Sahabat Lama

1009 Words
Laras lupa berapa kali Gian membuatnya kecewa, saking banyaknya kekecewaan tersebut. Termasuk urusan sawah dan ponsel, yang beberapa bulan lalu menghadirkan keributan di antara mereka. Namun, semua kekecewaan tersebut hilang tak bersisa, dikikis foto dan video yang dikirim Gian setiap harinya. Membuat Laras tersenyum sendiri meskipun belum pernah menerima sepeserpun dari keuntungan yang didapat Gian. Alasannya, "aku nabung dulu, ya, sayang. Begitu terkumpul aku akan menjemputmu." Kalimat yang selalu diingat Laras,meskipun hampir empat bulan tidak ada kabar lagi dari Gian. Nomor ponsel pria tersebut tidak bisa dihubungi. Setiap harinya dia selalu meyakinkan diri besok Gian pasti akan menghubungi. Besok Gian pasti akan datang menjemput dan ini bagian dari kejutan menyambut kelahiran buah hati mereka. "Aku sampai lupa kapan terakhir kali kamu memberikan kabar padaku," gumam Laras. Mengusap layar ponselnya. Seakan kini tengah menyentuh wajah sang suami yang sangat dirindukan. Ingin rasanya Laras datang ke ibukota untuk menemui Gian. Dia tetap memaafkan jika semuanya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Tidak apa usaha bangkrut yang terpenting Gian dalam keadaan baik-baik saja. "Apakah aku harus menjual rumah ini?" Laras menatap ke sekeliling kamarnya. Tempatnya terlahir dan dibesarkan. Sekaligus tempat dia tumbuh dan menyimpan seluruh kenangan bersama kedua orang tuanya. Laras memang butuh uang untuk menyusul Gian, sekaligus biaya bersalin nanti. Namun, dia berat menjual satu-satunya warisan yang tertinggal. Laras mengusap kasar air matanya. "Apa yang harus ibumu ini lakukan?" Mengusap perutnya yang buncit. Seandainya tidak salah hitung, dalam bulan ini Laras akan melahirkan. Selama ini dia hidup sendiri, menafkahi dirinya sendiri pula dengan menjadi buruh cuci atau ikut masa panen dengan ibu-ibu yang lain. Memalukan memang. Orang yang dulunya terlahir di tengah-tengah keluarga kaya kini harus banting tulang dalam keadaan hamil. Punya suami yang ngakunya memiliki toko sparepart motor ditambah bengkel, nyatanya hingga detik ini tidak pernah mengirim uang. Sepengetahuan tetangga Laras hanya dapat ponsel baru, itupun tidak ada yang tau bahwasanya dia membayar sendiri. "Hai, kamu Laras, bukan? Yang dulu sekolah di SMA Kartika? Balas, ya, kalau memang itu kamu. Ini aku, Riska, murid yang selalu telat datang dan sering malas ngumpulin PR." Laras menautkan alis ketika mendapatkan sebuah chatting dari salah satu media sosialnya, yang kini dia gunakan untuk mencari sosok Gian. Namun, dua bulan menggunakan aplikasi berwana merah tersebut, belum mampu mengantarkannya pada sang suami. "Riska, anak Bu Diyah, yang dulu sering bertukar belakal makan siang?" Laras membalas. "Benar sekali. Ternyata benar ini kamu, Ras. Kamu semakin cantik saja." "Kamu juga." "Oh, ya, minta nomor ponsel kamu dong, biar kita bisa bicara banyak mumpung aku lagi istirahat makan siang." Laras mengulas senyum. Cukup senang mendapatkan kabar dari sahabatnya dulu. Andai saja ibunya tidak sakit, Laras sudah melanjutkan kuliah di kota. Namun, takdir berkata lain. Saat lulus dan libur Laras harus menggantung semua angannya dan tetap diam di kampung menjaga kedua orang tuanya, hingga detik ini pun Laras tetap tinggal di sana. "Hai, astaga … aku tidak menyangka bisa mendapatkan akun media sosialmu setelah sekian lama aku mencarinya," cecar Riska, begitu Laras menerima panggilan masuk darinya. "Aku pun demikian." Laras tersenyum tipis. Berusaha terdengar baik-baik saja, tidak ingin Riska ikut menertawaknnya. "Sumpah demi apapun, aku sangat bahagia bisa menemukan kamu kembali." "Mmm, ya, aku pun. Ris … aku …" "Kamu kenapa? Ada masalah? Kenapa suaramu terdengar lemah seperti itu? Apakah kamu sakit? Bagaimana kabar ayah dan ibu?" Cepat Riska menodong Laras dengan begitu banyak pertanyaan. "Ras …" "Aku tidak apa-apa." Laras menghapus air matanya. Sepertinya dia lemah sekarang. Baru sebentar pembicaraan dengan Riska, dia sudah kesulitan menahan tangis. "Ceritakan, aku bersumpah akan bantu kamu apapun caranya. Bahkan, aku akan …" "Kedua orang tuaku telah tiada," potong Laras cepat, mumpung dia memiliki keberanian untuk bercerita. Tentunya pengakuan Laras tersebut membuat Riska tertegun. Dia tidak pernah tau sahabat karibnya telah kehilangan kedua orang tuanya. "Sekarang aku hidup seorang diri. Menjadi mainan seorang pria yang tega menjual seluruh harta warisan kedua orang tuaku. Bodohnya lagi, aku menjual sawah untuk membiayai keberangkatan suamiku itu ke ibukota sana. Namun, hingga detik ini aku tidak pernah mendapatkan kabar apapun lagi setelah dia memberikan kabar sekitar empat bulan yang lalu. Lebih menyakitkan lagi, dia pergi saat aku hamil muda. Dan kini, usia kandunganku menyentuh angka sembilan tapi, dia tidak ada kabar sama sekali," tutur Laras lirih, disela tangisannya. Hati Riska terenyuh mendengar penuturan Laras. Dia mengusap perutnya, Riska beruntung dia hamil didampingi suami yang sangat mencintainya. Tidak seperti Laras yang harus menghadapi semuanya seorang diri. "Ras, kamu mau tidak, ikut aku ke Jakarta? Tinggal disini bersamaku. Sebentar lagi kamu akan melahirkan, aku takut suamimu tidak akan pernah lagi menemuimu. Lebih baik kamu disini denganku. Dan… tadi kalau aku tidak salah dengar suamimu berada di ibukota pula, sama denganku. Memang ibukota ini sangat luas, tapi aku yakin bisa menemukan sosoknya. Begitu bertemu aku akan serahkan semuanya padamu, terserah kamu akan ikut dengannya atau tetap bersamaku. Nanti setelah melahirkan, kamu bisa bekerja. Aku bisa mencarikan pekerjaan yang cocok untukmu. Bagaimana?" "Ris …" "Aku memang meminta pendapat padamu. Tapi sebenarnya aku tidak ingin menerima penolakan apapun." Laras sedikit tertawa. Menghalau rasa segan dan malu pada dirinya saat ini. "Loh, kok, ketawa? Aku serius, Ras." "Iya, aku tahu kamu serius. Karena dari dulu kamu memang selalu seperti ini. Tidak pernah main-main dalam berucap." "Yasudah kalau begitu kamu tunggu apalagi? Berkemas, ya, aku tunggu …" "Aku tidak punya uang. Jadi, aku akan kesana saat uangku cukup." "Enggak, besok kamu harus berangkat. Kirimkan padaku nomor rekening, aku akan kirim ongkosnya. Kirimkan aku kartu identitasmu, aku akan pesan tiket pesawat. Besok weekend aku cuti dan bisa jemput kamu ke bandara." "Tapi, Riska …." "Enggak ada tapi-tapian, pokoknya kamu harus ikuti apa yang aku katakan." "Emm … baiklah. Tapi, aku tidak mau repotkan kamu. Tidak perlu jemput, biar aku yang datang sendiri. Kirim alamat, ya, Ris. Kalau kamu jemput, aku tidak akan pergi." "Oke, kamu bisa pergi sendiri. Tapi kamu janji harus berikan kabar setiap saat padaku." "Mmm, ya," gumam Laras. Hatinya cukup tenang karena sebentar lagi dia akan tinggal di kota yang sama dengan Gian. Laras akan mempersiapkan semuanya. Apapun kenyataan yang akan didapat di kota sana, dia harus kuat demi buah hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD