Enam: Dua Tahun Lalu

1066 Words
Disa mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke kepalanya, bibirnya berkumat-kamit merapalkan soal yang tengah ia hadapi. Sudah hampir satu jam, tapi satu soal pun belum juga ada yang bisa Disa selesaikan. Aku berani bertaruh, Disa bukanlah satu-satunya orang yang membenci pelajaran matematika, pelajaran yang kerap kali dijadikan indikator tingkat kecerdasan siswa. Padahal, siswa yang tidak bisa matematika bukan berarti dia bodoh, bisa saja dia unggul di mata pelajaran lain. Namun, tidak dengan Disa, sudah kubilang gadis itu benar-benar tak memiliki keunggulan dalam hal apapun. Drrtt… Drrtt… Getaran ponsel dari sebelah buku bak angin segar bagi Disa, matanya semula mengantuk langsung kembali terbuka lebar. Gadis itu lantas segera meraih ponselnya yang baru saja kedapatan satu pesan masuk. "Alvin bilang, besok hari pertama kami belajar bersama. Ah, sial. Aku harap hari itu tidak pernah datang!" Begitu membacanya, Disa terkekeh geli. Sebelum jemarinya menari dengan lincah di atas jajaran huruf pada ponselnya untuk memberi balasan atas pesan yang ia terima itu. "Jangan terlalu benci, Na. Sudah kubilang, benci dan cinta itu beda tipis. Haha." Kirim. Ponsel kembali diletakkan ke tempat semula. Disa menangkup dagunya dengan kedua telapak tangan. Pulpen sudah sedari tadi terlepas dari genggamannya. Sedetik kemudian, lengkung senyum terlukis di wajah gadis itu. Namun, sayangnya tak bertahan lama. Sebab dalam hitungan detik senyuman itu kembali memudar. Disa menghela napas, menatap ke arah ponselnya yang tadi diletakkan. Jangan tanyakan perihal soal matematika yang semula berusaha ia kerjakan, saat ini pikiran Disa sedang tidak duduk, pikirannya sudah berlayar jauh entah kemana. "Kenapa Aksa tidak menghubungiku untuk belajar bersama? Apa aku harus menghubunginya lebih dulu?" Tanya Disa pada dirinya sendiri. Helaan napas kembali terdengar, bersamaan dengan ponselnya yang kembali bergetar. Disa tersentak, buru-buru ia membawa matanya untuk memeriksa layar ponsel, berharap pesan singkat yang baru saja mendarat itu dari Aksa. Namun, ekspetasi selalu lebih indah dari realita. Disa menaruh harapan yang salah. Alih-alih nama Aksa, yang tertera di sana malah nama Nana. Sontak saja Disa mendengus sebal, merutuki diri sendiri atas harapan bodohnya itu. Bicara tentang Nana, Disa jadi ingat saat dirinya sempat berselisih paham dengan teman sebangkunya itu, yang membuat keduanya tak lagi saling bicara, paling hanya saling melempar sepatah dua kata, sekadar bertanya seperlunya dan menjawab sekenanya. *** Dua tahun lalu. Ransel merah jambu baru saja mendarat di atas kursi kayu, disusul oleh seorang gadis yang lantas menduduki kursi tersebut. "Kau kenapa, Na?" Tanya gadis itu, kepada Nana, teman sebangkunya yang nampak murung pagi ini. Alih-alih menjawab, Nana malah bangkit dari duduknya. Meraih tangan Rita, gadis yang duduk di depannya. "Rit, antar aku ke toilet, yuk!" Rita yang tengah berkutat dengan buku catatannya lantas tersentak. Tak biasanya, pikir Rita. Lantas mau tidak mau gadis itu pun turut bangkit. Tangannya sedikit ditarik oleh Nana untuk segera meninggalkan kelas. "A-ah, iya. Ayok!" Jawab Rita, sedikit melirik ke arah Disa yang tengah menatap mereka berdua. Rita menutur di belakang Nana sambil dahinya mengernyit bingung. Apa mungkin mereka bertengkar? Sebab biasanya, Nana dan Disa selalu bersama kemana pun. Kenapa hari ini berbeda? Seperti sebuah kebiasaan, wanita selalu mengajak teman kalau ke toilet. Entah apa gunanya, padahal saat masuk ke dalam bilik toilet ya tetap sendirian. Selama Nana menyelesaikan urusannya di dalam sana, Rita berdiri di depan westafel sembari merapikan rambutnya. Matanya melirik sekilas pantulan diri Nana yang baru keluar dari bilik toilet, di cermin. "Kenapa dengan Disa?" Tanyanya. Nana tak memberi jawaban apapun selain senyum tipisnya, sebelum menghidupkan keran di westafel. "Sudah, yuk!" Kata Nana setelah mengeringkan tangannya yang baru saja dicuci. Sementara di kelas. Disa yang tengah menidurkan kepalanya di atas meja tiba-tiba saja diusik oleh sebuah suara yang menyerukan namanya. "Disa!" Lantas mau tidak mau gadis itu menegakkan kembali kepalanya, melempar pandangannya ke arah sumber suara. Seorang lelaki, telah berdiri di ambang pintu dengan senyumannya yang mampu menggetarkan kaum hawa. Pun kedatangannya ke kelas Disa itu berhasil membuat seluruh pasang mata tertuju ke arahnya. Dengan sedikit ragu dan malu-malu, Disa bangkit dari kursinya, kakinya perlahan melangkah menghampiri lelaki yang senyumannya belum juga luntur itu. "Kak Rio? Mau cari siapa ke sini?" Tanya Disa. "Kamu." jawabnya tanpa ragu dan tepat sasaran. Senyuman berhasil terlukis di wajah Disa pagi ini. Senyuman yang berhasil membawa Rio jauh-jauh mengunjungi kelas Disa. Kenapa jauh? Karena kelas Rio berada di lantai dua paling belakang, sedang kelas Disa berada di lantas satu dan di area depan. "Aku? Kenapa cari aku?" Tanya Disa lagi. "Ini," ucapnya, menyodorkan s**u kotak rasa cokelat yang semula disembunyikannya di belakang pugung. "Diminum, ya! Aku tidak tahu rasa apa yang kau suka, jadi aku belikan saja rasa cokelat." Tambah Rio. Lagi-lagi, Disa melengkungkan bibirnya membentuk seulas senyum. Membuat jantung Rio berdebar tak keruan. Lelaki itu sampai sempat memegangi dadanya dengan salah satu telapak tangannya, guna menyembunyikan debaran, takut terdengar sampai ke telinga gadis yang ada di depannya sekarang ini. "Terima kasih banyak, Kak. Aku suka rasa apa saja, tapi lain kali, jangan repot-repot, ya!" Balas Disa, sembari menerima pemberian kakak kelasnya itu. "Tidak repot. Lagi pula… aku harus melihat senyummu dulu agar hariku berjalan dengan baik." Mendengar itu Disa terkekeh. Rio semakin berdebar dibuatnya, ada perasaan hangat yang menyelinap dalam dadanya. Perasaan hangat yang sudah bertahun lamanya tak pernah menjamah relung Rio. Melihat Disa yang terkekeh begitu, ada sebuah hasrat yang terbesit dalam lubuk Rio, untuk selalu membuat gadis itu tertawa lebih keras lagi, dan tersenyum lebih lebar lagi. Adalah kebahagiaan tersendiri bagi Rio kala melihat gadis yang ada di hadapannya itu juga bahagia. "Aku bisa memberikan senyumanku kapan pun kau mau, Kak. Tidak perlu memberi s**u kotak atau apapun itu." Mendengar itu, Rio menundukkan kepalanya, menyembunyikan semburat merah yang samar-samar muncul di kedua pipinya. Sebelum Disa tahu kalau dirinya sedang tersipu, lantas Rio memilih undur diri. "Sebentar lagi masuk, aku harus segera ke kelas. Sampai jumpa!" Pamitnya. Rio segera berlari meninggalkan Disa yang tanpa sepengetahuannya, masih berdiri di ambang pintu, mengiringi langkahnya. Di sisi lain. Nana, yang baru saja kembali dari toilet menghentikan langkahnya kala melihat Rio yang berdiri di ambang pintu kelasnya. Namun, senyumannya itu hanya bertahan selama sepersekian detik, sebelum Disa muncul dan terlihat menyambut Rio dengan begitu akrab. Rita yang berada di sebelah Nana pun memerhatikan perbedaan ekspresi Nana. Nampaknya gadis itu mulai paham akan sikap Nana yang berbeda hari ini kepada Disa. Kendati begitu, Rita tak bisa berbuat banyak, ia hanya mampu menundukkan kepalanya seolah tak mengetahui apa-apa, biar saja ini cukup menjadi urusan Nana, dan Disa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD