Sembilanbelas

1276 Words
Disa memandangi dirinya di depan cermin dengan penuh antusias. Gadis itu sudah mengganti baju seragamnya dengan setelan untuk berlatih tennis. Ya, hari ini adalah latihan pertama bagi Disa dan beberapa anggota tennis yang baru saja bergabung. Setelah berminggu-minggu ditunda sebab pelatih ingin memfokuskan pada pertandingan kemarin terlebih dahulu, ingin mencetak sejarah baru katanya, lelah jika harus terus menerus menerima kekalahan dan selalu dibanding-bandingkan serta dinomor-dua-kan oleh club basket. Sama seperti Disa, Aksa pun mesti mengganti seragamnya sengan setelan untuk berlatih. Lelaki itu baru saja masuk ke dalam bilik kamar mandi dan melepaskan satu persatu kancing bajunya. "Aku penasaran, kenapa kali ini Rio tidak berpartisipasi dalam pertandingan kemarin." Ucap salah seorang dari luar, yang Aksa sendiri tidak tahu siapa. Aksa tak mau ambil pusing, sebab itu bukan hal yang penting dan bukan pula urusannya. "Aku dengar dia mengunjungi ibunya." Jawab salah seorang yang lainnya. "Begitukah? Apa ibunya belum juga sembuh?" "Memangnya menurutmu kehilangan akal itu bisa disembuhkan?" Entah kenapa Aksa jadi menghentikan sejenak aktifitasnya kala mendengar kalimat dari dialog orang lain yang berada di luar. "Benar juga. Kira-kira apa yang akan kau lakukan nanti kalau kau mempunyai istri yang memiliki penyakit seperti itu?" "Tentu aku akan merawatnya dengan baik." "Benarkah? Aku tidak yakin. Jangan-jangan kau akan seperti ayah Rio yang malah asyik bermain wanita juga bermabuk-mabukan. Dan malah mengasingkan istrinya sendiri ke tempat yang sangat jauh." Lagi. Aksa yang sudah berganti pakaian dan baru saja hendak keluar dari bilik kamar mandi, entah kenapa malah mengurungkan niatnya dan menahan kakinya untuk melangkah. * "Wah, ternyata ramai sekali…" Gumam Disa. Gadis itu celingukan kala mendapati tepi lapangan sudah dipenuhi dengan beberapa orang yang sudah pasti anggota club tennis. "Disa!" Mendengar seseorang baru saja menyerukan namanya, Disa lantas menoleh. Pun ia melambaikan tangannya ketika mendapati seorang lelaki yang tengah berlari menuju ke arahnya. "Kak Rio!" "Kau siap untuk berlatih hari ini?" Tanya Rio, ketika ia telah berada tepat di hadapan gadis berkuncir kuda itu. Disa hanya terkekeh penuh keraguan. Sejujurnya, ia sama sekali tidak mengerti tentang tennis. Memegang raket tennis pun belum pernah, mungkin hari ini akan menjadi hari perdananya. "Aku… Sejujurnya aku tidak bisa bermain." Jawabnya malu-malu. Rio menarik dua garis ujung bibirnya, membentuk sebuah simpulan senyum, matanya menatap Disa teduh. "Ini 'kan latihan, bukan bertanding." Ucap Rio, sembari mendaratkan telapak tangannya pada bahu mungil Disa. "Oke, semuanya! Mari berkumpul! Aku akan mengabsen terlebih dahulu." Seru sang pelatih, memberi instruksi pada seluruh anak didiknya agar berkumpul di tengah lapangan. "Baik, Pak!" Mendengar itu, Disa langsung berlari meninggalkan Rio dan memasuki barisan di antara anggota baru yang lain. Rio yang masih geming di tempatnya hanya mampu memperhatikan Disa dari belakang. Memerhatikan cara gadis itu berlari dan masuk ke barisan dengan tubuhnya yang mungil itu. Menggemaskan pikir Rio. "Kau menyukainya?" Sebuah suara yang entah dari mana asalnya berhasil memecah lamunan Rio. Lelaki itu sedikit tersentak. Tepat ketika ia menoleh, seorang lelaki jangkung telah berdiri di sebelahnya sembari menatap lurus ke depan, entah sejak kapan dia berada di situ Rio pun tak tahu. Rio berdecis, "bukan urusanmu," Senyuman Rio seketika luntur kala ia mendapati lelaki itu berdiri di sebelahnya. "Kau sendiri menyukainya juga, bukan? Ah benar. Kau bilang, kau benci gadis yang bodoh. Itu artinya, kau tidak mungkin menyukainya, benar begitu?" Tambah Rio, yang balik melempar pertanyaan pada lelaki itu. "Kesimpulan yang bagus." Balasnya singkat. "Kalau begitu jangan pernah mengganggunya, jangan pernah menghalangi aku untuk mendekatinya." Tegas Rio. "Memangnya aku pernah?" Balas lelaki itu dan segera berlalu meninggalkan Rio, setelah satu detik sebelumnya ia menyempatkan untuk menepuk bahu Rio. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas Rio sangat tidak suka itu. Terbukti dengan tangannya yang langsung membuat gestur menepuk, seolah membersihkan bahunya yang baru saja terkena noda. "Ah, omong-omong. Pembicaraanmu barusan terdengar keren juga, tidak seperti lelaki b******k yang hanya senang mempermainkan wanita. Tapi ya tetap saja, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya." Lelaki itu menghentikan langkahnya, ia kembali membalikkan tubuhnya hanya untuk menyampaikan kalimat barusan. Kalimat yang sukses membuat Rio benar-benar geram, sampai wajahnya memerah serta kedua buku tangannya mengepal dengan cukup keras. Setelah merasa puas akan apa yang baru saja ia lontarkan pada Rio, lelaki itu kembali melanjutkan langkahnya. Namun, "Aksa!!" BUGHH "Dasar b******k! Mulut sialan! Kau ada masalah apa sebenarnya denganku hah?!" BUGHH Rio berhasil membuat Aksa babak belur, dalam imajinasinya. Dan pada kenyataannya, Rio hanya mampu menarik napas dalam-dalam sembari mengendalikan emosinya. Rio bukanlah orang yang bodoh, ia tak mungkin merusak citranya sebagai ketua OSIS dengan berbuat onar menghajar sang junior seperti itu. * "Ya, baiklah. Bagi yang namanya disebut silakan maju!" Ujar pelatih. Seperti biasa, ia meminta satu persatu anak didiknya unjuk kebolehan, untuk menilai sampai dimana kemampuan mereka masing-masing. Tentu, hal itu membuat Disa panik. Gadis itu rasanya ingin melarikan diri. Namun begitu matanya menangkap seorang lelaki yang terduduk dengan tenang di ujung sana, ia segera mengurungkan niatnya. "Tidak, tidak! Aku tidak boleh kabur. Aku pasti bisa!" Batinnya bertekad. "Disa!" "Huh?!" Sial. Baru saja hendak menenangkan diri, namanya betul-betul sudah dipanggil. "Disa!!" Pelatih memanggilnya lagi dengan cukup keras. "I-iya Pak!" Sahutnya. Disa sangat buruk dalam menyembunyikan sesuatu, termasuk menyembunyikan kepanikan yang melandanya sekarang. Dengan gemetar, gadis itu melangkahkan kakinya ke tengah lapangan. Raket sudah berada di genggamannya. Dari kejauhan, Aksa dapat membaca gestur gadis itu. Caranya menggenggam raket, serta posisi tubuhnya, jelas menggambarkan kalau ia tidak pernah bermain tennis sebelumya. "Serve!" Seru pelatih. "B-baik, Pak!" Disa semakin gemetar begitu bola sudah digenggamnya. Sial, ia bahkan tidak tahu bagaimana cara melakukan serve. Astaga! Bagaimana ini? Pun ia menarik napasnya, berusaha untuk mengendalikan kepanikan. Matanya terpejam selama beberapa detik, dan dengan penuh keyakinan Disa mencoba melakukan serve. Satu Dua Tiga BOOM! "Aku berhasil!" Serunya kegirangan. Namun hal itu tidak bertahan lama ketika ia melihat pelatihnya di seberang net sana malah menatapnya dengan rasa heran. Dan anggota lain yang berada di sana malah tertawa sembari berbisik membuat Disa kebingungan. Apa yang salah? "Huh? Ada apa ini?" Tanya gadis itu pada dirinya sendiri. Disa celingukan, berharap mendapatkan jawaban, sampai matanya bertemu tatap dengan lelaki yang terduduk santai sembari menyilangkan kakinya. Pun lelaki itu menunjukkan sesuatu pada Disa melalui tatapan matanya, Disa mengikuti arah pandangnya, menoleh ke belakang, dan Ternyata bola Disa memantul ke belakang. Malu? Sudah pasti. Tapi gadis itu malah terkekeh sembari menatap sang pelatih. "Baik, kita coba sekali lagi!" Ujar pelatih, yang masih memberinya kesempatan. Oke. Satu, dua, tiga. Kali ini harus berhasil. Namun. Disa gagal lagi. "Satu kali lagi!" Gagal lagi. "Oke kita coba lagi. Relax!" Dan gagal lagi. Pelatih menghela napasnya. "Baik ini yang terakhir, jika gagal lagi, aku yang melakukan serve!" Disa mengangguk mantap. Keringatnya sudah bercucuran. Disa memakan waktu yang lebih lama dibanding anggota lainnya. Dan lagi, matahari saat ini sedang tidak bersahabat, teriknya membuat kulit Disa serasa terbakar. Namun hal itu tak menyurutkan semangatnya. Bukan Disa namanya kalau mudah menyerah. Untuk kesempatan terakhirnya, Disa gagal lagi. Sesuai apa yang dikatakan sebelumnya, jika Disa gagal lagi maka pelatih lah yang akan melakukan serve. Maka tugas Disa adalah mengembalikan bola yang diberikan. "Oke, siap?" "Siap!" Satu, Dua, Tiga, Mata Disa terlihat begitu fokus ke arah datangnya bola. Ia yakin yang satu ini pasti akan berhasil. Eh, tapi. Ada apa ini? Begitu bola semakin mendekat ke arahnya, Disa malah mengayunkan raketnya asal sembari menyembunyikan wajah, takut kalau-kalau bola itu mengenai wajahnya. "Fokus!" Seru sang pelatih yang sudah nampak kelelahan juga. "Kita coba lagi!" Satu kali, Dua kali, Tiga kali, "Ah sudahlah sudahlah! Kau boleh duduk!" Kata pelatih yang pada akhirnya menyerah. "Satu kali lagi! Aku mohon beri aku kesempatan satu kali lagi!" Disa merengek sembari menyatukan kedua telapak tangannya. Pelatih menghela napasnya sembari menyeka keringat yang sudah membanjiri dahi. "Baik, ini benar-benar yang terakhir." "Baik!" "Relax, dan fokus. Siap?" "Siap!" Satu, Dua, Tiga! "Disa!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD