Satu: Something Wrong

1116 Words
Dengan berlindung di bawah payung bening yang digenggamnya, seorang gadis terus membawa kakinya melangkah setapak demi setapak menyusuri jalan yang basah. Namun, langkahnya itu terhenti ketika ia tiba di pertengahan jalan. Pun gadis itu menghela napas. Keningnya mengernyit, rautnya menunjukkan ekspresi kebingungan. "Ini bukan jalan menuju rumahku." Gumamnya seraya mengambil langkah berlawanan arah dari yang sebelumnya ia tuju. *** November, tahun ketiga. Rasanya kedai kopi memang salah satu tempat yang cocok untuk berkumpul bersama teman-teman. Seperti Disa, yang saat ini tengah berada di sudut kedai bersama dua orang teman wanitanya. Namun, bukannya saling bertukar cerita dan melempar tawa, Disa malah nampak termenung di tepian jendela. Melempar pandangannya asal ke luar kedai, entah apa yang sedang ia pikirkan, sesekali Disa menghitung jumlah kendaraan yang melintas di luar sana. Pun rintik dari langit kembali menyapa. Maklum, menjelang akhir tahun memang sudah masuk giliran musim penghujan, jadi tak heran lagi jika sewaktu-waktu air hujan membuat kuyup. Melihat jendela kedai yang perlahan dipenuhi dengan tetesan air, tanpa sadar Disa menarik ujung bibirnya membentuk sebuah senyum tipis. Entah apa alasannya, Disa merasa ada secercah kebahagiaan yang menelusup ke dalam relungnya ketika ia melihat tetesan-tetesan air itu. "Apa menikah membuatmu sebahagia itu, Nona? Sampai kau senyum-senyum sendiri begitu." Celetuk Nana, salah satu teman Disa yang duduk berhadapan dengannya. Celetukan itu pun membuat Disa sedikit terkesiap, ia langsung menoleh ke arah temannya sambil melemparkan senyuman. "Ah, benar. Jangan bilang kau baru saja melalui malam yang indah dan kau masih membayangkannya!" Ujar temannya yang satu lagi, Diandra, yang duduk tepat bersebelahan dengan Disa. "Wah! Itu benar! Apalagi musim hujan begini, pastinya akan lebih syahdu, iya 'kan?" Timpal Nana lagi. "Ahh, aku tidak tahan membayangkannya! Membuat dipan berdenyit dengan keras sampai suaranya beradu dengan gemuruh hujan yang kian deras di luar. Aw! Itu sangat romantis!" "Ey, kalian! Hentikan!" Kata Disa yang kini wajahnya sudah bersemu merah menyembunyikan rasa malunya. Sementara dua temannya itu malah terkekeh setelah puas menggoda Disa. Semu merah di wajahnya perlahan memudar, digantikan dengan kerutan yang muncul di tengah kening akibat Disa menautkan alisnya, memasang raut yang kelihatannya memikirkan sesuatu. "Apa kalian pernah… lupa jalan menuju rumah kalian sendiri?" Tanya Disa, nada bicaranya terdengar serius, tapi teman-temannya malah menanggapi dengan tawa. "Sepertinya hanya kau yang begitu! Ahahaha!" Sahut Nana. "Benar, bahkan kau lupa menaruh tasmu ini!" Tambah Diandra sambil meraih tali tas Disa yang masih menggantung di bahu gadis itu. "A-ah, ini, aku sengaja tidak melepasnya agar tidak ada yang bisa mencurinya! Ahaha!" Jawab Disa. Sebenarnya dia tengah beralibi. Padahal, Disa memang benar-benar lupa untuk melepaskan tas kecilnya itu. Jawaban Disa barusan disambut tawa oleh dua temannya, mereka saling melempar tawa padahal sebenarnya, saat ini Disa tengah memikirkan sesuatu yang belakangan ini sering mengganggu kesehariannya. Disa kerap kali melupakan hal-hal kecil. Seperti yang terjadi pada tiga hari lalu di kediamannya. Saat itu… Disa baru kembali dari kantor, gadis itu meletakkan payung yang telah melindunginya dari rintik hujan, di dekat pintu. Kemudian mengibaskan lengan bajunya yang terkena sedikit tetesan air. "Sayang! Aku pulang!" Teriak Disa. Gadis itu melongok ke kanan dan kiri tapi ia tak dapat menemukan suaminya. Kemana dia? Padahal saat berbicara di telepon tadi katanya dia pulang cepat hari ini. Atau bisa jadi dia tertidur di kamar? Bukan tidak mungkin karena cuaca hari ini sangat mendukung untuk bermalas-malasan di kasur. "Huhh! Sepertinya mie rebus saat hujan adalah perpaduan yang sangat nikmat!" Ujar Disa. "Kalau begitu aku masak mie dulu, baru mandi." Katanya lagi, sambil melangkahkan kaki ke arah dapur. Disa meraih panci dengan gagang kayu berukuran kecil dan mengisinya dengan air, tidak sampai penuh, melainkan hanya setengah. Kemudian Disa meletakkan panci itu di atas kompor. Namun, sesaat setelah Disa menghidupkan api kompornya, ia malah melenggang pergi meninggalkan dapur. Gadis itu malah melangkah memasuki kamar mandi, dan menutup rapat pintunya. Tunggu! Jangan mandi dulu, Disa! Bagaimana jadinya air rebusan itu? Bukankah bahaya jika ditinggalkan begitu saja? Disa melucuti pakaiannya satu persatu, melemparnya asal pada keranjang tumpukan baju kotor di sudut kamar mandi. Kemudian gadis itu menghidupkan shower, membiarkan tubuhnya dibasahi tetes demi tetes air yang mengalir dari sana. Sementara di dapur, air rebusan itu sudah menimbulkan gelembung-gelembung dan kian lama kian surut. Namun kini Disa malah asyik menggosok tubuhnya dengan sabun di bawah shower. Seakan berpacu untuk mencari siapa yang lebih cepat, air rebusan itu kini sudah benar-benar surut tak bersisa. Pun bagian bawah panci silver milik Disa itu sudah berubah warna menjadi hitam. Seorang lelaki berbalut kaus putih dengan celana hitam pendek baru saja keluar dari balik pintu kamar. Rambutnya berantakan, matanya yang memang kecil itu belum terbuka sempurna. Di saat yang bersamaan, Disa juga baru saja muncul dari dalam kamar mandi dengan handuk putih yang membungkus tubuhnya. "Oh, kau sudah bangun?" Alih-alih menjawab pertanyaan Disa, lelaki itu malah membelalakan matanya dan segera berlari menuju dapur. Pun Disa yang baru saja menyadari sesuatu juga langsung membawa kakinya berlari menyusul lelaki itu. Beruntungnya, api kompor dapat dengan cepat dipadamkan oleh lelaki itu. Pun panci yang bawahnya gosong segera disingkirkannya dari sana. "M-maaf…" ucap Disa takut-takut. Ia tidak berani menatap wajah suaminya yang kini berdiri di hadapannya itu. Ya, lelaki yang dengan sigap mematikan kompor itu suami Disa. Matanya terlalu tajam sehingga Disa hanya mampu menundukkan kepala. "Kau sudah selesai mandi?" Mendengar sebaris tanya keluar dari mulut suaminya, Disa dengan sedikit ragu mendongakkan wajah seraya mengangguk. "Apa kau yakin sudah membersihkan semuanya?" Lagi-lagi Disa memberi anggukan untuk pertanyaan kedua dari suaminya itu. "Benarkah?" Sreetttt Handuk yang menutupi tubuh Disa itu langsung disingkap tanpa aba-aba. Membuat jantung Disa seketika berdebar tak keruan, gadis itu sempat tersentak, menyembunyikan senyum malu-malunya serta wajahnya yang sudah bersemu merah. Apalagi saat mata tajam suaminya itu menelusuri tiap-tiap bagian tubuhnya, memastikan kalau sang istri telah benar membersihkannya tanpa ada yang terlewat. Tidak sih, sebenarnya itu hanya akal-akalannya saja untuk menikmati tubuh indah sang istri. "Bagaimana?" Tanya Disa malu-malu. "Hmmm…" lelaki itu bertindak seolah-olah tengah berpikir. Sementara Disa menatap intens wajah suaminya itu, menanti apa yang akan diucapkannya. "Sepertinya aku akan memeriksanya lebih lanjut!" Serunya, yang langsung membopong tubuh mungil Disa, membawanya ke dalam kamar. *** "Ah, bagaimana ini… hujannya tidak juga reda…" Keluh Diandra. "Suamiku sebentar lagi jemput, Diandra. Apa kau mau ku antar pulang sekalian?" Ujar Nana. "Hmm, tidak perlu, itu pasti merepotkan kalian karena harus mengantarku dulu." "Ey, sama sekali tidak!" Kata Nana sambil meraih ponselnya dari dalam tas. "Oh, iya. Disa. Aku punya banyak apel di rumah, suamiku membelinya saat perjalanan dinas kemarin, aku sudah memintanya membawakan sebagian untukmu, kau 'kan sangat menyukai apel." Mendengar itu, tiba-tiba saja kening Disa kembali mengernyit. Pun ia mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri secara perlahan. "Aku… menyukai apel?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD