Disa bersorak untuk kemenangan sekolahnya hari ini, berpelukan dan loncat kegirangan bersama kedua temannya. Meski tidak andil dalam pertandingan, tapi sebagai siswi yang bersekolah di sana tentunya mereka turut bahagia serta bangga atas kemenangan itu. Namun seketika Disa mematung, kala tanpa sengaja ia bertemu tatap dengan Aksa yang masih berada di lapangan. Sayangnya, sesaat ketika Disa melambaikan tangan, Aksa langsung membuang pandangannya ke arah lain.
***
"Apa kau lihat permainan Aksa tadi? Dia sangat keren, bukan?"
"Hey kau tahu pemain dari sekolah lawan tadi? Dia benar-benar terlihat sempurna!"
"Kudengar namanya Aksa."
"Astaga! Sepertinya aku mengidolakan Aksa mulai detik ini!"
Ternyata wajah bahagia Disa tak bertahan lebih dari lima belas menit, wajahnya berubah menjadi murung kala ia mendengar beberapa siswi yang membicarakan kekagumannya pada Aksa. Ya, memang patut diakui permainan Aksa tadi betul-betul mengagumkan, tapi kalau mendadak jadi idola begini bukankah semakin sedikit peluang bagi Disa untuk mendekatinya?
"Disa, kau baik-baik saja?" Tanya Nana sedikit mengkhawatirkan temannya yang tiba-tiba saja menjadi murung.
"Hmm," Disa mengangguk lesu. "Hanya saja penggemar Aksa menjadi semakin banyak, pasti kesempatanku agar bisa dekat dengannya semakin kecil."
"Ehey! Seorang Disa tidak mudah menyerah begini, bukan?" Rita merangkul bahu Disa.
"Benar! Bukankah kau bilang cinta itu perlu diperjuangkan?" Tambah Nana.
Melihat dua temannya yang senantiasa mendukung dan menyemangati, lantas Disa menyunggingkan kembali senyumnya. Ia mendekap kedua temannya, pun dekapannya tentu bersambut hangat.
"Terima kasih banyak, Nana, Rita!"
***
"Apa dia di dalam?" Tanya Rio yang berhenti sejenak kala melintasi wanita yang senantiasa berdiri di ambang pintu menyambutnya. Pun wanita tersebut memberi anggukan sebagai jawaban atas pertanyaan yang diberikan Rio.
Derap langkah Rio terdengar cukup keras, sebab memang suasana di rumah itu begitu hening dan dingin. Sepertinya Rio sudah sangat sering berkunjung kemari hingga ia memahami tiap-tiap sudut di rumah ini. Pun Rio menapaki anak tangga satu persatu, kakinya melangkah menuju sebuah kamar paling pojok di lantai dua.
Tok Tok
Rio mencoba untuk mengetuk pintu berwarna cokelat tua itu.
Satu detik...
Dua detik...
Tok Tok
Masih juga tidak ada tanggapan dari dalam kamar. Perlahan tapi pasti, jemarinya terulur ke arah gagang pintu. Menggenggamnya, dan,
Ceklek,
Pintu berhasil terbuka.
"Aku datang, Bu." Ucap Rio dengan suara bergetar menahan isaknya. Beberapa detik sebelum memberanikan diri menyapa sang ibu, Rio sempat terdiam di ambang pintu, menyiapkan hati serta manahan tangisannya yang sudah hampir pecah.
"Oh, Roi? Kau di sini?"
Sesuatu terasa baru saja menancap pada jantung Rio, entah apa, yang jelas sesak benar-benar dirasakannya kini. Lelaki itu menyeka air matanya, dengan senyuman yang dipaksakan terlukis di wajahnya, Rio membiarkan kakinya melangkah perlahan menuju sang ibu yang tengah memandang ke arah luar jendela kamarnya dari atas kursi roda.
"Bu..." Lirih Rio, lelaki itu bersimpuh di hadapan sang ibu, menggenggam erat kedua tangannya.
"Ini Rio, Bu... Bukan Roi..." Ujarnya. Entah untuk yang keberapa kalinya Rio memeberitahu hal tersebut di depan sang ibu.
"Roi... Roi..." Namun hanya nama itulah yang selalu keluar dari mulutnya. Pandangannya kosong, terkadang memandang kesana kemari tak keruan seperti dilanda kepanikan.
"Ibu sudah makan?" Tanya Rio lembut. Begitu lembut nada bicaranya, sorot mata Rio pun begitu teduh dan selalu teduh kala ia menatap sang ibu yang tak pernah mengingatnya selama beberapa tahun terakhir.
Tok Tok
Mendengar pintu yang terketuk, Rio lantas menoleh sembari bangkit. Di dapatinya seorang wanita yang membawa nampan berisi makanan lengkap. Sepiring nasi beserta lauk-pauknya, segelas s**u, dan segelas air putih.
"Permisi Den Rio, Ibu menolak untuk makan sejak pagi tadi, barang kali kalau sama Aden, Ibu jadi mau makan." Ujar wanita yang telah bekerja selama bertahun lamanya menjadi pelayan di keluarga Rio.
"Baik, Bi. Kalau begitu biar sama saya saja." Rio mengambil alih nampan tersebut dan meletakkannya di atas nakas sebelah tempat tidur.
"Den Rio mau minum apa?" Tanya pelayan itu.
"Tidak usah, Bi."
"s**u vanilla," ucap ibu Rio menyela percakapan keduanya, sementara pandangannya kosong menatap lurus ke depan, entah kemana.
"Roi sangat suka s**u vanilla hangat." Lanjutnya, kali ini ia menolah ke arah sang pelayan. Seolah mengisyaratkannya untuk segera membuatkan segelas s**u vanilla hangat untuk Rio, yang selalu menjadi Roi di matanya.
Pelayan tidak langsung mambuatkan s**u vanilla seperti yang dikatakan ibu Rio barusan, ia malah menatap Rio yang seolah menyiratkan sebuah tanya "aku harus apa?" sebab ia tahu kalau Rio tidak suka s**u vanilla. Namun Rio memberinya sebuah angguka seakan memberi jawaban "lakukan saja". Sebetulnya hal ini bukan lah hal yang pertama kali terjadi. Bahkan hampir setiap Rio berkunjung kemari, sang ibu selalu meminta pelayan untuk membuatkan s**u vanilla hangat untuknya.
"Bu... Sekarang Ibu makan dulu, ya..." Kata Rio. Lelaki itu meraih piring yang sudah berisikan nasi dan lauk yang lengkap, kemudia kembali bersimpuh di hadapan sang ibu.
"Roi kemana saja? Roi sudah tidak rindu Ibu." Ucap sang ibu. Rio berusaha menanggapinya dengan senyuman.
"Maaf, Bu. Kegiatan sekolah sedang padat, sampai aku baru sempat mengunjungi Ibu. Aku selalu merindukan Ibu, Aku juga... rindu Ibu memanggil namaku. Rio, bukan Roi." Rio terisak di akhir kalimatnya. Ia selalu tak kuasa membendung tangisnya di hadapan sang ibu. Kepalanya tertunduk di atas pangkuan sang ibu. Pun Rio dapat merasakan belaian hangat dari jemari sang ibu. Rio benar-benar merindukan ini. Rio rindu berada dalam dekapan ibu, Rio selalu rindu tangan sang ibu yang selalu bisa menghangatkannya serta menenangkannya. Baginya, ibu adalah definisi tempat pulang yang sesungguhnya.
Namun ketika ia menyadari akan satu hal yang selalu membuatnya merasa sesak, tangis Rio selalu tidak pernah tidak pecah. Rio, hidup dalam bayang-bayang Roi. Sang kakak yang tewas dalam kecelakaan mobil beberapa tahun lalu. Hanya Roi, yang pada saat itu tidak dapat diselamatkan. Mereka hanya terpaut satu tahun usia. Dan semenjak kejadian itu pula, kehangatan tidak pernah lagi hadir menyelimuti keluarganya. Ibunya yang begitu terpukul atas kepergian anak yang begitu dicintainya, perlahan mulai kehilangan akal sehat. Pun beberapa organnya tak lagi dapat berfungsi dengan baik. Sepertinya hanya Roi, yang hingga detik ini ada dalam kepalanya. Sepertinya hanya Roi, yang menjadi dunianya. Begitu juga dengan sang ayah, yang juga amat terpukul atas kepergian putra pertamanya itu. Putra yang begitu diidamkan-idamkan sejak awal pernikahan mereka. Keduanya baru dipercaya oleh Tuhan untuk dititipkan seorang anak setelah sepuluh tahun lamanya mereka menikah. Itulah yang menjadika Roi begitu dicintai, mereka begitu menjaga putra sulungnya itu seperti mereka menjaga nyawanya sendiri. Terlepas dari itu, Roi juga merupakan anak yang cerdas dan begitu berbakti pada orangtua juga adiknya, Rio, yang tentu membuat dirinya semakin dicintai. Sayangnya, ayah Rio mengambil jalan yang salah. Ia menjadikan wanita dan minuman keras sebagai pelariannya. Hidupnya hancur, beruntung karirnya tidak ikut-ikutan hancur, perusahaan yang dipimpinnya masih mampu bertahan dan bersaing. Bahkan ayah Rio alih-alih merawat istrinya yang sedang sakit, justru malah mengasingkannya ke sebuah tempat yang begitu jauh dari ingar-bingar begini.
"Ibu sudah kenyang." Ucap sang ibu yang baru pada suapan keempat tapi sudah mengeluh kalau dirinya sudah kenyang.
"Satu kali lagi ya, Bu. Ayo, aaaaa...."
Sang ibu menggeleng. "Tidak mau."
Rio tidak bisa memaksakan, alhasil ia meletakkan kembali piring dengan makanan yang makanannya masih bersisa itu ke atas nakas. Lagi, Rio menggenggam tangan sang ibu lagi. Ditatapnya wajah yang tidak lagi muda namun baginya tetap terlihat indah dan cantik itu.
"Bu, aku bertemu dengan seorang perempuan. Dia persis seperti Ibu. Senyumnya... tawanya... Rasanya seolah-olah duniaku telah kembali. Dia cantik...." Rio menjeda kalimatnya untuk menyelipkan helaian rambut sang ibu ke belakang telinga. "Dia juga mempunyai hati yang begitu tulus, aku bisa merasakan itu, Bu." Selama Rio mendeskripsikan sosok gadis yang dianggapnya mirip dengan sang ibu, senyuman Rio tak pernah luntur.
Perlahan ibu Rio menatap wajah anak lelakinya itu, mengelus lembut rambutnya. "Bawa dia kemari."
***
"Kau tahu? Saat aku masih kecil, ayahku selalu bilang, kalau kau berhasil menangkap kelopak bunga yang gugur, maka harapanmu bisa terkabul! Dan saat itu juga aku akan berlarian menghabiskan waktu tiga puluh menit hanya untuk menangkap satu kelopak saja!" Celoteh Disa.
"Benarkah? Apa butuh waktu selama itu hanya untuk menangkap satu kelopak?" Tanya Rio tidak percaya.
Disa mengangguk antusias, matanya berbinar. Rio sangat suka itu. "Cobalah! Itu tak semudah yang kau bayangkan!"
Sialnya, di luar dugaan. Hanya dalam sepersekian detik Rio sudah berhasil menggenggam kelopak bunga yang berguguran itu.
"Woah!" Seru keduanya bersamaan.
"Bagaimana bisa?" Kini giliran Disa yang tak percaya.
"Entahlah!"
"Kalau begitu, sekarang, apa harapanmu?"
Rio terdiam sejenak,
"Harapanku?"
Lelaki itu nampak berpikir sejenak, tatapannya jatuh pada kedua mata Disa terlalu dalam.
"Hmmm....."
"Aku ingin Ibu lekas sembuh, dan kembali dapat mengingatku...."
"Rahasia!" Ledek Rio sembari mencolek hidung mungil Disa.
"Ah itu sangat tidak menyenangkan!" Gadis itu merajuk.