Tujuh: Masih Dua Tahun Lalu

1633 Words
Cinta dan persahabatan, memang memiliki makna yang begitu manis. Namun, tak jarang justru malah berakhir menjadi bumerang yang tragis. Terlebih ketika dua orang yang bersahabat, menaruh hati pada satu orang yang sama. Akan dibawa sampai kemana persahabatan mereka? Akankah persahabatan yang tetap akan menjadi juaranya? Nana melirik ke arah s**u kotak yang diletakkan Disa di atas mejanya. Sudah sampai jam istirahat pertama, s**u pemberian Rio belum juga disentuh sama sekali. "Apa kau sengaja ingin memamerkan pemberian Kak Rio kepada semua orang?" Cibir Nana. Memang cinta selalu punya seribu satu cara untuk membutakan dan menutup akal, sampai-sampai Nana dibuat terganggu dengan sekotak s**u yang tak berdosa. "Apa?" Tanya Disa tak mengerti. "Kenapa s**u kotak itu tidak langsung diminum saja? Kenapa harus diletakkan di atas meja? Cih! Sekadar diberi s**u kotak, jangan bangga dulu!" Disa malah semakin tak mengerti. Dengan dahi yang mengernyit, gadis itu meraih s**u kotak pemberian Rio tersebut dan menyodorkannya pada Nana. "Kau mau? Ambil saja, aku sedang tidak ingin minum susu." Ucap Disa polos. "Apa maksudmu? Kau mengejekku? Aku bisa membelinya sendiri!" Di luar dugaan, nada bicara Nana malah meninggi, membuat Disa yang semakin tak memahami situasinya. Disa sama sekali tidak mengerti kalau Nana tengah diselimuti cemburu buta yang benar-benar buta. Pun Disa mengalihkan pandangannya pada Rita yang saat itu juga masih berada di tempat duduknya. Berharap menemukan suatu kejelasan dari Rita atas sikap Nana yang sangat berbeda dari biasanya. Namun, Rita hanya mampu mengangkat kedua bahunya, mengisyaratkan kalau dirinya tidak tahu-menahu akan apa yang terjadi. *** Sejak pagi tadi, sampai bel pulang berbunyi Disa masih belum juga mengerti apa yang membuat Nana mendiamkannya seharian ini. Berkali-kali Disa mencoba mengajaknya berbicara tetapi berkali-kali juga Disa mendapat tanggapan ketus. Entah apa penyebabnya, hingga detik ini pun Disa tak dapat menemukan di mana letak kesalahannya. "Nana, apa kau sudah memutuskan untuk bergabung dalam club ekstrakulikuler?" Disa mencoba melempar pertanyaan lagi untuk yang kesekian kalinya. "Ah, benar. Disa, kudengar kau akan masuk club tenis, apa mereka masih merekrut anggota baru?" Sambar Rita, yang tanpa sengaja mendengar pertanyaan yang dilontarkan Disa barusan. "Club tenis?" Ujar Nana yang pada akhirnya bersuara, keningnya sedikit mengernyit kala mendengar pernyataan kalau Disa akan mengambil ekstrakulikuler tenis. "Sepertinya masih. Hari ini latihan pertama, kalau kau mau, kau bisa ikut aku," Disa memberi tanggapan atas pertanyaan Rita, kemudian gadis itu memalingkan wajahnya, menatap Nana yang masih duduk di sebelahnya. "Apa kau mau bergabung juga?" Tanya Disa. Namun, Nana hanya melirik sekilas ke arah Disa sebelum menutup rapat resleting ranselnya. Melihat salah seorang murid lelaki di kelasnya sudah melangkah keluar, Disa lantas segera menggendong ransel merah mudanya dan bangkit dari kursi. "Aku duluan, ya. Kalau kalian berminat, kalian bisa langsung ke lapangan!" Seru Disa dan bergegas keluar kelas, meninggalkan Nana juga Rita yang masih duduk di kursinya masing-masing. Selang beberapa detik setelah Disa melangkahkan kakinya keluar kelas, pun Nana bangkit yang juga disusul oleh Rita, keduanya lantas turut meninggalkan kelas yang hampir sepi itu. Sementara Disa, yang membuntuti seorang lelaki dari kelasnya itu terpaksa harus menghentikan langkah, kala seseorang yang dikenalnya tiba-tiba berdiri di hadapannya menghadang langkah. "Disa, kau bergabung dengan club tenis?" "Ah? I-iya, Kak." Jawab Disa, dengan bola mata yang masih memerhatikan punggung lelaki yang diikutinya sedari tadi. "Disa?" Lantas seseorang yang ada di hadapannya melambaikan tangan tepat di depan wajah Disa, menyadari kalau lawan bicaranya itu tidak fokus dan malah melihat ke arah lain. "Eh, Kak Rio. Iya kenapa?" Ujar Disa yang pada akhirnya melempar tatap pada seseorang yang ada di hadapannya itu. Rio menghela napas, dan kembali mengulang pertanyaannya. "Kau bergabung dengan club tenis?" Sebuah anggukan dari Disa, dijadikan jawaban atas pertanyaan Rio. "Dari mana kau tahu kalau aku berada di club ini?" Tanya Rio lagi. "H-hah?" "Kau bergabung kesini karena aku 'kan? Dari mana kau tahu kalau aku ada di club ini? Biasanya, anak-anak baru mengira kalau aku ini anggota club basket." Tutur Rio panjang, sementara Disa mengernyitkan kening dan terkekeh canggung. Sepertinya, kakak kelasnya itu terlalu percaya diri. Bahkan Disa sama sekali tidak tahu kalau Rio juga tergabung dalam club ini. "Rio! Cepat kemari! Kita akan mulai perkenalan!" Teriak salah seorang lelaki dari tengah lapangan. Disa menghela napasnya lega, sebab panggilan barusan menyelematkannya dari situasi canggung. Pun Disa jadi tidak perlu repot-repot memikirkan tanggapan apa yang mesti ia berikan kepada Rio. "Kau dengar bukan? Ayo, kita kesana!" Ajak Rio, lelaki itu mengulurkan tangannya di belakang punggung Disa, membentuk sebuah gestur hendak merangkul, tapi apa daya, Rio tak dapat melakukan itu. Alhasil ia hanya mampu mengepalkan telapak tangannya dan merangkul angin. Nana, yang kebetulan melintas bersama Rita, melihat semua kejadian itu dari jauh. Nana melihat dengan mata kepalanya sendiri, Disa yang lagi-lagi terlihat begitu akrab bersama Rio, juga Rio, yang hampir saja merangkul Disa. "Nana? Apa kau masih mau di sini?" Tanya Rita, yang juga melihat apa yang Nana lihat. *** "Aksa? Apa aku tidak salah baca?" Ujar salah seorang lelaki yang memegang daftar nama anggota baru club tenis. "Kukira anak ini masuk club basket, kenapa dia malah mendaftar ke club tenis?" Celetuk rekan di sebelahnya, yang juga ikut membaca daftar nama itu. Sementara si pemilik nama itu sendiri, tengah berdiri di barisan paling belakang, berkumpul dengan anggota-anggota baru lainnya dalam sesi perkenalan para senior yang ada di club ini. Aksa memilih barisan paling belakang, dan sedikit jauh dari barisan karena memang lelaki itu lebih suka menepi dari keramaian. Entah dari mana datangnya, seorang lelaki yang berbalut pakaian olahraga tiba-tiba berdiri di sebelah Aksa yang tengah fokus memerhatikan para seniornya memperkenalkan diri di tengah lapangan sana. "Kenapa kau ada di sini?" Pertanyaan yang dilontar lelaki itu sontak membuat Aksa melirik sekilas. Betul-betul sekilas sebab pada detik berikutnya ia kembali melempar pandangannya ke tengah lapangan. Merasa tak diacuhkan, lelaki itu lantas terkekeh sendiri. "Apa aku sedang berbicara dengan tembok?" Sindirnya. Aksa masih tetap tak menggubris, seolah telinganya tak menangkap suara apapun. "Hey, anak baru! Aku bicara padamu!" Barulah Aksa menoleh. Namun sebelumnya, ia menengok ke sekeliling terlebih dahulu, dan mengarahkan jari telunjuknya pada diri sendiri. "Padaku?" Tanya Aksa, dengan suaranya yang berat. "Ya, memangnya siapa lagi?" Aksa melempar dagunya, menunjuk barisan yang ada di hadapannya itu. "Mereka juga anak baru." Lagi, lelaki itu kembali terkekeh. Sementara Aksa, tatapannya sudah kembali fokus ke tengah lapangan, mengabaikan sosok lelaki yang ada di sebelahnya. "Kenapa tidak masuk club basket?" Tanya lelaki itu lagi. Memang, kehadiran Aksa di club tenis sempat sedikit buat gempar. Pasalnya, nama Aksa digadang-gadang yang akan menggantikan kapten basket yang sebentar lagi akan lulus. Bukan tanpa sebab, dari segi penampilan, dan postur tubuhnya yang tinggi. Aksa memang terhitung mumpuni untuk masuk ke