"Tetangga lagi?"
Seorang pria bernama Gian menyentuh pundak sang istri, Laras. Ketika melihat pundak istrinya itu naik turun, diiringi isakan halus. Tanpa dijelaskan Gian sudah mengetahui apa penyebab keluarnya tangis Laras.
Laras menggeleng pelan. Menyapu bersih air matanya sebelum berbalik menatap Gian. "Enggak, Mas. Aku kelilipan."
"Jangan bohong. Aku mengenal kamu bukan hari ini saja. Hampir empat tahun kita menikah, dua tahun menjalin kasih tentunya aku sudah hapal bagaimana kamu, Ras." Merangkul Laras dan memeluknya. "Aku tidak bisa melihatmu menjadi ejekan tetangga. Maka dari itu aku akan menerima ajakan Dimas untuk pergi ke kota sana."
Mengurai pelukan Gian, Laras mendesah panjang. "Tapi darimana modalnya, Mas? Kalau …"
"Sawah saja. Gadaikan dulu ke pak Ramli, nanti aku yang bayar cicilannya. Merapikan rambut Laras. "Percayalah, toko yang akan kita buka itu bisa membayar hutang serta bunganya. Aku yakin nggak lama langsung lunas, apalagi toko yang ditawarkan Dimas berada di pusat kota."
"Kalau sawah digadai aku bagaimana?" protes Laras. Rasanya dia tidak setuju dengan ide Gian.
Selain itu, Dimas juga terkenal playboy ketika masih tinggal di kampung dulu. Bukannya dia tidak percaya pada sang suami, tapi dia takut Dimas membawa pengaruh buruk nantinya.
"Aku akan tinggalkan sejumlah uang untukmu sebagai pegangan. Aku akan mengirim uang sekali seminggu nanti kamu ambil di kantor pos, ya."
Laras tidak menanggapi. Dia beranjak keluar dari kamar. Seandainya diteruskan Gian akan terus menerus membahas dan membuatnya risih membicarakan tentang perantauan.
"Ras, aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikan kepada mereka semua kalau aku ini adalah suami yang bertanggung jawab. Aku lelah ditertawakan orang, yang menyebutku sebagai benalu. Padahal aku sudah bekerja keras di sawah, tapi ada saja kendala. Entah itu tikus, hama, kemarau. Bukannya panen malah nombok," gerutu Gian. Mengomel sendiri seraya mengekor di belakang Laras. Berharap istrinya itu mau menjual sawah untuk modalnya merantau.
"Aku pikirkan lagi." Laras berbelok menuju dapur. Meraih wajan untuk membuat menu makan malam mereka. Dia berusaha keras mengabaikan keberadaan Gian sekaligus rasa pusing yang kini menerpa.
"Aku tau kamu berat menggadaikan sawah apalagi menjualnya. Karena itu peninggalan kedua orang tuamu." Duduk disebuah kursi kayu, tak memutuskan tatapannya dari Laras. "Tapi itulah yang membuatku menjadi cibiran warga. Seorang pengangguran melamar kembang desa yang memiliki segalanya. Bukannya hidup baik, tapi satu persatu peninggalan orang tuamu malah habis karena aku tidak bisa mengelola."
"Itu kamu tau, Mas," keluh Laras berbalik badan. "Maka dari itu aku enggak bisa melepaskan sawah lagi. Hanya itu yang tersisa dari warisan milik ayah dan ibuku. Apa kamu mau melepaskan itu pula?"
Gian menarik napas. "Tidak. Tapi aku ada alasan kuat kenapa berani minta ini padamu. Aku tidak pandai bertani, tapi pandai berdagang. Maka dari itu aku ingin ke kota untuk mengadu nasib. Ayolah, Sayang, mumpung kita belum diberi rezeki jadi nanti kamu bisa bebas naik turun pesawat untuk berkunjung. Aku …"
"Baiklah. Tapi hanya sebatas di gadai, jangan sampai disita. Kita tidak akan memiliki mata pencaharian lagi seandainya …"
"Aku berjanji ini yang terakhir, Sayang. Terimakasih." Gian memeluk Laras. Mencium setiap inci wajah sang istri, meluapkan bahagianya. Akhirnya dia bisa ke kota dan membuka usaha di sana.
Kata Dimas di kota sana mendapatkan uang sangatlah mudah. Hanya dengan membuka toko sparepart motor atau mobil akan mengembalikan modal dalam sebulan. Dimas katanya sudah membuktikan itu semua, dengan pulang kampung membawa mobil hitam metalik yang masih segelan plastik di joknya.
Tentu saja Gian meneteskan ludah melihat pencapaian tersebut. Terlebih lagi dia selama ini dicemooh menjadi benalu dan tidak bisa pula memberikan Laras anak. Semakin lengkap saja cibiran yang setiap harinya membayangi mereka.
Wajar, karena Laras dulunya kembang desa yang digemari banyak pria. Mulai dari anak kepala desa, toke rempah, hingga anak rentenir pun datang melamar. Namun, yang menjadi juara justru Gian yang hanya bekerja serabutan, itu pun uangnya dihabiskan untuk minum tuak dia pos ronda.
Sebagian besar dari mereka mencibir dan mencemooh pilihan Laras yang menikah dengan Gian, hanya karena pria itu menemukan sang ibu pingsan di sawah. Sejak saat itu Gian rajin datang berkunjung untuk mengambil hatinya. Tidak lama kemudian ibunya Laras meninggal dunia. Dua tahun kemudian disusul sang ayah, dan Gian terpilih menjadi suami Laras di detik-detik terakhir kepergian ayahnya.
"Seratus juta jika digadai, dua ratus kalau dijual, Sayang. Bagaimana?"
Gian menghempaskan tubuhnya di tepi ranjang. Dia cukup kecewa dengan penawaran Ramli, rentenir yang terkenal menawar dengan harga rendah, tapi uangnya bisa cair hari itu juga.
"Mas rasa gimana? Seratus juta cukup enggak? Kalau cukup ya, sudah segitu saja. Kalau tidak, lebih baik urus pinjaman bank saja. Bunganya rendah." Laras menyahuti tanpa menghentikan pekerjaannya. Dia tetap fokus pada pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran.
"Cukup, sih," pikir Gian. "Tapi pas-pasan. Kalau menunggu bank lama, dari pengajuan ke survei lapangan saja sebulan. Nanti malah keduluan orang."
"Jadi?" Laras menoleh.
"Seratus saja. Aku bisa ambil uangnya nanti malam. Pegangan kamu lima juta saja bagaimana?"
Laras menghela napas panjang. Mau menolak pun percuma, karena Gian sudah bulat dengan tekatnya.
Dia tidak memberikan jawaban, tapi kembali fokus pada pakaian yang ada di tangannya. Berharap Gian sadar itu merupakan keraguan yang lebih condong ke penolakan.
Namun, dasar Gian yang telah teracuni, dia malah bangkit dan mengambil sertifikat tanah di lemari. Membawanya pergi dan Laras tidak perlu bertanya lagi kemana suaminya itu pergi. Dia meremas kuat pakaian yang ada di tangannya. Melampiaskan kekesalan pada Gian yang keras hati dan kepala.
***
Pasrah. Hanya itu yang bisa Laras lakukan. Melihat suaminya menata pakaiannya ke dalam sebuah ransel setelah pulang dari rumah Ramli. Karena kemarin dia datang saat bank tutup, alhasil uangnya cair pagi ini.
"Kamu nggak tunggu aku sembuh dulu, Mas? Aku mual. Badanku juga panas," keluh Laras. Mencoba duduk, bersandar pada Gian agar lengan suaminya itu merasakan suhu panas tubuhnya.
Tangan Gian terangkat, menyentuh dahi Laras. "Hanya demam biasa. Nanti juga sembuh."
"Mas …"
"Ck, iya,ayo kita ke Puskesmas dan periksa." Sedikit menggerutu Gian menuntun Laras untuk berdiri. Dia juga menarik ransel ke samping lemari agar tidak menghalangi langkah mereka.
"Laras hamil." Seorang dokter wanita membuat Laras dan Gian sama-sama tersentak mendengar keterangannya.
"Detak jantungnya sudah kuat dan lihatlah, perut Laras sudah mulai buncit. Bisa-bisanya kalian berdua tidak sadar," sindirnya dengan mata menyipit.
Gian dan Laras saling pandang satu sama lain. Laras berharap Gian batal pergi setelah tau dirinya hamil. Namun, dia tidak ingin berharap banyak karena Gian menekuk wajahnya. Terlihat tidak suka atas kabar yang didapat, padahal mereka sudah menunggu momen ini selama empat tahun.