Satu gigitan yang mencipta sensasi manis dan segar, sebelum kau menjumpai rasa masam nantinya.
---
Seorang gadis yang berbalut seragam putih-biru memacu laju larinya lebih cepat lagi, sambil sesekali membetulkan posisi topi caping dari koran yang mesti ia kenakan di hari pertama masa orientasinya. Pun ia melirik arloji di tangan kirinya yang sudah menunjukkan tepat pukul tujuh. Sudah pasti telat. Namun gadis itu terus berlari tak peduli akan genangan air yang mengotori sepatu juga kaos kakinya.
"Ayo cepat! Cepat!" Beberapa senior yang berjaga di depan gerbang berteriak sebelum gerbang benar-benar ditutup. Lantas gadis itu semakin mempercepat larinya agar bisa tiba sebelum gerbang ditutup.
Tinggal sedikit lagi, betul-betul sedikit lagi. Gadis itu seakan berpacu dengan waktu, berlomba untuk siapa yang lebih beruntung hari ini.
Satu langkah lagi.
Namun sayang, sepertinya keberuntungan belum berpihak padanya. Gerbang lebih dulu ditutup dibanding langkah kaki gadis tersebut melintasinya.
"Kalian terlambat!" Seru salah seorang senior kepada beberapa murid baru yang datang terlambat dan berada di luar gerbang.
"Hari ini aku sedang berbaik hati, jadi kalian boleh masuk asal besok tidak terlambat lagi, mengerti?!"
"Mengerti, Kak!" Jawab mereka serentak. Termasuk gadis yang tadi berlarian dari ujung jalan sampai ke depan sekolahnya. Pakaiannya sudah berantakan, padahal ia baru saja memulai harinya. Sepatu dan kaos kakinya kotor, papan nama dari kardus yang tergantung di lehernya pun ternyata terbalik.
Setelah gerbang kembali dibuka, kumpulan murid baru yang datang terlambat itu segera memasuki sekolah dan bergegas menuju ke lapangan. Namun tidak dengan gadis itu, langkahnya dihentikan oleh salah seorang senior lelaki yang tanpa ia sadari telah memerhatikannya sejak ia masih berlarian tadi.
Gadis itu sudah ketakutan dan menundukkan kepalanya, takut kalau-kalau ia akan diberi hukuman atau terkena ocehan. Namun ternyata seniornya itu malah membenarkan posisi topi capingnya yang miring, dan membalikkan lagi papan namanya yang semula terbalik.
"T-terima kasih, Kak!" Ucapnya dan segera berlari kecil untuk bergabung dengan yang lainnya di barisan. Adapun senior lelaki yang tadi itu terkekeh dan tersenyum gemas kala melihat gadis tersebut berlari dari belakang.
Karena dirinya terlambat, alhasil ia hanya kedapatan di barisan paling belakang. Membuat tubuhnya yang mungil sedikit kesulitan untuk melihat para senior yang sedang memberikan arahan di depan.
"Oke! Sebelum masuk ke kelas, sekarang kalian kumpulkan buku sampul biru yang kemarin sudah diperintahkan!" Ujar seseorang dengan pengeras suara di depan sana. Beberapa senior lainnya langsung beredar untuk mengumpulkan buku tersebut dari tiap-tiap murid baru.
"Mana bukumu?" Tanya seorang senior kepada gadis yang terlambat tadi.
"Sebentar, Kak." Katanya. Ia terus mengacak-acak ranselnya, berusaha mencari buku yang dimaksud. Ia yakin kalau semalam sudah memasukkannya langsung ke dalam ransel dan bukan meletakkannya di meja belajar. Tunggu, apa mungkin ia meletakkannya di meja? Ah tidak, sepertinya ia benar memasukkannya ke ransel.
"Tidak bawa?" Tanya senior itu lagi. "Kakak! Ada yang lupa bawa buku! Baiknya dihukum apa??" Serunya, memprovokasi senior yang lain untuk memulai perpeloncoan terhadap gadis itu. Pun seluruh pasang mata kini menatap ke arahnya.
"Siapa yang tidak bawa? Suruh dia ke depan!"
Gadis itu hanya bisa tertunduk pasrah ketika senior lainnya memerintahkan untuk dirinya maju ke depan.
"Sebentar, bukannya kamu ini yang tadi telat, ya? Siapa namamu?"
"Disa, Kak." Jawabnya dengan kepala yang tertunduk.
"Disa? Kamu ini berniat sekolah atau tidak? Di hari pertama saja kamu sudah terlambat dan tidak membawa buku yang diperintahkan!" Maki salah seorang senior wanita dengan suaranya yang melengking.
"Tidak bawa atau tidak buat ya, Kak?!" Cetus senior lainnya lagi yang memprovokasi.
"S-saya sudah buat, Kak. Sepertinya tertinggal di meja belajar." Jawab Disa dengan sedikit takut.
"Alasan klasik!" Seru si tukang provokasi lagi.
"Sudah, sudah! Sekarang kamu berdiri dulu di sini. Ada lagi yang tidak bawa atau belum buat bukunya?"
Hening. Tak ada satu orang pun yang mengangkat tangannya atau menjawab tanya yang dilempar senior tersebut barusan. Disa hanya bisa menggerutu dalam hatinya, merutuki kecerobohan dirinya yang meninggalkan buku itu di atas meja, juga mengumpat karena dari sekian banyaknya murid kenapa hanya Disa yang ditimpa kesialan ini? Bukan masalah berat atau tidaknya hukuman, melainkan malu yang ditanggung oleh Disa sebab menjadi pusat tontonan bagi yang lainnya.
Pun ketika baru saja senior wanita yang sempat memaki Disa itu menarik napasnya, bersiap untuk kembali memberikan pengarahan, seorang lelaki tiba-tiba saja muncul dari barisan paling belakang. Maju menghadap kepadanya dan senior-senior yang lain.
"Ada apa? Mau dihukum juga?" Tanyanya.
Di luar dugaan, lelaki itu menganggukkan kepala dengan ekspresinya yang datar, yang langsung membuat riuh seisi lapangan.
"Siapa namamu?"
"Aksa."
Pun Disa yang sedari tadi tertunduk, perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap sosok lelaki bernama Aksa yang rela dihukum juga bersama dirinya. Tepat ketika mata Disa berhasil menatapnya, wajah itu seakan memancarkan cahaya dan aura yang tak biasa. Yang membuat Disa merasakan kupu-kupu menggelitik di perutnya.
"Ah, Aksa namanya. Aku yakin dia menyukaiku. Ya, dia pasti menyukaiku. Kenapa dia rela dihukum kalau bukan untuk menyelamatkanku dari rasa malu? Benar, bukan? Tidak salah lagi, Aksa, pasti, menyukaiku."
Tanpa disadari, wajah Disa kini sudah bersemu merah, gadis itu menundukkan kepalanya dalam-dalam demi menyembunyikan pipinya yang merona.
"Eh, sebentar. Aksa bukankah kamu mengumpulkan buku tadi?" Tanya senior yang bertugas menerima buku-buku dari para murid baru.
Aksa menganggukkan kepalanya.
"Lalu kenapa mau dihukum? Mau jadi pahlawan kesiangan?" Cibir si tukang provokasi.
"Sepertinya aku melakukan kesalahan dalam pembuatan isi buku itu. Sebelum Kakak repot-repot menyuruhku untuk maju ke depan, lebih baik aku maju sendiri." Jawabnya lugas.
Tindakan Aksa tersebut tentu mengundang banyak tanggapan. Kebanyakan dari mereka, terutama para wanita, seketika langsung terpesona dengan ketampanan serta sikapnya yang dinilai begitu gentle. Sepertinya Aksa akan menjadi idola baru bagi kaum hawa di sekolah ini.
"Terima kasih!" Bisik Disa dengan malu-malu.
"Aku melakukan ini bukan untukmu." Jawab Aksa ketus.
"Aish, dia ini jutek sekali. Ah tapi bukan masalah, pasti dia melakukan ini untukku, dia hanya malu-malu!"
Sementara itu, senior lelaki yang sempat mencegat Disa di depan gerbang tadi sedang memerhatikan mereka dari jauh.
***
Saat yang lain diizinkan masuk ke kelas untuk melanjutkan kegiatan orientasi. Disa dan Aksa diminta untuk tetap tinggal di lapangan, keduanya hanya berdiri di dekat tiang bendera sampai salah satu dari senior itu ada yang menghampiri.
"Kamu, Disa. Karena kesalahanmu hari ini tidak hanya satu, jadi hukumanmu dua kali lipat. Lari mengitari lapangan sebanyak lima putaran, setelah itu kumpulkan sampah yang berserakan di parkiran!" Perintahnya.
"Baik, Kak." Sahut Disa sambil tertunduk.
"Kamu, siapa namamu? Aksa? Kamu juga lari mengitari lapangan sebanyak lima putaran, tapi setelah itu bisa langsung masuk ke kelas. Mengerti?"
Pun Aksa menanggapinya dengan anggukan.
"Yasudah kalau begitu, cepat lari!"
"I-iya Kak!" Sahut Disa yang langsung mulai berlari, disusul oleh Aksa, lelaki itu meski sedang dihukum entah kenapa wajahnya tetap terlihat tenang.
Satu putaran, masih aman.
Dua putaran,
Tiga putaran. Disa nampak lelah, laju larinya semakin pelan juga napasnya mulai terengah. Entah dari mana munculnya, ada satu lelaki lagi yang berusaha menyeimbangkan larinya dengan Disa. Sontak membuat Disa juga Aksa yang berlari di sebelahnya seketika menoleh untuk melihat siapa kiranya yang ikut berlari bersama mereka.
"Kau lelah?" Tanyanya.
"Oh, tidak, Kak. Aku baik-baik saja." Jawab Disa berbohong, jelas-jelas saat ia bicara saja napasnya sudah mulai tak keruan.
Hap.
Lelaki itu menggenggam lengan Disa membuat gadis itu lantas menghentikan larinya. Keduanya saling melempar pandang selama beberapa detik. Sebelum akhirnya Disa lebih dulu melepaskan tangannya dari genggaman lelaki itu.
"Apa ini? Apa dia akan menambah hukumanku?"
"Kalau kau lelah, kau bisa berhenti." Ucapnya.
"T-tapi, Kak--"
"Bilang saja, aku yang suruh." Katanya lagi.
"Memangnya boleh begitu?" Tanya Disa dengan polosnya.
Tak langsung menjawab, lelaki itu malah terkekeh yang justru membuat Disa mengernyitkan dahi mengekspresikan rasa bingungnya.
"Aku Rio, aku ketua OSIS. Tentu aku punya hak untuk menghentikan hukumanmu, bukan?"
Mendengar hal itu, Disa menyimpulkan senyumannya. Ternyata namanya Rio. Lelaki yang mencegat Disa di gerbang dan membenarkan posisi topi camping juga papan namanya, sekarang ia menolong Disa yang kelelahan dengan memintanya berhenti berlari. Selagi keduanya masih bertatapan dan saling melempar senyum, Aksa yang masih melanjutkan larinya pun berdecis sinis.
"Masa orientasi malah digunakan sebagai ajang modus!" Cibirnya.
Lantas setelah Disa tidak lagi melanjutkan larinya, ia menepi ke pinggir lapangan, sedang senior yang bernama Rio itu harus kembali pergi sebab masih ada yang mesti ia kerjakan. Maklum, ketua OSIS pasti sibuk.
"Kenapa sudah berhenti? Sudah selesai larinya?" Tanya senior yang memerintahkan Disa untuk berlari sebelumnya.
"Tadi kata Kak Rio saya sudah boleh berhenti." Jawab Disa.
"Rio? Ah benar-benar anak itu! Yasudah, tapi itu bukan berarti kau bisa terbebas dari hukuman yang lain. Tentu kau tidak lupa, bukan?" Ujarnya sambil memberikan sebuah kantung plastik hitam berukuran besar pada Disa.
Disa menganggukkan kepalanya sembari menerima kantung tersebut.
"Sekarang cepat ke parkiran!"
"Iya, Kak!" Jawabnya dan segera berlari menuju ke parkiran.
***
"Aish! Kenapa sampah ini sangat banyak?" Gumam Disa sembari memasukkan botol-botol bekas minuman ke dalam kantung plastik besar yang dibawanya.
"Apa di sini tidak ada petugas yang bersih-bersih?" Tanya Disa pada dirinya sendiri.
Pun Disa sudah mengumpulkan sampah-sampah itu lumayan banyak, terasa pada kantung plastiknya yang semakin berat sampai Disa tak lagi kuat mengangkat dan harus menyeretnya. Setelah Disa tiba di ujung parkiran, gadis itu mengembangkan senyuman lega sebab sampah-sampah itu sudah tinggal sedikit. Itu artinya, sebentar lagi dirinya terbebas dari hukuman.
"Hey, kau!" Panggil seorang lelaki yang Disa tahu itu pasti seniornya. Sebab seragam yang digunakannya itu berbeda dengan yang Disa gunakan.
Disa menoleh, kemudian mengarahkan telunjuknya pada dirinya sendiri setelah melihat ke kanan dan kiri yang tak ada orang lain lagi selain dirinya.
"S-saya Kak?
"Iya, cepat kemari!"
Tak mau kena masalah lagi, lantas cepat-cepat Disa menghampiri lelaki itu sambil susah payah menyeret kantung plastik besar berisi sampah yang sudah ia kumpulkan.
"Berikan padaku!" Katanya, meminta plastik berisi sampah itu dari Disa. Tanpa menaruh rasa curiga sedikit pun, Disa menyodorkan plastik tersebut yang langsung disambar oleh lelaki itu.
Dalam hitungan detik, sampah yang berhasil Disa kumpulkan itu sudah kembali berserakan di tanah. Lelaki itu sengaja mengaurkannya lagi, sambil terbahak ia bahkan menendang sampah-sampah itu agar semakin tercecer.
"Lihat, masih kotor 'kan? Cepat kumpulkan lagi!" Serunya sambil melempar plastik hitam tersebut yang sudah kembali kosong tepat di hadapan Disa, kemudian lelaki itu berlalu meninggalkan Disa yang masih terdiam mematung di tempatnya.
"Ishhhhhhh menyebalkan!!!" Gerutunya sambil menghentak-hentakan kaki ke tanah.
Pun Disa meraih plastik itu lagi sambil mendengus. Satu persatu, ia kembali memasukkan sampah-sampah itu ke dalamnya. Namun, saat tangannya terulur untuk meraih salah satu sampah botol bekas minuman, tiba-tiba saja ada tangan lain yang mendahuluinya. Bahkan tangan itu mengambil alih kantung plastik besar yang berada di genggaman Disa. Sontak Disa mendongakkan wajahnya untuk melihat siapa gerangan malaikat yang membantunya itu. Saat mata Disa melempar tatap ke arah wajahnya, terik matahari memancarkan sinarnya tepat pada sosok yang ada di hadapan Disa itu, membuat Disa refleks menghalau sinar tersebut dengan telapak tangannya dan sedikit menyipitkan mata. Pada detik berikutnya, wajah itu mulai terlihat. Wajah yang juga memancarkan sinar tak kalah dengan matahari di atas sana, tepat ketika mata mereka bertemu tatap, sebuah simpulan senyum terlukis pada wajah lelaki itu.
"Kak Rio?"
Senyuman masih belum juga luntur dari wajahnya, sejurus kemudian, ia lantas kembali mengumpulkan sampah-sampah yang masih berserakan itu, memasukkannya ke plastik. Sedang Disa, gadis itu masih geming. Entah apa yang membuatnya terpaku dengan mulut terbuka lebar begitu.
"Hey? Apa yang kau lakukan di sana, gadis kecil? Apa kau tidak ingin ini cepat selesai?" Tanya Rio sambil melempar tatapannya yang teduh.
Disa lantas menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Disa! Sadarlah! Jangan mau dikelabui olehnya! Dia pasti ingin mengujimu dan memberimu hukuman tambahan! Kau harus menyelesaikan ini secepatnya!" Batin Disa.
Sementara itu, di sisi lain, sambil menanggalkan ransel hitamnya, seorang lelaki bermata elang sempat melirik ke arah Disa dan Rio yang tengah bekerjasama mengumpulkan sampah, sebelum akhirnya lelaki itu memilih untuk melenggang membawa pergi langkahnya menuju ke kelas.