Tenang saja, aku tidak mengharap banyak dari surat ini. Aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku sebelum kita benar-benar berpisah. Karena pasti aku akan sangat merindukanmu. Seperti merindu hujan saat kemarau, atau merindu terik di antara salju putih. Itulah alasanku yang pada akhirnya mendapat keberanian untuk menulis surat ini.
Entah pada akhirnya surat yang kutulis ini akan terbaca atau tidak, yang pasti aku hanya ingin bilang bahwa…
Pena itu terhenti. Membayangkan kalimat selanjutnya yang akan ditulis, membuat Disa menghela napas dan melempar pandangannya sejenak ke luar jendela kamar yang ada di lantai dua rumahnya itu.
"Huh? Bintang jatuh!" Seru Disa, yang langsung bangkit dan berlari menuju jendela.
"Wah!" Katanya berdecak kagum. Pun detik itu juga Disa memejamkan mata, keras, sambil bersungguh merapalkan permintaannya dalam hati.
***
Berada di tingkatan akhir, membuat Disa dan teman-teman seangkatannya yang lain mesti belajar lebih giat lagi untuk mempersiapkan ujian kelulusan. Apalagi Disa, gadis yang selalu ceria itu ternyata memiliki riwayat nilai akademis yang tidak semanis apel merah kesukaannya. Ia bukanlah gadis pintar yang selalu unggul dalam pelajaran. Kata orang, memang tidak setiap anak bisa berprestasi pada semua mata pelajaran di sekolah, paling tidak hanya satu yang bisa dikuasai, atau bahkan mungkin kemampuannya ada pada bidang non akademis. Namun tidak dengan Disa, agaknya tak ada satu pun yang menyerap pada otaknya selama tiga tahun duduk di bangku Sekolah Menengah Atas ini.
"Setelah meninjau dari nilai-nilai rapot kalian dari kelas satu, agar kalian semua bisa lulus ujian, Ibu akan meminta kepada kalian yang nilainya terbilang cukup untuk membantu teman kalian yang masih kurang."
"Ah, firasat ku buruk tentang ini. Jangan sampai lelaki itu menjadi teman belajarku!" Gerutu Nana, yang kapasitas otaknya setara dengan Disa. Gadis itu memicingkan matanya pada lelaki berkacamata tebal dengan setelan rambut belah tengah yang duduk di kursi paling depan, pada detik berikutnya, lelaki itu juga menoleh ke arah Nana membuat mata mereka bertemu tatap sembari melempar senyuman yang justru membuat Nana bergedik geli dan memalingkan pandangannya.
"Awas! Benci dan cinta itu kadang beda tipis, lho, Na!" Goda Disa sambil terkekeh.
"Amit-amit!" Kata Nana sambil memalingkan wajahnya, membuang jauh-jauh dari pandangan lelaki itu.
Lelaki berkacamata tebal itu namanya Alvin, ketua kelas, menyebalkan bagi Nana. Sebab lelaki itu kerap mengejar Nana dan menyatakan perasaannya berkali-kali yang juga mendapat penolakan berkali-kali. Sebagai gadis remaja yang belum jauh berpikir ke depan, Nana hanya melihat lelaki dari penampilannya saja. Adapun penampilan Alvin yang terbilang cupu, kutu buku, dan terlihat seperti anak mami tentu membuat Nana malu kalau terus-terusan didekati olehnya.
"Aldo, dengan Rita. Kalian bisa atur cara belajar kalian sendiri nanti, ya. Rita, tolong bantu Aldo."
"Baik, Bu." Jawab Rita, gadis yang duduk tepat di depan Nana dan Disa. Gadis itu satu-satunya perempuan yang berhasil masuk peringkat 5 besar di kelas itu. Jika kebanyakan murid berprestasi itu didominasi oleh perempuan, tapi tidak dengan kelas yang dihuni oleh Disa. Lelaki di kelas itu nampaknya dianugerahi otak lebih encer dibanding perempuan-perempuannya. Yang biasa menempati juara kelas ialah Aksa, atau kalau tidak, ya, Alvin. Kedua lelaki itu selalu berkompetisi dalam mata pelajaran, berbeda dengan Alvin yang memang selalu belajar tak kenal waktu, Aksa justru lebih sering bermain video game pada ponselnya. Kendati begitu, Aksa dianugerahi ingatan yang di atas rata-rata. Bahkan ia bisa langsung mengingat apa yang dibaca atau dilihatnya dalam satu detik.
"Alvin,"
Entah kenapa, begitu nama itu terlontar, Nana langsung tersentak dan menatap ke arah wanita yang berbalut seragam guru di depan. Menanti nama siapa yang akan disebut selanjutnya dengan jantung yang dagdigdug.
"Tolong bantu Nana, ya. Nanti kalian atur bagaimana cara belajarnya."
Tepat ketika sang guru menyelesaikan kalimatnya, Alvin, dari balik kacamata tebalnya langsung melayangkan tatapan pada Nana yang sekarang tengah berdengus sebal.
Sementara Disa, gadis itu terkekeh geli ketika teman sebangkunya pada akhirnya malah dipasangkan dengan seseorang yang selama ini ia rutuk kehadirannya.
"Begitulah cara semesta untuk menyatukan dua anak manusia." Bisik Disa ditengah kekehnya.
"Disa,"
"Ya, Bu?" Sahut Disa reflek. Raut gadis itu seketika berubah saat namanya disebut oleh sang guru di depan, yang semula menertawakan nasib Nana, teman sebangkunya, jadi diam memasang tampang datar.