club ekstrakulikuler yang biasa dihuni oleh mereka yang memiliki pamor tinggi. Tidak seperti club tenis yang kurang banyak mencetak prestasi di sekolah ini sehingga jarang diminati. "Kenapa ingin tahu?" Balas Aksa dingin. "Apa karena dia?" Seketika Aksa menoleh, dan mengikuti kemana arah mata lelaki itu memandang. Sampai akhirnya, tatapan Aksa berlabuh pada seorang gadis yang berada di tengah barisan, gadis itu menyipitkan matanya sebab terik matahari menyorot tepat di atas kepalanya. "Kenapa dia ada di sini?" Batin Aksa. "Berikutnya… Rio! Kepada Kak Rio, dipersilakan untuk ke tengah lapangan memperkenalkan diri!" Ujar lelaki yang sedari tadi cuap-cuap di tengah lapangan dengan pengeras suara yang dipinjamnya dari ruang OSIS. Mendengar namanya disebut, lantas lelaki yang berada di sebelah Aksa segera melangkahkan kakinya menuju ke tengah lapang, setelah sebelumnya sempat menepuk pundak Aksa sebanyak dua kali, dan melempar senyumannya ke arah Aksa. Seketika riuh mengiringi langkah Rio yang menuju ke tengah lapangan. Bisik-bisik dari murid perempuan mulai menyapa pendengaran Aksa di barisan belakang. Memang tak bisa ditampik kalau Rio juga termasuk idola bagi sebagian kaum hawa di sekolah ini, bahkan kebanyakan dari mereka masuk ke club tenis ini hanya untuk bisa jadi lebih dekat dengan Rio, si ketua OSIS itu. Wajah yang rupawan juga postur atletis yang dimiliki Rio, nyatanya mampu membius hati para gadis. Belum lagi dengan senyumnya yang menghangatkan, ditambah jika Rio sedang unjuk kebolehannya di lapangan, hati siapa yang tak akan runtuh? Rio seperti aset bagi club tenis untuk menggaet anggota-anggota baru. "Kabar buruk bagi kalian para penggemar Rio, karena setelah lulus nanti, Rio tidak akan campur tangan lagi dalam club ini!" "Yaaaahhhhh!" Sorakan penuh kecewa pun terdengar dilemparkan serentak. Dan entah kenapa, mendengar pernyataan barusan Aksa malah menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan. "Tidak. Aku berubah pikiran," tampik Rio, yang juga turut memudarkan senyuman Aksa. Wajahnya kembali menjadi datar, dan mata elangnya menatap lekat sosok yang berdiri di tengah lapangan sana. "Aku akan tetap berada di club ini. Meski mungkin tak bisa sesering sebelumnya, tapi yang pasti aku akan selalu menyempatkan datang saat latihan." Jelas lelaki itu lagi. "Benarkah? Apa yang terjadi? Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Alih-alih memberi jawaban, Rio malah melemparkan senyuman penuh arti, yang Aksa tahu, senyuman itu tertuju pada seseorang. Lantas Aksa mengikuti kemana arah pandang mata Rio. Benar saja dugaan Aksa, senyum itu mengarah pada gadis itu. Gadis yang menyipitkan matanya karena terik matahari. Nampaknya hari ini masih sesi perkenalan, lagi pula para anggota baru belum membawa pakaian ganti yang mesti mereka gunakan untuk latihan. Setelah memperkenalkan satu-satu anggota senior club tenis, saatnya mereka-para senior- mulai berlatih. Sementara anggota baru, diperbolehkan membubarkan diri. Namun, tepat ketika Disa hendak membalikkan badannya untuk meninggalkan lapangan, seseorang berhasil menahannya dengan meraih pergelangan tangan Disa. "Jangan pulang dulu!" Ujarnya. "Kak Rio? Ada apa?" Tanya Disa bingung. "Biar kuantar nanti, tapi aku harus latihan sebentar. Jadi, kau tunggu dulu di sini." Jelas Rio. Disa melirik arloji di pergelangan tangan tangan kirinya. "Tidak lama 'kan?" Rio menggeleng sambil memberi senyum demi meyakinkan. "Tidak." Dari sudut lain, seorang lelaki yang juga baru saja hendak meninggalkan lapangan, tanpa sengaja melihat dua anak manusia yang terlibat pembicaraan itu. Pun lelaki tersebut sempat berdecis sebelum kakinya benar-benar melangkah meninggalkan lapangan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD