Limabelas: "Aku Benci Gadis yang Bodoh!"

1375 Words
Tidak seperti biasanya, pagi ini Disa bangun lebih dulu sebelum alarmnya berdering. Padahal, biasanya meskipun alarm berada tepat di sebelah telinganya dan berdering dengan cukup keras, tidur Disa sama sekali tak terusik, gadis itu masih tetap berada di alam mimpinya. Sang Nenek yang baru saja keluar dari pintu kamar keheranan bukan main, mendapati cucunya yang sudah sibuk di dapur sepagi ini. "Pagi, Nek. Aku sudah siapkan roti isi untuk Nenek dan ayah!" Sapa Disa dengan begitu bersemangat. "Apa nanti siang akan ada hujan petir? Kenapa cucuku begitu rajin hari ini?" Ujar sang nenek. "Ahh Nenekkk!" Disa merajuk untuk sesaat. Namun ia tetap pada aktifitasnya. Mengiris apel dan mengisi ruang yang masih kosong pada kotak bekalnya. Kotak bekalnya sudah berisikan dua potong roti selai cokelat dan irisan apel menghiasi di setiap sudutnya. Disa terlihat betul-betul menyiapkannya dengan sepenuh hati. "Selesai!" Serunya. Tak sampai di situ, Disa menyelipkan sebuah kertas berwarna merah muda di dalam kotak bekak tersebut. Setelahnya, sebuah senyuman penuh harapan terlukis pada wajah Disa yang begitu merona pagi ini. Malam sebelumnya... "Disa? Kau baik-baik saja? Apa kau merasa kurang sehat?" Tanya sang nenek, sebab sedari tadi cucunya itu hanya diam termenung seolah tengah memikirkan sesuatu dan begitu lesu. Makan malamnya sama sekali tidak disentuh. "Tidak, Nek. Aku baik-baik saja." Jawabnya. "Ayah, bagaimana Ayah mengungkapkan perasaan pada ibu dulu?" Sang ayah yang tengah asyik menyantap makan malamnya lantas terkejut, kenapa tiba-tiba putrinya menanyakan hal itu? "Mengungkapkan perasaan?" Tanyanya memastikan. Pun Disa memberi sebuah anggukan mantap. Sementara sang ayah terlihat mengingat-ingat kembali sejenak, sampa ia menghentikan aktifitas makan malamnya. "Entahlah... Ayah sendiri tidak yakin apakah Ayah pernah mengungkapkannya atau tidak. Itu terjadi begitu saja. Ayah dan ibu berada di tempat kerja yang sama saat itu. Ayah merasa ibu adalah wanita yang hebat, tangguh, dan benar-benar siap untuk menjadi ibu yang baik bagi anak-anak Ayah nantinya. Jadi, dengan tekad yang sudah bulat dan telah meminta petunjuk kepada Yang Kuasa tentunya, Ayah memberanikan diri untuk segera menemui orangtuanya, menemui Kakekmu, untuk meminta ibu menjadi pendamping hidup Ayah." Tuturnya panjang lebar. "Benarkah? Ayah benar-benar keren!" "Karena bagi Ayah, obat orang yang jatuh cinta itu hanya ada 2 pilihan. Menikah, atau tinggalkan." Tambah sang ayah. "Tapi... Kalau belum siap untuk menikah bagaimana? Dan bagaimana juga kalau perempuan yang mengakui perasaannya lebih dulu?" Mendengar tanya yang baru saja Disa lempar, ayahnya merasa sedikit terkejut, apa putrinya itu sedang jatuh cinta? Namun pada detik yang bersamaan, ia menyadari satu hal, yakni ternyata putrinya bukan lagi putri kecil yang sering tertidur di depan tv hingga ia harus menggendongnya sampai ke kamar. Disa, putri kecilnya perlahan menjelma menjadi dewasa. "Tidak ada salahnya," Sang Nenek yang sedari tadi terdiam akhirnya buka suara. Membuat anak dan cucunya menoleh di saat yang bersamaan. "Tidak ada salahnya jika perempuan mengakui perasaannya lebih dulu. Perasaan memang harus diungkapkan, karena kalau tidak, bagaimana dia bisa tahu?" Lanjutnya. "Cinta itu perlu diperjuangkan, Disa." Sang ayah menambahkan. * "Apa kau membuatkannya untuk dia?" Tanya sang nenek begitu melihat Disa memasukkan kotak bekal ke dalam ransel merah jambunya. "Dia??" Disa tersentak, panik dan kebingungan. Kenapa neneknya bisa bilang begitu? Sang Nenek menyimpulkan senyum, "lelaki yang semalam kau bicarakan. Kau sengaja membuatkan makanan itu untuknya, bukan?" Semakin panik, Disa lantas buru-buru menggelengkan kepalanya sembari cengengesan. "T-tidak Nek, yang semalam aku bicarakan itu... Bukan aku. Tapi... Eum... Ada salah satu temanku. Ya, maksudku, itu cerita tentang temanku. Aku berangkat dulu, Nek. Sampai jumpa!" Setelah memberi penjelasan yang tak keruan, gadis itu segera berlari keluar rumah untuk segera menuju ke sekolah. Sementara sang nenek lagi-lagi hanya mengulas senyum. "Kau tidak bisa membohongi Nenekmu, Disa." Para siswa kelas satu telah mengerubungi mading pagi ini. Pengumuman hasil ujian pertama mereka ternyata sudah dapat dilihat. Aksa yang baru saja datang pun ternyata tertarik untuk menghampiri kerumunan tersebut. "Luar biasa! Aksa menjadi juara umum! Peringkat satu dengan nilai sempurna!" "Dia benar-benar pandai!" "Astaga dia keren sekali!" Dan benar saja. Namanya bertengger di deretan paling atas. Namun, alih-alih bersorak senang karena berhasil menempati peringkat satu dengan nilai sempurna, Aksa malah kembali berbalik arah memisahkan diri dari kerumunan. Sedang Disa, gadis itu baru saja tiba. Melangkah riang menyusuri koridor sembari mendekap kotak makan yang sudah ia buat dengan sepenuh hati. Wajahnya semakin sumringah kala mendapati Aksa yang baru saja keluar dari kerumunan di ujung sana. Kerumunan yang entah apa penyebabnya Disa belum tahu. "Aksa!" Panggilnya, lantas membuat sang pemilik nama menghentikan langkah. Disa berlari kecil ke arahnya. "Selamat pagi!" Sapanya. Namun Aksa yang kini berdiri di hadapannya hanya diam tak berekspresi, apalagi membalas sapaannya, agaknya begitu mustahil. "Aku membuatkan ini untukmu!" Hening menyelimuti keduanya selama beberapa detik, tangan Disa yang terulur demi menyodorkan kotak makan berisi roti isi buatannya itu, belum juga bersambut. Aksa melirik kotak makan tersebut, sebelum pada detik berikutnya ia berdecis. "Bodoh!" Umpatnya, Disa dapat mendengar itu. Namun ia masih tak mengerti apa yang dimaksud dari kata bodoh oleh Aksa. "Bahkan kau sempat membuat ini dengan urutan peringkat terakhir, dasar bodoh!" Ketus Aksa. "Apa?" Kening Disa mengernyit, semakin tak mengerti maksud dari kalimat yang Aksa lontarkan. Terdengar Aksa sempat menghela napasnya malas, "hasil ujian perama." Jawabnya. Matanya melempar ke arah mading, mengisyaratkan kalau hasil ujian sudah berada di sana. "Oh, sudah ada." Kini giliran kening Aksa yang sedikit mengernyit kebingungan kala mendengar jawaban dari Disa. Namun selang beberapa detik, Aksa berdecis sembari menyimpulkan senyum miring yang terkesan merendahkan. "Aku benci gadis yang bodoh!" Sinisnya, dan segera berlalu dan entah sengaja atau tidak, Aksa menyenggol bahu Disa dengan cukup kencang, sampai membuat kotak makannya mendarat bebas di atas lantai. Beruntung makanan yang ada di dalamnya tidak berceceran dan tetap aman. "Berhenti di situ! Aksa!!" Teriak Disa. Gadis itu masih mematung di tempatnya semula, tapi jelas terlihat kalau dirinya dikuasi amarah kali ini. Teriakkannya itu sontak membuat para siswa yang tengah bergerumul di depan mading juga yang berada di sekitar menoleh seketika. "Bukankah itu Disa?" Tanya Rita yang ternyata ada di tengah-tengah kerumunan bersama Nana. Seluruh pasang mata kini hanya tertuju pada Disa dan Aksa. Disa mengambil langkahnya cepat untuk menyusul Aksa. Berdiri di hadapan lelaki itu dengan ekspresi yang berbeda dari sebelumnya. "Iya aku tahu kau memang pandai! Aku tahu kau pandai dalam segala hal! Tapi bisakah kau bersikap baik setidaknya sedikit saja pada orang lain? Kau pikir kau ini siapa?!" Gertak Disa. "Astaga, apa ini? Apa yang dia lakukan?" Rita mulai panik melihat temannya yang ia rasa amarahnya mulai tak terkendali, berbeda dengan Nana yang masih tampak tenang menyaksikan adegan di depan sana. "Setelah meninggalkanku saat seragamku basah terkena tumpahan air, lalu sekarang kau bilang aku bodoh? Kenapa kau selalu mempermalukanku hah?! Apa kau puas sekarang?!" "Bukankah kau yang mempermalukan dirimu sendiri?" Balas Aksa santai tak berdosa. "Lihat ke sekelilingmu, kau tidak akan menjadi tontonan jika tidak membuat keributan begini." Sambungnya. Disa terdiam seketika. Perlahan ia melihat ke sekelilingnya. Benar saja, semuanya kini tengah memerhatikan ke arahnya. Lantas Disa menundukkan kepala menyembunyikan wajahnya dalam-dalam, merutuki kebodohannya. Mengapa ia bisa seceroboh itu mengambil keputusan untuk meneriaki Aksa di keramaian. "Cih! Dasar bodoh!" Lagi-lagi Aksa mencibirnya dengan sinis. Namun tiba-tiba, sebuah tangan berhasil membawa Disa ke dalam dekapannya. "Aku pikir kau bukan tipe lelaki yang senang membuang energi dengan mengejek perempuan." Ucapnya. Disa tahu betul, itu suara Rio. Pun di detik yang sama, beberapa siswa berteriak riuh kala Rio datang bak pahlawan yang langsung melindungi Disa. Pun perubahan juga jelas terlihat pada raut wajah Nana. Tersirat sebuah kebingungan juga rasa tidak suka, kenapa juga Rio harus muncul dan membela Disa? Sementara Rita yang mengetahui perasaan Nana terhadap Rio hanya mampu terdiam sambil melirik teman di sebelahnya itu. Namun jauh di lubuk hatinya, ia mengakui kalau apa yang dilakukan Rio sebagai laki-laki memanglah keren dan patut diacungi jempol. "Aish! Aku sudah membuang banyak energi untuk bicara dengan satu orang bodoh, aku tidak mau membuang energi lebih banyak lagi untuk bicara dengan banyak orang bodoh." Kalimat terakhir yang Aksa ucapkan sebelum akhirnya berlalu begitu saja. "Kau baik-baik saja?" Tanya Rio, matanya menyiratkan sebuah kekhawatiran besar pada Disa. "Sebentar lagi bel masuk, cepatlah ke kelas." Ucap Rio. Lelaki itu mendapati kotak bekal milik Disa yang sudah tergeletak di atas lantai. Namun, sesaat sebelum ia mengulurkan tangannya untuk meraih kotak itu, tangan lain lebih dulu menyambarnya. "Disa, ayo kita ke kelas." Rita berhasil meraih kotak makan itu dan membawa Disa untuk segera meninggalkan tempat itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD