Malam ini, London ditaburi hujan salju. Seorang gadis dengan secangkir cokelat hangat dalam genggamannya, mengulurkan sisi lengannya yang lain lagi ke luar jendela. Salju pertama. Mitosnya, jika sepasang kekasih sedang bersama ketika salju pertama turun, maka cinta mereka akan menjadi cinta yang abadi. Kemudian gadis itu menoleh ke arah ranjang, yang mana terdapat seorang lelaki tengah terbaring dengan posisi membelakanginya. Pun gadis itu malah menghela napasnya.
"Bagaimana kalau… pasanganmu justru tertidur? Apa cinta abadinya juga tetap berlaku?" Keluhnya pada butiran-butiran salju yang ada di genggaman.
Hap
Sedetik berikutnya, gadis itu merasakan ada tangan yang melingkar pada pinggulnya. Desah napas terasa menghangatkan leher bagian kiri, pun helaian-helaian rambutnya yang menutupi itu telah disingkirkan oleh si lelaki dengan lembut. Kemudian, cangkir berisi cokelat panas yang semula digenggam oleh sang gadis diraih perlahan dan diletakkannya di atas meja.
"Bagaimana kalau… pasanganmu ini ternyata tidak tertidur? Apa yang kira-kira akan terjadi selanjutnya?" Bisik si lelaki. Lantas gadis itu segera membalikkan tubuhnya, menjadi berhadapan dengan lelaki yang memeluknya dari belakang. Ditelisiknya wajah lelaki itu dengan lekat. Mata kecilnya yang selalu tajam kala menatap, hidungnya yang mancung serta bibirnya yang tipis. Membuat gadis itu tanpa sadar menarik dua ujung garis bibir untuk membentuk simpul senyum.
"Bagaimana? Bagaimana jadinya kalau aku belum tertidur?" Goda lelaki di hadapannya itu hingga membuat wajahnya bersemu merah. Pun ia hanya mampu menunduk, menyembunyikan raut tersipu dan pipinya yang saat ini pasti sudah menjadi merah padam.
"Kira-kira…" lelaki itu mengambil satu langkah lebih dekat, sementara si gadis hanya mampu memundurkan wajahnya.
"Apa yang akan terjadi, selanjutnya?" Bisiknya, dengan suara khasnya yang sedikit berat.
KRINGGGGGGG
Jam beker di atas nakas berdering dengan nyaring, membuat gadis yang masih terlelap di balik selimutnya mau tidak mau harus berusaha membuka mata dan mematikan deringnya. Jarum pendek dan jarum panjang telah membentuk garis lurus vertikal. Sudah pukul enam pagi.
Pun ia menghela napas sambil mengucek mataknya, "ternyata hanya mimpi…" gumam gadis itu sebelum beranjak dari tempat tidur dan bergegas menuju ke kamar mandi.
***
Suara alas kaki yang berbenturan dengan lantai terdengar menggema di koridor sekolah. Seorang lelaki dengan celana abu-abu panjangnya tengah berjalan begitu santai tanpa memedulikan tatapan kagum serta sapaan dari gadis-gadis yang berada di sekitarnya. Sorot mata yang tajam dan terkesan dingin itu hanya menatap lurus ke depan. Telinganya disumbat oleh earphone yang mengalunkan sebuah lagu dari daftar musik pada ponselnya. Ransel hitamnya hanya dipanggul di lengan sebelah kanan, sedang lengan kirinya disembunyikan ke dalam saku celana.
Lelaki itu membawa kakinya melangkah memasuki sebuah ruang kelas bertuliskan "XII-A" yang terpampamg pada pintu, langsung menuju sebuah tempat duduk di barisan paling pojok, kedua dari depan. Tanpa menyapa kanan kiri dia segera meletakkan ransel di kursi sebelahnya yang memang tak berpenghuni. Benar, dia duduk sendiri. Bukan karena tak ada teman yang mau, hanya saja dia yang menolak. Dia memang begitu, seperti seseorang yang anti sosial, ia malah memilih menarik diri dari sekitarnya. Di atas mejanya sudah tergeletak sebuah apel berwarna merah segar. Namun lelaki itu malah menatap apel tersebut dengan tatapan jengah. Tanpa buang waktu lagi, segera dirinya meraih apel yang ada di atas meja itu dan membalikkan tubuh ke arah lelaki lain yang duduk di belakangnya.
"Hey, apa kau mau apel?" Tanyanya. Tentu si lelaki yang ditawari itu mengangguk dengan sangat antusias. Sedetik sebelum ia menyerahkan apel tersebut, matanya sempat melirik ke arah gadis yang duduk di sudut sana, yang tengah bersembunyi di balik buku tebalnya menutupi ekspresi kecewa sebab apel pemberiannya itu malah diberikan lagi pada orang lain.
"Huh!" Keluhnya, buku tebal itu diletakkan asal ke atas meja. Kemudian ia menenggelamkan wajahnya pada telapak tangannya sendiri selama sepersekian detik sebelum matanya kembali memandang ke arah lelaki yang baru saja mengenyahkan apel pemberiannya itu. Lelaki yang tengah berkutat dengan buku di atas mejanya serta kedua indera pendengarannya yang masih disumbat dengan earphone.
"Gagal lagi?" Gadis itu seketika menoleh kala sebuah suara menyapa dari sebelahnya.
Pun ia mendengus sebal sambil memasang raut yang cemberut. "Ya… seperti biasanya." Jawab gadis itu.
"Tidakkah kau menyerah saja, Disa?"
Sebaris tanya yang baru saja dilempar oleh teman sebangkunya, membuat gadis bernama Disa itu seketika tersentak.
"Menyerah?" Disa kembali melempar pandangannya ke arah lelaki di sebelah sana. "Bukankah ini baru dimulai?" Sambungnya.
Pun pada saat yang bersamaan, lelaki yang sedari tadi Disa tatap juga ternyata menoleh ke arahnya, mungkin dirinya juga merasa kalau sedari tadi ada yang memerhatikannya dari sudut sana. Sontak pipi Disa langsung bersemu merah dan menyimpulkan senyum termanisnya. Namun sayang, tidak seperti Disa yang tersipu saat mata mereka bertemu tatap, lelaki itu justru hanya meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada jajaran kata dalam bukunya.
***
Seisi kelas bersorak kegirangan, bel yang berbunyi nyaring itu terdengar seperti alunan nada yang indah kalau berbunyi di penghujung jam pelajaran, menandakan telah usainya aktifitas belajar mengajar hari ini.
Guru yang mengisi mata pelajaran terakhir sudah meninggalkan kelas beberapa detik yang lalu. Lantas masing-masing dari penghuni kelas langsung membereskan alat tulis mereka masing-masing, tak terkecuali Disa yang nampak sangat terburu memasukkan semua peralatannya ke dalam ransel sampai membuat teman di sebelahnya keheranan.
"Nana, aku duluan, ya!" Seru Disa sembari bangkit dari duduknya setelah merapatkan resleting dan menggendong ransel merah mudanya di punggung. Belum sempat Nana menjawab, Disa sudah berlari duluan ke luar meninggalkan kelas. Pun Nana hanya menggelengkan kepalanya dengan kening mengerut melihat tingkah temannya yang satu itu.
Disa terus berlari menyalip satu persatu murid lain yang tengah berjalan di koridor. Bibirnya tak henti-henti mengembangkan senyum. Disa baru menghentikan kakinya ketika ia tiba di gerbang depan. Dengan napas yang masih terengah, Disa tersenyum puas sambil berkecak pinggang, sebelum akhirnya ia meraih sesuatu dari dalam ransel, sebuah amplop berwarna merah muda dengan lambang hati di bagian tengah. Pada detik berikutnya, Disa meletakkan amplop tersebut di depan d**a. Dengan wajah yang begitu sumringah, Disa mulai melangkahkan kakinya ke sisi samping gerbang. Matanya menyapu ke seluruh penjuru, memeriksa tiap-tiap murid yang melintas di sana.
"Disa, kau sedang apa di sini?" Tanya Nana dengan wajah yang bingung.
Bukannya langsung menjawab, Disa malah tersenyum malu-malu. "Aku…" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja matanya menangkap sosok yang dinantinya sejak tadi.
"Itu dia!" Pekik Disa. Sontak Nana mengikuti arah pandang mata Disa. Sepertinya Nana tahu siapa yang dimaksud oleh temannya itu. Benar saja, lelaki dengan wajah datar itu tengah melangkahkan kakinya dengan santai di antara murid-murid yang lain. Seperti biasa, telinganya disumbat oleh earphone, dan kedua tangannya disembunyikan di balik saku celana.
"Kau mau apa?" Baru saja Nana kembali menoleh ke arah Disa, ternyata gadis itu sudah tidak lagi berada di tempatnya semula.
"Kemana dia?!" Nana panik, sejurus kemudian ia mendapati Disa yang sudah berlari menuju ke arah Aksa. Ya ampun, gadis bertubuh mungil itu pergerakannya cepat sekali. Ada pun Nana seketika menepuk keningnya sendiri. Sepertinya ia tahu apa yang akan temannya lakukan itu.
"Aksa!" Cegat Disa, gadis itu tiba-tiba menghadang jalan lelaki yang ia panggil 'Aksa' dengan berdiri tepat di hadapannya. Mau tidak mau, langkah Aksa akhirnya terhenti. Tanpa ekspresi apapun Aksa menatap gadis yang berdiri di hadapannya itu. Dalam benaknya ia mengumpat sebab gadis itu sudah berani-beraninya menghalangi jalannya.
"Untukmu!" Dengan segenap keberanian, Disa mengulurkan sepucuk surat dengan berbalut amplop merah muda yang sedari tadi digenggamnya. Seketika Aksinya itu langsung menjadi pusat perhatian bagi para murid yang berada di sana, sementara Aksa hanya melirik sekilas ke arah amplop merah muda itu. Namun sekilas, Aksa tampak menarik salah satu ujung bibirnya menyunggingkan senyum miring yang terkesan mengejek, pada detik berikutnya tanpa menyentuh sedikit pun, Aksa berlalu begitu saja meninggalkan Disa yang masih mematung di tempatnya berada.
Seketika waktu terasa berjalan lambat, suara langkah kaki Aksa yang berlalu pergi itu terdengar begitu menggema di telinga Disa. Sapuan angin berhasil menerbangkan sepucuk surat yang Disa genggam, menjadikannya terdampar di atas tanah bersama daun-daun kering yang berguguran. Suara langkah kaki Aksa perlahan terganti oleh gelak tawa serta cibiran dari orang-orang di sekitar Disa yang menyaksikan penolakan terhadap dirinya itu.
Nana, yang juga masih berada di sana serta menyaksikan semuanya pun langsung mencegat Aksa. Menarik kerah seragam lelaki itu dan melepaskan sebelah earphone-nya.
"Kau!" Jari telunjuk Nana menunjuk tepat di depan wajah Aksa. "Tidak bisakah kau berperasaan sedikit saja? Ha?! Haruskah kau membuatnya malu di depan banyak orang?!" Gertak Nana dengan penuh penekanan.
Dengan wajah yang tetap datar, Aksa menurunkan telunjuk Nana, mengenyahkan telunjuk itu dari depan wajahnya.
"Bukankah dia yang mempermalukan dirinya sendiri?" Ketus Aksa yang kemudian kembali memasang earphone-nya dan melanjutkan langkah, melenggang pergi meninggalkan area sekolah seperti tidak terjadi apa-apa.
"Ck!" Decak Nana dan segera berlari ke arah Disa. Gadis itu masih terpatri dengan tatapan kosong. Senyumnya yang semula terlukis jelas kini lenyap seiring dengan sapuan angin barusan. Nana melihat surat itu tergeletak di atas tanah. Lantas ia meraihnya, menepuk-nepuknya guna membersihkan tanah yang sempat mengotori permukaannya, kemudian Nana meletakkannya lagi di genggaman Disa.
"Bukankah ini baru akan dimulai?"