"Laras dengar-dengar kemarin kamu meminjam rekeningnya, Yuni , ya? Katanya kamu mendapatkan kiriman dari Gian, benarkah? Banyak nggak? Sudah lama dia tidak pulang tentunya mustahil mengirim uang barang sejuta atau dua juta saja, kan? Pasti ada banyak uang yang dikirimkan Gian untukmu?" tanya Bu Candra dari balik pagar rumahnya ketika dia melihat Laras yang baru saja membuka gerbang.
Laras menarik kedua sudut bibirnya. Telinganya sudah sakit mendengar ucapan pedas Bu Candra dan sepertinya mulai hari ini dia bisa bersyukur tidak akan pernah mendengar omongan itu lagi karena keberangkatannya ke ibukota.
"Banyak, Bu. Saking banyaknya hari ini aku harus berangkat ke Jakarta karena Mas Gian tidak ingin melihatku sendirian di sini. Kemarin yang aku ambil hanya uang untuk membeli cemilan di jalan. Tiket pesawat sudah dipesankan Mas Gian jadi aku tinggal berangkat."
"Oh, ya? Kenapa kamu tidak dijemput? Kamu itu lagi hamil besar, Laras! Kamu mau nanti anakmu tiba-tiba saja lahir di jalan? Siapa yang akan menolongmu? Tidak mungkin orang yang mengemudikan pesawat harus putar balik ke bandara hanya demi mengantarkan kamu ke rumah sakit?" cibirnya sedikit tidak suka mendengar Laras sebentar lagi akan menemui Gian di Jakarta.
Itu artinya usaha Laras dan Gian di ibukota sana berhasil dan sesuai dengan apa yang direncanakan sepasang suami istri tersebut.
"Mas Gian tidak bisa menjemputku, Bu. Bengkel kami terlalu ramai jadi daripada tutup barang sehari atau dua hari hanya demi menjemputku lebih baik aku berangkat sendiri. Lagi pula aku sudah memeriksakan diri ke Puskesmas dan hasilnya baik. Aku bisa menempuh perjalanan udara doakan aku selamat sampai tujuan."
Bu Candra mencebikkan bibirnya. "Lalu rumahmu bagaimana? Apakah mau kamu jual juga?"
Laras menggelengkan kepalanya. "Rumah ini akan tetap menjadi milikku dan kata Mas Gian tidak boleh diperjualbelikan. Untuk apa rumah ini dijual sedangkan di kota sana usaha kami sudah sangat berkembang jadi Mas Gian tidak membutuhkan modal apapun lagi." Memaksakan senyumannya. Sangat lancar lidah Laras merangkai kebohongan tentang sang suami yang sebenarnya hingga detik ini tidak diketahui di mana rimbanya.
Berbulan-bulan merangkai kebohongan ternyata membuat lidah Laras begitu fasih berkata-kata. Dia juga pandai merangkai drama untuk kehidupannya sendiri padahal setiap harinya dia selalu saja menangis, meratapi nasib pernikahannya yang tidak diketahui bagaimana kini status sesungguhnya.
"Ya, sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan." Bu Candra mulai masuk ke rumah, membiarkan Laras mengurus segala keberangkatannya ke ibukota sana.
"Terima kasih," gumam Laras kembali memasuki rumahnya untuk mengambil barang-barang yang telah dia masukkan ke dalam sebuah tas ransel. Tidak banyak pakaian yang dia bawa hanya beberapa potong pakaian saja serta peralatan calon buah hatinya.
Laras takut kehidupan di sana tidak seperti yang dia bayangkan. Uang yang dikirimkan Riska memang cukup banyak tapi, nantinya akan dia simpan dengan baik untuk persiapan melahirkan.
"Ibu, Ayah, aku pamit, ya. Doakan aku bisa menemukan dimana keberadaan Mas Gian. Bagaimanapun keadaannya di sana aku akan membawanya pulang karena dia adalah suamiku. Seperti apapun buruk pandangan orang lain terhadapnya tapi, aku tetap mencintainya sama seperti dulu." Mengusap air matanya, menatap bingkai foto kedua orang tuanya.
Sampai detik ini Laras tidak menyangka akan ditinggal sendirian di dunia ini, menjalani kerasnya hidup bersama pria yang dicintai. Namun sayangnya pria itu bukannya bersyukur atas cinta yang dia berikan malah selalu memberikan kekecewaan. Laras sering berpikir kemungkinan apa yang dikatakan orang-orang tentangnya benar adanya. Dia terlalu bodoh dan naif sehingga mau saja diperalat Gian.
Menganggap apapun yang pria itu lakukan padanya merupakan sebuah usaha agar kehidupan mereka jauh lebih baik. Berkali-kali ditipu Laras tetap saja percaya lagi dan lagi sampai seluruh harta warisan tersebut hilang tak berbekas. Sehingga yang tersisa hanyalah rumah sederhana yang akan dijadikan Laras sebagai tempat pulang nantinya.
***
"Segera kabari aku nanti seandainya kamu sudah mendarat di Jakarta. Aku akan mengutus sopirku untuk menjemputmu ke sana," tutur Riska di ujung panggilan sebelum Laras menaiki pesawat.
"Tidak perlu, Ris, aku bisa sendiri lagi pula uang yang kamu kirimkan lebih dari cukup untuk memesan taksi nantinya. Dan tentu saja supir taksi yang ada di bandara sudah hafal semua alamat."
"Iya, aku tahu. Tapi saat ini kamu sedang hamil tua aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Tidak akan, bukankah kamu tahu kalau aku ini adalah orang yang sangat kuat? Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku. Terima kasih atas semua perhatianmu aku berangkat dulu nanti aku kabari ketika sampai."
"Baiklah kalau begitu."
Akhirnya Riska menyerah menawarkan bantuan kepada Laras. Sedari dulu dia mengetahui bagaimana sifat temannya itu
Sekitar empat jam perjalanan akhirnya Laras bisa melihat seperti apa Jakarta, kota yang telah menelan kabar dari sang suami. Bergegas saja Laras keluar dari bandara dan memesan sebuah taksi. Dia menyerahkan alamat yang dikirimkan Riska padanya.
Sesuai dugaan Laras sopir taksi tersebut tahu komplek perumahan yang kini ditempati sang sahabat. Dengan senyuman yang selalu terukir di bibirnya Laras mulai menyusuri jalanan ibukota yang begitu macet. Suara klakson mobil saling bersahutan satu sama lain di tengah teriknya matahari. Dia tidak pernah berhenti berdecak, kagum melihat gedung-gedung pencakar langit yang begitu tinggi berjajar di hadapannya.
Sekitar satu jam dari bandara Laras tiba-tiba saja menghentikan laju taksi.
"Pak saya ingin turun di sini!"
"Tapi Mbak, di sini bukan alamat yang anda tuju. Masih ada beberapa meter lagi yang harus kita tempuh untuk menuju alamat yang dimaksud."
"Iya, saya tahu. Tapi saya baru saja melihat tempat usaha suami saya jadi lebih baik turun disini saja daripada mampir ke rumah teman yang akan menyusahkannya." Laras tidak memutuskan pandangannya dari sebuah toko sparepart lengkap dengan bengkel. Dia sangat familiar dengan toko tersebut sehingga mendesak agar supir taksi segera berhenti dan menurunkannya di sana.
Begitu taksi berhenti Laras bergegas membayar ongkos sesuai dengan angka yang tertera di sana. Menunggu sopir taksi menurunkan barang bawaannya tanpa membawa tas tersebut Laras langsung mendatangi toko sparepart motor tersebut dia yakin Gian pasti ada di sana.
Kedua sudut bibir Laras melengkung, mengusap perutnya yang buncit ketika kedua kakinya menginjak toko sparepart motor. Toko yang selalu dijadikan Gian, sebagai latar foto setiap kali mengirim kabar. Meskipun setiap melakukan panggilan video Gian selalu melakukannya di kontrakan, tapi dia tetap percaya usaha yang ada di depannya milik sang suami.
"Kita akan bertemu ayahmu, Nak." Mendekati seorang pria yang tengah memasang roda sepeda motor.
"Permisi, Pak. Bapak Gian-nya ada?"
Pria berkumis tipis itu menautkan alis. "Pak Gian?"
"Iya, Pak Gian yang punya toko sama bengkel ini. Dia tinggi putih, alisnya tebal. Rambutnya sedikit keriting."
Begitu antusias Laras menjelaskan bagaimana ciri-ciri sang suami.
"Pak Gian yang punya toko?" tanyanya sekali lagi. Dia tampak heran mendengar pertanyaan Laras, maka lebih heran lagi wanita itu melihat air wajahnya.
"Iya. Suami saya mengatakan ini toko sekaligus bengkel kami, yang dikontrak dari enam bulan lalu. Mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto Gian yang pria itu kirim sekitar empat bulan lalu.
Pria tersebut melipat dahinya, menatap layar ponsel Laras. "Oh, Gian. Dulu dia memang bekerja disini, tapi semenjak menikah dia tidak pernah datang. Katanya …"
"Eh, tunggu dulu, Pak. Menikah, kami sudah lama menikah dan Bapak sendiri bisa lihat kalau saya sedang hamil besar dan …"
"Saya tidak mengerti apa yang kamu katakan. Namun, yang saya tau dia berhenti bekerja semenjak menikah karena istrinya melarang."
"M-melarang? Bagaimana mungkin saya melarang sedangkan toko ini …"
"Sebaiknya Mbak temui dia ke rumahnya dan tanyakan langsung pada Gian. Tidak jauh kok dari sini. Cukup lurus saja, mentok belok kanan. Nanti tidak jauh dari lampu merah ada perumahan elit. Nah, disitu dia tinggal. Cukup tanyakan pada Security yang bertugas pasti tau yang mana rumah Gian. Dan satu lagi, ini bengkel bukan punya Gian tapi, Bos saya. Itu orangnya yang pakai kacamata dan Gian disini dulunya karyawan juga sama seperti saya," terang pria tersebut menunjuk pria paruh baya yang tengah duduk di kasir.
Laras tergugu. Tubuhnya terasa lemas mendengar keterangan pria itu. Dia tidak pernah menyangka selama ini Gian sudah membohonginya. Ini baru kebohongan pertama, sudah membuatnya lemas. Seakan semua tulangnya telah tercabut sedemikian rupa. Apalagi saat dia datang dan mendapati kenyataan bahwa Gian telah memiliki istri, lagi!
"T-terima kasih, Pak," lirih Laras. Membawa langkahnya menuju ke alamat yang tadi disebutkan.
Laras memaksakan langkahnya memasuki perumahan elit. Begitu banyak rumah mewah tersusun rapi di sana. Dia meneguk kuat ludahnya begitu berdiri di depan sebuah rumah dengan pagar yang menjulang tinggi, katanya itu merupakan rumah milik Gian dan istrinya. Bolehkah Laras berharap Gian yang dimaksud adalah pria lain? Bukan Gian suaminya.
Namun, ketika dia melihat gerbang terbuka, menampakkan bagaimana situasi rumah berlantai dua tersebut. Seketika tubuh Laras membeku melihat sang suami yang selama ini ditunggu dan dicari berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Sangat jelas di pandangannya Gian memeluk seorang wanita sebelum berlutut, mengelus perut sang wanita yang tampak buncit.
"Mas Gian?" gumam Laras. Tubuhnya luruh, terduduk di tanah. Tubuhnya tidak lagi bertenaga untuk melihat pemandangan yang begitu menyesakkan. Suami yang begitu dicintai telah berpaling pada wanita yang sangat dikenalnya. Wanita yang tak lain adalah Riska, teman sesama SMA dulu. Sekaligus teman yang mengirimkannya ongkos untuk datang ke Jakarta. Andai saja tadi dia tidak bersikukuh untuk turun, bisa dipastikan supir taksi tadi langsung mengantarkannya pada Gian.