tidak mungkin aku menginap, Rita." Sahut Disa asal. Fokusnya tak terusik sama sekali. Tangannya dipaksa gesit membawa pena menorehkan kata demi kata pada buku tugasnya. "Ya, maksudku kau tidak akan pulang sekarang?" Kali ini Rita tidak mendapat jawaban sama sekali atas tanyanya. Rekan sekelasnya itu nampaknya betul-betul tengah fokus akan apa yang tengah ia kerjakan. "Ayolah Disa, tenggatnya jam 3 sore tadi. Sampai mati pun kau berusaha tugasmu tidak akan diterima! Lagipula apa saja yang kau lakukan di rumah sampai-sampai lupa mengerjakan tugas seperti ini?" ujar Rita. Mendengar itu, Disa sejenak menghentikan aktifitasnya, meletakkan pena yang sedari tadi ia gunakan dan melayangkan tatapannya pada Rita. "Aku hanya perlu menunggu ruangan guru sepi dan meletakkan buku tugasku di tumpukkan buku tugas kalian. Mudah bukan?" Jawab Disa enteng. Rita menghela napas. Rekannya itu memang agak keras kepala. "Baiklah, kalau begitu aku duluan. Kau tidak apa-apa sendirian di sini? Ini sudah petang." Disa mengangguk, "tidak apa, pulanglah! Hati-hati di jalan!" Detik berikutnya, Disa kembali fokus pada tugasnya, bersamaan dengan Rita yang membawa langkahnya keluar kelas meninggalkan Disa sendirian di sana. Jarum jam terus berdetik, sementara Disa masih juga belum usik. Pun hari sudah semakin petang, gadis itu benar-benar tak lagi memedulikan dirinya yang kini tinggal sendirian, ia masih terus berkutat pada tugas yang tenggat waktunya sudah lewat itu. "Selesaaaiii!" Seru Disa yang lantas melempar asal pena ke atas meja, kedua tangannya di angkat ke atas guna meregangkan otot-ototnya yang terasa sedikit kaku sebab terlalu lama terduduk sambil menulis. "Ahh sekarang aku hanya perlu menyimpan ini di ruang guru." Ujarnya sembari bangkit, kakinya lantas melangkah meninggalkan kelas, dengan tak lupa membawa buku tugasnya. Disa membolak-balikkan buku tugas yang dibawanya, memastikan kalau ia sudah betul-betul mengerjakan semuanya dan tak ada yang terlewat, sambil kakinya terus melangkah menyusuri koridor yang tentunya sudah sepi. Sebab sekolah sudah bubar sejak satu setengah jam yang lalu. "Disa? Kau masih di sini?" Pun gadis itu menoleh, untuk melihat siapa pemilik suara yang menyapanya itu. "Oh, Kak Rio? Belum pulang?" Alih-alih menjawab, ia malah melempar lagi pertanyaan serupa pada Rio. Rio mengulas senyum. Senyum tipis namun terkesan tulus dan pasti tepat mendarat pada hati siapa pun yang melihatnya. "Biasa, urusan OSIS," Jawabnya. "Kau sendiri?" Disa menunjukkan buku tugas yang sedari tadi dibawanya. "Mengumpulkan tugas." "Ke ruang guru?" Sebuah anggukan pun Disa berikan sebagai jawabannya. "Biar ku antar!" Baru saja Disa menarik napas bersiap mengatakan sesuatu, namun Rio dengan sesegera mungkin mencegahnya. "Ssstt! Aku tidak terima penolakan." Dan benar, Disa pun tak kuasa menolak. Gadis itu hanya terkekeh dan memberik anggukan. "Baiklah, ayo!" Ajak Disa. Keduanya pun berjalan beriringan menuju ruang guru. Dengan pandangan Rio yang masih terpatri pada wajah Disa. Ya, sejak berpapasan tadi, kedua mata Rio rasanya enggan menatap ke arah lain. Senyum yang terlukis di wajah gadis itu, binar matanya, suaranya, semua bagai sebuah candu bagi Rio yang selalu ingin ia jumpai lagi dan lagi. "Aish! Dimana ia menyimpannya?!" Gerutu Disa yang setengah frustasi sebab ia belum menemukan dimana tumpukan buku tugas sejarah agar ia bisa menyimpan tugasnya tanpa gurunya ketahui, sebab kalau tidak, habislah ia. Guru sejarahnya itu memang terkenal sebagai guru killer yang tak kenal kata ampun. Tak ada toleransi bagi siswa yang telat mengumpulkan tugas. "Mungkin di lemari itu." Kata Rio. Disa mengikuti kemana arah jemari Rio menunjuk. Sebuah lemari tua yang berada di sudut ruangan. Lemari yang tingginya melebihi tinggi orang dewasa itu memang kerap digunakan oleh para guru untuk menyimpan tugas-tugas siswanya. Di atasnya juga tersusun tumpukan kardus yang berisi tugas-tugas lama maupun buku-buku bekas yang tak lagi terpakai. Aish, seharusnya mereka menyumbangkan itu bukan malah menumpuknya seperti ini. "Sial! Ini tidak bisa terbuka! Kak Rio, apa kau tahu di mana kuncinya?" Lagi-lagi Disa menggerutu. Gadis itu terus berusaha membuka pintu lemari tua tersebut. Disa menariknya dengan cukup keras sebab dibumbui dengan sedikit emosi, sampai-sampai membuat lemari itu berguncang. Belum sempat memberi jawaban, Rio malah membelalakan matanya dan dengan sigap mengambil langkah cepat mendekat ke arah Disa, bersamaan dengan Disa yang juga membalikkan posisi badannya menjadi menghadap ke arah datangnya Rio. Waktu berjalan lambat seperti adegan slowmotion pada film ketika Rio beraksi menahan tumpukan kardus di atas lemari yang nyaris terjatuh menimpa Disa. Yang mana adegan tersebut menjadikan keduanya bertatapan dalam jarak yang cukup dekat. Disa terbelalak, matanya mengerjap beberapa kali. "T-terima kasih!" Ucapnya gerogi. Sial. Situasi ini ternyata justru malah membuat keduanya sedikit canggung. Menyadari hal itu, Rio lantas cepat-cepat mengubah posisinya. Pun Disa segera bergeser, mempersilakan Rio untuk membantunya membuka pintu lemari agar ia bisa menyimpan tugasnya dan bergegas pergi dari sini. Bergegas meninggalkan situasi canggung ini. "Ini tidak terkunci." Kata Rio. Setelah dengan mudahnya membuka pintu lemari, tidak seperti Disa yang mesti menggunakan tenaga dalam sampai-sampai membuat dirinya sendiri hampir tertiban kardus. "Ah, Terima kasih. Kenapa tadi sulit sekali dibuka?" Pertanyaan itu lebih tepatnya Disa ucapkan pada dirinya sendiri, sebab ia memelankan nada suaranya begitu mengatakannya barusan. "Ya, benar! Kita punya banyak buku tidak terpakai di ruang guru, ayo kita lihat sekarang!" Disa dan Rio saling berpandangan. Keduanya menyiratkan tatapan panik. Suara dari luar yang barusan meraka dengar adalah suara guru olahraga mereka yang biasa memberikan hukuman bagi para siswa yang terlibat masalah. Jika guru olahraganya itu menemukan mereka di sini, maka sudah pasti mereka akan dihujani beragam pertanyaan dan urusan bisa memanjang. Melihat pintu lemari yang sudah berhasil dibuka, tanpa pikir panjang, Rio menggiring Disa untuk bersembunyi ke dalam lemari. Disa yang panik pun segera masuk dan... di sinilah keduanya kembali berhadapan dengan jarak yang hanya beberapa inchi saja. Rio benar-benar tak kuasa kali ini. Lelaki itu menampilkan semburat merah pada pipinya, sesekali ia menatap wajah Disa yang hanya mampu menatap dadanya sebab gadis itu memang sangatlah mungil. Namun, ketika Disa mendongakkan wajah paniknya itu untuk menatap Rio, lelaki itu malah memilih untuk membuang pandangannya ke arah lain, takut kalau Disa dapat melihat wajahnya yang kini sudah memerah bagai kepiting rebus. Pun ia berusaha mengatur napasnya, Rio juga takut kalau Disa dapat mendengar debaran jantungnya yang tak lagi bisa terkendali. "Lihatlah lemari ini!" Mendengar itu, Disa dan Rio lantas terbelalak. Bagaimana kalau gurunya membuka lemari dan menemukan mereka ada di dalam sini? Bukankah itu akan semakin runyam? "Ini sudah sangat tua dan terkadang sulit untuk membukanya, sepertinya kita juga perlu menggantinya. Besok aku akan mengkoordinasikannya bersama guru lain untuk memilah apa saja yang sepertinya perlu diganti. Ayo kita ke ruangan lain!" "Huhhh!" Helaan napas terdengar dari keduanya. Dan begitu mendengar langkah sang guru yang sudah meninggalkan ruangan, Rio membuka pintu lemari perlahan dan keluar dari persembunyiannya, disusul oleh Disa yang masih membawa buku tugasnya itu. "Ah, sepertinya di sana!" Seru Disa yang melihat tumpukan buku di sudut meja sang guru, pun gadis itu berlari untuk segera memeriksa apakah benar itu tumpukan buku tugas sejarah ataukah ia mesti mencarinya lagi. "Ah, benar! Akhirnyaaaa...." Ucap Disa lega. "Disa, hari sudah hampir gelap. Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang sendirian, biarkan aku mengantarmu, ya." Ujar Rio. Benar saja, begitu Disa menoleh ke arah jendela, di luar sana hari sudah semakin gelap. Kalau mesti naik kendaraan umum pun sudah pasti Disa harus menunggu paling tidak setengah jam, sepertinya diantar oleh Rio bukanlah ide yang buruk. *** Sepasang anak manusia melangkah beriringan di bawah barisan pepohonan yang menghujani mereka dengan bunga yang gugur. Bahkan keduanya masih mengenakan seragam sekolah. Sang gadis nampaknya begitu menikmati keindahan malam ini, juga menikmati es krim yang baru saja mereka beli di toserba seberang sana. "Kak Rio, terima kasih banyak atas es krimnya, ya!" Lelaki dengan name tag seragam Rio itu pun mengulas senyum. Ah, tidak-tidak, senyumnya bahkan sudah terlukis sedari tadi. Entah sejak kapan, yang jelas, senyum itu tak pernah luntur kalau dirinya tengah bersama dengan gadis ini. "Sama-sama, Disa." Ya, Disa. Gadis yang tidak pernah tidak berhasil membuat hati Rio beretekuk lutut, yang tidak pernah memudarkan senyum pada wajah Rio, yang tidak pernah bisa membuat tatapan Rio berpaling ke arah lain. Disa, bagaikan pusat semesta bagi Rio. "Kau tahu? Saat aku masih kecil, ayahku selalu bilang, kalau kau berhasil menangkap kelopak bunga yang gugur, maka harapanmu bisa terkabul! Dan saat itu juga aku akan berlarian menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk menangkap satu kelopak saja!" Celoteh Disa. "Benarkah? Apa butuh waktu selama itu hanya untuk menangkap satu kelopak?" Tanya Rio tidak percaya. Disa mengangguk antusias, matanya berbinar. Rio sangat suka itu. "Cobalah! Itu tak semudah yang kau bayangkan!" Sialnya, di luar dugaan. Hanya dalam sepersekian detik Rio sudah berhasil menggenggam kelopak bunga yang berguguran itu. "Woah!" Seru keduanya bersamaan. "Bagaimana bisa?" Kini giliran Disa yang tak percaya. "Entahlah!" "Kalau begitu, sekarang, apa harapanmu?" Rio terdiam sejenak, "Harapanku?" Lelaki itu nampak berpikir sejenak, tatapannya jatuh pada kedua mata Disa terlalu dalam. "Hmmm.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD