Nana membawa kakinya melangkah menyusuri koridor, bahkan ia hampir menyisir seluruh penjuru sekolah. Dengan membawa sekotak bekal berisi sandwich yang sengaja ia buat pagi tadi, kedua mata gadis itu tak henti-hentinya menyapu tiap sudut di sekolah ini. Sampai pada akhirnya hatinya berseru dengan mata yang berbinar,
"Aku menemukanmu!"
Dengan hati yang berbunga dan perut yang terasa di penuhi kupu-kupu, Nana mantap menghampiri sosok lelaki yang tengah terduduk sendiri di halaman belakang sekolah.
"Kak Rio!" Panggilnya. Sang pemilik nama pun menoleh.
Ya, benar. Rio lah yang sedari tadi Nana cari, bahkan Nana rela melewatkan makan siangnya hanya untuk menemukan keberadaan Rio.
"Ya, ada apa?" Tanya Rio bingung. Keningnya mengernyit, pasalnya Rio memang sama sekali tak mengenal Nana.
"Aku... Aku hanya ingin memberikan ini." Kata Nana malu-malu. Namun sayang, pemberiannya tak kunjung bersambut sebab Rio masih berada dalam atmosfer bingung.
"Ah, aku Nana. Teman sekelas Disa." Ujarnya memperkenalkan diri. Untuk sesaat gadis itu merutuki dirinya sendiri sebab lupa memperkenalkan diri. Memang jika sudah berhadapan dengan seseorang yang membuat jantung berdebar, rasanya otak kita tak bisa bekerja sebagai mana mestinya.
"Oh, Nana. Kenapa kau memberiku ini?" Tanya Rio, yang kini telah menyambut pemberian Nana.
"Karena... aku... aku menyukaimu." Setelah kalimat itu berhasil lolos dari mulutnya, Nana merasakan seperti ada sedikit perasaan lega. Apa yang selama ini ia rasakan dan ia pendam, akhirnya bisa terungkapkan meski Nana tahu tindakannya ini terbilang nekad.
Rio terdiam seketika. Lelaki itu nampaknya mampu menyembunyikan rasa keterkejutannya dengan baik sampai-sampai Nana tak menyadari itu.
"Terima kasih, tapi aku tidak bisa menerima ini." Jelas Rio. Kotak bekal yang semula sudah berada dalam genggamanya pun ia kembalikan pada Nana.
"Kenapa tidak?"
Lagi, Rio hanya terdiam. Dan sepertinya Nana tahu apa makna yang tersirat dari diamnya Rio itu. Gadis itu tertunduk dengan senyuman kecut.
"Kau menyukai orang lain?"
Rio memberi anggukan sebagai jawaban.
"Yah, aku tahu itu. Maaf atas kelancanganku. Dan terima kasih telah memberiku kepastian juga kesempatan untuk mengutarakan apa yang selama ini aku rasakan. Kalau begitu... aku permisi." Nana pamit undur diri. Bukan saja pamit dari hadapan Rio tapi gadis itu juga mengizinkan rasanya untuk pamit untuk selamanya. Tidak apa, pikirnya. Dengan adanya pengakuan ini, Nana jadi tahu apa yang harus ia lakukan.
Nana jadi teringat akan pembicaraan antar dua temannya kemarin. Sebuah pembicaraan yang secara tidak langsung memberikan Nana keberanian untuk melakukan pengakuan cintanya pada Rio tadi.
"Apa yang membuatmu tidak juga lelah, Disa? Bukankah kau sudah sering sekali menerima penolakan atas segala usaha dan pemberianmu? Lalu apa sekarang? Dia mempermalukanmu di depan banyak orang seperti tadi. Aku rasa ini sudah keterlaluan, dan segera sudahi semua ini." Ujar Rita panjang lebar setelah berhasil membawa Disa masuk ke kelas pasca perdebatannya dengan Aksa di depan mading.
Disa menyimpulkan sebuah senyuman, "ayahku bilang, cinta itu perlu diperjuangkan."
Mendengar jawaban Disa, sontak Nana menoleh. Benar. Cinta perlu diperjuangkan. Pun bila akhirnya berujung menyakitkan, setidaknya penyesalan tak akan pernah hadir sebab cinta itu pernah ia perjuangkan.
Nana tiba di ambang pintu, sebelum kakinya menapak ke dalam kelas, matanya menatap lurus ke arah teman sebangkunya yang tengah melempar pandangannya ke luar jendela. Detik berikutnya barulah ini membiarkan kakinya meelangkah membawanya ke dalam kelas dan menuju kursi yang biasa ia tempati, yakni di sebelah Disa. Adapun Disa yang tak menyadari kehadiran Nana, gadis itu tak bosan-bosan melempar pandangannya ke luar jendela. Nana mengikuti kemana arah pandang Disa. Tidak lain dan tidak bukan, pandangannya tak pernah luput dari sosok lelaki yang berada di tengah lapangan sana.
"Apa dia begitu mengagumkan?" Tanya Nana.
"Tidak pernah tidak mengagumkan." Jawab Disa, dengan pandangan yang tak berpaling sedikit pun. Entah sadar atau tidak, dua garis ujung bibir Nana membentuk simpulan senyum begitu ia mendengar jawaban Disa.
"Maafkan aku, Disa."
Kali ini, Disa memalingkan pandangannya. Permintaan maaf dari Nana yang tiba-tiba itu lah yang berhasil membuatnya menoleh.
"Maaf atas apa?" Tanya Disa keheranan. Pasalnya ia sama sekali tak merasa sedang berselisih paham dengan teman sebangkunya itu.
"Maaf karena akhir-akhir ini aku terkesan tak acuh padamu, aku...."
"Ey! Santai saja, itu bukan masalah!" Tampik Disa.
"Tapi... Aku merasa itu sudah kelewatan. Aku benar-benar bodoh karena telah menganggapmu musuh atas perasaan yang tumbuh dengan sendirinya ini."
"Musuh? Perasaan? Aku tidak mengerti." Disa semakin dibuat bingung atas penjelasan Nana barusan. Namun sayangnya, Disa tak pernah mendapat penjelasan lebih lanjut sebab beberapa detik setelahnya, sang guru lebih dulu masuk dan kegiatan belajar mengajar pun kembali berlanjut.
Setelah berlatih rutin selama beberapa minggu, akhirnya hari pertandingan itu pun tiba. Disa dan dua temannya tentu turut menyaksikan langsung dan memberi semangat dari bangku penonton. Ketika mereka bertiga baru saja menginjakkan kaki di stadion, suasana di sana sudah cukup riuh. Sorak sorai penonton benar-benar cukup memekakkan telinga. Sedang di sana, kedua tim sudah bersiap untuk segera melakukan pertandingan.
"Oh, ya. Kenapa Kak Rio tidak ikut serta dalam pertandingan ini, ya? Padahal bukan kah dia yang sangat diunggulkan dalam club tenis?" Ujar Rita dengan sedikit berteriak, karena kalau tidak, kedua temannya itu tidak akan bisa mendengar apa yang ia katakan sebab memang di sini terlalu berisik.
"Entahlah. Dia juga sepertinya tidak hadir di sini." Timpal Nana.
"Disa, apa kau tahu kenapa Kak Rio tidak berpartisipasi pada pertandingan ini?" Rita melempar tanyanya pada Disa. Namun, gadis itu sepertinya sedang berada dalam dunianya sendiri. Di keramaian begini ia masih tetap fokus pada sesosok lelaki yang berada di tengah lapangan sana. Pun alih-alih menjawab, detik berikutnya ia malah berseru, meneriakkan sebuah nama dengan penuh semangat.
"Aksaaaa!!!"
Deru mesin motor Rio tiba-tiba tak terdengar lagi, ia menghentikannya di depan sebuah rumah mewah dengan cat putih mendominasi. Rumah itu berada jauh dari kota. Hanya ada pepohonan, hamparan sawah dan pemandangan gunung yang senantiasa menghiasi sekeliling rumah itu. Setelah membunyikan klakson, tanpa harus menunggu lama seorang lelaki yang mengenakan setelan kaos berbalut jaket dan celana pendek, segera membukakan gerbang dan membungkukkan badannya pada Rio pertanda memberi salam. Tidak sampai di situ, begitu Rio memarkirkan motornya, ia langsung disambut oleh seorang wanita dan seorang lelaki yang terlihat sudah menantikan kehadirannya.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Rio memberikan kunci motornya pada lelaki yang menyambut kedatangannya itu. Setelahnya barulah ia menapaki langkah untuk masuk ke rumah itu.
"Apa dia di dalam?" Tanya Rio yang berhenti sejenak kala melintasi wanita yang senantiasa berdiri di ambang pintu menyambutnya. Pun wanita tersebut memberi anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan Rio.
Derap langkah Rio terdengar cukup keras, sebab memang suasana di rumah itu begitu hening dan dingin. Sepertinya Rio sudah sangat sering berkunjung kemari hingga ia memahami tiap-tiap sudut di rumah ini. Pun Rio menapaki anak tangga satu persatu, kakinya melangkah menuju sebuah kamar paling pojok di lantai dua.
Tok Tok
Rio mencoba untuk mengetuk pintu berwarna cokelat tua itu.
Satu detik...
Dua detik...
Tok Tok
Masih juga tidak ada tanggapan dari dalam kamar. Perlahan tapi pasti, jemarinya terulur ke arah gagang pintu. Menggenggamnya, dan,
Ceklek,
Pintu berhasil terbuka.