Rasanya Laras malu ketika melewati rumah Bu Candra setelah mengetahui semua yang dikatakan wanita paruh baya itu benar adanya. Sawahnya telah dijual habis secara keseluruhan, tanpa sepengetahuannya.
"Eh, udah pulang?" sindir Bu Candra. Dia bergegas keluar dan mendekati Laras yang sedang membuka pintu gerbang rumahnya. "Kok pulangnya cepat? Bukannya mau menyiangi sawah? Kok udah balik? Itu lagi, bekalnya kok nggak dimakan? Kenyang apa sudah tau kalau sawah itu dijual Gian?" sambungnya tanpa ampun.
Bu Candra tidak mengizinkan Laras mengelak meskipun hanya mengeluarkan sepatah kata saja. Dia yakin Laras terpaksa pulang karena sawahnya sudah jatuh ke tangan Ramli.
"Bu, bisa tidak, sehari saja tidak mengurus hidupku? Telingaku sakit mendengar segala kata-kata yang keluar dari mulutmu itu!" Keluh Laras. Bergegas masuk dan mengunci pagar rumahnya. Seandainya tidak ingat umur Bu Candra jauh lebih tua dibandingkan dirinya, Laras sudah meremas bibir yang selalu saja enteng merendahkannya.
"Nggak bisa. Karena hingga detik ini aku masih belum terima lamaran Dion kamu tolak, Ras. Seenaknya saja kamu mengatakan Gian jauh lebih baik dibandingkan putraku. Nyatanya apa? Makan itu cinta dan omong kosong suamimu!" teriak Bu Candra, masih saja belum puas melemparkan kata-kata tidak enak pada Laras.
Sumpah demi apapun. Bu Candra tidak akan pernah berhenti sampai Laras dan Gian berpisah. Dia tidak ingin putranya terus menerus sakit hati melihat rumah tangga Laras tetap utuh meski Gian terus saja berbuat masalah.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku?" Laras bersandar pada pintu. Perlahan tubuhnya merosot dan terduduk di lantai. Apalagi yang harus dilakukan untuk mengubah jalan hidupnya yang terlanjur berantakan.
Laras bingung sekarang. Semua warisan habis tidak tersisa. Tidak ada lagi yang bisa digunakan untuk mencari nafkah. Kini yang tertinggal hanyalah rumah yang ditempatinya. Laras menarik napas. Setidaknya dia masih memiliki tempat berteduh. Untuk kebutuhan sehari-hari mungkin dia harus bekerja di sawah atau ladang orang, seandainya benar Gian membuat kesalahan di ibu kota sana.
"Permisi … paket!!"
Laras tersentak. Bergegas menyapu bersih air mata yang membasahi pipinya. Dia tidak ingin ada yang melihat luka batin yang dibuat Gian.
"Ya?" sahut Laras. Membuka pintu dan mendapati kurir pengiriman di depan pagar.
"Dengan Ibu Laras?"
Laras mengangguk.
"Ini ada paket dari bapak Gian." Memperlihatkan sebuah paket yang dililit bubble wrap. Tanpa membuka paket tersebut Laras sudah tau itu adalah ponsel yang dikatakan Gian kemarin.
"Terimakasih, ya." Laras menarik kedua sudut bibirnya. Menerima paket tersebut dengan perasaan yang cukup tenang. Gian bisa mengirim ponsel mahal, itu artinya suaminya itu benar-benar berusaha di ibukota sana. Tidak apa sawah habis dijual asalkan semua berjalan sesuai dengan apa yang mereka impikan.
"Mbak, maaf."
"Ya?" Laras mengerjap. Bingung ketika kurir tersebut malah menahan langkahnya.
"Itu paketnya pakai pembayaran cod."
"Cod?" Laras mengulang.
"Ya, cash on delivery, atau bayar ditempat."
"Iya, saya tau apa itu cod. Meski tinggal di kampung saya ini bisa bahasa Inggris dan tau bahasa masa kini. Disini saya heran bukan karena tidak tau maksudnya, tapi bingung kenapa cod? Karena mas Gian mengatakan bahwa ponsel ini dibelikan bukan dipesankan," terangnya. Persis seperti yang disampaikan Gian kemarin.
"Ya … saya juga enggak tau, Mbak. Saya cuma kurir yang ditugaskan untuk …"
"Berapa?" Potong Laras cepat begitu dia menangkap sosok Bu Candra. Dia tidak mungkin terus menerus beradu pendapat dengan si kurir, yang akan membuatnya dicemooh lagi.
"Empat juta."
"E-empat juta?" Laras tergagap. Ponsel yang sangat mahal untuk ukuran wanita yang telah kehilangan warisan seperti dirinya.
"Benar, Mbak. Ada kan uangnya? Saya mau mengantar paket lagi."
Laras mengangguk. "Tunggu di sini." Bergegas masuk ke rumah. Mengambil uang peninggalan Gian yang disimpan di lemari.
Memaksakan senyumannya. Laras mengambil uang sebanyak yang diminta kurir paket. Meski berat membayar, tapi tidak mungkin dia menahan uang pembayaran. Bisa-bisa bu Candra mendengar protes si kurir.
"Ini uangnya. Saya sudah pastikan cukup empat juta plus tips untukmu. Jadi tolong langsung pergi. Seandainya ingin memastikan tolong cari tempat lain agar saya tidak ditertawakan tetangga. Dikirimi ponsel sama suami tapi malah cod." Laras tersenyum masam.
Andai saja Gian ada di dekatnya, dia sudah memberikan pelajaran untuk suaminya itu.
"Baik, Mbak. Saya permisi dulu. Jangan lupa merekam video ketika membuka paket, agar mudah melakukan penukaran jika ada masalah pada produk karena harganya tidak murah," pesan kurir tersebut sebelum pergi.
Laras hanya mengangguk. Akhirnya urusan tentang ponsel selesai juga. Dia bisa bernapas sedikit, meskipun masih diselimuti rasa kesal yang amat besar.
"Ponselnya sudah datang," tutur Laras ketus. Menyampaikan pada Gian tentang kedatangan paket beberapa menit yang lalu.
"Oh, ya? Bagaimana? Apakah kamu suka? Aku sengaja memesannya di toko yang dekat dengan rumah kita agar cepat sampai. Aku juga memesan warna sesuai dengan warna kesukaanmu, ungu muda," terang Gian, sangat antusias menjelaskan tentang ponsel tersebut.
"Ponselnya bagus dan canggih. Warnanya pun sangat aku sukai. Namun, ini tidak layak dikatakan sebagai pemberian karena aku sendiri yang membayar. Apa maksud semua ini, Mas? Kamu mengatakan ingin mengirimkan ponsel, tapi aku yang bayar. Harga ponsel empat juta, sedangkan uang yang kamu tinggalkan hanya lima juta. Padahal sawahku kamu jual, bukan digadaikan!!" sergah Laras.
Melampiaskan segala rasa sakit di hatinya, setelah tau selama ini Gian menipunya.
"Jadi kamu sudah tau tentang sawah kita?"
"Kita katamu?" Laras tertawa. "Sejak kapan kamu memiliki sawah, hah? Itu milikku, hanya aku! Tapi seenaknya saja kamu mengakui itu milikmu, dasar tidak tau malu! Tidak memiliki perasaan dan tidak tau …" Laras menggantung ucapannya. Rasa sesak yang bersarang di dadanya membuat dia tidak sanggup berbicara lagi.
Dadanya terasa sesak. Tenggorokannya kering kerontang, perih menelan bongkahan pahit yang mengganjal di sana. Dia tidak pandai lagi merangkai kata untuk meluapkan semua, saking sakitnya yang dirasakan. Bahkan, kata-kata umpatan pun tidak layak diberikan pada Gian, untuk menggambarkan kelakuannya.
"Maaf. Aku tau tidak pernah bisa membuatmu bahagia. Memberikan yang terbaik untukmu karena aku tidak memiliki apapun. Aku hanya seorang pengangguran, bermodalkan cinta untuk membahagiakan dirimu, Ras. Aku juga tau ini semua salahku, tapi aku berjanji akan mengganti semuanya."
Laras tidak menjawab. Dia tidak sanggup berkata-kata, sehingga membiarkan Gian bicara sesuka hati. Mau marah sampai urat lehernya putus pun tiada gunanya. Sawah sudah terjual dan uangnya pun sudah dibawa pergi. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali berdoa. Berharap Gian tepat janji, menjemputnya ketika sukses nanti.
"Sekarang kamu pindahkan kartumu ke dalam ponsel baru itu. Aku akan mengirimkan beberapa foto untukmu."
"Foto apa?"
"Foto toko kita. Aku sudah selesai menata barang dan membuka bengkel juga, maka dari itu aku terpaksa menjual sawah agar uangnya cukup. Kalau hanya menjual sparepart motor saja tidak akan laris. Lebih baik sekalian bengkel biar bisa untung dua kali lipat," terang Gian, ternyata mampu meluluhkan hati Laras.
Buktinya Laras mengakhiri panggilan dan memindahkan kartu perdananya. Mengaktifkan ponsel yang baru saja datang.
Laras menarik kedua sudut bibirnya ketika menerima foto kiriman dari Gian. Ada banyak sparepart motor yang terpajang. Gian juga mengirimkan ada satu motor yang sedang dibongkar. Katanya, itu adalah konsumen pertama mereka. Sebagai pelengkap Gian juga mengirimkan fotonya yang tengah tersenyum ke arah kamera. Hati Laras menghangat, seketika luluh dan lupa akan segala kebohongan Gian.