Keberangkatan Gian

1008 Words
"Aku sedang hamil, lho, Mas apakah kamu tidak ingin menunda terlebih dahulu kepergianmu itu? Emm ... setidaknya sampai aku kuat." Laras mendudukkan bokongnya di samping Gian dia berharap kali ini suaminya itu mau luluh dan mendengarkan keinginannya. Laras benar-benar tidak bisa membayangkan hidup sendirian di kampung dalam keadaan hamil muda pula. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya ketika Gian memutuskan untuk tetap merantau sedangkan kehamilan ini begitu sangat mereka idam-idamkan. Laras yakin Gian mengetahui bahwa hamil muda seperti sekarang rentan akan keguguran. Tidakkah suaminya itu takut meninggalkannya tanpa pengawasan? "Iya, tapi bagaimana lagi aku sudah terlanjur mengatakan kepada Pak Ramli untuk langsung membelikanku tiket pesawat dan tidak mungkin tiket itu dibatalkan. Kamu tahu, harga tiketnya lebih dari dua juta. jika dibelikan ke sparepart motor ada banyak barang yang bisa didapatkan." "Tapi Mas, aku ini …" "Aku yakin kamu pasti kuat Laras. Tidak akan lama paling dua sampai tiga bulan aku sudah kembali untuk menjemputmu. Aku juga akan mengontrolmu dari kejauhan, angkat teleponku jika nanti aku menghubungimu, ya." Membelai rambut panjang Laras. Meyakinkan istrinya itu bahwa semua akan baik-baik saja jika mereka menjalani dengan ikhlas. Bukan masalah ikhlasnya, tapi Laras yang sebatang kara tentu saja gamang ditinggal suami merantau. Semua akan dilakukan sendiri tanpa ada yang menemani apalagi menjaganya. Tanpa dapat dicegah sama sekali akhirnya Laras mengantarkan Giant ke terminal bus. Di sana mereka akan berpisah dan Gian melanjutkan perjalanannya ke kota. Barulah dari sana nanti suaminya itu akan menaiki pesawat agar sampai ke ibukota. Sangat jauh perjalanan yang ditempuh Gian itulah yang membuat Laras ragu melepaskan namun, semua telah dipersiapkan secara matang tanpa sepengetahuannya. Membuat Laras tidak bisa menunda apalagi membatalkan kepergian Gian. "Kamu berjanjilah padaku untuk selalu setia meskipun jarak yang terbentang diantara kita sangatlah jauh," tutur Laras. Memaksakan senyumannya melepaskan kepergian Gian ditengah rasa kalut, takut, dan kecewa yang bercampur aduk menjadi satu. Kepergian Gian membawa modal terakhir dari usaha mereka di kampung. Meninggalkannya dalam keadaan hamil muda, tanpa ada kerabat yang menemani. Kurang sial apalagi Laras? "Mana mungkin aku sanggup menduakan cinta wanita sebaik dan sesempurna dirimu." Gian berlutut di depan Laras. Mencium perut sang istri yang mulai membuncit. "Sayang, jangan bandel, ya. Ayah merantau dulu. Ayah janji akan pulang untuk menjemput kalian. Kita akan tinggal disana meninggalkan kampung yang selalu menyakiti kita." Rasanya tak sanggup Laras menahan air mata ketika mendengar penuturan Gian. Bolehkah dia marah sekarang? Namun, semua air mata kekecewaan tersebut berusaha keras ditahan Laras, saat ingat nasihat sang Ibu. Tidak boleh sekalipun melepaskan kepergian seseorang menggunakan tangis apalagi sampai berderai air mata agar yang bersangkutan tidak mengalami musibah di sana nantinya. Alhasil Laras menjaga bibirnya agar tetap melengkung melepas kepergian Gian. Dia juga mengangkat tangannya, melambai pada Gian yang kian menjauh di bawa sebuah bis. Saat bus tersebut menghilang dari pandangannya barulah air mata Laras luruh membasahi kedua pipi. Sedikit terisak dan membungkam mulutnya sendiri menggunakan telapak tangan agar bisa menelan tangis yang siap pecah saat ini juga. Dia juga berusaha terlihat tegar agar tidak ditertawakan orang-orang yang ada di terminal. Laras sangat yakin kabar penggadaian sawah untuk modal usaha Gian telah sampai ke telinga warga kampung terlebih lagi mereka menggadaikan sawah pada Ramli, rentenir yang begitu pelit dan bermulut tajam pula. *** Sesampainya di rumah Laras membersihkan tubuhnya dan berbaring di ranjang. Amat sepi rasanya rumah sederhana tersebut tanpa kehadiran sang suami. Biasanya mereka saling bercengkrama satu sama lain sebelum Gian berangkat ke sawah mereka atau ladang orang. Namun mulai hari ini semua kebiasaan itu harus diubah Laras juga harus siap pergi ke sawah sendirian meskipun saat ini dia sedang hamil muda. Jika bukan dirinya siapa yang akan mengurus sawah yang saat ini mulai menguning? "Ini kepala kenapa tidak mau hilang pusingnya padahal aku sudah minum obat dan makan," keluh Laras memijat pelipisnya mengusir rasa sakit yang kini menguasai kepalanya. Hampir tiga jam dia tertidur setelah menangis nyatanya malah semakin memperburuk keadaan ketika terbangun. Laras melirik ponselnya yang ada di nakas kayu, memeriksa apakah ada panggilan masuk dari Gian atau tidak. Melihat perputaran jam yang dia lewati selama tidur tadi Laras yakin Gian sudah sampai di bandara. Tidak ingin terlambat menanyakan keberadaan suaminya Laras bergegas menghubungi Gian. Beruntung ketika dia ingin melakukan panggilan Gian pun melakukan hal yang sama sehingga Laras menarik kedua sudut bibirnya. Cukup senang karena ikatan batin diantara mereka begitu kuat meskipun jarak terbentang mulai meluas. "Sayang aku sudah sampai di bandara, sebentar lagi aku akan naik pesawat dan mungkin akan aktif sekitar dua jam lagi. Kamu yang sabar, ya, begitu sampai di bandara aku akan menghubungimu kembali. Aku juga akan menceritakan padamu bagaimana situasi ibukota," tutur Gian cepat, menghibur istrinya. Dia yakin saat ini Laras sedang menangis karena kepergiannya. "Iya, Mas, aku tahu itu makanya aku menghubungimu tapi, kamu malah terlebih dahulu menghubungiku." "Itulah namanya ikatan batin sepasang suami istri tanpa kita saling berdekatan pun aku bisa membaca pikiranmu begitupun sebaliknya. Aku berjanji ini tidak akan lama dan segera menjemputmu, ya, sayang. Bersabarlah sedikit lagi." Laras menganggukan kepalanya meskipun Gian tidak bisa melihat apa yang tengah dia lakukan. Inilah yang membuat Laras luluh pada sosok Gian dibandingkan dengan para pria-pria lain yang dulu pernah datang menawarkan pernikahan padanya. Gian begitu lembut dan pandai menyusun kata sehingga tidak pernah sekalipun berkata kasar padanya. Buktinya saja ketika Gian ingin menggadaikan peninggalan kedua orang tuanya Laras tidak bisa sekalipun menolak permintaan tersebut sampai akhirnya dia harus kehilangan sawah yang terakhir untuk modal Gian membuka toko di ibukota sana. "Ya, sudah kalau begitu panggilannya aku akhiri, ya. Kamu baik-baik di rumah kalau ada apa-apa segera hubungi aku nanti aku akan menghubungi temanku untuk melihat keadaanmu di rumah." "Tidak perlu repot-repot, Mas. Aku tidak ingin tetangga berpikir buruk tentangku, karena menerima temanmu disini sedangkan kamu tidak ada di rumah. Nanti aku bisa minta tolong kepada Bibi Candra yang ada di seberang rumah meskipun bibirnya julid tapi aku tahu hatinya baik." "Kamu benar, Gian." Menyahut dengan suara yang begitu rendah. Dia tahu tetangga di sekitarnya tidak pernah memandang buruk kepada Laras hanya saja terus berkata julid karena menyayangkan keputusan yang dibuat oleh istrinya itu sehingga menerima lamaran pengangguran kelas kakap seperti dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD