Delapanbelas: UKS

1492 Words
Kelas Disa pagi ini nampak kosong, tak ada satu pun siswa yang berada di sana. Sebab mereka mendapatkan jadwal untuk melaksanakan praktikum kimia di laboratorium. Praktikum ini tidak rutin dilaksanakan sebetulnya, hanya sesekali ketika mereka sedang berada pada pembahasan pelajaran yang mengharuskan mereka untuk melaksanakan praktik. Tentu kalian pernah melakukannya juga semasa sekolah, bukan? Tapi ada beberapa sekolah yang memang tidak pernah atau jarang sekali melaksanakan kegiatan ini, sebab praktikum di laboratorium ini sangat bergantung sekali terhadap alat dan bahan. Dan setahuku, masih banyak sekolah yang perlengkapannya masih kurang memadai. "Baik anak-anak, silakan dilanjutkan dan selalu berhati-hati dalam pelaksanaannya, ya. Ibu akan keluar sebentar." "Baik, Bu!" Seru mereka serentak. Belum ada satu menit sang guru meninggalkan laboratorium, tiba-tiba saja terdengar suara pecahan kaca dari salah satu sudut. "Aw!" Ringisnya. Seluruh pasang mata seketika tertuju ke arah sumber suara dan menjadi panik. "Disa!" Pekik Nana dan Rita bersamaan. Pun keduanya langsung bangkit dari duduk dan bergegas menghampiri Disa. Namun sayang, Disa lebih dulu lari meninggalkan lab. "Disa tunggu!" "Bagaimana ini?!" "Apa dia baik-baik saja?" Suasana mendadak menjadi riuh. Pun diluar ekspetasi, Aksa bangkit dari duduknya dengan tenang dan membereskan pecahan gelas beaker serta membersihkan cairan yang berceceran di lantai. Ya, Disa baru saja tanpa sengaja memecahkan gelas beaker atau gelas piala, yang biasa digunakan sebagai penampungan sample atau penyimpanan zat sementara. Bukan Disa namanya kalau tidak ceroboh. Tangannya terkena cairan zat yang ada dalam gelas itu, dan membuatnya sedikit melepuh. Sontak karena panik Disa langsung berlari menuju toilet untuk membasuh tangannya di air yang mengalir. Sepengetahuannya, begitulah penanganan pertama pada luka bakar. "Ah! Ternyata ini perih sekali!" Ucapnya sambil sesekali meringis kesakitan. Disa terus membiarkan tangannya terbasuh ari sari keran westafel, sampai dirasanya sudah tidak terlalu perih, barulah ia melangkah meninggalkan area toilet. "Disa, kau baik-baik saja? Aku melihatmu berlarian sambil meringis memegangi tanganmu, apa kau terluka?" Serbu Rio. Yang entah sejak kapan sudah berada di depan pintu toilet, Disa sendiri tidak tahu akan hal itu. "A-aku baik-baik saja, hanya sedikit melepuh karena terkena cairan di dalam gelas yang aku pecahkan." Jawabnya. "Kalau begitu, ayo, biar aku obati--" Tepat ketika Rio meraih tangan Disa untuk mengajaknya ke ruang UKS, Aksa pun segera mencengkram tangan Rio yang tentu membuat sang empunya kebingungan. Tak hanya Rio, Disa pun turut kebingungan. Yap, benar. Selain Rio, Aksa pun sudah berdiri di depan pintu toilet sejak tadi. Begitu selesai membereskan kekacauan di lab, Aksa segera menyusul Disa kemari. Sesuai dugaannya, gadis itu pasti membasuh tangannya di toilet. "Hentikan. Dia perlu kembali ke lab." Ujar Aksa dingin. "Tapi dia terluka!" Sanggah Rio. "Lukanya tidak parah, dia baik-baik saja." Kata Aksa lagi. "B-benar Kak, aku baik-baik saja. Aku harus segera kembali ke lab." Kata Disa yang tak ingin memperpanjang masalah. Agar Rio tidak bersikeras mengobati lukanya, juga agar Aksa melepaskan cengkramannya pada Rio. "Benarkah?" Tanya Rio memastikan. Disa mengangguk, "benar. Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir." Rio menghela napasnya, "beritahu aku kalau terjadi sesuatu." Ucapnya. Tanpa mengatakan sepatah kata, Aksa melepaskan cengkraman Rio dan beralih menarik tangan Disa yang bisa terbilang dengan sedikit paksaan. Hal itu tentu membuat Disa kebingungan, dan tak mengerti akan situasinya. "Bukankah kita baru saja melewati laboratoriumnya? Kau mau membawaku kemana?" Tanya Disa yang semakin dibuat bingung ketika Aksa tidak membawanya ke laboratorium seperti yang ia katakan pada Rio barusan. "Aksa? Kau mau membawaku kemana? Hey! Aksa! Berhenti!" Kini Disa sedikit berteriak, tapi sayangnya Aksa sama sekali tak menggubris. "Astaga kau benar-benar!" Kesalnya. Langkah keduanya baru berhenti ketika mereka tiba di depan sebuah ruangan dengan bertuliskan 'Unit Kesehatan Sekolah'. "UKS? Kenapa kau membawaku kemari?" Pertanyaan Disa lagi-lagi tak mendapatkan jawaban. Aksa meraih gagang pintu, membukanya perlahan. Tidak ada yang berjaga di sana. Seharusnya, ada satu atau dua orang siswa dari ekstrakulikuler Palang Merah Remaja yang mendapat tugas berjaga di UKS setiap harinya. Karena tidak ada yang berjaga, alhasil Aksa harus mencari obat yang diperlukannya sendiri. Ia mulai menggeledah kotak P3K yang disediakan di sana. Mencari obat luka bakar dan kassa steril untuk membalut luka Disa. "Bukankah tadi kau bilang kalau kita harus segera kembali ke laboratorium? Tapi kenapa kau membawaku kesini dan malah mengobati luka ku?" "Bisa kau berhenti bicara?" Ketus Aksa. Pun Disa langsung membungkam mulutnya dan bersumpah tidak akan mengeluarkan pertanyaan lain lagi. "Aw!" Ringis Disa, ketika Aksa mulai mengoleskan obat pada lukanya. "Aaa sakit!" Mendengar Disa yang tak bisa berhenti meringis dan merengek, Aksa melemparkan tatapan tajamnya, dan berhasil membuat Disa harus merasakan perihnya dengan tak bersuara. Sementara Aksa mengobati luka pada tangannya, Disa malah memandangi wajah Aksa yang berada begitu dekat dengan dirinya. Jantungnya berdegup tak keruan, sampai ia harus mendekapnya dengan satu tangan lain yang tak terluka, takut kalau Aksa bisa mendengar debarannya yang kian lama kian kencang. Rasa sakit pun seolah sirna, dalam batinnya Disa terus berdecak kagum. Baginya, Aksa berkali-kali lipat lebih tampan ketika dilihat dari dekat. "Apa yang kau lihat?" Tanya Aksa. Disa mengerjap beberapa kali, melempar pandangannya kesana kemari kebingungan. Sial, ia tertangkap basah. Disa benar-benar salah tingkah. "Ah! Sudah selesai? Terima kasih banyak!" Ujarnya. Aksa tak memberi tanggapan sama sekali. Setelah merapikan kembali obat yang telat selesai ia gunakan, lelaki itu membawa kakinya melenggang keluar ruang UKS. Sementara Disa masih berada di tempatnya semula. "Aksa," panggil Disa. Langkah lelaki itu pun terhenti di ambang pintu. "Payungmu...." Ah, benar. Ingat kejadian saat pulang sekolah? Saat hujan deras dan Aksa secara tiba-tiba memberikan payungnya pada Disa secara sukarela, membiarkan dirinya sendiri kehujanan. "Simpan saja." Jawabnya singkat. *** "Benarkah? Dia mengobati lukamu?" Tanya Rita dengan begitu antusias. Sementara Disa mengangguk penuh rasa bangga. "Hmm kenapa dia melakukan itu, ya?" Tanya Nana, yang terkesan lebih seperti bertanya pada diri sendiri. "Sesaat setelah kau meninggalkan laboratorium, yang membersihkan pecahan gelas beserta cairannya juga Aksa." Jelas Rita. "Ya, dia mengatakannya padaku." Jawab Disa yang lagi-lagi penuh rasa bangga. "Apa mungkin usahamu akan segera membuahkan hasil?" Mendengar tanya yang dilempar Nana, mata Disa seketika begitu berbinar. Ia mulai membentuk imajinasinya sendiri, Disa membayangkan indahnya pulang sekolah bersama dengan Aksa. Lalu Aksa menjemputnya setiap kali hendak berangkat, kemudian di akhir pekan mereka menghabiskan waktu bersama dengan berjalan-jalan atau mengunjungi tempat makan terdekat. "Aksa datang!" Seruan Rita berhasil membuat lamunannya buyar. Disa segera menoleh ke ambang pintu. Matanya bertemu tatap dengan lelaki jangkung tanpa ekspresi itu. Pun Disa melambaikan tangannya dengan begitu akrab ke arah Aksa, tapi sayangnya, Aksa malah melengos begitu saja. "Apa itu? Apa dia baru saja mengabaikannya?" "Astaga, bukankah itu lagi-lagi sebuah penolakan?" Hancur sudah imajinasi Disa. Wajahnya yang semula berseri, kini kembali berubah menjadi murung. Aksa, masih tetap Aksa yang sulit untuk digapai. "Rio!" Panggil seorang rekan dari club tennisnya, ketika Rio sedang dalam perjalanan kembali menuju kelas setelah menyelesaikan urusannya di ruang OSIS. Dikarenakan rekannya memanggil, mau tidak mau Rio menghentikan perjalannya dan mampir sejenak di tepi lapangan. "Bagaimana keadaan ibumu?" Tanya rekan Rio. Ia memang mengetahui kondisi keluarga Rio, bahkan hampir seluruh siswa di sekolah ini tahu. Entah mereka mendapat kabar tersebut dari mana, mungkin di sini tembok bisa berbicara sehingga permasalahan pribadi pun bisa dengan mudahnya tersebar luas. "Ya... Begitulah." Jawab Rio seadanya. "Tim sekolah kita menang kemarin. Dan kalau di pertandingan berikutnya kita bisa memenangkan pertandingan lagi, maka kina akan masuk ke babak final!" Jelasnya. "Benarkah?!" Rio senang sekaligus bangga mendengar hal itu, kendati dirinya tidak bisa menyaksikan secara langsung pertandingan tersebut sebab ia memilih untuk mengunjungi sang ibu setelah sekian lama. "Ya, benar. Andai kau berada di sana kemarin, kau pasti akan...." Rio tak lagi mendengar apa yang dituturkan rekannya itu. Kedua matanya menangkap seorang gadis yang tengah berlarian di koridor sembari memegangi tangannya, dari wajahnya terlihat sesekali ia meringis kesakitan. "Disa? Disa!" Rio berlari begitu saja. Meninggalkan rekannya yang masih berceloteh. "Baiklah, dia tidak mendengarkanku." Ucap Rekan Rio. "Disa tunggu!" Teriakan Rio agaknya tak dapat terdengar oleh gadis itu. Namun Rio tetap mengejarnya dan mengikutinya dari belakang, sampai pada akhirnya langkah Rio harus terhenti sampai di sini, di depan toilet perempuan. Rio menanti Disa keluar sambil harap-harap cemas, khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada gadis itu. "Pasti dia terluka." Gumam Rio ditengah kekhawatirannya. Dan, Rio tidak sendirian. Aksa dengan santainya menghentikan langkah di depan toilet perempuan. Membuat Rio dilanda kebingungan sekaligus rasa penasaran. Apa yang sedang dia lakukan di sini? "Sedang apa kau di sini?" Tanya Rio. "Bukan urusanmu." Jawab Aksa singkat, padat, dan ketus. Pun pada akhirnya, rasa penasaran Rio terungkap ketika Disa keluar dari toilet. "Hentikan. Dia perlu kembali ke lab." Ujar Aksa dingin. "Tapi dia terluka!" Rio tak mau kalah, ia tetap bersikeras untuk membawa Disa ke UKS. "Lukanya tidak parah, dia baik-baik saja." Kata Aksa lagi. "B-benar Kak, aku baik-baik saja. Aku harus segera kembali ke lab." Mendengar jawaban Disa, lantas perlahan Rio melepaskan genggamannya dari tangan Disa. Begitu pun Aksa, yang juga melepaskan cengkramannya dari tangan Rio. "Benarkah?" Tanya Rio memastikan. Disa mengangguk, "benar. Aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir." Rio menghela napasnya, "beritahu aku kalau terjadi sesuatu." Ucapnya. Di depan matanya, Rio menyaksikan Aksa meraih tangan Disa, dan membawa gadis itu pergi menjauh darinya. "Sebetulnya apa maumu, Aksa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD