"Kemampuan yang mengantarmu ke pertandingan ini." Ujar lelaki yang berdiri di hadapan Aksa, sementara Aksa sendiri hanya terdiam menghela napas pelan, sebelum pada detik berikutnya ia menundukkan kepala, memilih untuk menatap ujung sepatu yang ia kenakan.
"Kemampuan?" Batinnya.
Kian lama pandangannya kian mengabur, melebur pada memori beberapa tahun yang lalu.
Bocah lelaki itu seketika terpaku, raket tenis melepaskan diri dari genggaman, terjun bebas dan terdampar tepat di sebelah kakinya. Waktu seolah melambat dalam dimensi bocah itu, matanya yang kecil menyaksikan sang lawan yang secara tiba-tiba terkapar di tengah lapang sesaat setelah ia melayangkan pukulan keras andalannya di setiap pertandingan guna mematikan lawan. Namun, ia tak pernah menyangka kalau pukulannya itu bisa benar-benar mematikan.
Pertandingan terpaksa dihentikan, beberapa tim medis dan dengan sigap terjun ke lapangan untuk memberikan pertolongan pertama. Teriakan histeris serta isak terdengar riuh dari bangku penonton. Ini membuat bocah lelaki itu semakin gemetar. Ia memang tak pandai mengekspresikan perasaannya, tapi kali ini nampak begitu jelas tangannya betul-betul gemetaran, bahkan peluh mulai membasahi keningnya menggambarkan rasa ketakutan.
"Tidak apa-apa, Aksa! Tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja." Ketika semua perhatian tertuju pada bocah yang masih terbaring di seberang sana, tiba-tiba saja Aksa kecil merasakan seseorang membawanya ke dalam dekapan. Sebuah tangan besar dengan penuh kasih sayang mendarat serta membelai lembut punggung Aksa, memberikan ketenangan sekaligus kekuatan bagi bocah berusia sepuluh tahun itu. Dan tanpa sadar, cairan bening pun menetes dari ujung matanya membasahi pipi.
Tenggelam dalam dekapannya, alhasil sang papa membawa Aksa keluar dari lapangan. Memberikan sebotol mineral sambil terus menerus berusaha menenangkan putranya yang ia tahu pasti kini sedang terguncang.
"Tidak apa-apa, Aksa... Apapun yang terjadi nanti, semua ini bukan kesalahanmu...." Ujarnya.
Tak menampik, tepat ketika sang papa membawanya ke dalam dekapan, Aksa memang merasa sedikit agak tenang dari sebelumnya. Suasana lapangan sudah tak seriuh tadi, sebab bocah yang tak sadarkan diri itu sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sementara Aksa masih terduduk geming sembari memegangi botol mineral yang baru diminumnya seteguk. Sampai ia melihat sang papa menghampiri seorang lelaki yang ia tahu merupakan salah satu panitia pertandingan tenis antar sekolah ini. Pun Aksa bangkit dan membawa kakinya untuk melangkah lebih dekat pada sang papa yang terlihat tengah terlibat pembicaraan amat serius.
"Tapi... nyawanya tidak bisa diselamatkan."
Dan, hari itu menjadi hari terakhir bagi Aksa menggeluti olahraga tenis. Sang juara yang semula selalu dielu-elukan, kini malah cibiran yang selalu menyapa telinganya. Aksa yang memang lebih banyak diam kini menjadi semakin pendiam, sebab kebanyakan murid di tempatnya bersekolah menganggap bahwa Aksa lah yang menjadi penyebab kematian lawan mainnya yang secara tiba-tiba itu. Pun hal itu berhasil memengaruhi pikirannya, kendati sudah berkali-kali dijelaskan kalau sebenarnya lawan mainnya itu memang mengidap penyakit berat yang juga baru diketahui.
"Aku tunggu sepulang sekolah di lapangan, kau harus berlatih hari ini. Aku yakin kau pasti mampu, Aksa!" Ujar lelaki yang berada di depannya, membuyarkan lamunannya yang masih berkeliaran di masa lalu. Aksa hanya menatap dalam diam punggung lelaki itu yang kian lama kian menjauh, helaan napas terdengar sebelum akhirnya Aksa membawa langkahnya putar arah untuk kembali ke kelas.
***
"Bukumu terbalik." Nana bergerak membenarkan buku yang digunakan Disa sebagai tempat persembunyiannya untuk memandangi Aksa dari kejauhan. Ya meski Nana yakin kalau yang dipandanginya juga sadar tanpa Disa harus bersembunyi.
"Bukankah sudah hari ketujuh?" Mendengar itu Disa lantas menoleh. Benar, ini merupakan hari ketujuh Nana mendapati teman sebangkunya itu meletakkan sesuatu secara diam-diam di meja Aksa. Terkadang sepotong roti, s**u kotak, dan yang tak pernah ketinggalan ialah apel merah.
"Apa aku harus memberikannya secara langsung?" Nana sedikit tersentak akan tanya yand Disa lontar. Memang tidak ada salahnya, dan memang kau tidak harus menjadi laki-laki untuk mengekspresikan perasaan lebih dulu, tapi... bukankah jika terlalu terang-terangan justru akan membuat risih? Entahlah, yang Nana pikirkan jika dia memposisikan dirinya sebagai Aksa dan ada seseorang yang selalu meletakkan sesuatu di atas mejanya setiap pagi secara terus-menerus tentu Nana akan merasa risih. Eh, sebentar. Apa Nana baru saja berpikir kalau kau tidak harus menjadi laki-laki untuk mengekspresikan perasaan lebih dulu, memangnya Disa punya perasaan terhadap Aksa?
Nana terdiam selama beberapa detik, menatap teman sebangkunya itu dengan makna terselubung.
Apa Disa menyukai Aksa?
"Kau menyukainya?"
Kali ini giliran Disa yang merasa sedikit tersentak. Matanya membulat dan pipinya perlahan berubah warna merah tomat. Pada detik berikutnya, gadis itu tertunduk menyembunyikan senyumnya yang malu-malu.
Tok Tok
Nihil. Nana tak mendapat jawaban atas pertanyaannya, sebab seorang lelaki yang Nana tahu adalah seniornya itu baru saja mengetuk pintu kelas membuat seluruh pasang mata beralih padanya tak terkecuali dengan Nana sendiri dan juga Disa.
"Permisi, ada Aksa?" Ujarnya dari ambang pintu.
Si pemilik nama tanpa basa-basi lagi lantas mengambil langkah keluar, sementara Disa, entah apa yang ada dipikiran gadis itu sehingga dengan segera ia membuntuti Aksa. Nana sampai tak habis pikir dengan tindakan teman sebangkunya itu. Nana berani bertaruh, hanya dengan melihat ke dalam kedua matanya, siapa pun itu pasti akan tahu kalau Disa menaruh hati pada lelaki sedikit kata, Aksa. Dan yang mengusik pikiran Nana akhir-akhir ini, adalah bagaimana bisa temannya yang terlihat begitu menggilai Aksa, masih juga memberi respon pada Rio dengan amat sangat baik. Bahkan seolah dirinya membuka peluang lebar-lebar untuk Rio.
Sebetulnya, hal ini sangat tidak penting bukan? Mestinya juga tak mengganggu isi kepala Nana apalagi sampai-sampai jam tidurnya tak lagi beraturan belakangan ini. Tapi, Nana hanya butuh kejelasan. Kejelasan bagi dirinya sendiri, kejelasan agar ia bisa ambil langkah yang tepat demi memperjuangkan rasanya yang belum lama ini tumbuh pada Rio. Nana hanya tidak ingin kalau-kalau perjuangannya terhenti di tengah jalan atau bahkan berakhir sia-sia. Dan Nana juga tidak bisa memilih untu tetap diam. Yang ia tahu, rasa, harus tersampaikan pada pemiliknya.
Nana menghela napasnya, gadis itu memilih untuk sejenak memejamkan mata, sekadar menenangkan pikirannya yang masih terus berputar di situ-situ saja. Sepertinya memang benar, selain membutakan, cinta juga membuat seseorang menjadi bodoh.
"Aku tidak tahu apa yang menjadi permasalahanmu, tapi, semoga ini dapat sedikit membantu menenangkanmu." Sebuah suara menyapa pendengaran Nana. Sebaris kalimat yang baru saja didengarnya itu lantas membawa Nana mau tidak mau membuka mata.
Jus jeruk dalam kemasan kotak. Itulah yang peretama kali tertangkap oleh matanya. Sepertinya segar.
Perlahan Nana mendongak, guna melihat wajah lelaki yang berdiri di samping mejanya, lelaki yang memberikannya sekotak jus yang kelihatannya juga baru keluar dari lemari pendingin beberapa saat lalu.
"Kau?"