Seruan Wanita

1010 Words
Laras berkali-kali memijat pelipis. Tubuhnya dia sandarkan di kepala ranjang, mengusir rasa pusing yang menghinggapi dirinya. Laras sudah mengolesi minyak kayu putih di dahi dan leher, tapi tetap tidak mengurangi rasa mual dan pusing. Rasanya Laras ingin marah dan memaksa Gian pulang, agar ada yang menemaninya. Tidak apa hidup pas-pasan daripada harus menanggung semuanya sendirian. "Sayang bagaimana kabarmu hari ini?" sapa Gian di ujung panggilan. Sama seperti hari kemarin pria itu menghubungi Laras di pagi hari, katanya sebagai penyemangat dan pelepasan rindu. "Mmm,ya, pagi," sahut Laras acuh. Dia lebih tertarik menghirup minyak kayu putih dibandingkan mendengar rayuan maut Gian. "Sayang, kamu kenapa tidak bersemangat seperti itu? Apakah …" "Tanpa aku jawab pun kamu pasti tau jawabannya." Gian menelan ludah. Dia bingung harus bicara apalagi karena memang dia tau Laras ditinggal dalam keadaan sakit. "Aku tau," gumam Gian tapi, tetap bisa didengar Laras dengan baik. "Itu saja? Kalau tidak ada aku mau keluar untuk mencari sarapan." "Ras, tunggu dulu." "Apalagi, Mas? Kalau hanya untuk menanyakan hal yang tidak penting lebih baik teleponnya ditutup saja." "T-tapi …" "Oke, kalau masih mau bicara. Sekarang jawab, apakah Dimas sudah mengajakmu berbelanja sparepart motor? Apakah sudah menemui pemilik toko untuk membayar sewa?" cecar Laras semakin membuat Gian susah bernapas. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dari kemarin diajukan Laras padanya. "Ya, sudah kalau belum." Laras mengakhiri panggilan secara sepihak. Dia malas ribut seperti kemarin yang membuatnya berpikir negatif pada Gian. Bayangkan, saat Gian berangkat dia dengan percaya diri mengatakan semua sudah selesai dipersiapkan. Tinggal datang ke kota dan membayar segala tagihan. Maka dari itu Gian bersikeras untuk pergi meski Laras ketahuan hamil. "Semoga saja kamu tidak berbohong padaku, Mas," gumamnya. Menonaktifkan ponsel agar Gian tidak lagi menghubungi dirinya. Setidaknya sampai pria itu menyelesaikan segala urusan tentang toko agar sawah yang tergadai tidak sia-sia saja. Laras ingat sawah yang dijual sekitar satu tahun yang lalu. Katanya Gian ingin memelihara ternak untuk dijual kembali. Nyatanya apa, sapi dan ternak hanya datang separuh dari yang mereka pesan. Itu pun yang datang hidup segan mati tidak mau. Katanya, "biarlah kecil asalkan murah biar dapat banyak." Gian juga berjanji akan mengurus dengan baik dan akan gemuk di tangannya. Taunya apa, bukannya gemuk tapi malah mati satu persatu tanpa ada sebab. Laras pusing dibuatnya karena kelakuan Gian. Dia bingung bagaimana caranya mengajarkan sang suami agar bisa mengelola harta yang ada agar mereka tidak hidup kekurangan. Laras biasanya hidup senang dan bisa sekolah di kota hanya karena hasil ladang dan sawah. Sayangnya saja tabungan kedua orang tuanya habis untuk biaya berobat hingga keduanya meninggal dunia. Melihat kebaikan dan ketelatenan Gian ketika mereka masih pacaran membuat Laras yakin pria itu bisa membuatnya bahagia, nyatanya kini dia mulai setuju dengan penilaian para tetangga. "Ras, kamu dengar-dengar jual sawah, ya, ke Ramli untuk modal Gian di ibu kota? Kok mau sih, Ras? Nggak belajar, kah, dari kasus yang lalu. Gian jual ladang buat beli sawah, taunya malah dipakai mabuk dan malah bilang ditipu," tutur Bu Candra, yang sedang menjemur pakaian. Wanita paruh baya itu tampak antusias ketika menceritakan tentang Gian. Ini bukan kali pertama, tapi sebuah kebiasaan. Sehingga Laras hanya menarik kedua sudut bibirnya. "Enggak di jual, Bu. Cuma digadai. Itupun ambil cicilan besar per bulan biar cepat lunas," sahutnya. Meraih ember cucian dan siap menjemur pula pakaiannya. Andai saja tanah belakang belum dijual, Laras enggan menggunakan halaman depan untuk menjemur pakaiannya. Telinganya terasa panas jika bertemu tetangga yang selalu saja sibuk menjelekkan Gian. Memang dulu Gian pengangguran dan tukang mabuk berat, tapi semenjak menikah dengannya Gian sudah berubah. Semua kebiasaan buruk di waktu lajang sudah ditinggalkan. "Dijual, ih. Ramli sendiri yang koar-koar, bilang kalian itu bodoh jual sawah dengan harga murah. Sebentar lagi panen pula," cibirnya. Mencemooh Laras yang mau saja ditipu Gian untuk yang kesekian kalinya. "Enggak. Aku yang mengurus, tentunya aku yang lebih tau!" sanggahnya. Menggantung asal pakaiannya dan masuk ke rumah. Dia bergegas menyalakan ponsel dan menghubungi Gian untuk mempertanyakan tentang sawah tersebut. Apakah benar digadai atau dijual. Panggilan pertama dan kedua diabaikan Gian, hingga panggilan ketiga dan keempat pun demikian. Panggilan ke lima barulah diterima Gian tapi, dengan suara yang begitu serak dan berat. Seingat Laras beberapa saat yang lalu ketika dia menghubungi pria itu terdengar begitu bersemangat tidak seperti saat ini. "Sayang, ke …." "Barusan bu Candra mengatakan kepadaku dia diberitahu Pak Ramli bahwasanya sawah kita bukan di gadai melainkan dijual. Apakah itu benar?" tanyanya langsung tanpa ingin berbasa-basi terlebih dulu. Laras tahu Gian itu orang seperti apa. Daripada banyak memberikan kiasan lebih baik langsung saja ke inti pembicaraan untuk menghemat tenaga dan waktu. "Digadaikan, mungkin mereka berpikir kita tidak akan mampu membayar hutang. Jadi mereka langsung mengambil kesimpulan bahwasanya sawah tersebut pasti di jual bukannya digadaikan apalagi saat ini padi kita di sawah sudah menguning jadi mereka semakin iri saja pada kita," terang Gian berusaha melawan rasa kantuknya. "Oh, ya, Ras nanti aku hubungi lagi. Hari ini aku ingin pergi bersama Dimas menemui orang yang memiliki toko. Kemarin dia keluar kota dan sekarang sudah kembali tinggal melakukan pembayaran. Setelah itu aku bisa pergi ke gudang sparepart barulah membeli barang-barang untuk diangkut ke toko kita. Di sana nanti kita bisa saling menghubungi satu sama lain. Aku juga sudah membelikanmu sebuah ponsel yang bisa membuat kita saling bertatap muka meskipun saling berjauhan." "Simpan saja dulu uangmu, Mas. Jangan dihambur-hamburkan seperti itu. Aku tidak ingin usaha yang akan dibangun gagal lagi dan lagi kasihan kedua orang tuaku yang ada di alam sana bersedih melihat semua warisannya habis terjual tanpa ada kejelasan sama sekali." "Kamu tidak perlu khawatir semuanya sudah aku persiapkan tinggal menunggu sedikit lagi aku juga sudah terlanjur mengirimkan ponsel baru untukmu. Jadi terima saja, ya, sebagai bentuk terima kasihku karena kamu selalu mensupport apapun yang akan aku kerjakan." "Ya, sudah aku terima. Dan …" "Siapa?" "Sudah dulu, ya, Sayang aku ingin mandi dan berkemas," potong Gian cepat, bergegas menutup panggilan. Membuat Laras menautkan kedua alisnya. Mulutnya yang ingin lanjut bicara tiba-tiba saja terbungkam kuat. Bukan karena Gian, tapi kata "siapa?", yang tiba-tiba saja menyela. Kata yang terdengar diucapkan oleh seorang wanita. Siapakah dia? Bukannya Gian mengatakan tinggal bersama Dimas?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD