Suara wanita yang terdengar begitu lembut, tapi nyatanya malah mengganggu pikiran Laras. Dia mulai menebak siapa gerangan yang tinggal bersama Gian di kota sana. Tidak mungkin bukan, karena efek sinyal yang buruk suara Dimas berubah halus layaknya bisikan seorang diva?
Laras menggelengkan kepalanya. Berusaha menganggap dirinya salah mendengar atau mungkin Dimas sedang terkena flu maka dari itu suaranya terdengar halus.
"Ras, mau kemana?" tanya Bu Candra. Lagi-lagi mengganggu Laras yang ingin melakukan aktivitas. Ingin rasanya Laras menggeser rumah Bu Candra agar pintu rumah mereka tidak saling berhadapan.
"Ke sawah, Bu. Kemana lagi? Bukankah sudah melihat dengan jelas kalau aku membawa alat pertanian? Bukannya tas belanja," keluh Laras, menutup pintu dan menguncinya.
Tadinya dia tidak ingin pergi ke sawah, tapi dua hari ini Gian tidak bisa dihubungi. Katanya dia sedang mempersiapkan diri untuk membuka toko mereka. Daripada mengganggu pekerjaan Gian, Laras memutuskan untuk mencari kesibukan lain. Mumpung hari ini kondisinya lumayan membaik dia akan melihat keadaan sawah. Sebentar lagi panen akan tiba, takut gagal lagi Laras akan turun tangan sendiri untuk melihatnya.
"Iya,tau kamu mau pergi ke sawah. Justru itu Ibu ingin tanya kamu mau pergi ke sawah yang mana? Bukannya sawah kalian sudah dijual ke Ramli?" Bu Candra mendekati Laras. Jiwa ingin taunya sungguh meronta, ingin segera tau sawah siapa yang akan dikelola Laras dan kenapa wanita itu tetap bekerja sedangkan di kota sana Gian bekerja pula. Kurang kah uang pemberian Gian?
"Ke sawahku." Laras memutar bola matanya. "Bukankah dari kemarin sudah aku katakan bahwasanya sawah kami digadai bukan dijual? Lalu kenapa Ibu bertanya lagi? Kalau tidak ada pekerjaan atau bosan karena tidak sanggup diam, lebih baik ikut aku ke sawah. Bantu aku disana, nanti upah aku berikan ketika panen," tawarnya begitu sangat percaya diri. Tanpa tau siapa yang salah antara dirinya dan Bu Candra.
"Ck, kamu ini. Mau saja ditipu suamimu sekarang kamu silahkan pergi ke sawah dan lihat dengan baik siapa sesungguhnya pemilik sawah itu kamu atau Ramli," cibir Bu Candra sebelum melengos pergi meninggalkan Laras.
Laras menggelengkan kepalanya tidak habis pikir ada manusia seperti Ibu Candra yang begitu julid dan selalu saja mengurusi kehidupan orang lain. Sedangkan wanita paruh baya itu juga memiliki anak dan menantu yang hidupnya tak kalah morat-marit dari Gian.
"Andai saja hari itu kamu mau menerima lamaran Dion, aku yakin hari ini hidup kamu sangatlah senang. Bisa hidup enak ongkang-ongkang kaki saja di rumah dan menerima uang bulanan dari putraku. Tapi nyatanya kamu lebih memilih pengangguran daripada honorer kantor balai desa."
"Kalau seandainya aku menerima lamaran Dion otomatis sekarang aku dikejar tukang panci atau kredit baju karena aku lihat setiap menantu Ibu ingin belanja selalu saja berhutang ke sana ke mari. Dan kalau seandainya aku menjadi menantu ibu tentu saja kupingku selalu panas setiap hari dijuliti. Selalu saja dimarahi padahal sudah hidup lurus tapi, Ibu selalu saja menganggap salah. Aku lebih baik hidup begini daripada …" Laras menggantung ucapannya. Dia menelan kembali semua kata-kata saat menantu Bu Candra keluar dari rumah.
Tidak enak membahas orang tidak bersalah, membuat Laras mundur. Mengakhiri perdebatan di antara mereka berdua. Lagipula seandainya dilayani bukannya selesai, Bu Candra pasti akan menjadi-jadi.
"Kalau aku benar, kamu jangan menangis, ya, Ras. Kamu jangan mengadu kemari!!" sorak Bu Candra. Tersenyum tipis merasa menang dari Laras karena berhasil membuat wanita itu kesal setengah mati.
Bu Candra juga merasa puas melihat kehidupan Laras yang berantakan pasca menolak lamaran putranya. Dia juga bersyukur Gian menghancurkan kehidupan Laras sehingga putranya tidak perlu merasa iri apalagi patah hati.
"Kenapa ada orang disini?" Laras bergegas menuju ke pondok yang ada di tepi pematang sawahnya. Tempat biasanya Gian melepas lelah ketika bekerja. Laras ingat betul pondok yang mereka buat mulai lapuk. Tidak seperti sekarang, dindingnya bahkan terbuat dari papan baru.
"Eh, Ras. Kok kesini? Mau ikut kerja juga?"
Laras menahan langkahnya. Menunda terlebih dahulu mendekati seorang ibu yang menyapanya.
"K-kerja?" Laras menelan ludahnya. "Apa maksud Ibu …"
"Loh, kok malah nanya maksud? Bukannya kamu sudah tau kalau sawah ini telah dijual suamimu untuk modal. Kamu nggak tau atau pura-pura nggak tau?"
Laras menggeleng. Tidak tau harus berkata apalagi, setelah melihat begitu banyak perubahan di sawahnya. Bagian yang paling mencolok adalah pondok dan pematang yang terbebas dari rumput liar sedangkan dia belum menyiangi rumput. Terlebih lagi semenjak Gian berangkat ke kota, tidak pernah ada lagi yang mengurus sawah tersebut.
"Daripada kamu salah paham nantinya pada orang-orang yang ada disini, lebih baik tanyakan langsung pada Ramli. Dia ada di pondok, mengawasi pekerja."
Tanpa banyak bicara Laras bergegas membawa langkahnya menuju pondok yang dimaksud. Dan benar saja di sana ada Ramli yang tengah menikmati secangkir kopi.
Begitu santai pria paruh baya tersebut dalam menikmati minuman yang terbuat dari bubuk hitam, yang diseduh dengan air panas.
"Eh, Ras. Apa kabar? Tumben berkunjung, ada apa gerangan?"
Ramli bergegas menyongsong kedatangan Laras. Sedikit membungkuk untuk mempersilahkan wanita itu masuk.
"Nggak usah basa-basi. Sekarang jawab sawah ini dijual atau digadai mas Gian?" tanyanya cepat. Tanpa mendekat sama sekali pada Ramli.
Alih-alih menjawab, Ramli justru tertawa. Memberi kode pada anak buahnya untuk mengambil tas ransel yang ada di pondok.
Kemudian, dia mengeluarkan beberapa map dari sana.
"Apa ini?" Laras menautkan alis. Menerima map berisi beberapa dokumen penting yang dikenali. Laras ingat betul itu merupakan fotocopy surat menyurat sawah yang kini ada di hadapannya.
"Lihat dan baca sendiri." Ramli duduk di sebuah kursi kayu. Memperhatikan Laras dari ujung kaki hingga rambut, seraya menunggu wanita itu selesai membaca.
Ramli yakin Laras sangat terkejut membaca isi surat pernyataan yang dibuat Gian beberapa hari yang lalu. Melihat Laras yang datang membawa alat-alat pertanian serta bekal makanan, sudah cukup sebagai bukti bahwasanya wanita itu datang untuk bekerja dan tak tau sawahnya telah dijual.
"Ini pasti palsu!" Laras menggigit bibir bawahnya. Menahan amarah yang kini muncul setelah membaca secara keseluruhan apa isi dokumen tersebut. Gian, dengan mudahnya memalsukan tanda tangannya dan membuat pernyataan bahwa dirinya menjual sawah dengan harga yang tertera.
"D-dua ratus juta?" Meneguk kuat ludahnya. Mengingat kembali apa yang dikatakan Gian padanya beberapa hari yang lalu.
"Seratus digadai, dua ratus dijual."
"Kamu jangan pernah datang ke sawah. Kasian anak kita kalau kamu bekerja. Ini lima juta untuk pegangan sampai aku mengirim uang untuk kalian. Ingat, jangan pernah ke sawah tanpa sepengetahuan diriku."
Sangat jelas terngiang di ingatan Laras semua perkataan Gian. Seandainya benar ini dijual, kemana perginya sisa uang penjualan tersebut?