"Nanti bisa dibantu belajar oleh Aksa, ya."
"Iya, Bu,"
"A-apa?? Aksa?!" Pekik Disa. Yang setelah dua detik, baru menyadari kalau ternyata yang akan membantunya belajar nanti ialah Aksa. Sementara lelaki itu sendiri, hanya menghela napasnya sambil melirik sekilas ke arah Disa.
"Iya. Ada apa, Disa? Kau keberatan?" Tanya sang guru.
"Tidak, Bu. Sama sekali tidak. Aku berjanji akan belajar lebih giat lagi!" Kata Disa bersemangat.
"Baik, bagus kalau begitu! Aksa, tolong bantu Disa, ya."
"Baik, Bu." Jawab lelaki itu malas, yang sebetulnya juga tengah merutuki nasib, kenapa harus gadis itu yang menjadi teman belajarnya? Berbeda dengan Disa yang kini tengah membawa imajinasinya berkeliaran jauh, membayangkan hari-hari yang akan ia lalui bersama Aksa, sebab mulai detik ini, sepertinya mereka akan lebih sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
***
"Ahh! Apa yang harus aku lakukan sekarang?!" Keluh Nana, sambil memandang pantulan dirinya di cermin toilet.
"Ya... Kau harus belajar bersama Alvin, memangnya apa lagi?"
Mendengar jawaban Disa, Nana malah semakin frustasi dibuatnya, gadis itu terus merengek dan memasang ekspresi murung. Pun keduanya kini telah melangkah pergi meninggalkan toilet. Namun, baru saja Disa dan Nana melintasi pintu toilet, tak lama berselang seorang lelaki dengan kacamata tebal yang bertengger di batang hidungnya sudah berada tepat di hadapan mereka, seorang lelaki yang sangat Nana rutuki kehadirannya.
Disa melempar pandangannya ke arah Nana dan lelaki itu secara bergantian, sembari merapatkan bibir menahan tawa.
"Eum, Nana, kau… mau mulai belajar kapan?" Tanya lelaki itu dengan malu-malu, adapun telunjuknya yang bergerak membenarkan kacamata yang sedikit melorot.
"Terserah! Aku sangat tidak antusias untuk itu!" Ketus Nana, dan langsung berlalu begitu saja. Meninggalkan lelaki itu juga Disa yang masih berada di tempat semula.
"Alvin, semangat! Ingatlah, ini semua baru permulaan. Jangan menyerah!" Ujar Disa sembari menepuk pundak lelaki berkacamata tebal itu, sebelum pada akhirnya ia berlari kecil mengejar Nana yang sudah melangkah lebih dulu.
"Nana! Tunggu aku!" Teriaknya.
Sedang Alvin, lelaki itu mengangguk mantap sembari menatap punggung pujaan hatinya yang perlahan menjauh.
"Ini baru permulaan!" Ucapnya penuh tekad.
Disa dan Nana terus membawa kakinya melangkah, menyusuri koridor untuk kembali ke kelasnya. Namun, seketika langkah Disa jadi melambat, matanya membulat kala ia melihat sosok lelaki yang juga tengah berjalan dari ujung koridor sana menuju ke arahnya. Cahaya matahari yang berhasil menyelinap dari balik pepohonan yang berjajar di pinggir koridor seakan-akan hanya menyorot pada lelaki itu, menyinari tiap-tiap langkahnya. Tidak sampai disitu, jarum jam pun seolah berdetik dengan lambat, angin yang entah datangnya dari mana, berhasil menyapu lembut rambut si lelaki juga ujung baju seragam yang dikenakannya.
"Ahh... dia benar-benar sempurna!" Gumam Disa. Nana yang mendengar itu, dan menyadari apa yang membuat temannya membeku lantas menoleh. Di tatapnya dari samping bola mata Disa yang berbinar, memancarkan kekaguman yang bergumuh dalam jiwa gadis itu.
Langkah Nana terpaksa terhenti sebab Disa yang masih membeku di tempatnya. Sementara pipi Disa semakin menunjukkan semburat merahnya, beriringan dengan langkah lelaki itu yang juga kian dekat. Disa menundukkan wajahnya, menyelipkan helaian rambut yang menjuntai ke balik telinganya.
"Aksa," panggil Disa, saat lelaki berada di depannya. "Kapan kita belajar bersama?"
Mau tidak mau Aksa menghentikan sejenak laju langkahnya, menghela napas dan memutar bola matanya malas. "Kau saja yang atur." Jawabnya singkat. Dengan sebelah tangan yang di sembunyikan di balik saku, Aksa, kembali melanjutkan langkahnya tanpa sedikit pun melirik Disa.
"Aish, orang itu tak pernah tak menyebalkan! Ayo Disa, kita kembali ke kelas!" Gerutu Nana sambil memicingkan matanya mengiringi kepergian Aksa.
Pun keduanya membawa langkah ke arah yang berlawanan dengan Aksa.
"Apa nanti Rio menjemputmu lagi?"
Koridor yang sepi, juga langkah mereka yang belum terlalu jauh, membuat pertanyaan Nana nyatanya sampai ke telinga Aksa.
"Apa kalian berpacaran? Ah! Cepat beritahu aku!"
Kali ini, langkah Aksa seketika terhenti. Pun lelaki itu menolehkan kepalanya sekilas. Namun pada detik berikutnya, hanya gelak tawa dari kedua gadis itu yang tertangkap oleh indera pendengarannya. Kalimat selanjutnya, tak pernah Aksa ketahui.
Bola mata Aksa bergerak ke arah bawah, geming selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkah.